Bukber

by - 21.6.17


Ketika penasaran nggak ada yang ngajak bukber tahun ini

NNN : Cong, kita ada bukber nggak sih?
VC    : Kayanya ada, tapi gatau tanggal 10 apa 17 Non.
NNN : Ohh ... belum pasti ya?
VC    : Emang nggak baca chat di grup?
NNN : Emang ada ya? Eh. Grup yang mana sih?
VC    : Non. Kamu nggak masuk ke grup tenyata hihi ...
NNN : -_____-

Semakin tahun esensi bukber ternyata semakin memudar ya, ketika seharusnya bukber menjadi ajang silaturahmi dan temu kangen temen-teman yang udah lama nggak ketemu, sekarang malah menjadi kabur, nggak jelas apa maunya.

Baru tahun ini chat timeline di grup WA angkatan rusuh gara-gara urusan bukber, padahal biasanya mah adem ayem tentrem macem si Memsye, mau waktunya kapan, mau tempatnya dimana atau mau dengan siapa juga ya seloww ... nggak mesti berkoar-koar.

Sebagai orang ‘awam’ yang baru join lagi di grup, aku cukup terenyuh, kok gini banget ya temen-temenku ini. Kesannya ... no offense please ... ‘emang ngebet banget ya bukber di hotel?’.
Nggak ngerti juga awalnya gimana dan bukan bermaksud untuk menyudutkan atau menyindir teman-teman sekalian ya, tapi emang begitu kesan yang aku tangkap.

Bagi yang sudah berkeluarga pertimbangannya adalah kenyamanan dan children friendly, sedangkan bagi yang belum berkeluarga pertimbangannya adalah waktu yang terbuang di jalan ketika menghadapi kemacetan khas weekend di Bandung bisa lebih berfedah jika digunakan untuk mengobrol dan bercengkrama.

Karena yang terpenting adalah kebersamaannya. 
15 tahun bukan waktu yang sebentar loh untuk bisa saling memahami. Kalau memang dalam jangka waktu selama itu masih ada yang merasa nggak sreg, mungkin ia kurang berusaha memahami atau mungkin memang egois.

Oh iya. Meski masih single, kita ngerti kok gimana caranya pake Go-Jek atau Grab-Car. Just in case ... kalau ada yang mengira kita ini nggak berdaya nggak punya pasangan kangojek. It was easy to say ‘nanti gampanglah kalau ...’ atau ‘iya nanti tinggal ...’ kenyatan tidaklah semanis basa basi sistah ... Ketika minta banget dikomentarin, tapi sekalinya dikomentarin malah dianggurin itu rasanya kaya baca tweet-nya si @KumahaAingWeh plis euy ...

Mungkin bukannya nggak mau pada berkomentar kali ya, tapi kita nggak mau salah kasih komentar dan sadar diri nggak akan bisa datang karena berbagai hal. Coba deh pikirin lagi, apa temen yang di Jakarta yang jelas-jelas nggak akan ikut bukber di Bandung perlu ikut-ikutan komentar juga?

Memang ya, kebanyakan dari kita ini adalah tipikal cewek rumahan yang lebih suka melakukan kegiatan di rumah ketimbang di luaran sana. Jadi, seringnya bukber diadakan di rumah ketimbang di mall atau tempat lainnya.

Pertimbangannya adalah kalau mau makan tinggal ke dapur, kalau mau nonton tinggal nyalain TV, kalau mau tidur tinggal melipir ke kamar. Kalau bukber di luar ... you know lah, how ribetnya kalau dianalisis satu persatu.

Pernah nggak sih kepikiran kalau semakin tua (jirr ... KZL) temen-temen juga akan semakin berkurang? Kita ini SMP dan SMA nya barengan, jadi temennya Cuma segitu-segitunya doang. Masa sih rusuh gara-gara chat timeline di grup WA angkatan doang. Yaelahh ... kenapa sih orang-orang -___-.

Satu-satunya hiburan di chat timeline yang rusuh gara-gara bukber adalah kosakata baru yang disebut Bukber Tandingan. Kocak juga ya bacanya ... ini bukber loh, bukan pertandingan. Tapi OK-lah untuk bahan spamming di Twitter.

Mungkin ada yang kecewa karena nggak bisa ikutan bukber, tapi ini tanpa ada maksud untuk menandingi loh ya, Cuma waktunya aja yang berbeda. Semua orang memiliki kehidupan masing-masing, untuk yang sudah berkeluarga pasti memiliki prioritas tersendiri, jadi bukber dengan teman bersifat optional.

Apalagi yang udah kerja, pasti agak ribet juga mengatur waktu bukber, selain karena jarak (bagi yang tinggal di luar kota) banyak ajakan bukber lainnya.

-___-

So. Bukber beda tanggal bukan berarti beda geng ya ghaaiiissss .... just because we’re not together doesn’t mean we’re not loving each other. Kayanya kita bener-bener butuh piknik deh hehe

Sekian ah curhatnya ... keep calm & tweet spamming


*bukber: buka bareng

You May Also Like

0 komentar

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.