Dear My Friend

by - 30.5.17


Sampai saat ini memang masih jarang ya film atau serial yang mengangkat issue tentang wanita paruh baya, padahal market target terbesar dari K-Drama (atau sinetron kalau di Indonesia) adalah wanita dengan rentang usia 30 tahun ke atas yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

Dear My Friends menuturkan kisah tentang para orang tua yang berjuang untuk bisa hidup mandiri dan menghadapi berbagai macam permasalahan ‘khas’ orang tua seperti dementia (pikun), kesepian, kekhawatiran, anak-anak, konflik keluarga dan CLBK. Yang terakhir mah bonus.

Yang membedakan dengan K-Drama lainnya, Dear My Friends mengambil figur orang tua sebagai tema alih-alih mengambil figur wanita mandiri yang matang (dari segi usia) atau wanita innocent yang cuteness overload. Mengejutkan memang, namun siapa sangka figur orang tua yang jarang dilirik ini mampu memberikan kesegaran di dunia per-K-Drama-an.

Sebelum menonton Dear My Friends ada baiknya menyiapkan tissue terlebih dulu. I’m not kidding. Sejak episode pertama Dear My Friends ini sudah membuat hati berdesir, apalagi kalau bukan karena ingat orang tua di rumah. Lahh ... Belum apa-apa udah cirambay.

Episode-episode selanjutnya akan membuat kita memikirkan ‘ohh ... jadi ini ya yang dirasakan orang tua di rumah’ kemudian teringat dosa-dosa yang pernah diperbuat. Nobody’s perfect, so they are ... Pepatah China mengatakan : Kamu harus memiliki anak untuk bisa memahami kasih sayang orang tua.

Jika kebanyakan kisah K-Drama tentang roller coaster kehidupan dengan kejutan di setiap tikungannya, kisah Dear My Friends tergolong biasa-biasa saja, tidak se’WOW’ atau seindah FTV, namun karena biasa itulah kisahnya tampak dekat karena akrab di kehidupan nyata. Selain itu faktor pemeran utamanya yang merupakan aktris dan aktor senior menambahkan kesan bahwa Dear My Friends merupakan film yang berbobot.

Coba tebak hal apa yang akan (sering) dilakukan oleh para orang tua di hari tuanya? Bersantai? Mengurus cucu? Beribadah? Atau malah bekerja?

Mereka mungkin akan melakukan semua hal tersebut, namun satu hal yang tak boleh dilupakan adalah mereka juga butuh hiburan, bersosialisasi dan bernostalgia. Apalagi kalau bukan reuni. Selalu ada cerita setelah reuni usai, entah itu update kabar terbaru atau sekedar ‘mengabsen’ siapa saja yang hadir.



Nan Hee memaksa putri semata wayangnya Young Wan untuk mengikuti reuni SMAnya, ia bahkan meminta agar Young Wan yang berprofesi sebagai penulis untuk menuliskan kisah mengenai dirinya dan teman-temannya. Nan Hee sendiri adalah seorang wanita dengan kepribadian keras yang sehari-hari bekerja di restaurant miliknya.

Meski kesal akhirnya Young Wan menuruti ibunya untuk pergi ke reuni yang diadakan di kedai milik Choong Nam, seorang wanita yang hidup melajang demi bekerja keras menghidupi seluruh keluarganya.

Turut hadir bersama mereka Hee Ja, seorang wanita yang digosipkan mengunci suaminya di lemari sampai mati dan Jeong A seorang wanita pekerja keras yang ‘nrimo dengan keadannya serta suaminya Seok Gyun seorang pria penggerutu yang pelit.

Selain itu hadir juga Gi Ja, seorang wanita pekerja keras yang gemar mengeluh. Dan yang tak boleh ketinggalan adalah Yeong Won seorang aktris senior yang sering gonta ganti pasangan.

Hampir 30 tahun lamanya Nan Hee bersitegang dengan Yeong Won mantan sahabatnya sebab jengkel tidak diberitahu perihal suaminya yang selingkuh dengan temannya yang lain Sook Hee. Meski pernikahannya terselamatkan namun bara masih menyelimuti hati Nan Hee. Berkali-kali teman-temannya berusaha mendamaikan keduanya, berkali-kali juga usaha mereka gagal.

That’s life hon! Sometimes a little flame of your past could burnt yourself viciously than hell.

Setiap orang memiliki permasalahan hidupnya masing-masing namun tidak semua hal harus dipendam sendiri, kadang ada hal-hal yang harus dibagi agar bisa dicari solusinya. Itulah mengapa kita harus punya sahabat, teman dekat, BFF dan Girls Squad.

Berkali-kali Dear My Friends membuat terenyuh dengan sikap lugu para orang tua saat menghadapi situasi tak terduga, seperti saat Jeong A dan Hee Jaa terlibat dalam insiden tabrak lari dalam perjalanan ke panti jompo, yang bagi kita dianggap lumrah (meski termasuk masalah besar ya) namun bagi mereka merupakan hal yang paling menakutkan sehingga membuat keduanya dilanda paranoid.

Setiap orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya, namun tidak semua orang bisa memahami apa keinginan anaknya. Nan Hee dan Young Wan terkadang berselisih pendapat karena keduanya memiliki keyakinan yang berbeda, meski demikian mereka berdua tetaplah ibu dan anak yang saling menyayangi dengan caranya masing-masing.

Mungkin istilah CLBK terbilang so yesterday bagi generasi masa kini, namun cobalah untuk memaknainya beberapa puluh tahun yang akan datang, is that true? Maka jangan heran jika menemukan highschool lovebird kembali bersama setelah sekian tahun lamanya. Mungkin mereka sebenarnya jodoh namun waktunya belum tepat, kaya wisuda, bukan lulus tepat waktu namun lulus di waktu yang tepat.

Memasang CCTV di rumah untuk memantau orang tua memang terbilang extreme, apalagi di Indonesia. Tapi ya mau bagaimana lagi ... itu adalah satu-satunya cara agar bisa memantau dari jarak jauh.



Dear My Friends ini cukup menyuarakan isi hati para orang tua di masa tuanya, sedih sih ... namun di sisi lain tidak mungkin disangkal, anak-anak pun ingin memiliki kehidupan masing-masing tanpa harus mengkhawatirkan orang tua mereka. Artinya, orang tua pun harus sanggup untuk hidup mandiri agar tidak membuat khawatir anak-anak mereka.

You May Also Like

0 komentar

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.