Kenapa Kita Nggak Jadi Selebgram Atau Youtuber?

by - 31.10.17


Well ... mungkin ini adalah kesekian kalinya pertanyaan itu muncul di benakku “Kenapa kita nggak (ada yang) jadi selebgram atau Youtubers?” *kaya orang-orang.

Eh. Pertanyaan sejuta umat kali ya ...

Saat  ini Selebgram dan Youtuber adalah cita-cita populer yang jadi dambaan kids zaman now, lebih didamba ketimbang jadi presiden atau dokter seperti di zaman kita dulu. ((kita)). ‘Katanya’ kita ini generasi instan yang dimanja teknologi makanya agak sulit untuk diajak susyah, selalu ingin jalan pintas, jadinya ya seperti selebgram-selebgram atau youtuber-youtuber inilah. 

Siapa sih yang nggak tergiur dengan kehidupan menyenangkan ala selebgram dan youtuber, yang kerjaannya keliatannya Cuma foto-foto, Cuma jalan-jalan atau Cuma menghadiri event tapi bisa dapet endorsement dan diundang kesana kesini dengan titel influencer

Selain tampang yang mau nggak mau mesti kece, background yang hype serta referensi style ala fashionista, tools pendukungnya mesti canggih. Apalah artinya semua itu kalau di-capture-nya pake kamera 2.0 MP. Ya kan?

Hidup ini keras ya ... adek-adek ...

So far, di circle teman-teman seangkatan sekolahku (TK, SD, SMP & SMA) belum ada yang jadi selebgram atau youtuber, kalau yang jadi reseller Cireng Banyur atau punya online shop mah ada *heu. Kita juga sering heran, kenapa kok diantara kita semua nggak ada yang jadi selebgram atau youtuber, minimal bibit-bibitnya lah ... nyoba-nyoba membuat tutorial hijab kek atau posting foto sebadan-badan dan nge-tag semua IG brand yang barangnya lagi dipake.

Ada sih beberapa, tapi nggak banyak dan itu pun Cuma kasih testimony. Kita ini termasuk golongan orang-orang yang jarang posting foto yang aesthetic atau sekedar bikin vlog “hai guys, kita lagi ada di ...” dengan muka sebagai centre of attention. Kita lebih suka posting foto atau video yang menurut kita adalah sumber kebahagiaan hidup, meski hanya dimengerti oleh diri sendiri dan inner circle pun sudah cukup. 

Kalau memang posting foto nge-blur pas kakinya lagi nyelup di air lebih membuat kita bahagia ketimbang foto HD pas kakinya lagi nyelup di air dengan komposisi dan tone color yang mesti di-setting dulu, kenapa mesti risau? Bahagia itu (sifatnya) receh ya, meski nilainya berbeda-beda bagi setiap orang intinya sama; sederhana. 

Kadang suka kepikiran, apakah orang-orang yang fotonya aesthetic menikmati moment yang fotonya mereka ambil? Atau mereka malah menikmati moment yang didapatkan dari foto? Eh. Tapi itu mah relatif ya, da bahagia juga relatif.

 

Bukan mau sombong ya, tapi kita mau belagu haha 

Kita sudah pernah merasakan masa-masa dimana gadget semacam digicam, camcorder dan handycam adalah tools maha penting untuk pencitraan. Apalagi kalau bukan untuk foto profile Friendster, serius loh ini, kita bahkan sampai pernah meluangkan satu hari penuh hanya untuk jalan-jalan sambil mencari spot keren untuk materi foto profile

((spot keren)) *antara Mesjid Agung Garut dan Toserba Asia.

Dulu kita menganggap diri kita ini paling eksis karena hampir setiap hari kerjaan kita foto-foto mulu, ngerekam-rekam mulu, nyampah-nyampah mulu, berasa rugi kayanya kalau digicam dianggurin Beruntungnya, temen-teman yang punya digicam apa camcorder apa handycam nggak pelit ngojekin, sok-sok aja asalkan di-charge dan diurus. Memory card isinya foto temen-temen semua, yang punyanya mah bagian nge-burn ke CD #thuglyfe

Nggak kebayang ya kalau di masa sekolah udah kezamanan Instagram atau Youtube, bisa-bisa hampir setiap hari bikin konsep foto dan materi vlog. Nggak ada yang mau nonton kita pentas drama di Lailah At-Tashliyah, yang ada kita malah sibuk bikin drama hidup masing-masing. Malah bisa-bisa kita bikin channel Youtube angkatan geura haha


Pagi-pagi di asrama; “Haii ... masih ngantuk nih tapi mesti sekolah, Ya Allah kuat ka tunduh kieu ...”. “Barudak ningal sapatu abi teu?”. “Eh, udah ada yang beres PR Fisika belum? Nyalin atuh ...”. “Hari ini kita makan apa sih? Enak nggak? Kalau nggak mau puasa ah ...”.

Nunggu guru datang (pelajaran kosong); “Haii barudak!!! Lagi apa?” *kemudian di zoom satu-satu. Mamih + Anis lagi serius ngerjain PR Matematika untuk contekan, Icunk lagi nyobek-nyobek kertas untuk kocokan arisan, Ringring lagi main gimbot sementara tangan yang satunya lagi ngetik sms, Marella lagi nyanyi track ke 5 album kompilasi Super Fresh dan Eneng ... Yahh ... lagi ‘tatapan kosong’.

Mau makan siang; “Haii ... Kita sekarang lagi mau makan nih di ruang makan ... Menu hari ini sama ikan goreng pleus sambel goreng kentang ... Sebentar ... Sebentar ... Kita metik cengek dulu yuks di Lab Fisika, mau nyambel”. “Ana atos teu acan?”. “Muhun Ucunk ... Sabar ya ...”.

Ngantri di kamar mandi; “Hellohh ... Haii ... Berapa bata? Tuhh kan diselak ...”

Khusus untuk hari Jum’at opening scene-nya “Dear guise ... kita sekarang lagi mau jalan-jalan nih ke Cipeujeuh ... Mau makan naskun di saung deket kebon engkol. Ikutin terus kita yha~”.


Ternyata kids zaman now lebih edyan ya ...
Lebih niat.

Effort-nya juga lebih tinggi.

Mereka yang dengan niat bangun shubuh demi sunrise di Balitsa. Mereka yang dengan niat nabung demi bisa beli branded stuff atau sekedar nongkrong di café kekinian. Mereka yang dengan niat belajar bahasa Inggris biar netizen nggak salah fokus dengan pronounciation-nya. 

Mereka yang dengan niat rajin baca beauty journal demi jadi beauty blogger yang fasih. Mereka yang dengan niat mantengin tweet-nya @goenrock demi dapet ilmu ngedit video. Mereka yang dengan niat  mikirin ‘mau bikin challenge apa bulan ini?’.

Satu-satunya hal yang membedakan kita dengan mereka adalah; tujuan. Tujuan mereka jelas, ingin membuat konten yang viral biar punya banyak followers, urusan dinyinyirin netizen mah belakangan. Kalau orang tua zaman dulu percaya ‘banyak anak banyak rezeki’, kids zaman now percaya ‘banyak followers banyak rezeki’. Meski beda zaman, keduanya adalah fakta.

Kita juga punya tujuan kok... tapi ya ngggak sejelas mereka haha Tujuan kita tak lebih dari ingin menyimpan memory sebanyak-banyaknya di salah satu fase terpenting dalam hidup. High school never end. Saat itu kita juga nggak pernah mengira hal-hal semacam foto dan video akan menjadi ‘sesuatu’ di kemudian hari, kita malah lebih percaya Icunk yang bilang ‘memory itu disimpan di dalam hati bukan di memory card’.

Mungkin untuk saat ini jawaban terdekat dari pertanyaan “Kenapa kita nggak (ada yang) jadi selebgram atau youtubers kaya orang-orang?” adalah bukan karena kita kelewat katro atau nggak ngerti evolusi fashion masa kini yha~ tapi karena kita sudah pernah melewati life phase ala selebgram dan youtuber dengan begitu baik sampai pada point kita nggak merasa perlu untuk iri atau berusaha mengimbangi jeda kekosongan eksistensi diri.

Ya. Kita pernah muda dan kita pernah bahagia. It cost than anything else.

Eh.

Berarti tua dong sekarang?

You May Also Like

2 komentar

  1. Assalamu 'alaikum...

    Bagaimana kalau situasinya dibalik, kita lahir di generasi zaman mereka.. Generasi mereka lahir di zaman kita?

    Kebetulan adik2 saya kelahiran 96 & 98, disitu ada semacam penghubung antara generasi mereka dengan generasi kita... Adanya pertukaran informasi.
    Terkadang saya ngaledek mereka karena tingkah laku generasinya yang nyeleneh, dan mereka pun moyok generasi saya yang katanya ketinggalan. Hirup kalau tidak moyok yah dipoyok. Hahahaha

    Generasi mereka dimudahkan dengan gadget mutakhir serta berbagai macam media untuk menuangkannya, sedangkan generasi kita menjadi saksi dari eksistensi telepon dari sekedar telepon rumah, telepon genggam hingga telepon pintar.
    Komputer pun dari sekedar hanya mengetik kini bisa berinteraksi antar negara.

    Pada intinya kita (hah..!! Kita? Haha) sebagai generasi old adalah sebagai pengingat buat generasi zaman now, tentunya dengan cara2 yang persuasif dan kekinian, mari kita rangkul mereka lalu kita teke sirahnya bila mereka ngalunjak. Wkwkwk.

    Waasalam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wassalamualaikum wr.wb.

      Kalau situasinya dibalik kita pasti ikutan jugalah kekini-kinian haha karena ya kita juga harus mengikuti perkembangan zaman, nggak mungkin dong kita cuma diem aja ngeliatin mereka senang-senang pasti adalah rasa ingin pipilueun mah :)

      Apalagi sekarang kan kita udah dilabeli dengan generasi X, generasi Y, generasi z, millenials tua, millenials muda, nggak masalah sih mau berada di generasi mana asalkan bukan jadi generasi yang hilang weh.Ah tapi ini mah ujung-ujungnya tentang persepsi "semua akan keren pada masanya.

      Cukup sekian dan terimakasih atas perhatiannya.

      Wassalmualaiku wr. wb.

      Delete

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.