A Fake (Virtual) Life 2

by - January 08, 2017


Status sosial seseorang bisa dilihat berdasarkan akun sosial medianya, semakin keren akun sosial medianya maka akan semakin keren pula hidupnya, setidaknya itulah yang memotivasiku untuk jadi social media junker. Berbagai macam social media pernah aku sambangi, dari yang sedang hype sampai yang ecek-ecek.

Katakanlah Friendster, Facebook, Fupei, Plurk, Temanster (serius ... ini pernah ada), Zello, Twitter, E-Buddy, Path dan lain-lainnya yang aku lupa namanya pernah  oprek. Mau penting atau nggak harus punya akunnya, I want peoples know I was there.

Tapi itu dulu ya ... Sebelum akhirnya aku sendiri gerah.

Salah seorang temanku, yang aku follow akun Twiternya dengan tulus ternyata tidak pernah follback

Well ... mungkin ia sibuk atau nggak ‘ngeh’ dengan user name yang aku pakai. Itu hal yang biasa kan? Yang tidak biasa adalah dia juga tidak follback teman-temanku sekalian, satu-satunya teman seangkatan yang difollback olehnya adalah mantan kecengannya.

Kecengan yang sebenarnya nggak ngecengin dia *sigh

Kelihatannya receh banget ya bete gara-gara nggak difollback. But give me a reason why you should to choose for not follback me. Mungkin dia gengsi. Mungkin dia khawatir. Mungkin dia takut. Kalau  suatu saat nanti kita keceletot dan mengumbar aib masa lalunya. #eh ...

OK, I’ll considering about that  hehehe

Salah seorang lainnya berusaha menutupi masa lalunya dengan tidak mencantumkan nama sekolah yang telah memberinya gelar,  entah itu sengaja atau tidak, terselip harapan netizen (yakali artis) won’t notice. Bagi yang tidak tahu mungkin tidak akan menjadi masalah, tapi bagi yang tahu ... pasti mengangkat alis, dilanjut dengan ekspresi *smirk kalau nanti bertemu.

BTW, the more you hiding, the more we seeking.

Ketika masih kecil aku suka menonton beauty pageant di televisi, demi melihat wanita dengan standar 
3 B (brain, beauty, behaviour) melenggang di atas catwalk itu aku bahkan rela begadang. Dan diantara semua pemenang beauty pageant tersebut, ada salah satu jawaban finalis yang membuatku terkesan sampai saat ini.

Pada tahap grand final semua finalis mendapatkan pertanyaan yang sama “if your life was a movie, which part of the movie would you rewatch or remove? Please answer and give a reason?”

Finalis pertama menjawab “I want to rewatch the happiest part of my life, the family part because I love them so much and I want to make it stay forever”.

Finalis kedua menjawab “I want to watch the happiest part and remove the saddest part because everybody deserved to be happy, no one want to have the sad part of their life

Finalis ketiga menjawab “I want to watch from beginning, I don’t want to rewatch or remove any part because no matter how happy I am or how sad I am, it is my life”.

Tentu saja semua juri setuju untuk memberikan gelar beauty pageant kepada finalis ketiga yang berasal dari Russia, selain memiliki 3 B ia juga memiliki pandangan yang realistis.  

Setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya msing-masing, terserah mau menjalani hidup yang seperti apa atau dengan cara yang bagaimana. Terserah ... Namun, menghilangkan salah satu part (dalam hidup) tidak akan lantas membuat hidup seseorang menjadi sempurna. Perfect is imperfection.

Kadang aku bingung ‘ada apa sih dengan orang-orang ini?’

Kalau dulu kita menggunakan social media untuk bersosialisasi, yang pure untuk mencari teman dan menemukan teman lama, kini social media bergeser ke arah sebaliknya, menunggu untuk ditemukan. In viral lyfe you could be anything you want to be, termasuk pencitraan atau bahasa kekiniannya self(ish) branding.

Di pelajaran Sejarah SD, ada istilah kasta yang digunakan dalam masyarakat Hindu, kasta sendiri adalah tingkatan atau golongan orang-orang dengan spesifikasi tertentu dalam tatanan masyarakat. Kasta ditentukan berdasarkan family root (nenek moyang) dan bersifat permanen, yang artinya adalah takdir.

Seperti fashion cycle yang berulang, kasta kini muncul dalam bentuk yang lebih borderless. Orang sudah bisa memilih di kasta mana ia akan berada, mau low class, middle class atau high class sekalipun bisa ... tergantung check in dan photography sensenya.

Masih temanku, ia mewanti-wanti agar aku tidak mengetag fotonya yang (menurutnya) nggak cantik dengan alasan khawatir distalking gebetan atau rivalnya, ia juga memintaku menghapus tag pada semua fotonya dengan alasan yang sama. Hell ohh ...

Satu-satunya alasan yang reasonable kenapa ia melakukan hal seperti itu versiku, adalah karena ia juga melakukan hal yang sama pada gebetan atau rivalnya. Membanding-bandingkan dan mencari celah ‘nggak siap jepret’ yang diyakininya sebagai cela sosial.

Ia juga menggunakan fitur fake GPS untuk check in palsu, nonton film bajakan di kosan berasa lagi nonton premiere di bioskop, makan di warteg depan gang berasa lagi makan di cafe terhits seBandung raya. Yaelahh Mbak ... beban gengsinya berat bener ...  


So, never judge someone based on their social media account, mungkin itu hanya pencitraan ...

You May Also Like

0 comments

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.