Menu

  • 🎀 Home
  • Hello ~
  • 📌 Place
  • 🔥 Space
  • 🍊 Taste
  • 🌼 Personal Thoughts
  • 🎬 Spoiler
  • 🎨 Studio
  • ➕ Extra

demilestari

Powered by Blogger.

Hello~

Adakah di antara kalyan yang main Township? Kalau ada, udah level berapa? Kalau nggak, gpp siya... hanya ingin menyapa warga sekalyan😇. Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan notifikasi dari Township Team, ternyata udah setahun niya aku jadi walikota wkwk. So far aku masih betah main Township dan belum punya game baru untuk ditekuni 😅.

Township adalah simulator game macem Harvest Moon, Farmville atau Hay Day, kalyan main juga nggak? Setelah 10 tahun akhirnya aku meng-unistall Harvest Moon di netbook karena sulit jadian heuheuheu udah pdkt sana sini namun memang belum rezeki 😅. Alhamdulillah, semua kekayaanku didapatkan dari kerja keras bagai quda tanpa cheat *ayo sini sungkem sama suhu 😉.


Tahun lalu aku ganti smartphone yekan, nah... mumpung storage-nya masih luas aku install beberapa game salah satunya adalah Township. Sejujurnya aku cap cip cup pilih game, kupilih yang rating-nya paling OK dan grafisnya cekas *penting. Sebelumnya, aku berhenti main Hay Day karena nggak kuwat dengan tone-nya yang kekuning-kuningan, siwer mata hamba 😢.

Setelah beberapa minggu main Township aku iseng tanya Widy lagi main game apa, ternyata doi main Township juga dongs. Tinggal serumah nggak menjamin penghuninya saling kenal wkwk, pantesan ya kita rajin ngampih ke kamar singhoreng teh pada main Township. Saat itu Widy level-nya lebih tinggi jadi kalau bingung aku tinggal tanya-tanya, selebihnya cari review di TikTok.


Jujur, awal main Township aku pusyinnggg... bangunan pada mangkrak, pembebasan lahan sulit dan kurang duit mulu huhu. Kalau nggak sabar menunggu panen dan kirim upeti sebenarnya ada opsi beli seasonal pass yang temanya ganti-ganti, lucu-lucu deh pokoknya. Sejauh ini aku masih bertahan dengan mode kerja keras, meski sebenarnya mupeng lihat kota sebelah yang full decorated 😍.

Yha~ aku betah main Township karena bisa mengatur layout dan dekor sana sini. Kalau soal ketekunan mah nggak usah ditanya ya, aku tekun banget.... sampai bisa meluangkan waktu seharian hanya untuk mengatur ulang layout dan memindahkan dekorasi. Biasanya aku ganti layout beberapa bulan sekali, tapi kalau lagi rajin mah bisa seminggu sekali.


Oh ya, aku tipe walikota yang realistis ya, jadi semua tata kelola bangunan kupikirkan dengan serius. Macem, lokasi tambang harus agak terpencil dan dekat dengan air, rumah-rumah warga harus punya akses jalan biar mobil bisa masuk, kantor polisi mesti satu area dengan kantor pengadilan jadi warga yang problematik bisa langsung diproses 😁.

Tim Township kewren siya, doi gercep mengembalikan grand prize bangunan paska di-complain para walikota. Pun dengan kualitas grafis yang terus update, so nice so good *chef kiss ✨👌. Yang bikinku sebel hanyalah fakta bahwa semua bangunan di Township permanen, jadi nggak bisa dipindah ke storage biar agak legaan dikit lahannya.

Kuy main Township 😉

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Photo by Ivan Samkov
Haylo...

Mungkin ini adalah kali kesekian kalyan mengecek blog-ku, yakali ada post baru yang di-publish wkwk.

Meski selama hampir 6 bulan ini blog-ku gini-gini aja, aku tetap bikin draft post kok. Aku bahkan bikin blog calendar untuk men-tracking progress dan menyusun urutan post yang akan di-publish. Saat sedang asyik mempersiapkan post (meng-edit teks, mensortir foto dan mencari link) tetiba netbook-ku mati, tanpa tanda-tanda. Setelah hampir 2 hari berusaha membangkitkannya, aku menyerah... karena netbook-ku sama sekali nggak bergeming 😢.

Berkaca dari pengalaman sebelumnya aku udah menyalin sebagian data ke storage lain, namun karena file-nya banyak tetap aja nggak cukup. Sumvah pening banget... Untuk sementara aku pake laptop-nya Widy, mungkin karena 'asing' aku cuma pake laptop-nya Widy untuk ngecek e-mail, browsing dan blog walking. USB-ku kosong melompong ya... jadi nggak ada hal yang bisa dilihat atau diulik. Aku juga baru declutter file di smartphone jadi ya allah... hampa gini hamba... aaa...*pake echo.

Biar nggak bolak balik ke Bandung, aku mesti menunggu hingga 2 minggu untuk men-service netbook-ku di Ri Computer. Aku udah beberapa pake jasa mereka, so far puas sih dan yang paling penting ada price list-nya jadi bisa disiapkan biayanya. Saat serah terima netbook aku diberi tahu bahwa mereka butuh 3-7 hari kerja untuk mengecek netbook-ku, setelah 3 hari aku dihubungi dan dijelaskan masalahnya serta biaya yang dibutuhkan.

Ternyata, yang bikin netbook-ku tetiba mati adalah prosesor yang over performance. Untuk Ideapad 215 idealnya pake Windows 8, sekarang aku pake Windows 10 (itu pun minta di-update mulu ke Windows 11) makanya doi jang-head. Aku disarankan untuk memberikan jeda 3-5 menit biar netbook-nya mempersiapkan diri sebelum dipake. Selain itu aku disarankan untuk rajin mengecek performance prosesorku terutama kalau lagi buka beberapa program.

Memang sejak pake Windows 10 netbook-ku terasa selow dan manja, kukira gegara memory-nya yang otw penuh makanya aku rajin declutter file wkwk. Aku bahkan nggak bisa meng-install program-programnya Adobe, that's why in CorelDraw I trust. Meski sepuh netbook-ku pernah setrong loh ya, aku pernah meng-install Adobe Premiere untuk bikin video fanart, Adobe Indesign untuk bikin layout portfolio bahkan SketchUp untuk bikin rumah kalau lagi gabut. Syitmennn... aku exploiter.

Akhirnya keluar juga pertanyaan keramat ini: Mas, kira-kira berapa lama lagi ya umur netbook-nya? 😅.
Sebenarnya umur netbook ini masih bisa panjang, selama di-treatment dengan baik, toh maintenance masih bisa diatur, komponen rusak masih bisa diganti, mainboard mati masih bisa di-service wkwk. Tapi ya balik lagi, kalau ingin performance netbook yang optimal macem dulu solusinya cuma 2, di-downgrade ke Windows 8 atau ganti unit.

Rencana untuk ganti device memang udah ada sejak 3-4 tahun yang lalu, cuma sampai sekarang masih belum terealisasi. Selama barangnya masih masih bisa dipake mah push until the limit, masalahnya aku masih gamang menentukan di mana limit-nya. Hal ini yang sebenarnya bikinku maju mundur untuk ganti device, mau ganti tapi netbook-ku masih bisa dipake, tapi kalau nggak ganti gimana kalau tetiba mati (lagi, dan nggak bisa dibangkitkan). Pucing kali palaku...

Selain itu aku bimbang memutuskan mau ganti ke laptop atau PC, keduanya tentcu punya plus minus ya... dan aku udah di tahap mual memikirkannya. Aku mempertimbangkan untuk pake Lenonvo lagi karena terbukti awet dan tahan banting, yaiyalah... 13 years of (modern) slavery. Sebelumnya aku udah pernah pake laptop (bukan netbook) Acer, Asus dan Compaq, mungkin karena nggak becus maintenance-nya jadinya di-service mulu padahal belum sampai 5 tahun.

Adakah di antara kalyan yang bisa kasih review tipsy laptop atau PC yang worth in every penny? Yang cucok untuk desain, desain, desain dan punya keyboard nyaman untuk mengetik. Kabari daku ya... Tengkyuw.

***

ASSET
Rp 2.800.000 Ideapad S215 (2013)
Rp 150.000 anti gores (2013)

SPESIFICATION
Processor: AMD E1-2100
VGA: AMD Radeon HD 8210
RAM: 2 GB (upgrade 4 GB)
HDD: 500 GB
OS: Windows 8 64-bit (upgrade Windows 10)

MAINTENANCE
Rp 2.400.000 Windows 10 Home (2021)
Rp 650.000 upgrade RAM (2022)
Rp 150.000 ganti keyboard (2022, ketumpahan air)
Rp 150.000 ganti keyboard (2024, ketumpahan air lagi)
Rp 350.000 mainboard mati total (2025)

EXTRA
Rp 1.300.000 SSD 1 TB (2025)

***

Untuk post yang berkaitan dengan netbook dan manteman bisa dibaca di sini ya
Upgrade OS dan Printilannya
Menuju 1 Dekade
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hello~

Apa kabar manteman? Sudahkah kalyan merotasi outfit untuk dipake saat hari hujan? Aku udah ya… hampir setiap hari aku double layering karena anginnya sungguh sangat nggak coy. Nggak lupa bawa parka dan payung karena setelan jas hujanku pas dipake celananya ngatung banget 😭 aku udah beli sandal jelly baru, desainnya masih sama cuma beda warna aja.

Seperti yang kalyan tahu, aku sedang berada pada masa puyeng mengisi printilan rumah, repot memang… ketika selera nggak sesuai salary 😂. Makanya aku skip nggak ikut main ke Dieng dengan manteman kantor meski sebenarnya mau-mau aja sih 😁. Biar weekend-nya nggak anyep-anyep banget, manteman kantor (yang nggak ikut main ke Dieng) berinisiatif untuk main mandiri ke Wahoo.

Kita main ke Wahoo saat weekend, perginya pake TMP 3D sampai Halte Alun-Alun lanjut pake TMP 2D sampai Halte IKEA. Dari IKEA kita jalan kaki ke Wahoo, sebenarnya ada shuttle cuma karena kita datangnya pagian shuttle-nya belum pada keluar. Isokay… aym fayn… *padahal capek 😅. Kita beli tiketnya OTS sekaligus top up deposit untuk sewa ban dan jajan di food court.

Setelah nge-tag sunny lounge dan pake sunscreen *penting 😁 kita menunggu sekitar 10-15 menit sampai wahananya dibuka. Wahana yang pertama kita naiki adalah Boomerango… buseddd… jantungku kemanaaa *echo… 📢✨aku hanya ingat ban yang tetiba meluncur menuju seberkas cahaya dan warna surface-nya yang merah oranye saat berada di puncak. Yawla… untung aku rabun 😅.

Di setiap wahana tersedia loker untuk menitipkan smartphone, namun ada masanya kita nyemplung dan main air tipis-tipis di kolam. Biar sans kita pake waterproof case (aku pake waterproof case-nya Widy), agak parno kalau ditinggal karena jarak antar wahana cukup jauh, apalagi nggak ada yang jaga tas. Saat menunggu order-an di food court, aku mengecek smartphone-ku, eh… ternyata case-nya udah terisi air 😭.

Aku langsung berusaha ‘menyelamatkan’ smartphone-ku dengan mengeringkannya pake handuk dan tissue, mungkin karena udah lama terendam screen-nya belang dongs 😅. Bagian yang terendam warnanya lebih gelap dan muncul bintik-bintik dead screen macem di netbook (punya akulah masa punya kalyan 😂). Saat itu smartphone-ku masih berfungsi, masih bisa foto, masih bisa balas chat, masih bisa dipake telepon.

Sejujurnya aku udah pasrah sih 😅 smartphone-ku memang udah ‘sepuh’ dan udah waktunya ganti. Oh ya, smartphone-ku adalah Vivo Y12 yang dibeli pada bulan September 2019 karena smartphone sebelumnya udah sakaratul maut. Aku nggak punya kriteria spesifik smartphone impian makanya nggak rewel saat memilih, yang penting sesuai budget dan sparks joy ✨✨😉✨✨.

* rerata masa pakai smartphone adalah 3-5 tahun, bisa lebih pendek atau penjang tergantung pemakaian.

Di rentang 5 tahun tentcunya ada banyak fitur yang nggak bisa kuakses gegara sistemnya nggak update, aku bahkan baru bisa pake sticker IG macem: January Dump atau Best Moments 1 tahun sejak dirilis. Saat Idul Fitri screen-nya tetiba terlepas dari body-nya macem cepuk cushion, kukira akan meninggoy ternyata masih nyala ya makanya kutempel lagi pake double tape 😂.

Selama smartphone-nya masih nyala dan bisa dipake berkomunikasi aku sih B aja, yang greget malah mama. Beliau yang paling rajin mengingatkan untuk ganti smartphone, udah ketinggalan zaman ceunah guise… iya mah, memang 😅. Alhamdulillah doa mama di-ijabah Allah, semesta pun turut menikung sehingga aku mesti ganti smartphone 😌.

Smartphone-ku nggak bisa terselamatkan yaini, meski statusnya masih nyala screen-nya dipenuhi oleh garis-garis kusut. Untuk mengisi jeda sampai smartphone *yang baru sampai aku pake smartphone-nya Mas Bagus. Well... karena statusnya cuma pinjam (dan nggak mau ribet login-logout akun) aku cuma install aplikasi yang penting-penting aja macem Gojek dan Mitra Darat.

Lemi telyu… 1-2 hari pertama nggak ada smartphone rasanya super anyep, puyeng banget apa-apa mesti pake QRIS karena akun m-banking nggak bisa diakses 😢, jangankan buka G-Mail ini Whatsapp chat-nya pada ngilang menyisakan grup yang hidup segan mati tak mau. Maafkan daku ya manteman tetiba slow reponse dan sulit dihubungi, smartphone-ku meninggoy, mohon doanya 🙇.

HAL-HAL YANG TERJADI SAAT NGGAK ADA SMARTPHONE
- nggak bisa mengakses m-banking, aku kembali transfer manual di ATM dan kirim foto struknya.
- nggak bisa mengakses G-Mail, aku hanya mengakses G-Mail di jam kerja pake PC kantor.
- nggak bisa mengecek paket Shopee, kalau seller-nya amanah insya allah akan sampai di 3-4 kerja.
- skip jajan karena saldo di e-wallet terbatas 😭👍.
- baca buku (yang belum sempat dibaca) saat perjalanan pergi pulang ke kantor 💖.
- nulis random pop-ups di notes dan menyadari bahwa tulisanku kok butut banget ya 😱.
- nonton series yang tersisa di netbook.
- enjoy the days, bersyukur nggak tantrum karena nggak ada smartphone 😉.

UPDATE
- alarm di smartphone-ku masih nyala meski udah memasuki minggu ketiga sejak terakhir di-charge.
- smartphone-ku udah resmi kembali ke karena alarm-nya berisik.

Anyway... to my previous smartphone. 
Thanks for your service, it’s an honor to be your partner  ✨👌

foto purnabakti ini dipersembahkan oleh BliBli


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
housewarming pake Hokkaido Cheese-nya Vitasari

Hello~

It’s been a while since my last How I Spent Weekend series… I’m still alive btw, just in case you are curious 😁.

Beberapa bulan belakangan aku jarang update blog karena kesulitan membagi waktu antara nyicil pindahan dan menikmati weekend yang syahdu 😅. Mungkin karena nggak terbiasa dengan flow baru ini aku jadi kurang bisa menikmati weekend karena berasa dikejar-kejar apa gitu. Aku ingin rebahan sambil scroll socmed dengan angin sepoi-sepoi yang bikinku ngantuk terus ketiduran~ 😏.

Sezuzurnya, wacana pindahan udah ada dari lama tapi baru akan terealisasi di pertengahan tahun ini. Ada banyak hal yang mesti diurus, termasuk melengkapi printilan rumah yang bikinku puyeng saking nggak kepikirannya 😂. Aku hanyalah manusia biasa yang nggak ingin buang duit gegara salah beli barang, makanya aku butuh waktu untuk mengukur ini itu dan mencari opsi terbaik sesuai budget. Aku butuh honest review bukan aesthetic review yaaaaa…


Oh ya, aku pindahan dari kosan ke rumah mama yang lokasinya berada di… Bandung Selatan, tapi aku tetap meng-aamin-kan kalau kalyan mengira aku membeli rumah mandiri 😊. Status rumah ini adalah rumah bersama maka siapa pun (anak-anaknya dongs 😁) boleh tinggal disini, namun karena saat ini aku tinggal di Bandung maka aku yang menempatinya. 

Tadinya aku berencana untuk pindah di bulan Agustus, udah bikin timeline, prepare ini itu ternyata dipercepat jadi akhir bulan Juni. Oh ya, Widy ikut pindah denganku, maaf banget nih bunda tapi aku nggak berani tinggal sendiri 😂. Untuk pindahan tentcunya aku dibantu Widy dan Mas Bagus, saat pindahan itulah aku baru menyadari ternyata barang-barangku banyak ugha ya 😅 makanya kita butuh 2 kali pindahan yang terbagi dalam 2 hari 😆.


Setelah pindah ke Bandung Selatan tentcunya aku mesti beradaptasi dan mengkalibrasi ulang habits, it’s been a tough time for me… apalagi momen pindahanku bertepatan dengan momen liburan sekolah yang mana bikin flow pergi dan pulang kerja sulit diprediksi. Beberapa kali aku dan manteman membahas tentang tingkah polah warga kabupaten yang (menurut kita) agak offside dan kadang bikin emosi. Well… kini aku adalah warga kabupaten yang pernah kita bahas itu 😅 *plot twist.

Secara geografis, Bandung Selatan berada di dataran tinggi yang untuk menuju kesana kita mesti melewati perbatasan Bandung bagian estetik dan Bandung bagian rudet 😂. Sebagian besar warga mengisi waktu luang dengan bercocok tanam, bekerja di pabrik dan mengaktualisasikan diri. Serius deh ini, ada banyak baligo yang memuat foto diri dan berbagai jargon yang tersebar di sepanjang jalan Bandung Kota – Bandung Selatan.


First impression-ku akan Bandung Selatan hanyalah: wow… 💥 aku nggak tahu apakah kalyan merasakan hal yang sama namun bagiku Bandung Selatan masihlah Dayeuh Kolot (kota lama). Maksudnya, vibes daerahnya macem Bandung tempo doeloe yang rang-o-rangnya sederhana dan living for the moment. Di era 90-an TVRI Jawa Barat, menyangkan serial berjudul Inohong di Bojong Rangkong yang bercerita tentang kehidupan di tatar Sunda, nah… kurang lebih seperti itulah Bandung Selatan.

Seiring kepindahanku ke Bandung Selatan kemungkinan konten post-ku akan berubah, gpp laya… toh yang baca hanya kalyan aja 😁. Mohon maklum ya manteman… aku masih butuh waktu untuk beberes dan melengkapi printilan rumah. Percayalah, aku kadang kangen jajan di Vitasari dan Juice Koh Akin saat weekend, pun dengan Lotek Kurdi dan Gudeg Yogya di depan Indomaret.

Sebagian jajanan yang ada di sekitar Kurdi dan Inhoftank


Sebagai newbie di Bandung Selatan, aku masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri jadi mohon pengertiannya untuk nggak bertanya tentang tempat wisata atau kuliner yang direkomendasikan oleh TikTok. Maaf banget niya... aku pun belum sempat 😅. Well... kalau kalyan tinggal di Bandung Selatan dan sekitarnya, boleh dongs rekomendasinya... apa pun 😁. 

Di masa transisi ini ada banyak penyesuaian yang mau nggak mau mesti kulakukan, salah satunya adalah bangun lebih pagi demi sampai kantor tepat waktu. Kalau byasanya aku memulai pagi dengan sarapan dengan khidmat sambil scroll social media, kini aku memulai pagi dengan sarapan yang tergesa-gesa sambil order Gojek yang entah kenapa lama banget di-pick-nya. 


💖💖💖
From the unaesthetic side of Bandung 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
main entrance yang cute

Hay~

Weekend ini aku kedatangan mood untuk beberes file di netbook kebanggaanku yang kini udah berusia lebih dari 1 dekade *penting 😎. Saat beberes itu aku menemukan folder foto saat aku dan Icunk bersilaturahmi paska libur hari raya, beberapa hari sebelum aku tepar gegara koronces. FTW. Aku hanya ingat part saat aku mengirimkan foto ke Icunk via WA, sedang sisanya mah blasss… 😅 makanya tyada post yang bisa dijadikan reminder di blog. Meski terlambat berbulan-bulan kurasa nggak ada salahnya untuk berbagi momen sebelum aku terpapar koronces 🤭.

Seminggu setelah libur hari raya, aku dan Icunk bertemu untuk ngobrolin kursi roda yang dipake oleh mama. Rencananya kita mau ke Tobo yang ada di Cihapit dan ke Ichiyo Ramen yang ada di Buah Batu, sedang sisanya jalan jajan random aja 😌. Hari itu aku terbangun dengan kondisi sedikit flu, kukira hal yang wajar ya karena cuaca belakangan ini memang nggak coy, bahkan teman kantorku pun sedang flu 🥲.

***

Kita tahu Tobo dari mana lagi yekan… TikTok brought us here, siapa lagi yang searching hal-hal begini kalau bukan Icunk 😁. Berdasarkan info yang kita dapatkan, Tobo adalah restaurant yang menyajikan fast food ala Jepang, dengan menu utama rice bowl. Kalyan nggak perlu khawatir kesulitan mencari Tobo karena lokasinya berada tepat di depan Pasar Cihapit, di barisan yang sama dengan House of Tjihapit. Selain itu, logo Tobo yakni si bunga matahari kuning sangat eye catching tertempel di glass door.

Tobo terdiri dari 2 lantai, lantai 1 untuk kasir dan serving area dengan konsep open kitchen, dimana kita bisa duduk sambil melihat makanan kita dipersiapkan. Sedang lantai 2 untuk dining area yang terdiri dari private seat (minimum 4 orang) dan common seat. Kita memilih seat yang dekat dengan steker karena semalam lupa nge-charge, iya… faktor U 😅. Sambil menunggu order-an selesai, kita ngobrolin hal-hal yang terjadi selama Idul Fitri minggu lalu.

Untuk menu dan price range-nya kalyan bisa cek mandiri ya soalnya aku udah lupa dulu order menu yang mana 😅. Seingatku, kita order 2 menu yang berbeda tapi begitu order-an sampai kita jadi bingung sendiri karena menunya sama. Untuk rice bowl rasanya memang beda (meski) tipis, sedang side dish-nya sama persis. Kita memutuskan untuk nggak komplain karena… yaudalaya… dimakan aja, mungkin masnya masih ingin liburan 🥺. Untuk rasanya sih so far B aja, nggak yang enak banget atau yang bikin kita ingin balik lagi.



kamuflasenya berhasil




TOBO
📍 Jl. Cihapit No.25B, Cihapit, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung
📅 Senin-Minggu 08.00-20.00 WIB
🍜 33.5K - 57.5K
🍤 8.5K-57.5K
🥤 5K-10K

***

Dari Cihapit kita jalan kaki ke Riau Junction karena gabut 🤭. Tadinya kita hanya ingin lihat-lihat aja eh ternyata ada yang beneran nyangkut. Kemudian kita lanjut jalan kaki ke Gramedia dan istirahat di taman barunya, FYI space buku murce di depan Tahu Brintik kini diubah menjadi ruang terbuka dengan kursi taman dan rumput sintetis. Kita membagi snack yang tadi dibeli dan menyusun ulang isi tas biar lebih compact, yagimana nggak berat tadi kita beli Oatside 1 liter bundle (isi 2) 🥲.

from where I stand

***

Dari Gramedia kita naik angkot ke Buah Batu, di tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun dengan deras. Saat kita sampai Ichiyo Ramen sedang ramai, terlihat rang-o-rang menunggu hingga di bagian luar. Ketimbang ikut waiting list dan menunggu sambil hujan-hujanan, kita memutuskan untuk menunggu di food court Yogya Buah Batu. Seingatku, saat menunggu aku sempat minum obat (atau tolak bala *lupa 😅) karena merasa semakin flu, aku juga merasa sedikit demam dan agak pusing, kemungkinan gegara hujan tadi.


***

Saat kita ke Ichiyo Ramen situesyennya udah agak sepi, kita langsung memilih menu dan menunggu order-an tiba. Seperti Tobo, Ichiyo Ramen menggunakan konsep open kitchen dimana kita bisa ‘menonton’ makanan kita dipersiapkan dari sela-sela partisi. Seingatku, saat itu kita order Spicy Tantan Ramen *lupa lagi pake side dish apa nggak 😁. Meski pedas, aku sih yes, jagungnya bikin kuahnya terasa lucu… selama ini aku jarang menemukan ramen yang pake jagung, so far sih okay. Worthy to try - worthy with the price.


ICHIYO RAMEN
📍Jl. Buah Batu No.220, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung,
📅 Senin-Minggu 10.00-21.30 WIB
🍜 35K-69K
🍤 9K-29K
🥤 5K-19K

***

Bukannya langsung pulang ke kosan yang ada kita malah mampir dulu ke Togamas Buah Batu. Nah, saat di Togamas ini kita udah mulai merasa nggak enak, mungkin kalyan pernah merasakan ya momen dimana kita butuh rebahan secepatnya. Macem… bawa aku pergi dari sini… 🙃 Kita caw menuju kosan, minum obat yang ada dan tertidur karenanya. Besoknya kita kompak sakit (demam, pusing dan flu) yang membuat kita rebahan seharian. Sialnya, besoknya Icunk sembuh sedang aku nggak 🥲.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Photo by Ketut Subiyanto

Yha~

Aku pun geli dengan judul post kupilih ini, macem… udah nggak bisa menemukan judul yang lebih catchy. Tapi yagimana… nalarku mentok sampai disini 😅.

Udah berbulan-bulan lamanya aku skip menulis di blog, stok draft-ku masih cukup dan aku punya (nggak banyak sih heu 😅) hal-hal yang ingin diceritakan. Kali ini aku yang ditodong universe untuk sedikit mengambil jeda, yang saking nikmehnya malah jadi keterusan 😆. Meski kadang merasa ada missing things perkara skip menulis di blog, aku puas menikmati jedaku ini.

Mungkin ada yang penasaran, ngapain aja aku selama ini. Well… aku nggak ngapain-ngapain kok. Menjalani hari-hari seperti byasanya dan beristirahat lebih dari cukup. Aku menghabiskan waktuku dengan bersantai dari hal-hal yang… apa ya… menyita energi gitu ya 😙 Aku berusaha menggunakan waktuku sebaik mungkin untuk menikmati hari-hariku.

Awal tahun ini aku dan keluargaku disibukkan dengan acara pernikahannya Widy dan segala printilannya termasuk acara ngunduh mantu lintas provinsi. Kemudian Ramadan tiba berikut dengan lemburan dan bukber-bukbernya. Kemudian Idul Fitri tiba dan aku nggak cukup puas dengan liburannya yang terasa singkat. Apakah aku lelah? Ya… Ya… Ya… Ya… Ya…

Pada dasarnya aku memang kurang suka minuman dingin karena bikin brain freeze sedang cemilan pedas karena bikin keselek. Sayangnya, aku nggak mampu menghindari mereka semua sehingga akhirnya boundaries-ku kedodoran. Yap, cuaca panas begini mah memang cucok minum minuman dingin yekan, pun dengan cemilan pedas yang cucok untuk me-refresh lidah pasca bolak balik terbilas santan.

Sialnya, aku melewatkan beberapa hal penting macem minum vitamin, makan cukup dan istirahat nyaman.

Akumulasi dari hal-hal inilah yang akhirnya mengantarkanku pada bedrest.

Setelah berhari-hari demam-batuk-pilek tyada henti aku memutuskan untuk ke klinik, aslinya… daku udah nggak sanggup. Dokternya belum bisa memastikan apa penyakitnya karena butuh waktu untuk observasi, kemungkinan besar sih kecapekan dan ISPA *lagi akibat pancaroba. Pulangnya aku dikasih obat yang banyak dan diminta untuk bedrest, kalau nggak ada perubahan mesti cek ke lab khawatirnya tifus atau DB.

Badanku memang agak enakan paska minum obat tapi jadinya aku malah tidur mulu sampai nggak sempat VC mama dan Icunk 😅 Karena merasa agak enakan itulah aku berinisiatif untuk keramas dan mencoba hair tonic baruku *riya 😎. Saat pake hair tonic itulah aku tersadar bahwa aku nggak bisa membaui aromanya, kucek expired date-nya masih lama kok, tapi kenapa nggak terasa?

Byasanya kan hair tonic dipake saat rambut ½ kering, nah… karena nggak bisa membaui aromanya kutambahkan lagi hair tonic-nya sampai rambutku basah lagi macem tadi saat beres keramas. Hidungku udah nggak nyaman tersedak hair tonic, tapi sebanyak apa pun hair tonic yang kupake aku tetap nggak bisa membaui aromanya. Yha~ daku mabok hair tonic ygy…

Saat itulah aku tersadar bahwa aku ini anosmia, mau KZL tapi yagimana… toh saat ini koronces udah jadi endemi dan rang-o-rang kayanya udah pada lupa bahwa pernah ada pandemi. Koronces udah 2 season eh aku malah mendapatkan versi extended-nya, rang-o-rang udah move on sedang aku baru terjembab. Aku jelas nggak bisa men-tracking darimana kudapatkan koronces ini karena hampir setiap hari aku menggunakan transportasi publik dan bertemu dengan banyak orang.

Setelah kupikirkan lagi… aku memang udah anosmia sejak beberapa hari yang lalu namun tersamarkan oleh pilek yang membuat hidungku mampet. Aku juga jadi ngeh bahwa udah beberapa hari ini area dadaku agak mati rasa, setiap ada kesempatan dadaku kubalur pake medicated oil namun kurang terasa panas, skalanya sekitar 2 dari 10. Aku nggak begitu memperhatikan karena terfokus pada sakit kepala yang simpang siur macem minuman bersoda 

Ohya, saat pertama kali merasa nggak enak badan aku sedang bersama Icunk, halal bihalal berbalut ngobrolin kursi roda. Besoknya kita berdua sakit dengan gejala yang sama bedanya Icunk akhirnya sembuh tapi aku nggak 😥.

Jadilah aku kembali melakukan quaranthings macem 2 tahun yang lalu, bangun tidur – sarapan – jemuran – rebahan – rebahan – rebahan – minum obat - VC sana sini, bedanya kali ini aku yang sakit. Oh… inilah yang dirasakan rang-o-rang saat pandemi 2 season lalu, kebayang gimana effort-nya mereka yang isoman mesti tetap bekerja, aku aja yang rebahan udah keleyengan begini.

Sampai saat post ini ditulis alhamdulillah aku udah baikan kok, anosmiaku hilang secara bertahap cuma memang masih mudah lelah jadi belum bisa pergi jauh-jauh.

Tetap sehat ya guise… 😊
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

Followers

Paused Moments

Let's Get In Touch

  • Behance
  • Letterboxd
  • LinkedIn

Disclaimer

It is prohibited to copy any content from this blog without prior permission. If you believe your privacy has been violated or notice content that requires proper credit, please let me know.

Note

Some links in the post may be affiliate links, which means I may earn a small commission if you buy through them. There’s no pressure at all—what works for you is what matters most. Thank you 🤍

Alone Alone Kelakone

2025 Reading Challenge

2025 Reading Challenge
Lestari has read 0 books toward her goal of 6 books.
hide
0 of 6 (0%)
view books

Archives

  • ►  2011 (7)
    • ►  May (1)
    • ►  Nov (6)
  • ►  2012 (19)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (8)
    • ►  Jun (2)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Oct (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  Jan (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (8)
  • ►  2015 (62)
    • ►  Jan (6)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  Jun (7)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Aug (10)
    • ►  Sep (7)
    • ►  Oct (11)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (7)
  • ►  2016 (64)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (2)
    • ►  May (6)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (7)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (9)
    • ►  Nov (6)
    • ►  Dec (11)
  • ►  2017 (76)
    • ►  Jan (10)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (6)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (12)
    • ►  Jun (10)
    • ►  Jul (7)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (6)
  • ►  2018 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (7)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2019 (39)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (5)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2020 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Mar (7)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2021 (44)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (4)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2022 (47)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (2)
    • ►  Oct (5)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2023 (41)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  May (2)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (6)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (2)
    • ►  Dec (4)
  • ►  2024 (48)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (5)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (5)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (2)
  • ▼  2025 (32)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Jun (6)
    • ►  Jul (2)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (4)
    • ▼  Dec (2)
      • Mengkalibrasi Rasa
      • Recap Drakor 2025 part 2

SERIES

Annual Post Book Quaranthings Screen Shopping Blogging 101 Hari Raya Hidden Gems Series

Friends

  • D. R. Bulan
  • Dari Kata Menjadi Makna
  • Ikan Kecil Ikugy
  • Jolee's Blog
  • Mazia Chekova
  • Noblesse Oblige
  • Perjalanan Kehidupan
  • Pici Adalah Benchoys
  • The Random Journal

Blogmarks

  • A Beautiful Mess
  • A Plate For Two
  • Berada di Sini
  • Cinema Poetica
  • Daisy Butter
  • Dhania Albani
  • Diana Rikasari
  • Dinda Puspitasari
  • Erika Astrid
  • Evita Nuh
  • Fifi Alvianto
  • Kae Pratiwi
  • Kherblog
  • Living Loving
  • Lucedale
  • Mira Afianti
  • Monster Buaya
  • N Journal
  • N. P. Malina
  • Nazura Gulfira
  • Puty Puar
  • Rara Sekar
  • What An Amazing World
  • Wish Wish Wish
  • Yuki Angia

Check This Too

  • Minimalist Baker
  • Spice The Plate

Thanks for Coming

Show Your Loves

Nih buat jajan

Community

Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates