Nonton Di Laptop

by - 21.6.17



Dunia berubah ketika negara api menyerang ...

Ketika teknologi memudahkan segalanya, ada orang-orang yang rajin men-download film dan bermurah hati membaginya. Bagi sebagian orang ini adalah rezeki, meski sebenarnya merupakan kejahatan yang harus dibasmi. Termasuk kita-kita, mahasiswa mahasiswi yang kere akibat tugas hehe

Tapi emang ya, sejak sering sharing film hasil download-an intensitas nonton di bioskop jadi berkurang. Aku nonton ke bioskop hanya jika filmnya punya effect yang maha keren atau suka dengan ceritanya.

Selebihnya nonton di laptop atau ikutan streaming berjamaah pake wifi kampus #eh.  Apalagi saat punya hardisk 500 GB, duhh ... serasa dunia milik berdua weh (dengan laptop). Tiada malam tanpa movie marathon ...

Kebiasaan nonton di laptop dimulai sejak aku masih duduk di bangku SMA. Karena saat itu belum zamannya download film di internet, satu-satunya sumber film adalah DVD yang sengaja dibawa dari rumah atau disewa dari Ultra.

Masih inget Ultra? FYI. Ini bukan susu loh ... Ultra ini adalah salah satu tempat penyewaan DVD yang menyebar hampir di tiap kota dan legal (resmi) karena sudah mendapatkan license dari distributor film yang bersangkutan.

Filmnya sendiri cukup lengkap meski tidak se-update di bioskop. Oh iya, karena yang nonton bukan hanya aku jadi pemilihan filmnya berdasarkan kesepakatan bersama. Saking seringnya ke Ultra, kita sampai punya kartu member segala haha


Sebelum punya laptop aku sering menginap di rumah teman yang punya DVD player, apalagi kalau bukan untuk menonton ahaha Nggak afhdol rasanya kalau libur nggak nonton. Demi bisa nonton DVD, kita rela kok jauh-jauh ke rumahnya Jaojah di Wanaraja ... Catet ya, demi bisa nonton DVD.

Satu-satunya kekurangan nonton di laptop adalah ukuran layarnya yang kueeciilll ... Jadi suka kasihan kalau nonton berjamaah di asrama, ranjangnya suka dikerubutin sambil desek-desekan, apalagi kalau Ringring ikutan nonton, beuhh ... ngabisin lapak cuy.

Pernah, saat sedang asyik-asyiknya nonton K-Drama Full House di laptopnya Fahria, datang Bu Eni (pembina) yang penasaran dengan suara-suara asing di asrama. Sebagian langsung melipir, sebagian tetap bertahan, sayangnya ... scene yang sedang ditonton adalah scene Song Hye Kyo dan Rain honeymoon di cottage.

Laptop ini saya sita!

Karena nonton di laptop temanku bahkan sampai ada yang di DO (drop out) dan di skors. Loh kok bisa? Bisa lah ... kan nontonnya film ... apa ya? Sejenis film anatomi yang diharamkan FPI haha 
Sampai sekarang aku  tak habis pikir bagaimana caranya membuat layar laptop segede kertas A4 jadi layar tancep.

Serius. Yang nonton itu hampir 1 kelas loh ... Tapi yang di DO malah yang punya laptop. Masih menjadi misteri yang di skors berperan jadi apa? Yang memilih filmnya? Atau yang mengorganisir acara nonton barengnya? Mungkin tidak keduanya ... Atau malah keduanya?

Harga diri banget gak sih? Di DO dan di skors karena nonton di laptop  Dan satu sekolah tahu. Ketika liburan usai ‘Mah, Pah aku liburnya diperpanjang seminggu lagi’. Kalau kata Vici mah: Cekakaakaaaks ... Gile lu Ndro!


Mungkin tidak semua orang pernah mengalami zaman layar tancep, aku lagi-lagi cukup beruntung pernah mengalaminya. Layar tancep dulu pernah populer sebagai hiburan perayaan kenduri, melebihi Wayang Golek dan Organ Tunggal.

Menariknya bukan Cuma tamu undangan, kerabat atau tetangga dekat saja yang bisa menikmatinya, umat satu kampung dan kampung tetangga bisa ikut menonton. Karena diadakan di lapangan, kita harus membawa alas dan selimut (optional) sendiri, oh iya jangan lupa bawa uang karena banyak pedagang stand by di pinggir lapangan.

Sebagai hiburan yang merakyat, layar tancep merupakan ajang silaturahmi sekaligus ajang PDKT #eh. Tak jarang komentar-komentar penonton saat film sedang diputar malah jauh lebih membuat terpingkal-pingkal ketimbang filmnya sendiri.

OK. Kembali ke laptop ...

Untuk mendukung kegiatan movie marathon kita terbiasa untuk sharing film di sela-sela kuliah. Kebanyakan adalah film sekali tamat atau serial yang kalau sekali nonton pasti keterusan dan merasa nggak enak karena belum tamat, mungkin karena itu juga kali ya dinanami movie marathon atau nonton maraton.

Karena sering kuliah mandiri, kita jadi punya banyak waktu luang yang sering digunakan untuk nonton berjama’ah di kampus sambil ngemil Sabana. Jam-jam malas tengah hari diisi dengan nonton film yang nantinya dihapus setelah tamat macam Premium Rush, Life As We Know it atau Leap Year. Nggak ngerti juga ya kenapa nonton Paranormal Activity mesti di-mute, padahal nontonnya siang-siang dengan temen di kampus.


Setelah selesai sidang TA ke 2, aku menghampiri temanku di ruang Himpunan yang letaknya bersebelahan dengan ruang sidang. Saat itu Idam sedang asyik menonton serial Games of Thrones di laptop Ikcwan, gebleknya, laptop tersebut ditaruh membelakangi pintu masuk. Tahu sendiri kan serial Games of Thrones, selalu ada uncensore scene di setiap episode-nya hehe

Nah, karena ada keperluan Idam mem-pause dulu tontonannya, tepat di scene yang ... yaudah lah ya ... so Games of Thrones gitu (YKWIM). Kita sebenarnya ‘ngeh sih, tapi tidak terlalu peduli karena sudah menganggap tontonan semacam serial Games of Thrones adalah hal yang biasa. Intinya ya, kita terlampau mager untuk me-minimize tab-nya.

Tak disangka muncul salah satu dosen penguji sidang TA merangkap Ketua Jurusan di pintu ruang Himpunan ...

Dengan sedikit gusar ia bertanya “Siapa yang menonton ini?” yang kompak kita jawab dengan “Nggak tahu Pak ...”. Sungguh suatu kebodohan menyatakan tidak tahu sementara bukti menyatakan sebaliknya, “Masa nggak tahu?” disitu aku merasa belum selesai sidang “Bilang sama yang punya laptop, menghadap ke kantor saya setelah sidang TA 2 selesai!”.

Kita Cuma bisa cekikikan membayangkan sanksi apa yang menunggu Idam atau Ikcwan. Tapi karena yang ditunggu belum datang, muncul ide jahil mengerjai Ratum yang kebetulan baru datang. Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba “Tum, disuruh Ketua Jurusan menghadap di kantor abis sidang TA ke 2 selesai” yang dijawabnya dengan sotoy “Oh ... OK. OK”.

Jahat banget ya kita ... Haha Nggak tahu juga gimana akhirnya kasus Games of Thrones, entah siapa yang akhirnya menghadap Ketua Jurusan, yang jelas ruang Himpunan kembali disegel.
Begitulah nonton di laptop mengisi hari-hariku tanpa bioskop, meski kadang suka bikin anyep karena nontonnya sendiri, lebih banyak sukanya ketimbang dukanya haha

*kita: aku dan teman-teman

You May Also Like

0 komentar

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.