Menu

  • 🏠 Home
  • 🌷 Hello ~
  • 📌 Place
  • 🪐 Space
  • 🍊 Taste
  • 🍀 Personal Thoughts
  • 🎬 Spoiler
  • 🎨 Studio
  • 💡 Extra

demilestari

Powered by Blogger.

Hello~

Aku ingin kalyan tahu hari ini aku nonton Project Hail Mary 😭😭😭.

Tadinya aku ingin menikmati weekend (yang udah terasa bagai weekday 😅) dengan sans karena Widy main ke Bandung dan mama menginap di rumah mbah. Dipikir-pikir gabut juga ya hamba 😁 sambil ngemil kue sisa ramadan aku ngecek akunnya NSC kali aja ada film yang OK untuk kutonton seteleh fisioterapi. Eh, Project Hail Mary udah ada dongs... kuy markinton! Menimbang sore mah biasanya hujan aku nonton di jam siang, buseddd... panas pisan di luar 🫠.

Project Hail Mary ini adalah film sci-fi yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Andy Weir yang juga menulis The Martian. Eh, udah pada nonton belum? Project Hail Mary terlambat masuk ke Indonesia karena terhalang Idul Fitri makanya kita nggak bisa vibing the hype bareng 🥲. Alasanku gercep nonton Project Hail Mary tuh karena khawatir filmnya keburu turun layar, dan menyesal aja gitu dulu nggak nonton Interstellar di bioskop 🥹.

***

Project Hail Mary bercerita tentang misi menyelamatkan bumi yang disebabkan oleh meredupnya matahari. Tanpa matahari umat manusia akan kesulitan bertahan hidup entah karena supply chain makanan yang terganggu, perpecahan dan perebutan sumber daya, perubahan iklim atau ancaman wabah. Para ilmuwan tentcunya nggak tinggal diam dongs, mereka bekerja keras menemukan solusi agar matahari tetap bersinar 🌞.

Para ilmuwan menemukan bahwa ada garis infra merah yang terbentang antara matahari dan planet Venus (garis Petrova). Ternyata garis infra merah itu adalah mikro organisme asing yang memakan energi dan radiasi elektromagnetik, kelak dinamai astrophage. Hanya ada satu bintang di tata surya yang nggak terpengaruh oleh astrophage yakni Tau Ceti, karenanya uni eropa bikin proyek Hail Mary yang bertujuan untuk menemukan alasan mengapa hanya Tau Ceti yang 'selamat' 🤔.

Ada kuda nggak di luar angkasa? *ytta

Makanya ke Tau Ceti dongs 😅

Ryland Grace (Ryan Gosling) adalah seorang ilmuwan biologi molekuler yang shifting career menjadi pengajar di SMP, suatu hari Eva Stratt (Sandra Hullër) 'mampir' dan memintanya untuk bergabung di proyek Hail Mary. Doi bertugas mempersiapkan Martin Dubois (Malachi Kirby) dan Annie Sapiro (Liz Kingsman), sayangnya terjadi masalah yang bikin Grace mesti menggantikan mereka ke Tau Ceti bersama Yao Li-jie (Ken Leung) dan Olesya Ilyukhina (Milana Vayntrub).

Saat terbangun Grace mendapati Yao dan Ilyukhina meninggal dalam perjalanan, ada fase denial dulu dongs ya... Bayangkan, betapa bitter-nya Grace... dipaksa pergi, sendiri di luar angkasa, jauh dari mana-mana, udah gitu mesti kerja 😂. Karena jarak bumi dan Tau Ceti yang panjang (± 4 tahun) bahan bakarnya hanya cukup untuk pergi aja. Makanya ada scene Yao dan Ilyukhina saling nge-spill gimana mereka akan mengakhiri proyek Hail Mary.

Yawla... Gini banget ya hidup 😭

🤣🤣🤣🤣🤣

Menyadari bahwa doi adalah harapan umat manusia yang tersisa, ceilahhh... 👩🏻‍🎤 Grace akhirnya back on the track. Saat mengamati garis Petrova, Grace menyadari bahwa ada makhluk lain selain dirinya di sana. Sumvah scene mereka main benteng-bentangan tuh kocak banget deh 😂, macem mau kemana nih? Ayo... Ayo... Hadapi aku 🤣. Pun scene kirim-kirim santet paket antar pesawat, astaga... sungguh sangat su'udzhon 😭.

Jujur, ada untungnya aku belum baca buku Project Hail Mary, udah degdegan aja niya khawatir Grace akan berhadapan dengan alien predator macem yang udah-udah. Ternyata malah lenong 🤣🤣🤣... Rocky (tanpa Gerung dongs) adalah alien dari planet Eridian, bentukannya berbatu-batu namun bergerak seperti laba-laba. Yang mana mengingatkanku pada pokemon Geodude yang berevolusi jadi Graveler.

Bayangkan... Tidur sambil diliatin 😁

Kebersamaan Grace dan Rocky di simulator 

Seperti Grace, Rocky adalah yang terakhir di krunya. Bisa dimengerti laya mengapa Rocky begitu excited menjalin hubungan diplomatik antar galaksi 😆. Puluhan tahun dalam keheningan gitu loh, syukur nggak gila 😅. Yha~ namanya juga luar angkasa... tentcunya ada banyak moment of silence yang terasa mencekam dan mengerikan. Nggak mungkin yekan tetiba ada mang nasgor lewat di jendela kokpit pesawat macem di jendela kampus 🥲.

Perlu kalyan tahu, scoring-nya Project Hail Mary ini juwara ya... sungguh sangat menggugah sanubari 🥰. Kukira komposernya Hans Zimmer, ternyata Daniel Pamberton. Aku suka saat Stratt yang (biasanya) kaku kek kanebo kering menyanyikan Sign of Time-nya Harry Styles, hadudu manitsnya... 😍. Pemilihan Two of Us-ya The Beatles juga cucok untuk mengiringi Grace dan Rocky yang bekerja keras demi bisa pulang kampung.

Kacamata yu viral bwanggg...

Living for the moment... Sebelum kerja keras bagai kuda
*lah kesebut lagi 😅

Untuk Rocky, tim produksi memilih mengunakan animatronik macem di film Jurassic Park dan E. T. . Jauh sebelum ada CGI dan AI, kita pernah mengalami era puncak craftmanship dalam film, dimana setting dan property dibikin secara tradisional. It's so damn good. Secara teknis animatronik agak merepotkan namun feel-nya lebih dapet. Kenapa kita nggak melakukannya lagi?.

Kebetulan Project Hail Mary ini dirilis berdekatan dengan misi Artemis II yang berhasil mengelilingi bulan, beneran to the moon and back... 😁. Syudah bisa ditebak ya... fyp-ku isinya gantian antara Project Hail Mary dan Artemis II, aku sih yes ya... mengingat sejauh apa usaha manusia untuk melampaui batas semesta. Di tengah pergolakan tambang minyak dan cup plastik yang mehong, berita tentang misi Artemis II tentcunya berhasil ngademin pikiranku 😆.

From this 

To this 

Menurutku Project Hail Mary ini adalah a complete package of cinematic experience, saking terpukaunya aku sampai lupa minum 😅. Alur ceritanya asyik, twist-nya lapis legit, editing-nya smooth dan flashback-nya pun nggak clingy. Ryan Gosling bonus laya 😁. Beberapa bulan yang lalu aku nonton Barbie, makanya ngeh banget koreografinya doi saat bertemu dengan Rocky, bersyukr nggak ada kuda di luar angkasa 😭.

Scene favorite-ku tentcu adalah saat Grace ada di garis Petrova, dimana astrophage berkelap kelip macem kunang-kunang, absolut cinema ✨👌🏻 . Yha~ kurasa ini favorite scene sejuta umat siya 😁.  Selama nonton hatiku berisik, bangsaaddd... memang harus nonton di IMAX ini mah hahahasyeuummm.... 🫵🏻😭. Kalau kalyan ada waktu dan kebetulan Project Hail Mary masih tayang, kuy geura nonton...

📌Pictures were taken from @watchmen.id Twitter thread.

***

Di bawah ini adalah list film yang menurutku masih satu universe dengan Project Hail Mary, mungkin bisa masuk watch list kalyan.

Gravity (2013)
Interstellar (2014) 
The Martian (2015)
The Arrival (2016)
The Silent Sea (2021)





•••
If you like my writing, send me some ❤️ to cheer me up.
•••
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hello~

Gimana hari pertama back to reality? Udah semangats cari wang atau masih holiday blues? 😁. Aku melalui hari pertama back to reality dengan cukup seru, yha~ meski udah nggak kerja kantoran aku mesti ke rumah sakit karena ada jadwal fisioterapi. Udalaya... intinya, hari pertama poliklinik buka paska liburan lebaran tuh hectic tyada duwa 🥺, semuanya bercampur jadi satu sampai aku kepikiran untuk pulang ke rumah 😆.

Menimbang situesyen di ruang tunggu yang kurang kondusif (saking penuhnya cuma bisa berdiri) aku memutuskan untuk caw ke bioskop sebelah 😁. Di Subang ada 2 bioskop yakni Sams Studio dan NSC, yuyur... kalau nggak searching kepanjangan dari singkatan NSC aku nggak percaya doi masih ada hubungan dengan Cineplex *maap *tapi pemilihan namanya memang kurang meyakinkan sih 😅. Let's say, NSC adalah Cineplex-nya warga kabupaten.

Fyi, lokasi NSC ini ada di lantai 2 main entrance Planet Waterboom, sayangnya nggak disabilitas friendly karena pake tangga biasa. Studio-nya nggak jauh berbeza dengan studio pada umumnya, yang membedakan ukuran studio-nya lebih minimalis, kita bahkan bisa mendengar suara 'psssttt' pengharum ruangan dengan jelas 😂. Harga tiketnya standar siya tapi udah termasuk minuman (bisa pilih Fruit Tea, Teh Botol *versi kotak atau Le Minerale) 😍.

Saat kucek, hanya ada 2 film di jadwal terpagi yakni Na Willa dan Danur: The Last Chapter. Syudah bisa ditebak ya, aku nonton Na Willa. Tadinya aku khawatir akan nonton sendirian karena anak-anak udah pada masuk sekolah, ternyata masih ada remaja yang belum masuk sekolah. Sejujurnya aku happy mereka lebih memilih nonton Na Willa ketimbang nonton Danur: The Last Chapter. Eh, apa mereka salah masuk studio gitu ya? 🤔.


***

Aku tahu Na Willa ini dari komunitas buku yang kuikuti di media sosial, nggak beli bukunya karena merasa nggak akan relate dengan alur ceritanya. Turns out, setelah tahun lalu merilis Jumbo, Ryan Ariandhi tetiba nge-spill proyek terbarunya. Tadinya kukira doi akan melanjutkan proyek DPKS DWS (dipaksa dewasa) eh ternyata Na Willa dongs 😍.

Fun fact, aku dulu follow doi karena pernah jadi bestie-nya Raditya Dika di Malam Minggu Miko *alumni Jigoku Ramen detected 😂.

Well... tahun ini line up film liburan lebaran terasa lebih variatif ya, nggak melulu film horor pendulang pundi-pundi 🤑. Kalau kalyan ingin seseruan bisa nonton Danur: The Last Chapter dan Santet: Dosa Di Atas Dosa. Kalau kalyan ingin meluapkan emosi bisa nonton Tunggu Aku Sukses Nanti atau Senin Harga Naik. Kalau kalyan ingin quality time bersama bocil bisa nonton Na Willa atau Pelangi di Mars.

Media sosial tentcunya menyuapi egoku yang menikmati konten promosi Na Willa, so far review-nya pada bagus. Salah satu hal yang bikinku merasa 'fix, harus nonton nih' adalah saat melihat rumahnya Na Willa yang supa dupa kyutaaa... aku juga mau. Thanks to Living Loving yang udah meliput dan kasih sekecup bts-nya 😁. First impression-ku... cantik dan eye pleasing, cucoklah untuk visual person kek kita-kita hehe.

Eh iya, biar nggak kelamaan intro-nya, marki-view filmnya...


CERITA YANG BIKIN NOSTALGIA

Film Na Willa in bercerita tentang kehidupan masa kecil Na Willa (Luisa Adreena) saat tinggal di gang Krembangan Surabaya di tahun 80an. Sebagaimana bocil pada umumya, Willa punya bestie kentel bernama Farida (Freaya Mikhayla), Bud (Arsenio Rafisqy) dan Dul (Azamy Syauqi). Mereka semua hidup bertetangga dan tumbuh bersama, konflik dimulai saat mereka memasuki usia sekolah.

Orang tua Na Willa, Pak (Junior Liem) dan Mak (Irma Novita Rihi) sepakat untuk mengajari Willa di rumah sebelum siap melepasnya ke jenjang pendidikan yang lebih formal. Saat satu persatu geng Krembangan mulai sekolah Mak mulai merasa gamang, di satu sisi Mak belum siap melepas Willa sedang di sisi lain Mak sadar bahwa Willa harus sekolah. Menurutku, di film ini yang paling bagus perkembangan karakternya adalah Mak.

Scene Na Willa membongkar radio bikinku senyum sendiri teringat dulu aku pernah mengira orang tuaku memelihara liliput di dalam televisi 😂. Kukira liliput-liliput itu punya space tersembunyi di dalam televisi untuk tidur, makan dan mandi. Makanya aku bolak balik mengecek televisi dari berbagai sisi dan mencoba mengintip dari sela-sela lubangnya. Ternyata memang kosyong... 🤣.

Selain itu aku teringat lagi momen pertama kali masuk sekolah. Beberapa hari sebelum sekolah mama udah mengajariku baca tulis jadi saat bu guru mengajarkan aku udah keburu bosan dan mengangkat kaki macem pemain gapleh 😂. Yang kuingat, mbahku ketawa-ketawa saat diceritakan hal ini. Ahhh... kangennya 🥹. Nonton Na Willa seketika bikin memoriku bangkit dari kubur, menyadarkan betapa nikmehnya kehidupan kanak-kanak 🥰.




CAST YANG MENGGEMASKAN

Kita mesti mengakui pemilihan cast-nya Na Willa juwara ya, aku suka semuanya. Tadinya aku heran mengapa hanya Dul yang berlogat jawa, setelah kuingat-ingat lah... ini kan setting-nya di Krembangan Surabaya, memang harusnya ngomong bahasa jawa 🤣. Menurut kesusotoyanku, bahasa Indonesia dipilih atas dasar kemudahan karena sebagian besar audience-nya Na Willa adalah anak-anak.

Nemu di mana sih anak-anak ini? Akting mereka semua luwes dan terkesan effortles. Aku suka scene saat Willa berlari ke rumah sambil nangis, tengok kanan kiri dulu sebelum menyebrangi rel kereta api. Pun Farida yang suaranya menggemaskan. Scene saat Willa dan Farida pergi mengaji oh so kyuttt... Oh ya, mbok (Mbok Tun) lucu ya, apalagi saat doi mengadukan Willa yang mengambil jatah ikan tongkolnya 😁.

Sebagian scene menggunakan low angle untuk menunjukkan pov-nya para bocil dimana semua hal tampak begitu besar saat kita kecil. Sayangnya low angle ini kurang berhasil di scene saat geng Krembangan melihat ulat dari jendela kamar. Kalau kalyan ingat, yang in frame hanya Farida, Willa dan Bud, yang in frame dari Dul hanya badan dan suaranya aja karena kepalanya terpotong... ih tega ya 😂.

Setelah Na Willa, kuyakin geng Krembangan akan mendapatkan banyak proyek baru. Aku pun berharap kalau kelak Ryan bikin film lagi doi nggak pake geng Krembangan. Selain karena karakternya udah melekat, masih banyak anak-anak bertalenta yang menunggu untuk ditemukan. Dan yang terpenting, jangan sampai ijazahnya ditahan macem Endy Arfian 🤣.




PROPERTY YANG NYEKRUZZ

Seperti yang kutulis sebelumnya, alasanku nonton Na Willa adalah karena rumahnya yang supa dupa kyuta 😍. Meski hampir semua elemennya tabrak motif dan warna warni nggak bikin siwer. Two thumbs up untuk tim produksi yang karya ciptanya hadir di dalam set, termasuk label di kemasan teh tubruk dan cuka botol. Kuyakin kalyan pasti pada bergadang mengerjakan semua ini ☺️.

Di gang Krembangan, rumah Na Willa tentcunya mudah dikenali karena 'ramai'. Yha~ Kupikir Mak dan Willa beruntung memiliki keleluasaan materi sehingga bisa melakukan banyak hal. Well... untuk bisa beli buku, mengecat rumah warna warni, melukis di pot, beli bahan pakaian dan printilan-nggak-penting-tapi-ingin-punya tuh butuh wang. Maka dari itu terima kasih Pak, udah memastikan mereka sejahtera 🙇🏻‍♀️.

Pertama kali melihat Mak, wow... cantiknya 😍. Aku suka outfit-nya Mak yang eye catching dan selaras dengan perawakannya. Kurasa yang bikin aura galaknya Bu Tini (Putri Anindya) makin menyala adalah pada bahunya yang dibikin runcing ala villain. Ada yang ngeh nggak? Mungkin karena udah dipake beberapa kali take, sayuran hijau yang dibeli Mak dari pasar selalu layu 😅.

Oh ya, pasar tempat Cik Mien (Melissa Karim) berdagang pun nggak kalah kece yaw. Entah kelewat geumpeur atau memang karakternya dibikin begitu, mang penjual anak ayam kaku amat ya?! 😅Ada scene yang menampilkan penulis buku Na Willa yakni Reda Gaudiamo, mungkin pernah lewat di FYP kalyan konten buibu paruh baya berkacamata yang menyapa audience dengan "hai nak... " nah itu beliau.




 ***

So far, setelah selesai nonton aku merasa Na Willa ini lebih cocok untuk penonton dewasa yang pernah jadi anak-anak. Eym... gimana ya menjelaskannya 😅, sebagai zillennials tentcu kita merasa relate dengan kehidupan geng Krembangan, sedang untuk alphabet belum tenctu. Segresi generasi bikin life style yang kita jalani berbeza, makanya wajar alphabet pada ngantuk saat nonton Na Willa, nggak relate soalnya.

Sejujurnya Na Willa ini adalah film yang bagus, namun sebaiknya penonton anak-anak perlu pendampingan karena ada beberapa materi yang kurang relevan. Macem kawin dan *sucino. Mungkin hal-hal semacam ini bisa lebih diperhalus lagi penyampaiannya, masih ada waktu kan mengolah naskah untuk tahun depan? 😉. Fyi, Na Willa fix punya sekuel. Horeeee!!! 🎉🎉🎉.

***

Pulang ke rumah aku cerita yekan nonton dulu sebelum fisioterapi.

Aku: Tadi mbak nonton Na Willa.
Widy: Kok nonton Na Willa? Kenapa nggak nonton Tunggu Aku Sukses Nanti?
Aku: Pengangguran coy.... nggak relate dengan ceritanya.
Kita: 🤣🤣🤣🤣🤣


Pictures were taken from @watchmen.id Twitter thread.





•••
If you like my writing, send me some ❤️ to cheer me up.
•••
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Annyeong yorobun...

Udah nonton drakor apa tahun ini? Ending-nya sesuai ekspektasi atau malah terjun bebas?😁. Di semester 2 ini aku nggak banyak nonton drakor karena lagi nggak mood euy, malay aja gitu bawaannya padahal dulu mah semangats pisan marathon drakor teh. Untuk penyegaran aku nonton beberapa series dan film Jepang, so far it works (untuk review-nya bisa dibaca di sini ya).

Sebagai penonton veteran (bukan penonton bayaran yaini 😁) aku pernah mengalami masa dimana episode drakor mencapai angka 100 yang ditayangkan 2 kali sehari. Kalau nggak sempat nonton di jam siang kita bisa mengejarnya di jam malam, pokoknya keterlaluan banget kalau sampai nge-skip keduanya 😅. Apakah kalyan seangkatan denganku? *kepo.

Di rentang waktu 25 tahun ada gap yang signifikan mengenai jumlah episode drakor. Dari 100 episodes turun ke 60 episodes, turun lagi ke 40 episodes, turun lagi ke 24 episodes, turun lagi ke 20 episodes, turun lagi ke 16 episodes, turun lagi ke 14 episodes, turun lagi ke 12 episodes, yang terakhir turun ke 6 episodes. Di satu sisi penyusutan ini terasa padat karya namun di sisi lain terasa kurang, apalagi kalau ceritanya seru 🥲.

Menurut kalyan, idealnya drakor berapa episode?

Anyway... kalau kalyan bimbang mau nonton drakor yang mana bisa dicek niya review-nya di link di bawah ini. Perlu diingat, bagimu taste-mu bagiku taste-ku, selera kita bisa aja sama bisa aja nggak.

RECAP DRAKOR 2020
RECAP DRAKOR 2021
RECAP DRAKOR 2022
RECAP DRAKOR 2023 part 1
RECAP DRAKOR 2023 part 2
RECAP DRAKOR 2024 part 1
RECAP DRAKOR 2024 part 2
RECAP DRAKOR 2025 part 1

Dan inilah list drakor yang kutonton di semester 2 yang diurutkan berdasarkan waktu nonton.


***

GOOD BOY (2025)

JTBC | 16 episodes
⭐⭐⭐☆☆

Bercerita tentang tim khusus di kepolisian Korea yang beranggotakan Yoon Dong-Joo (Park Bo-gum), Ji Han-Na (Kim So-Hyun), Kim jong-hyeon (Lee Sang-yi) dan Shin Jae-hong (Tae Won-seok). Mereka semua adalah atlit berprestasi yang 'dihadiahkan' posisi ASN atas jasanya mengharumkan nama negara. Untuk mendapatkan pengakuan mereka berusaha mati-matian untuk menangani kasus yang berhubungan dengan bea cukai, sounds familiar yekan? hehe.

Dengan alur cerita dan cast yang terkesan menjanjikan seharusnya Good Boy ini populer siya 😅. Mungkin karena aku lagi nggak mood nonton drakor melihat Park Bo-gum ditabokin mulu teh B aja. Gimana ya... doi cemen sih 😁. Ketimbang tim atlit ini aku malah lebih suka karakter Min Ju-young (Oh Man-se) yang hampir syelalu jehong. Oh ya, aku menyangkan screen time-nya Lee Gyeong-il (Lee Jung-ha) yang dikit.



SQUID GAME 3

Netflix | 6 episodes
⭐⭐☆☆☆

(masih) Bercerita tentang apa yang terjadi paska pemberontakan di arena. Sayangnya, Seong Gi-hun (Lee Jung-jae) dan manteman mesti undur diri gegara Kang Dae-ho (Kang Ha-neul) mengacaukan rencananya. Permainan tetap berlanjut dan bikin para pemain berguguran, termasuk geng ciwik-ciwik Cho Hyun-ju (Park Sung-hoon), Kim Jun-ha (Jo Yu-ri) dan Jang Geum-ja (Kang Ae-shim). Kagak faham hamba, udah dikasih jeda 1 season Hwang Jun-ho (Wi Ha-joon) masih nggak bisa menemukan pulaunya.

Seperti yang udah kita dugong, Squid Game season 3 ini juelekkk... ceritanya bantet dan pengembangan karakternya meh. Scene menjemput ajalnya masih OK laya, kita masih bisa menikmati keseruan para pemain saling baku hantam. Tapi... ending-nya itu loh ya... aduh gusti, ieu writer-nim tara pernah nonton film alus apa kumaha sih 😅. Kusarankan kalyan nggak berekspektasi sebegitu tinggi saat nonton Squid Game season 3 karena bikin emosi. hihhh...


SALON DE HOLMES

Netflix | 10 episodes
⭐⭐⭐☆☆

Bercerita tentang Gong-mi (Lee Si-young) yang baru aja pindah apartemen, saat belanja di supermarket, doi dan beberapa penghuni lainnya disekap. Bukannya takut buibu ini malah membantu si penyekap mengungkap kasus perselingkuhan suaminya, asli kocak banget. Gong-mi akhirnya berteman dengan Chu Kyeong-ja (Jung Young-joo), Park So-hee (Kim Da-som) dan Jeon ji-hyun (Nam Gi-ae). Bersama mereka berpatroli dan mengungkap berbagai kasus yang terjadi di lingkungan mereka.

Kurasa Salon De Holmes ini udah asyik siya meski tanpa back story-nya Gong-mi yang malah bikin bikin ruwet. Drama buibu mengurusi berbagai printilan yang terjadi di kompleks udah cukup seru kok, tapi ya balik lagi mungkin writer-nim merasa kurang kalau nggak ada back story *heu. Tadinya aku cuma coba-coba nonton Salon De Holmes ini, 1 episode, 2 episode, 3 episode, eh tahu-tahu udah selesai. Fix otw dibikin season 2-nya.


S LINE

Netflix | 10 episodes
⭐⭐⭐⭐☆

Bercerita tentang S line yang menghubungkan manusia melalui hubungan seks, seperti halnya garis di pohon keluarga. S line ini bisa dilihat melalui kacamata misterius yang muncul cap cip cup dan bikin pemakainya terlena dengan kemampuannya. Satu-satunya yang bisa melihat S line tanpa kacamata adalah Shin Hyin-heup (Arin), karena suatu hal doi memutuskan kembali bersekolah dan berteman dengan Kang Seon-ah (Lee Eun-saem yang kelak mempertemukannya dengan Han Ji-woo (Lee Soo-hyuk).

Sumvah selama nonton aku kepikiran banget gimana kalau S line ini beneran eksis. Coy, apa itu privacy? Semua orang bisa tahu kali ah 😂. Aku suka ceritanya yang lugas dan satset, meski sebetulnya mah mempertanyakan gimana caranya Shin Hyin-heup survive selama ini, secara doi belum financial stable dan sulit keluar gua. Scene paling memorable adalah saat garis merah bermunculan dari ubun-ubun dan bikin langit koriya merah membara...


TWELVE

Disney+ | 8 episodes
⭐⭐⭐☆☆

Bercerita tentang 12 malaikat shio yang bertugas untuk menjaga Semenanjung Koriya dari serangan roh jahat. Mereka semua berbaur dan menjalani kehidupan layaknya manusia biasa selama berabad-abad bahkan punya manager yakni Ma-rok (Sung Dong-il). Malaikat shio ini dipimpin oleh Tae-san (Ma Dong-seok) yang dari outfit-nya aja udah ketara bahwa doi adalah hawimaw 🐯. Setelah ratusan tahun tetiba muncul O-gwi (Park Hyung-sik), roh jahat yang ingin membuka pintu neraka.

Menurutku, Twelve ini punya potensi besar untuk jadi drakor superhero macem Moving atau The Uncanny Counter, cuma kurang beruntung aja. Kubilang begini karena doi rilis berdekatan dengan Bon Apetite Your Majesty dan Queen Mantis yang bikin audience sulit berpaling. Untuk ceritanya masih OK laya, paling butuh polesan sana sini biar lebih smooth. Tapi kalau lihat cast-nya sih Twelve ini udah pasti masuk katagori flop karena nggak balik modal.


MY TROUBLESOME STAR

ENA | 12 episodes
⭐⭐⭐☆☆

Bercerita tentang Im Se-ra (Uhm Jung-hwa) seorang aktris yang berusaha mendapatkan kembali 'tempatnya' paska amnesia. Perjalananannya kembali ke industri hiburan tentcunya nggak mudah, untungnya doi bertemu lagi dengan Dokgo Chul (Song Seung-heon) yang menyamar sebagai manager-nya. Yang kusuka dari My Troublesome Star ini adalah pemilihan cast-nya yang mirip-mirip jadi pas glow up nggak terlalu jomplang perbedaannya.

My Troublesome Star ini memang kurang mendapat atensi di awal karena penampilan Im Se-ra paska amnesia yang riweuh dan norce, nggak banget deh pokoknya. Namun sebagai bala-bala Doctor Cha tentcunya aku meyakinkan diri bahwa doi akan glow up *yamasa nggak😁. Kalau kalyan lagi cari drakor ringan yang nggak perlu mikir pelik, kurekomendasikan My Troublesome Star ini asal kalyan kuat melalui 4 episode awal melihat penampilannya Im Se-ra yang bikin ngelus dada.


BON APETITE, YOUR MAJESTY

tvN | 12 episodes
⭐⭐⭐⭐☆

Bercerita tentang Yeon Ji-young (Im Yoon-ah) seorang chef Prancis yang time travel ke era Joseon dan bertemu dengan raja tiran Yi-heon (Lee Chae-Min) yang menjadikannya koki istana. Bukan hal yang mudah tentcunya karena Yeon Ji-young mesti menghadapi keculasan Kang Mok-ju (Kang Han-na) dan politik istana yang dikit-dikit eksekusi.

Tadinya kupikir Bon Apetite Your Majesty ini akan mirip-mirip dengan Mr. Queen, so far memang mirip sih yang bikin beda adalah editing lebaynya saat mencicipi masakan Yeon Ji-young. Termasuk ekspresi para pencicip makanan yang diparodikan oleh netizen, sa ae niya😂. To be honest aku lebih suka tampilan visual-nya tim China ketimbang tim Koriya, lebih berwarna dan menggoda aja gitu. Kalyan suka tim mana?


TEMPEST

Disney+ | 9 episodes
⭐⭐⭐☆☆

Bercerita tentang Seo Mun-ju (Jun Ji-hyun) yang nekat mencalonkan diri sebagai kandidat presiden Koriya paska kematian suaminya, Jang Joon-ik (ParkHae-joon). Slow but sure, Seo Mun-ju menemukan bahwa mediang suaminya menyimpan banyak rahasia, termasuk rahasia negara. Demi keamanan selama masa kampanye doi meng-hire bodyguard yang kelak menjadi love interest-nya, Baek San-ho (Gang Dong-won).

Kalau kalyan suka drakor ber-genre intrik politik yang pelik, kurasa Tempest adalah pilihan yang OK laya. Yang kurang justru motivasi emaknya Jang Joon-ik yang tetiba jadi broker internasional, pun dengan selingkuhannya yang bucin. Aku sempat malay nonton Tempest gegara Jang Joon-ik berselingkuh dengan Kang Ha-na (Won Ji-an), bisa-bisanya jir... padahal istrinya Jun Ji-hyun. Mon maap... ending-nya kentang.



MS. INCOGNITO

ENA | 12 episodes
⭐⭐⭐☆☆

Bercerita tentang Kim Young-ran (Jeon Yeo-bin) yang bekerja sebagai bodyguard untuk Ga Sung-ho (Moon Sung-geun) dari Gasung Group. Suatu hari doi mendapatkan kesempatan untuk merubah nasibnya yang babak belur gegara emaknya, Kim S-young (So Hee-jung). Kim Young-ran dan si aki akhirnya menikah, eh nggak berapa lama doi meninggal dan menciptakan konflik keluarga perkara warisan.

Awal nonton aku masih semangat, namun lama-lama mah bosan ya... Kurasa Ms. Incognito ini mulai kehilangan 'sparks' saat Kim Young-ran keteteran menghadapi duo Ga Sun-young (Jang Yoon-ju) dan Ga seon-woo (Lee Chang-min). Sejujurnya, aku kurang sreg dengan alur ceritanya yang dieksekusi ala sinetron, pun dengan karakterisasi Baek Hye-ji (Joo Hyun-young) dan So Tae-min (Kang Ki-doong) yang dibikin aL4y *heu. Meski kurang OK, aku berhasil menyelesaikan Ms. Incognito ini.


WOULD YOU MARRY ME?

SBS | 12 episodes
⭐⭐⭐⭐☆

Bercerita tentang Yoo Me-ri (Jung So-min) yang memilih untuk bercerai dari Kim Woo-joo (Seo Bum-june), sialnya, doi tertypu dan kembali ngegembel😁. Kali ini doi cukup beruntung memenangkan undian rumah dari Beaute Departement Store, sekaligus bertemu denagn Kim Woo-joo (Choi Woo-sik). Karena suatu hal mereka bersepakat untuk berpura-pura untuk jadi pasangan suami istri demi mendapatkan rumah tersebut.

Kalau melihat portfolio drakornya mb Jung So-min ini spesialisasi karakter wanita yang nggak punya rumah deh 😅. Meski rang-o-rang nge-ship second lead-nya yakni Yoon Ji-gyeong (Shin Seul-ki) dan Baek Sang-hyun (Bae Na-ra) aku mah nge-ship Go Pil-nyeon (Jung Ae-ri) dan Kim Mi-yeon (Baek Ji-won) yang love-hate relationship-nya bikin gemes. Would You Marry Me ini adalah drakor ringan yang cocok untuk ditonton saat makan.


DYNAMITE KISS

Netflix | 12 episodes
⭐⭐⭐☆☆

Bercerita tentang Go da-rim (Ahn Eun-jin) yang nekat berbohong demi bisa mendapatkan pekerjaan di Natural Bebe. Tak disangka doi bertemu dengan Gong Ji-hyeok (Jang Ki-yong) yang jadi love fling-nya selama liburan di pulau Jeju. Untuk mempertahankan pekerjaannya, Go Da-rim meminta bantuan Kim Sun-woo (Kim Mu-jun) untuk jadi suami fiktif. 

Meski kemistrinya Ahn Eun-jin dan Gong Ji-hyeok so nice so good aku lebih nge-ship second lead-nya. Akting udah ok, premis ceritanya udah ok, eksekusinya euy... gagal maning. Aku nggak puas dengan episode terakhirnya yang terlihat ditambah-tambahi demi mengisi durasi, ketimbang bikin Gong Jo-heyok amnesia mending bikin petualangan menemukan adiknya Go Da-rim *ide *silakan dicoba.


🍀🍀🍀

Pictures were taken from Asianwiki website. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Hello~

Belakangan ini aku lagi nggak mood nonton drakor, entahlah... rasanya berat banget nonton 1 episode sampai selesai. Aku udah coba nonton beberapa drakor dengan genre yang berbeda, tapi nggak mempan coy. Kebanyakan drakor episode 1-nya selow, sedang aku maunya yang langsung dar-der-dor macem A Shop For Killers. Well... Mungkin ini saatnya aku mengambil jeda dari drakor, dan mencari tontonan lain yang lebih... calming gitu ya 😅.

Setelah nonton Marry My Husband versi Jepang aku tertarik untuk nonton dorama lagi, namun mood nontonku belum resmi terkumpul jadi aku cari tontonan yang ringan. Untungnya saat scroll thread Twitter aku menemukan thread berisi list film dan series yang kurasa cocok untuk situasiku saat ini. So far it works, namun aku malah merasa lapar setiap kali nonton wkwk. 

Di bawah ini adalah list film dan series Jepang yang kutonton, marki-check...

🍀🍀🍀

Travelling Sandwich | Tabi Suru Sandoitchi (2022)

Bercerita tentang dua orang bestie, Kurumi Enomoto (Ito Marika) dan Kaede Imamura (Tomota Miu) yang memutuskan untuk berkelana sambil berjualan sandwich. Yang bikin sandwich mereka berbeda dari sandwich lainnya adalah isiannya yang disesuaikan dengan komoditi di mana mereka singgah. Saat mereka singgah di ladang jagung maka isian sandwich-nya adalah jagung, saat mereka singgah di kebun buah-buahan maka isian sandwich-nya adalah buah-buahan.

Awalnya aku mempertanyakan gimana caranya Kurumi dan Kaede me-maintain cashflow mereka, kubilang begini karena setelah kuperhatikan mereka nggak ada income sama sekali loh ya, minus mulu karena Kurumi sering bagi-bagi sandwich 😁. Tapi setelah tahu bahwa Tabi Suru Sandoitchi ini adalah program pemerintah Jepang untuk mempromosikan komoditi daerah, yaudalaya... sok bikin lagi sandwich-nya, abis gitu mau lanjut kemana juga terserah 😉.

*hanya bisa ditonton via link haram


🍀🍀🍀

If It Sounds Good To You | O Mimi ni Aimashitara (2021)

12 episodes

Bercerita tentang Takamura Misono (Ito Mariko) seorang karyawan di perusahaan pembuat acar yang memutuskan untuk bikin podcast. Misono memilih niche kuliner karena doi memang suka makan, selain menceritakan makanan favorite-nya doi juga menceritakan hari-hari yang dilaluinya. Bestie-nya yakni Sudo Arisa (Igeta Hiroe) dan Sasaki Ryohei (Suzuki Jin) adalah kru di balik layar yang membantunya meng-improve kualitas podcast-nya.

Mungkin karena belum terbiasa dengan keekspresifan aktor/aktris made in Japan, aku merasa si Misono teh riweuh pisan, macem Kim Tae-ri di Jeongnyeon: A Star is Born 😅. Tapi lama-lama mah yaudalaya mungkin style-nya memang begitu hehe. Nonton If It Sound To You bikinku menyadari bahwa semua hal akan terasa seru kalau kita benar-benar menyukainya. Oh ya, Aku suka intro-nya yang lucu, berasa niat aja gitu bikinnya.

Bisa ditonton di sini


🍀🍀🍀

The Makanai: Cooking For Maiko House (2023)

 9 episodes

Bercerita tentang Nozuki Kiyo (Mori Nana) dan Herai Sumire (Deguchi Natsuki) yang pindah dari Aomori ke Kyoto demi menjadi maiko*. Keduanya tinggal di Saku bersama para maiko yakni Tsurukoma (Momoko Fukuchi), Kikuno (Kotono Wakayanagi) dan Kotono (Kotona Minami). Sayangnya, Kiyo nggak berhasil menyelesaikan pelatihannya karena dianggap nggak memiliki bakat. Karena suatu kejadian, akhirnya Kiyo menjadi makanai yang bertugas menyiapkan makanan para maiko.

Salah satu hal yang bikinku betah nonton The Makanai: Cooking for Maiko House adalah sinematografinya yang indah, sungguh sangat memanjakan mata. Hubungan antar karakter yang dibikin so nice so good tentcunya adem banget, pun dengan perkembangan karakter Ryoko (Aju Makita) yang stecu. Karakter favorite-ku adalah Momoko yang effortless beauty, kocak banget doi ngotot bikin ozasiki bertema zombie 😂.

*maiko (calon geiko) - geiko (sebutan untuk geisha di Kyoto)

Bisa ditonton di Netflix


Midnight Diner : Tokyo Story (2016)

 10 episodes

Bercerita tentang sebuah kedai bernama Meshiya di daerah Shinjuku (Tokyo) yang beroperasi dari tengah malam hingga dini hari. Kedai ini dikelola oleh Master (Kaoru Kobayashi) yang menyajikan menu secara suka-suka untuk para pelanggannya. Saking ikribnya, Master sampai faham permasalahan hidup rang-o-rang yang datang ke kedainya, bahkan nggak jarang turut serta membereskannya. 

Midnight Diner bukan sekedar cerita makan malam (yang kesubuhan 😁) melainkan cerita para pelanggan kedai dan makanan favorite-nya. Meski dialognya lebih banyak ketimbang makanannya *heu, aku terkesan dengan cerita yang dibawakan oleh para pelanggan kedai. Terasa dekat dan realistis. Oh ya, Master ini cukup misterius, bahkan sampai durasi berakhir nggak ada satu pun yang tanya asal mula codetnya. *apa nggak ada berani gitu ya? 😅.

Bisa ditonton di Netflix



🍀🍀🍀

Pictures were taken from Asianwiki website. 





•••
If you like my writing, send some ❤️ to cheer me up.
•••
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
When I was in high school, a friend and I once had one of those late-night, serious conversations before sleep. She asked me about the peak of intimacy in movies—what a topic, gurrlll… 😁.

***

“I know you like watching films and paying attention to details,” she said, “but have you ever wondered why, at the end of a movie, they’re almost always just kissing instead of having sex?”

I remember answering without much hesitation:

“Personally, because kissing is simpler than sex. In a kiss, you can pour all your emotions into one spontaneous moment. Sex requires preparation, intention, and a ‘proper’ setting.”

***

A few months ago, I finished the K-drama My Troublesome Star and found myself enjoying short clips of it on TikTok. While scrolling through the comments, I noticed someone saying the drama felt modest because it didn’t include intimate scenes like most dramas today.

Growing up in a modest environment, intimate scenes used to make me uncomfortable—even when I watched alone. Do you feel the same? 😁.

Sometimes I feel as though producers and writers feel guilty if their work doesn’t include intimacy, as if they’re obligated to seduce the audience. 

I remember my high school teacher once praising K-dramas for this very reason. “They don’t overdo it,” he said. “Just two people touching lips.” To him, that was the most modest way to visualize intimacy 😅.

Lately, I’ve found myself skipping intimate scenes altogether. Not because they offend me, and not because I’m trying to be morally superior—but because they no longer move me. They feel predictable, almost mechanical.

I miss the old days when a kiss was placed carefully at the end of a story, when it marked the emotional climax rather than serving as a routine checkpoint. Back then, sex felt like an optional side dish, not the main course we were expected to consume.

Maybe we’re living in an era obsessed with reaching the peak of intimacy as quickly and explicitly as possible. Or maybe intimacy has simply changed its language.

Or maybe—quietly, honestly—I’m just not ready to meet it where it stands now 🙂‍↕️.

And perhaps that, too, is okay.





•••
If you like my writing, send some ❤️ to cheer me up.
•••
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Hello~

Semoga kalyan masih semangat di penghujung tahun ya 😁. Fyi, hampir seminggu ini aku mengalami flu dan batuk, udah minum obat dan istirahat namun belum jua pulih. Karenanya aku mengurangi aktivitasku dan put less effort on evertyhing, repot tcoy mana cuaca sungguh sangat labil tetiba hujan, tetiba panas, tetiba gerimis, tetiba lembab. Sambil menunggu obat yang kuminum bereaksi biasanya aku nonton, dan kemarin aku rewatch The Lord of the Rings trilogy.

The Lord of the Rings adalah film ber-genre fantasi yang populer di era 2000an yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya J. R. R. Tolkien. Sayangnya, aku nggak punya pengalaman nonton The Lord of the Rings di bioskop karena sedang sibuk belajar nahwu dan shorof HAHAHA *kibas hijab 😎. Aku baru tahu The Lord of the Rings malah dari Cinemags (yang diselundupkan ortu demi anaknya betah di pesantren 😁), saat baca artikel proses kreatif bts-nya aku terpukau dengan CGI-nya yang wow keren.

Aku nonton The Lord of the Rings beberapa tahun setelahnya dari TV kabel, pertama kali nonton tuh rasanya nggak mau ngedip deh pokoknya wkwk 😂. Salah satu kelebihan pake TV kabel tuh film yang ada lanjutannya pasti ditayangkan berurutan, macem hari ini Divergent, besok Allegiant, lusa Insurgent. Jadi kita bisa nonton marathon asal tahu jadwalnya, rotasi filmnya random sih tapi so far variatif kok. Kalau kalyan belum punya smart TV namun ingin nonton film yang OK, opsi TV kabel ini layak dipertimbangkan 😉.

Selain menulis The Lord of the Rings, J. R. R. Tolkien menulis The Hobbit yang juga diadaptasikan menjadi film namun dipecah menjadi trilogy. Kedua trilogy tersebut disutradarai oleh Peter Jackson sedang untuk series-nya disutradarai oleh beberapa sutradara (aku belum bisa kasih review-nya masih otw nonton soale 😅). Diantara semua bukunya J. R. R. Tolkien aku cuma punya The Lord of The Rings: The Two Tower, menyesal nggak beli semuanya karena cover versi terbarunya udah beda konsep.

***

The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring (versi buku 1954, versi film 2001)
The Lord of the Rings: The Two Tower (versi buku 1954, versi film 2002)
The Lord of the Rings: The Return of the King (versi buku 1955, versi film 2003)
*bisa ditonton via layanan streaming

The Hobbit (versi buku 1933)
The Hobbit: An Unexpected Journey (2012) review
The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013) review
The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014) review
*bisa ditonton via layanan streaming

The Lord of the Rings: The Rings of Power season 1 (2022)
The Lord of the Rings: The Rings of Power season 2 (2024)
*hanya bisa ditonton via Amazon Prime

***

Ada banyak universe yang sambung menyambung menjadi satu dalam sinema, salah satunya adalah Marvel Cinematic Universe, salah duanya adalah Star Wars Universe dan salah tiganya adalah Salatiga *muatan lokal 😅. Untuk mempersingkat intro, mari kita menuju ke Middle Earth Universe di mana fabel, mitos dan sage melebur dalam fiksi. Kalau J. K. Rowling membawa kita pada pesona magisnya dunia sihir, maka J. R. R. Tolkien akan membawa kita pada indahnya hikayat fantasi.

The Lord of the Rings memberikan influence yang besar dalam budaya pop, bahkan beberapa penulis terang-terangan menyebutkan The Lord of the Rings sebagai inspirasinya. Salah duanya adalah George R. R. Martin (seri The Game of Thrones) dan Christopher Paolini (Eragon, Brisingr dan Inheritance). Meski banyak catatan kaki dan info kurang penting, aku suka peta middle earth dan ilustrasi mini yang mereka sematkan karena mempermudah mengolah imajinasi.

OK. Biar nggak blah bloh teuing, markimul review The Lord of the Rings dengan menjawab FAQ-nya.

ADA APA DENGAN CINCIN?
Di masa lalu elf bikin 19 cincin sakti mandraguna yang dibagikan pada para pemimpin di middle earth, konsepnya ala-ala cincin persahabatan gitu *sotoy 😅. 9 cincin untuk bangsa manusia, 7 cincin untuk bangsa kurcaci dan 3 cincin untuk bangsa peri. Salah satu penyihir pembuat cincin adalah Sauron, doi berkhianat dengan bikin 1 cincin master yang bisa mengendalikan semua cincin (dan pemakainya). Hanya ada satu cara untuk menghancurkan cincin ini yakni dimasukkan ke lahar gunung Doom, makanya Sauron bikin benteng di sana.

KENAPA SAURON HANYA MEMILIKI SATU MATA? APAKAH DOI DAJJAL?
Saat Isildur berhasil mengambil cincin tersebut dari Sauron, raganya hancur namun jiwanya tetap utuh dan terikat pada cincin (macem Voldemort dan horcrux-nya). Dengan sisa kekuatannya, Sauron hanya mampu mengambil wujud mata tanpa kelopak yang terus menerus men-scan middle earth demi menemukan cincinnya. Ia juga nggak ingin ada menyebut namanya dan menciptakan julukan The Eye layaknya you-know-who.

GOLLUM ASLINYA MAKHLUK APA?
Smeagoll aslinya adalah hobbit macem Frodo, Smeagoll dan sepupunya Deagol menemukan si cincin saat sedang memancing di sungai. Bisikan si cincin bikin Smeagol khilaf dan menghilangkan nyawa Deagol, meski menyesali perbuatannya Smeagol malah makin kameumeut sama si cincin. Saat ngomong sendiri kadang Smeagol menyebut dirinya sebagai 'kita' karena masih merasa Deagol bersamanya. Oh ya, dia disebut Gollum karena suaranya yang serak-serak jibreug.

***

Markimul review The Lord of the Rings yang sesungguhnya... 😁.

The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring

Bercerita tentang Frodo Baggins (Elijah Wood) yang mewarisi si cincin dari pamannya, Bilbo Baggins (Ian Holm). Gandalf (Ian McKellen) pun menyuruh Frodo untuk segera kabur karena Nazgul otw mencarinya di Shire. Frodo ditemani oleh Samwise "Sam" Gamgee (Sean Astin), Meriadoc "Merry" Brandybuck (Dominic Monaghan) dan Peregrin "Pippin" Took (Billy Boyd). Para hobbit ini ditolong oleh The Stridder aka Aragorn (Viggo Mortensen) dan diantarkan ke Rivendell.

Setelah rapat antar bangsa diputuskan bahwa Frodo dan kengkawan mengantarkan si cincin menuju gunung Doom. Mereka adalah; Sam, Merry, Pippin, Gandalf, Aragorn, Boromir (Sean Bean), Gimli (John Rhys-Davies) dan Legolas (Orlando Bloom). Kesembilan pembawa cincin ini menghadapi berbagai rintangan, termasuk jebakan yang disiapkan Sauron di tambang Moria. Di tengah perjalanan mereka dibuntuti oleh Smeagoll (Andy Serkiss), sumvah tiap kali doi ngomong 'my precious' bawaannya ingin nendang 😂.

Di antara kesembilan pembawa cincin tentcunya aku paling sebel sama Boromir karena doi kurang bisa menahan hasratnya untuk memiliki si cincin. Meski begitu karakter Boromir ini paling merepresentasikan kita sebagai manusia yang imannya labil, kadang kuat, kadang lemah, kadang kiding 😁. Scene favorite-ku adalah saat air sungai yang dijampi-jampi Arwen (Liv Tyler) berubah jadi sekawanan kuda yang menerjang para Nazgul. Wow kewren 😎.

Cinta beda dunia ala Aragorn dan Arwen tentcunya bikin bapake Elrond (Hugo Weaving) puyeng tyada duwa, mana dyangdut mulu nih si Arwen wkwk. Legolas mah nggak usah dipertanyakan lagi, a complete package of kecengan halu-halu babu, aku padamu bwang. The Lord of the Rings ini ditutup dengan keberhasilan mereka keluar dari tambang Moria dan melanjutkan perjalanan menuju gunung Doom.


The Lord of the Rings: The Two Tower

(masih) bercerita tentang sembilan delapan pembawa cincin yang mesti tercerai berai gegara diserang Uruk-Hai. Frodo dan Sam melanjutkan perjalanan menuju Mordor via Smeagoll. Sedang Aragorn, Legolas dan Gimli mengejar Uruk-Hai yang menawan Merry dan Pippin. Boromir meninggal saat menyelamatkan Pippin dari Uruk-Hai, jasadnya dilarung di sungai dan kelak ditemukan oleh adiknya, Faramir (David Wenham).

Aragorn, Legolas dan Gimli bertemu dengan pasukan Rohirrim yang dipimpin oleh Eomer (Karl Urban) yang merupakan keponakan Raja Theoden (Bernard Hill). Nun jauh di sana Merry dan Pippin bertemu dengan Treebeard yang marah karena Saruman (Christopher Lee) merusak hutan. Menyadari para pembawa cincin berkumpul di Edoras, Sauron pun memerintahkan pasukannya untuk menyerang Helm's Deep. Sayangnya meski udah digabung dengan pasukan peri, pasukan Edoras mereka tetap kalah jumlah.

Gregetan banget rasanya meihat evakuasi warga ke Helm's Deep berjalan selow, hayu atuh gaes... geura ngampih 😭. Kalau kalyan pernah nonton Game of Thrones, nah, Battle of Helm's Deep ini mirip dengan Battle of The Bastards. Tyda pernah terbayangkan bahwa pesona aki-aki bisa semenyilaukan ini 😂. Oh ya, Eomer punya adik perempuan bernama Eowyn (Miranda Otto) yang diam-diam naksir Aragorn, mon maap... kali ini giliran penonton yang puyeng haha.

Gandalf dan Saruman tadinya adalah bestie dengan visi misi yang sama, Saruman adalah penyihir putih sedang Gandalf adalah penyihir abu-abu. Mungkin karena melihat Sauron lebih berprospek menguasai middle earth, makanya Saruman merapats dan berharap mendapat potongan kue kekuasaan *kaya di mana gitu ya? 😅. Oportunisnya Saruman udah macem politikus masa kini, yang if you can't beat 'em, join 'em.


The Lord of the Rings: The Return of the King

(masih) bercerita tentang delapan pembawa cincin yang kini bersiap menghadapi serangan Sauron. Slow but sure, Smeagol berusaha menghasut Sam agar selangkah lebih dekat dengan Frodo. Setelah kekalahan di Helm's Deep, Sauron mengalihkan sasarannya ke Gondor yang dipimpin oleh Denethor (John Noble) yang masih berduka atas kematian Boromir dan Faramir. Untuk mempersiapkan pertahanan, Gandalf dan Merry diam-diam menyalakan suar untuk meminta bantuan para sekutu.

Bahkan dengan semua bantuan yang ada, pasukan mereka masih kalah jumlah. Saat itulah Elrond memberikan pedang Narsil milik Isildur dan menyarankan Aragorn untuk meminta bantuan pasukan kematian. Bahkan untuk ukuran masa kini scene peperangannya masih OK terutama oliphaunts-nya. Yuyur aku setuju dengan pendapat Gimli yang ingin mendayagunakan pasukan kematian untuk peperangan selanjutnya, sayang aja gitu kalau cuma dipake sekali #mendangmendingclub.

Sebagai manusia tenctunya aku kagum dengan stamina para pembawa cincin ini, yu bayangkan... perang 5 hari berturut-turut tapi nggak semaputs tuh gimana konsepnya coba? Mana tidurnya pada ngampar, apa nggak pada encok pegel linu 😅. Lega banget rasanya saat Eowyn dan Faramir tiba-tiba ketemu, tyda sanggup euy membayangkan Eowyn patah hati ditinggal kewong Aragorn dan Arwen yang akhirnya memilih jadi makhluk fana.

Aku suka scene saat Smeagoll dan si cincin jatuh dalam lahar gunung doom, tyda siya-siya effort doi demi si precious teh. Mungkin karena ada banyak karakter dan kejadian aku merasa Frodo nggak sespesial martabak, meski di beberapa momen doi memang mendapatkan treatment khusus. Karakter favorite-ku tenctu adalah Legolas, tyda banyak cingcong namun slay~.


***

Ketimbang versi bukunya aku lebih suka versi filmnya, kewren aja gitu 😁. Ada banyak alasan mengapa kalyan mesti nonton The Lord of The Rings trilogy at least sekali seumur hidup, Orlando Bloom in his prime adalah salah satunya 😂. Sekarang aku otw nonton The Lord of the Rings: The Ring of Power yang merupakan prekuel dari trilogy-nya, so far masih stuck di season 1.

***

Pictures taken from IMP Awards website.






•••
If you like my writing, send some ❤️ to cheer me up.
•••
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

Followers

Paused Moments

Let's Get In Touch

  • Behance
  • Letterboxd
  • LinkedIn

Disclaimer

It is prohibited to copy any content from this blog without prior permission. If you believe your privacy has been violated or notice content that requires proper credit, please let me know.

Note

Some links in the post may be affiliate links, which means I may earn a small commission if you buy through them. There’s no pressure at all—what works for you is what matters most. Thank you 🤍

Alone Alone Kelakone

2025 Reading Challenge

2025 Reading Challenge
Lestari has read 0 books toward her goal of 6 books.
hide
0 of 6 (0%)
view books

Archives

  • ►  2011 (7)
    • ►  May (1)
    • ►  Nov (6)
  • ►  2012 (19)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (8)
    • ►  Jun (2)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Oct (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  Jan (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (8)
  • ►  2015 (62)
    • ►  Jan (6)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  Jun (7)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Aug (10)
    • ►  Sep (7)
    • ►  Oct (11)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (7)
  • ►  2016 (64)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (2)
    • ►  May (6)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (7)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (9)
    • ►  Nov (6)
    • ►  Dec (11)
  • ►  2017 (76)
    • ►  Jan (10)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (6)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (12)
    • ►  Jun (10)
    • ►  Jul (7)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (6)
  • ►  2018 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (7)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2019 (39)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (5)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2020 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Mar (7)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2021 (44)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (4)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2022 (47)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (2)
    • ►  Oct (5)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2023 (41)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  May (2)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (6)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (2)
    • ►  Dec (4)
  • ►  2024 (48)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (5)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (5)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (2)
  • ►  2025 (36)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (1)
    • ►  Jun (6)
    • ►  Jul (2)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (2)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (4)
    • ►  Dec (3)
  • ▼  2026 (7)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (1)
    • ▼  Apr (2)
      • Na Willa
      • Project Hail Mary

SERIES

Annual Post Book Screen Shopping Quaranthings Blogging 101 Hari Raya Hidden Gems Series

Friends

  • D. R. Bulan
  • Dari Kata Menjadi Makna
  • Ikan Kecil Ikugy
  • Jolee's Blog
  • Mazia Chekova
  • Noblesse Oblige
  • Perjalanan Kehidupan
  • Pici Adalah Benchoys
  • The Random Journal

Blogmarks

  • A Beautiful Mess
  • A Plate For Two
  • Berada di Sini
  • Cinema Poetica
  • Daisy Butter
  • Dhania Albani
  • Diana Rikasari
  • Dinda Puspitasari
  • Erika Astrid
  • Evita Nuh
  • Fifi Alvianto
  • Kae Pratiwi
  • Kherblog
  • Living Loving
  • Lucedale
  • Mira Afianti
  • Monster Buaya
  • N Journal
  • N. P. Malina
  • Nazura Gulfira
  • Puty Puar
  • Rara Sekar
  • What An Amazing World
  • Wish Wish Wish
  • Yuki Angia

Check This Too

  • Minimalist Baker
  • Spice The Plate

Thanks for Coming

Show Your Loves

Nih buat jajan

Community

Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates