Oseng Mercon & Labirin Kauman

by - 5.10.17

Oseng Mercon

Mengingat jarak dari Edu Hostel ke rumah Ana nggak terlalu jauh, kita (aku sih) memilih untuk berjalan kaki sambil mikirin mau kemana hari ini 😁 Widy yang memang dasarnya nggak suka jalan kaki udah mulai rese “Masih jauh nggak sih rumahnya?”, “Emang nggak bisa ya pake angkot?” (berasa di Bandung kali yha~) “Non. Panas tau!!!” etc.

Keluh kesahnya baru berakhir ketika “Non ... ingin makan Oseng Mercon ...😫”

Pantesan ... lo rese ya kalau lagi laper *dalam hati 😳

Kemudian melipirlah kita di tempat yang ditunjuk Widy, well ... agak bingung juga ya memilih menunya karena mostly dipakein ‘mercon’. Sebenernya nggak apa-apa sih Cuma aku lebih khawatir efek setelah makannya ketimbang rupa makanannya sendiri 😩.


Ketika Oseng Merconnya disajikan di depan mata; “Ck ... Ck ... Ck ...” Intinya ya, Oseng Mercon itu adalah tumisan cengek + cengek2 + cengek3 yang dikasih suwiran ceker ayam. Yawla ... Jogja fanashnya supa’ dupa’ hot banget deh ... 😵😵😵

Nontonin orang-orang

When you lagi baca menu tapi belum nemu yang nggak pake ‘mercon’

Tengah hari + Panas terik + Oseng Mercon


Labirin Kauman

Menurut Pici dulu Kauman itu ibaratnya kampung di tengah kota, dimana lagi bisa ditemukan rumah-rumah tua yang tersembunyi di balik gedung yang sudah berganti rupa selain di Kauman. Oldish yang adem ayem berdampingan dengan kemoderenan.

Kita merasa sangat beruntung memiliki teman yang tinggal di Kauman, selain karena punya tempat nginep kalau ke Jogja, jarang-jarang kan menemukan teman yang tinggal di daerah hits 😎 Yang aku suka dari Kauman meski rumah-rumahnya berdekatan tapi nggak saling senggol, desainnya rumahnya endless time dan memiliki nilai historis (terutama untuk warga Muhammadiyah) namun yang terpenting lingkungannya asri dan bersih.

Ketika memasuki Kauman semua mesin motor wajib dimatikan agar tidak mengganggu kenyamanan warga, jadi ya mau nggak mau motornya mesti dituntun sampai ke rumah. Nggak ada alasan rumahnya masih jauh atau males jalan kaya orang-orang di sini, yang tetep songong pake motor nyerudukin orang-orang di tengah sempitnya pasar tumpah macem GOR 😠.

Selain itu, di Kauman tingkat kepercayaan dengan tetangga cukup tinggi, saking percayanya bahkan konon pintu rumah pun jarang dikunci kecuali ditinggal pergi lama. Makanya ketika ada salah seorang yang (katakanlah) berkhianat, bisa dipastikan hidupnya kelar seketika, nggak ada yang namanya welas asih atau pertimbangan Lo anak siapa? Bapak lo pangkatnya apa? Keluarga lo punya apa? It’s about trust matter, not things matter.

Meski sudah beberapa kali ke rumah Ana aku masih belum mudeng rute menuju rumahnya, banyak kelokan dan rumahnya pada mirip-mirip, salah belok bisa bingung bego 😢. Pernah ya saking bingungnya mencari jalan ke rumahnya Ana, kita sampai balik lagi dong ke pintu masuk Kauman biar diulang lagi rutenya kali aja ada yang kelewat.

Terakhir kali nyasar heboh adalah saat Marathon Weddingnya Mazia di Jogja, kita semua yang menghadiri resepsinya Mazia ditampung di rumah Ana di Kauman. Aku, Pici dan Maya ceritanya malam mingguan di Malioboro, jajan-jajan sama nongkrong-nongkrong galau nggak jelas gitu ya pemirsa haha Begitu pulang ... zonk! 😭 Berkali-kali kita melewati jalan yang sama dan muter-muter nyobain masuk gang-gangnya, tapi kok nggak nyampe-nyampe juga yha. 🙍

Hati ini udah curigation aja lagi disasarin setan 😨 Apalagi ketika melewati rumah dengan rupa yang sama persis 2 kali, mungkin Pici dan Maya juga merasakan hal yang sama karena setelah melewati rumah tersebut kita langsung saling tatap dan lari terbirit-birit macem epic scene di film horror. Satu-satunya hal yang kita pikirkan adalah kembali ke pintu masuk Kauman dan mengulang rutenya, kenyataannya ... mencari jalan keluar dari Kauman tidaklah semudah memikirkannya 😭😭😭.

Beruntung kita ditemukan oleh seorang bapak tua yang membantu menunjukkan rumah Ana, mungkin si bapak  ini sebelumnya udah memperhatikan kita daritadi kenapa bolak balik mulu lewat rumahnya tapi nggak nyampe-nyampe? Atau mungkin si bapak ini merasa terganggu karena kita lari-larian di depan rumahnya macem anak SD maen petak umpet? Atau mungkin si bapak ini ... Udahlah ya nggak usah dipikirin yang penting kita syelamat sampai tujuan.

Belum pernah kita selega itu sampai di rumah Ana Ketika kita menceritakan perihal malam minggu horror yang baru saja terjadi Ana bilang; “disini emang ada kok 2 rumah yang sama PERSIS, PERSISNYA PERSIS BANGET, cuma beda gang” 😫😫😫 “Kalau kalian ngeliatnya 2 kali berarti berarti kalian salah masuk gang di awalnya” 😫😫😫 Apalah artinya banjir keringat ini kalau disasarin setan adalah sugesti bodoh melihat rupa rumah yang sama persis 2 kali.

Mungkin nyasar di Kauman adalah perkara yang lumrah, meski aku masih ingat rupa rumah Ana aku selalu lupa dimana letaknya, padahal ya rumahnya nggak terlalu masuk ke dalem dan lumayan mudah ditemukan. Yang sulit adalah menahan diri untuk nggak mikir bahwa kita nggak berada di jalan benar haha

Saat kemarin ke Kauman aku dan Widy harus banget nyasar dulu, nyobain masuk gang-gang sampai akhirnya menyerah karena nasteung akibat Oseng Mercon dan teriknya matahari, sempet terdampar di teras rumah orang sambil berusaha menghubungi yang empunya rumah dan nanyain ke Icunk yang mana dijawabnya dengan “susah banget dijelasinnya Non” 😅.

Kalau lagi berada di Kauman ingat selalu ya pepatah “malu bertanya sesat di jalan” serius ini mah, nggak usah malu nanya karena rata-rata tetangga di Kauman saling mengenal satu sama lain dan nggak pelit ngasih bantuan. Cuma ... jangan lupa untuk mengingat nama orang tuanya, just in case mereka nggak tahu nama asli anaknya.

Beruntung (lagi) kita ditemukan oleh seorang ibu yang nampaknya sudah faham gestur nyasarnya orang-orang, ketika ibu itu menanyakan “Ana siapa mbak? Ana Romadhon bukan?” sebenarnya aku  ingin banget bilang “bukan, (Ana anaknya) Pak Hanafi” tapi karena aku percaya yang namanya Ana Cuma ada 1 di Kauman maka diiyakan saja, kali ini feeling-ku benar ibu itu menunjukkan rumah Ana dengan tepat.

Setelah dipikir-pikir ya Hanafi itu dapet darimana? Kok bisa langsung kepikiran nama Hanafi, baru kemudian aku ingat Hanafi adalah nama salah satu tokoh di sinetron 😂😂😂

Well ... Belum SAH ya ke Kauman kalau belum nyasar 😎




Dat Face!!!

Belum nyadar nyasar :)

Ala-ala Running (wo)Man

Liat tempat sampah nggak?

You May Also Like

0 komentar

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.