Menu

  • 🌷 Hello ~
  • 📌 Place
  • 🪐 Space
  • 🍊 Taste
  • 🍀 Personal Thoughts
  • 🎬 Spoiler
  • 🎨 Studio
  • 💡 Extra

demilestari

Powered by Blogger.
 

Hello~

Minggu lalu aku nonton trailer film Avengers: Doomsday yang baru aja dirilis, ya Allah... meni asa waas kieu 😁. Tetiba kangen hari-hari nonton film MCU di Ubertos dan makan pecel lele di seberangnya sambil ngobrol 🥲. Ada beberapa trailer yang dirilis, salah satunya berisi momen warga Wakanda dan Fantastic Four kenalan, udah fix join berarti niya. Tapi yang bikinku kepikiran malah bayi yang digendong oleh Steve Rogers, anak siapa itu bwang??? Beri aku penjelasan 😂.

Paska perang antar galaksi memperebutkan batu akik. aku merasa MCU udah nggak asyik lagi. Lebih ke capek aja siya ini mengikuti perjalanan para superhero kerja lembur membangun jembatan menuju Avengers: Doomsday. Apalagi saat nonton serial Loki, melihat infinity stone dibiarkan dia atas meja (bahkan dijadikan pemberat kertas) bikinku cengo. Astagfirullahaladzim... batu-batu itu setara 10 tahun perjalananku nonton MCU loh ya, simpan yang apik napa 🫵🏻😭.

Rekap musuh yang dilawan udah di-spill di awal ya

Sambil menunggu film Avengers: Doomsday dirilis, MCU merilis film Spider-Man: Brand New Day. Aww... gunting pita nih di peresmian jembatan baru 😍. Saat nonton Spider-Man: No Way Home aku mengira ini adalah film terakhirnya Tom Holland sebagai Peter Parker. Karena nggak biasanya film Spider-Man dibikin lebih dari 3 film, Spider-Man versi Tobey Maguire 3 film (Spider-Man 1, 2, dan 3) dan Spiderman versi Andrew Garfield 2 film (The Amazing Spider-Man 1 dan 2).

Jadi, pertanyaannya...

MENGAPA MESTI ADA SPIDER-MAN: BRAND NEW DAY?

Menurut kesusotoyanku mah, karena Peter Parker aka Spider-Man (Tom Holland) mesti membereskan kekacauan yang diciptakannya di Spider-Man: No Way Home, serta membawa X-Men Universe menuju kapal induk MCU. Seperti yang kita tahu, saat bergabung dengan The Avengers doi adalah bocah cerewet yang excited akan peran barunya. Setelah mengalami berbagai pertualangan bersama The Avengers *termasuk Thanos finger snap, kini tibalah saatnya doi transisi.

Yha~ Spider-Man: Brand New Day adalah filmnya Peter Parker.

Biar nanti nggak bingung, kusarankan kalyan nonton film di bawah ini, tapi kalau nggak pun gpp siya.

Captain America: Civil War (2026)
Spider-Man: Homecoming (2018)
Spider-Man: Far From Home (2020)
Spider-Man: No Way Home (2022) 

Oh ya, aku nonton Spider-Man: Brand New Day di NSC Subang setelah ambil obat di rumah sakit, agak gercep siya, kalau kalyan nggak mau kena spoiler silakan di-skip post-nya.

***

Product placement-nya ketara banget, apalagi Samsung dan BMW.
Spider-Man: Brand New Deal 👍🏻

Spider-Man: Brand New Day ini bercerita tentang apa yang terjadi setelah keinginannya Peter Parker (untuk dilupakan) terkabul. Ternyata... life goes on, sedang Peter masih stuck macem lagunya The Script yang The Man Who Can't Be Moved 😅. Untuk timeline-nya menyesuaikan dengan durasi kuliah MJ (Zendaya) dan Ned Leeds (Jacob Batalon) di MIT, jadi ada gap selama 4 tahun yang diisi oleh Peter dengan mantengin social media mereka macem fans militan.

Padahal ya kalau dipikir-pikir mah, dengan warisan Tante May doi bisa kuliah di MIT dan berteman (lagi) dengan mereka. Atau minimal tinggal di tempat yang lebih proper gitu, bukan tenggelam dalam kesepian. Jujur niya, aku penasaran dari mana Peter punya uang secara doi nggak 'terlihat' kerja *netizen julid 😂. Kubilang begini karena Spider-Man versi Tobey dan Andrew mah kismin sampai mesti kerja jadi kurir pizza. Pemerintah New York ada kasih tunjangan superhero atau apa gitu? kepo 🤔.

Selama 4 tahun doi nggak kepikiran healing gitu? Mendaki gunung, menyusuri sungai, merasakan ombak 🫠

Hari-hari yang meranggas lara akhirnya usai saat Peter bertemu dengan Ned dan MJ yang pulang kampung ke New York. Dilema banget yekan... jangankan meluk, mau nyapa aja pikir-pikir dulu niya si Peter 🥲. Kalau di film-film sebelumnya mereka (Peter, Ned dan MJ) susah senang selalu bersama, di film Spider-Man: Brand New Day mereka 'asing'. Menyadari bahwa kenyataan nggak sesuai angan-angan, terjadi lonjakan emosi yang bikin tubuh Peter malfungsi.

Ada momen di mana Peter nggak bisa mengontrol pikiran dan tubuhnya, yang mana bikin E. V. (AI macem Jarvis yang mengkoneksikan kostum dan PC-nya) khawatir. Peter bahkan bertemu dengan rang-o-rang yang entah mengapa menyentil keputusannya. Kukira itu adalah proyeksi alam bawah sadarnya untuk bisa menerima kenyataan, eh ai pek teh ada musuh baru yang bisa mengontrol pikiran dari jarak jauh yakni Jean Grey (Sadie Sink). Assalamuaikum warga... izin join di grub ya 🙏🏻.

Tiba-tiba ngelindur bikin kepompong

Seperti Spider-Man, Jane Grey ada beberapa versi yang populer, salah duanya adalah versi boomer Famke Janssen (X-Men trilogy, X-Men Days of future Past) dan versi millenials Sophie Turner (X-men: Apocalypse,Dark Phoenix). Di X-Men universe, Jean Grey termasuk mutan omega (level tinggi) namun kisah cintanya agak hadehhh... 🥹. Udah bener sama Scott Summer (Cyclops), eh malah kecantol Wolverine (Logan), mana Professor X (Charles Xavier) diam-diam naksir pula. Dengki aku ih 😂.

Aku pun penasaran apakah MCU akan me-reset karakter Jean Grey atau dibiarkan sesuai template. Terhitung udah 3 kali Jean metong di X-Men universe, yang artinya udah 3 kali juga aku nangis bombay 🥹. Di X2 Jean mengorbankan diri demi menyelamatkan manteman, di X-Men: Last Stand Jean terpaksa dieksekusi oleh Logan dan di Dark Phoenix Jean kembali ke haribaannya. Nah, di Spider-Man: Brand New Day, Jean mengobrak abrik Damage Control demi mencari V-Max.

Kewren wey 😍

Damage Control ini konsepnya ala-ala Justice League yang memberdayakan penjahat menjadi penjahit biar bisa dimanfaatkan oleh pemerintul. Scene perkelahian antara Spider-Man dan The Hand mantips pisan wey, terutama koreografi panjat pinangnya 🧑🏻‍🍳💋. Mengingatkanku pada Red Ninja's di G. I. Joe: Retallion, eh kalyan udah nonton belum? Dan scene Spider-Man mengeluarkan jaring laba-laba ala air mancur tuh ada rasa-rasa Shang-Chi-nya dikit.

Sejujurnya formula yang dipake di film Spider-Man: Brand New Day termasuk usang siya.

Ada musuh menyerang - superhero dan pemerintul bersatu melawan musuh - musuh kasih 'clue' - superhero dan musuh bersatu melawan pemerintul

Makanya begitu Jean ngomong "Sara" sebelum pingsan, ah udah pasti ini mah gini deh ceritanya, nanti si ini gini, nanti si itu gitu 😅. Back story-nya Sara Grey memang klise namun plot twist-nya sungguh warbyasa, bikinku tertawa sekaligus meringis 🥹. Sepanjang durasi aku menebak-nebak apa itu V-Max namun entah mengapa yang nyangkut di kepala malah Vecna Max mulu 😂 #randomcrossover. Mana di ending ada scene doi naik bis melewati hutan, balik ke Hawkins yuteh? 😁.

Kalau gini mah nggak kenaleun

Di antara semua manusia yang ada di dunia benarkah nggak ada seorang pun yang mengingat Peter? Iya. karena Hulk aka Dr. Bruce Banner (Mark Rufallo) mah bukan manusia 😅. Demi keselamatan bersama, Dr. Banner bikin inhibitor untuk mengontrol kekuatannya, Peter bikin versi sachet-nya. Kalau melihat fungsinya sih kuyakin kelak inhibitor ini akan jadi sumber pertikaian antara para mutan dan pemerintul macem yang terjadi di X-Men Days of Future Past. 

Mungkin karena udah lama nggak rewatch filmnya MCU aku lupa sebesar dan seganas apa si Hulk teh. Daya hancurnya ngeray, tapi cucok sih kalau doi mau switch career jadi tukang ngeprukin tembok mah 😅. Kupikir salah satu alasan mengapa Hulk muncul di film Spider-Man: Brand New Day adalah untuk mengingatkan Peter bahwa: there always a monster inside us. Dan sebagai inang, mau nggak mau kita (mereka maksudnya 😁) mesti menerimanya.

Tektokannya OK

Di rentang 4 tahun ternyata Peter punya bestie dongs, yakni Frank Castle aka The Punisher (Jon Berthal). Aku belum nonton serialnya ya, makanya begitu doi ngobrolin Staten Island daku gagal faham. Apakah ada scene penting yang terlewat? Saking penasarnnya aku sampai googling, ternyata memang nggak ada, Staten Island hanya cerita personal antara Frank dan Peter layaknya Budapest antara Natasha Romanoff aka Black Widow (Scarlett Johansson) dan Clint Barton aka Hawkeye (Jeremy Reiner).

Saat MJ bilang "I don't love you" otakku auto nambahin "like I did yesterday..." 🤣 iyadeh si paling emo pada masanya 🫠. Kalau dinding elektromagnetik Jean bisa bikin rang-o-rang kembali mengingat Peter, seharusnya ini adalah saat yang tepat bagi Peter untuk me-recall memori MJ dan Ned. Mon maap niya duhai segenap warga yang tetiba bikin kapal, kalyan tahu nggak Jean tuh rada red flag? 🫣. Tyda pernah terbayangkan euy si Peter bakal kecantol Jean, bisa-bisa fanbase rarungkad wkwk.

Udah ditolak terus minta dianter pulang tuh gimana konsepnya 😂

Scene favorite-ku ofkors adalah footage kota New York di ending, terasa hidup dan hangat 😍. Scene favorite kalyan apa? Aku cukup mengikuti film MCU namun nggak senior banget yaini, aku cuma suka nonton dan vibing the hype aja. Makanya nggak masalah juga kalau kelewat nonton film dan serialnya, paling bingung aja mengapa begini mengapa begitu 😅.

Kalau kalyan berminat rewatch atau melengkapi ceklis yang masih bolong sebelum Avengers: Doomsday, kusarankan nonton sesuai urutan tahun rilis. 

Untuk post yang terkait dengan film MCU bisa dibaca di sini ya:

Doctor Strange (2017) review 
Thor: Ragnarok (2017) review 
Avengers: Infinity War (2018) review 
Deadpool 2 (2018) review 
Captain Marvel (2019) review 
Avengers: Endgame (2019) review 
Wandavision (2021) review 
Spider-Man: No Way Home (2022) review
Doctor Strange in The Multiverse of Madness (2022) review
Wakanda Forever (2022) review
Guardians of The Galaxy vol. 3 (2023) review
Deadpool & Wolverine (2024) review

Spider Tracker 🕸️

***

Pictures were taken from @watchmen.id Twitter thread.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hello~

How was your day? Mine wasn't good at all... 😶

Aku nggak jadi nonton Para Perasuk karena sesi fisioterapiku selesai sebelum jam 12 (jarang-jarang yekan) yang mana nggak match dengan jadwal tayang filmnya. Bisa sih nunggu dulu, namun aku memutuskan untuk pulang ke rumah karena kanjeng mami tantrum gegara aku nggak pamit pergi tadi pagi 😅. Yaudalaya... Sampai di rumah aku menyerahkan upeti 1 cup buah segar dan 1 cup bubur sumsum, mohon diterima nyi... 🙇🏻‍♀️.

Malamnya aku nonton Memories of Murder-nya Bong Joon-ho yang udah masuk watch list-ku sejak entah kapan.

Sejujurnya selama nonton aku merasa ada janggal, macem: kok ceritanya nggak kaya di review rang-o-rang ya? apakah aku kurang teliti baca review-nya? Kenapa doi malah pikun? Ini Song Kang-ho kapan keluarnya? Dari tadi yang muncul Kim Nam-gil mulu 🤔.


Setelah film berakhir biasanya aplikasi akan kasih rekomendasi film sejenis yekan. Salah satu film yang direkomendasikan adalah Memories of Murder, lahhh... bukannya aku barusan nonton ini ya? Kenapa direkomendasikan? 🤔. Setelah kucek tenyata film yang kutonton adalah Memoirs of A Murderer, hahahanjirrr... Bisa-bisanya salah baca judul film 🫵🏻😭, mana nonton sampai selesai pula *puk-pukin diri sendiri.

Meski bitter, aku mesti mengakui Memoirs of A Murderer ini sangat worth to watch apalagi kalau kalyan suka tontonan ber-genre psychological thriller. Mantips 👍🏻. Sepanjang durasi kita dibikin bingung karena persepsi kita bagai di-ping-pong, mantul sana mantul sini. Batas antara kenyataan dan imajinasi beda tipis coy makanya gregetan mulu 😯. Biar intro-nya nggak kepanjangan marki-view Memoir of A Murderer


***

Memoirs of A Murderer adalah film yang diadaptasi dari novel berjudul A Murderer's Guide to Memorization karya Kim Young-ha yang dirilis pada tahun 2013. Bercerita tentang mantan pembunuh berantai bernama Kim Byeong-soo (Sul Kyung-gu) yang berusaha melindungi Kim Eun-hye (Kim Seol-hyun) dari Tae-joo (Kim Nam-gil) yang diyakininya sebagai pembunuh berantai.

Filmnya sendiri dibuka dengan scene mobil Kim Byeong-soo dan Tae-joo yang bertabrakan saat hujan di hutan. Tanpa sengaja Kim Byeong-soo melihat kantong mayat di bagasinya Tae-jo. Sebagai mantan pembunuh berantai tentcunya insting Kim Byeong-soo langsung menyala yekan 📶, dan begitu melihat Tae-jo doi langsung merasa terkoneksi. Gils... apakah ini saatnya sertijab? 🤔.


Kim Byeong-soo dan Kim Eun-hae tinggal di sebuah kota kecil di kaki gunung, setelah pensiun Kim Byeong-soo membeli kebun bambu dan menghabiskan sebagian besar waktunya di sana. Mereka hidup adem ayem hingga suatu hari kota kecil mereka digemparkan oleh kasus pembunuhan beruntun. Sayangnya, karena keterbatasan SDM dan teknologi kepolisian belum bisa memecahkan kasus-kasus tersebut.

Sebagai pembunuh berantai insyaf *ceunah, Kim Byeong-soo melaporkan temuannya dan meminta Byeong-man (Oh Dal-su) menyelidiki Tae-joo. Sebagai kepala kepolisian tentcunya Byeong-man nggak bisa menahan Tae-joo begitu aja. Yang pertama, doi adalah child fruit-nya di kantor. Yang kedua, nggak ada barang bukti. Yang ketiga, Kim Byeong-soo mengidap alzheimer.



Bayangkan, yu disuruh rang pikun menahan child fruit bermodal insting, apa nggak puyeng tuh pak kepala diteror 'udah belum nangkepnya?' 😅. Sadar bahwa laporannya 'kurang dianggap' Kim Byeong-soo berusaha membuktikan bahwa Tae-joo adalah seorang pembunuh berantai. Alih-alih jadi pembunuh berantai, yang ada Tae-joo malah jadi pacarnya Kim Eun-hae, makin kelabakan aja yekan bapake yang satu ini 😁.

Nah, di momen ini aku meraba-raba, apakah Tae-joo sebenarnya memory slip-nya Kim Byeong-soo? Atau pure sebel aja Tae-joo pacaran dengan Kim Eun-hye makanya bikin doi menuduhnya jadi pembunuh berantai? 🤔. Jujur, aku merasa Kim Byeong-soo udah terlalu renta untuk kembali ke khittoh-nya sebagai pembunuh, pikawatireun pisanlah pokona mah.



Slow but sure, Tae-joo yang tadinya objek berubah menjadi subjek. Sialnya, satu-satunya yang sadar Tae-joo memanipulasi keadaan hanyalah Kim Byeong-soo (dan kita tentcunya 😉). Masalahnya, siapa yang akan percaya rang pikun? Di sini aku cuma bisa melongo karena transisi antara pov-nya Kim Byeong-soo dan Tae-joo sungguh sangat smooth. Daebak!

Oh ya, A Memoirs of A Murderer ini adalah tipikal fim slow burn, that's why kalyan mesti sabar menunggu sampai... film berakhir. Nggak deng. Minimal sampai Tae-Joo fix jadi pembunuh berantai dan semua imajinasinya Kim Byeong-soo menjadi kenyataan. Well... Aku nggak akan nge-spill ending-nya karena kalyan harus nonton sendiri untuk merasakan apa yang kurasakan 😂.



Sejujurnya, setelah nonton Memoirs of A Murderer ini aku mengalami moment of silence (selain karena salah pilih judul film 😅) sebab pikiranku terlanjur diacak-acak oleh si tuwa bangka Kim Byeong-soo. Tapi ya.. Aku udah di tahap nggak sanggup marah karena karena judul novelnya memang A Murderer's Guide to Memorization 🥲. Kalau kalyan suka film dengan twist lapis legit kurasa kalyan mesti nonton Memoirs of A Murderer ini.

Ingat ya, Memoirs of A Murderer.

***

Pictures were taken from IMDb website
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hello~

Aku ingin kalyan tahu hari ini aku nonton Project Hail Mary 😭😭😭.

Tadinya aku ingin menikmati weekend (yang udah terasa bagai weekday 😅) dengan sans karena Widy main ke Bandung dan mama menginap di rumah mbah. Dipikir-pikir gabut juga ya hamba 😁 sambil ngemil kue sisa ramadan aku ngecek akunnya NSC kali aja ada film yang OK untuk kutonton seteleh fisioterapi. Eh, Project Hail Mary udah ada dongs... kuy markinton! Menimbang sore mah biasanya hujan aku nonton di jam siang, buseddd... panas pisan di luar 🫠.

Project Hail Mary ini adalah film sci-fi yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Andy Weir yang juga menulis The Martian. Eh, udah pada nonton belum? Project Hail Mary terlambat masuk ke Indonesia karena terhalang Idul Fitri makanya kita nggak bisa vibing the hype bareng 🥲. Alasanku gercep nonton Project Hail Mary tuh karena khawatir filmnya keburu turun layar, dan menyesal aja gitu dulu nggak nonton Interstellar di bioskop 🥹.

***

Project Hail Mary bercerita tentang misi menyelamatkan bumi yang disebabkan oleh meredupnya matahari. Tanpa matahari umat manusia akan kesulitan bertahan hidup entah karena supply chain makanan yang terganggu, perpecahan dan perebutan sumber daya, perubahan iklim atau ancaman wabah. Para ilmuwan tentcunya nggak tinggal diam dongs, mereka bekerja keras menemukan solusi agar matahari tetap bersinar 🌞.

Para ilmuwan menemukan bahwa ada garis infra merah yang terbentang antara matahari dan planet Venus (garis Petrova). Ternyata garis infra merah itu adalah mikro organisme asing yang memakan energi dan radiasi elektromagnetik, kelak dinamai astrophage. Hanya ada satu bintang di tata surya yang nggak terpengaruh oleh astrophage yakni Tau Ceti, karenanya uni eropa bikin proyek Hail Mary yang bertujuan untuk menemukan alasan mengapa hanya Tau Ceti yang 'selamat' 🤔.

Ada kuda nggak di luar angkasa? *ytta

Makanya ke Tau Ceti dongs 😅

Ryland Grace (Ryan Gosling) adalah seorang ilmuwan biologi molekuler yang shifting career menjadi pengajar di SMP, suatu hari Eva Stratt (Sandra Hullër) 'mampir' dan memintanya untuk bergabung di proyek Hail Mary. Doi bertugas mempersiapkan Martin Dubois (Malachi Kirby) dan Annie Sapiro (Liz Kingsman), sayangnya terjadi masalah yang bikin Grace mesti menggantikan mereka ke Tau Ceti bersama Yao Li-jie (Ken Leung) dan Olesya Ilyukhina (Milana Vayntrub).

Saat terbangun Grace mendapati Yao dan Ilyukhina meninggal dalam perjalanan, ada fase denial dulu dongs ya... Bayangkan, betapa bitter-nya Grace... dipaksa pergi, sendiri di luar angkasa, jauh dari mana-mana, udah gitu mesti kerja 😂. Karena jarak bumi dan Tau Ceti yang panjang (± 4 tahun) bahan bakarnya hanya cukup untuk pergi aja. Makanya ada scene Yao dan Ilyukhina saling nge-spill gimana mereka akan mengakhiri proyek Hail Mary.

Yawla... Gini banget ya hidup 😭

🤣🤣🤣🤣🤣

Menyadari bahwa doi adalah harapan umat manusia yang tersisa, ceilahhh... 👩🏻‍🎤 Grace akhirnya back on the track. Saat mengamati garis Petrova, Grace menyadari bahwa ada makhluk lain selain dirinya di sana. Sumvah scene mereka main benteng-bentangan tuh kocak banget deh 😂, macem mau kemana nih? Ayo... Ayo... Hadapi aku 🤣. Pun scene kirim-kirim santet paket antar pesawat, astaga... sungguh sangat su'udzhon 😭.

Jujur, ada untungnya aku belum baca buku Project Hail Mary, udah degdegan aja niya khawatir Grace akan berhadapan dengan alien predator macem yang udah-udah. Ternyata malah lenong 🤣🤣🤣... Rocky (tanpa Gerung dongs) adalah alien dari planet Eridian, bentukannya berbatu-batu namun bergerak seperti laba-laba. Yang mana mengingatkanku pada pokemon Geodude yang berevolusi jadi Graveler.

Bayangkan... Tidur sambil diliatin 😁

Kebersamaan Grace dan Rocky di simulator 

Seperti Grace, Rocky adalah yang terakhir di krunya. Bisa dimengerti laya mengapa Rocky begitu excited menjalin hubungan diplomatik antar galaksi 😆. Puluhan tahun dalam keheningan gitu loh, syukur nggak gila 😅. Yha~ namanya juga luar angkasa... tentcunya ada banyak moment of silence yang terasa mencekam dan mengerikan. Nggak mungkin yekan tetiba ada mang nasgor lewat di jendela kokpit pesawat macem di jendela kampus 🥲.

Perlu kalyan tahu, scoring-nya Project Hail Mary ini juwara ya... sungguh sangat menggugah sanubari 🥰. Kukira komposernya Hans Zimmer, ternyata Daniel Pamberton. Aku suka saat Stratt yang (biasanya) kaku kek kanebo kering menyanyikan Sign of Time-nya Harry Styles, hadudu manitsnya... 😍. Pemilihan Two of Us-ya The Beatles juga cucok untuk mengiringi Grace dan Rocky yang bekerja keras demi bisa pulang kampung.

Kacamata yu viral bwanggg...

Living for the moment... Sebelum kerja keras bagai kuda
*lah kesebut lagi 😅

Untuk Rocky, tim produksi memilih mengunakan animatronik macem di film Jurassic Park dan E. T. . Jauh sebelum ada CGI dan AI, kita pernah mengalami era puncak craftmanship dalam film, dimana setting dan property dibikin secara tradisional. It's so damn good. Secara teknis animatronik agak merepotkan namun feel-nya lebih dapet. Kenapa kita nggak melakukannya lagi?.

Kebetulan Project Hail Mary ini dirilis berdekatan dengan misi Artemis II yang berhasil mengelilingi bulan, beneran to the moon and back... 😁. Syudah bisa ditebak ya... fyp-ku isinya gantian antara Project Hail Mary dan Artemis II, aku sih yes ya... mengingat sejauh apa usaha manusia untuk melampaui batas semesta. Di tengah pergolakan tambang minyak dan cup plastik yang mehong, berita tentang misi Artemis II tentcunya berhasil ngademin pikiranku 😆.

From this 

To this 

Menurutku Project Hail Mary ini adalah a complete package of cinematic experience, saking terpukaunya aku sampai lupa minum 😅. Alur ceritanya asyik, twist-nya lapis legit, editing-nya smooth dan flashback-nya pun nggak clingy. Ryan Gosling bonus laya 😁. Beberapa bulan yang lalu aku nonton Barbie, makanya ngeh banget koreografinya doi saat bertemu dengan Rocky, bersyukr nggak ada kuda di luar angkasa 😭.

Scene favorite-ku tentcu adalah saat Grace ada di garis Petrova, dimana astrophage berkelap kelip macem kunang-kunang, absolut cinema ✨👌🏻 . Yha~ kurasa ini favorite scene sejuta umat siya 😁.  Selama nonton hatiku berisik, bangsaaddd... memang harus nonton di IMAX ini mah hahahasyeuummm.... 🫵🏻😭. Kalau kalyan ada waktu dan kebetulan Project Hail Mary masih tayang, kuy geura nonton...

📌Pictures were taken from @watchmen.id Twitter thread.

***

Di bawah ini adalah list film yang menurutku masih satu universe dengan Project Hail Mary, mungkin bisa masuk watch list kalyan.

Gravity (2013)
Interstellar (2014) 
The Martian (2015)
The Arrival (2016)
The Silent Sea (2021)





•••
If you like my writing, send me some ❤️ to cheer me up.
•••
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

Hello~

Beberapa hari yang lalu Guillermo del Toro merilis film terbarunya yakni Frankenstein. Tadinya aku ingin nonton di bioskop namun menimbang masih minum obat yang mana bikinku ngantuk mulu 😅, aku nge-skip Frankenstein dan mencari film yang vibes-nya mirip-mirip. Ada beberapa film yang masuk list, cuma yang kebetulan ada di watchlist Letterboxd-ku adalah Poor Things, dulu aku nggak sempat nonton filmnya karena keburu turun layar.

Poor Things bercerita tentang Bella Bexter (Emma Stone) yang dihidupkan kembali oleh Dr. Godwin Baxter (Willem Dafoe) melalui cangkok otak. Untuk membantu mencatat perkembangan perilaku dan psikologis eksperimennya, Godwin merekrut mahasiswa kedokteran bernama Max McCandles (Ramy Youssef). Fyi, Bella meningal saat hamil dan entah kesambet setan mana, Godwin ngide mencangkokkan otak janin yang masih hidup ke tubuh Bella yang udah mati.

Sampai di sini aku melongo... plot-nya fresh namun membagongkan 😆.




Meski memiliki tubuh wanita dewasa, perilaku dan psikologis Bella sesuai 'usia' otaknya. Mengkaget rasanya melihat Bella yang bertingkah macem anak kecil, makan berantakan, sulit kontrol emosi dan yang 'agak mengganggu' doi nggak mau pake baju tcoy 😭. Jangankan Max, aku aja yang nonton merasa speechless. Mungkin karena udah di-briefing, semua ART di rumah Godwin sabar banget menghadapi tingkahnya Bella.

Selama nonton Poor Things aku merasa ditendang lagi ke titik 0 penciptaan manusia. Saat masih bayi kita nggak bisa melakukan banyak hal karena keterbatasan indera dan rasa, seiring waktu kita tumbuh dan memiliki berbagai kemampuan yang sesuai dengan kapasitas tubuh. Sedang Bella, dalam 'keterbatasannya' tinggal menunggu waktu untuk menyesuaikan diri dan memegang kendali.




Untuk mempermudah pekerjaannya, Godwin berencana menikahkan Bella dan Max. Sayangnya, Bella malah kepincut pengacara culas bernama Duncan Wedderburn (Mark Rufallo) yang menjanjikan perjalanan ke Lisbon se-nyesss angin surga Mario Teguh 😏. Godwin dan Max menyadari bahwa Bella telah 'tumbuh' dan instingnya nggak bisa dibendung lagi, mereka akhirnya merelakan Bella pergi bersama Duncan.

Bella dan Duncan mengawali perjalanan dengan manits, namun di tengah Duncan mulai kehilangan kendali atas Bella yang mulai memahami eksistensinya. Bella menghabiskan uang Duncan karena berempati terhadap penderitaan orang lain, sialnya hal ini bikin mereka galbay dan diturunkan dari kapal di Paris. Sebagai manusia baru tentcunya Bella lebih mengandalkan naluri ketimbang nalar, makanya doi nggak masalah jadi PSK, yang penting menghasilkan uang yekan... 😅.



Setelah kepergian Bella, Godwin dan Max memberikan kehidupan baru kepada Felicity (Margareth Qualley). Entah karena kurang sabar atau memang nggak nyantol, mereka merasa kemampuan Felicity nggak bisa melampaui Bella. Makanya Max mencari Bella dan membawanya pulang ke rumah, untuk... melanjutkan eksperimen gitu ya *heu. Sedang Duncan bertemu Alfie Blessington (Christopher Abbott) yang merupakan suami sah (bukan siri ye 😁) Victoria Blessington aka Bella.

Setelah kembali ke rumahnya Bella akhirnya mengetahui alasan mengapa ia memilih mati ketimbang hidup bersama Alfie. Ia hanya ingin bebas, meski melalui jalan pintas. Dalam keputusasaannya, tuhan berwujud absurd memberikan kehidupan baru untuknya Menurutku, Bella adalah sebenar-benarnya perwujudan manifestasi Elizabeth. Yha~ kalau kata Joe Kerry mah end of beginning 😅.




Untukku, Poor Things ini mind blowing sih. Di awal kita akan dibikin kasihan kepada Bella yang diekspoitasi mulu, namun di akhir kita dibikin takjub dengan perkembangannya. Pada akhirnya Bella mampu memegang kendali atas dirinya, bahkan menyetarakan dirinya dengan cowok-cowok brengsex yang ada di hidupnya *thanks to Pak Godwin ✨👌🏻. Jadi, siapa yang sebenarnya Poor Things teh? Sejujurnya aku puas banget dengan ending-nya 😁.

Selama nonton Poor Things aku merasa gundah gulana gegara nggak nyaman dengan materinya yang cukup eksplisit. Lebih vulgar ketimbang dayang-dayang Suzanna dan lebih sembrono ketimbang berbagai film dengan muatan sensual. Meski begitu, aku mesti mengakui bahwa 'kepolosan' Bella merepresentasikan kemampuan berpikirnya. Semakin berkembang kemampuannya, semakin doi menutup aurat 🙏.



Outfit-nya Bella cakep-cakep yaini, perpaduan antara victoryan style, fantasy dan steampunk. Aku paling suka outfit-nya Bella saat berada di kapal, kombinasinya memang nggak nyambung-nyambung banget sih namun tetap enak dilihat 😍. Sinematografinya mah nggak usah ditanya, sungguh sangat eye pleasing, bahkan scene absurd sekalipun terasa indah dan bikin betah nontonnya.

Kalau kalyan ada waktu luang kusarankan kalyan nonton Poor Things, dengan catatan: jauhkan dari jangkauan anak-anak ya hehe.

***

Poor Things memenangkan 4 dari 11 nominasi di Academy Awards 2024 untuk kategori.

Best Actress - Emma Stone 🏆
Best Production Design - James Price, Shona Heath, Zsuzsa Mihalek 🏆
Best Costume Design - Holly Waddington 🏆
Best Makeup and Hairstyling - Nadia Stacey, Mark Coulier, Josh Weston 🏆
Best Picture - Ed Guiney, Andrew Lowe, Yorgos Lanthimos, Emma Stone 
Best Director - Yorgos Lanthimos
Best Supporting Actor - Mark Ruffalo
Best Adapted Screenplay - Tony McNamara
Best Cinematography - Robbie Ryan
Best Film Editing - Yorgos Mavropsaridis
Best Original Score - Jerskin Fendrix

***

Pictures were taken from IMDb website.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hello~

Di musim pancaroba ini (udah official ya) aku lebih banyak menghabiskan waktu di dunia nyata ketimbang dunia tipu-tipu. Saat ini aku lagi mode di saving energy karena belakangan ini cuaca nggak menentu, tetiba panas, tetiba hujan, tetiba nggak karuan 😅. Jenuh banget rasanya tinggal di rumah dan melakuan berbagai hal yang kalau kata Deya mah auto pilot. Hiburanku nggak jauh dari main dengan Lulu, nonton, main game dan sesekali meng-update blog.

Gegara heboh bendera Jolly Roger aku jadi teringat lagi hanca One Piece yang sempat tertunda 😁. Alhamdulillah bulan lalu aku berhasil menamatkan One Piece dalam waktu 3 hari, selang seling dengan Good Boy. Aku memang nggak pernah nonton One Piece versi anime-nya, namun untuk muggle sepertku ini, One Piece versi live action-nya sips dan mudah difahami ✨👌.


Mumpung ghirah bajak membajak yang bukan di sawah masih ada, aku rewatch salah satu trilogy favorite-ku yakni:

Pirates of the Carribean: The Curse of the Black Pearl (2003)
Pirates of the Carribean: Dead Man's Chest (2006)
Pirates of the Carribean: At Worlds End (2007)

Pirates of the Carribean: On Stranger Tides (2011)
Pirates of the Carribean: Dead Men Tell No Tales (2017)

***

Aku pertama kali nonton Pirates of the Carribean: The Curse of the Black Pearl saat persiapan ospek fakultas, kita nobar kilat dari DVD-nya Rizma untuk cari referensi outfit bajak laut. Yaps... tema ospek fakultas kita adalah bajak laut. Aku baru menamatkannya Pirates of the Carribean: The Curse of the Black Pearl 1-2 tahun kemudian, dan sejak saat itu Pirates of the Carribean trilogy jadi comfort movie-ku, di-rewatch mulu biar nggak stress.

FYI, lupa lagi gimana ceritanya namun kita semua sepakat jadi kru bajak laut (bukan jadi bajak lautnya 😅), pake setelan hitam putih, bandana ala-ala, bawa karung, punya pedang dan bikin kumis jadi-jadian + codet 😂.

Pirates of the Carribean bercerita tentang petualangan Captain Jack Sparrow (Johnny Depp) dan krunya di perairan Karibia. Secara geoggrafis, kepulauan Karibia berada di lautan tropis yang membentang dari Amerika Tengah (Florida) hingga Amerika Utara (Venezuela). Lokasinya yang strategis tentcunya bikin perairan Karibia ini ramai dan disinggahi oleh kapal-kapal pedagang termasuk Spanyol, Inggris, Prancis, Belanda dan China.

Setahuku, Pirates of the Carribean: The Curse of the Black Pearl ini direncanakan sebagai film sekali tamat, namun melihat pencapaiannya yang luar biasa dibikinlah sekuelnya yakni Pirates of the Carribean: Dead Man's Chest dan Pirates of the Carribean: At Worlds End. Syukurnya, kedua sekuelnya ini sama asyiknya dengan Pirates of the Carribean: The Curse of the Black Pearl, jadi penonton sangat terpuaskan.

Menurutku, ending-nya Pirates of the Carribean: At Worlds End udah pamungkas banget, nggak perlulah dibikin sekuel lagi macem sinetron stripping. Tapi ya... namanya juga Disney, tetiba doi kasih pengumuman mau bikin trilogy baru untuk Pirates of the Carribean ini. Apa itu sekuel? Apa itu spin off? Trilogy cuy... Sayangnya, rencana bikin trilogy ini mesti berhamburan gegara Johnny Depp di-kick paska perseteruannya dengan Amber Heard 😭.

Sejujurnya aku masih suka trilogy pertama ketimbang trilogy kedua karena alur cerita dan pengembangan karakternya lebih mantips. Pirates of the Carribean: On Stranger Tides dan Pirates of the Carribean: Dead Men Tell No Tales terasa kurang nendang karena kru Black Pearl udah pada mencar sana sini. Meski kadang sebel krunya dongo dan berkhianat mulu, rasanya hampa aja gitu melihat Jack Sparrow solo karir 😅.

Sebagai franchise yang menjanjikan, tentcunya Disney mencari cara untuk mengekplotasi IP-nya Pirates of the Carribean. Kabar terakhir yang kubaca, Disney sedang mengkaji ulang rencana reboot Pirates of the Carribean dengan Johnny Depp sebagai Captain Jack Sparrow. Anj 😡... kenapa nggak bikin series-nya aja sih??? Win win solution laya, biar sama-sama enak. Meski masih mangkel perkara reboot, aku suka dengan fakta bahwa there is no Captain Jack Sparrow without Johnny Depp.

Sebagai pertimbangan, kubikin list alasan-alasan mengapa kalyan mesti nonton Pirates of the Carribean.

ALUR CERITA YANG SERU
Ini mah nggak usah ditanya ya wkwk Kalau kalyan suka film bertema petualangan, fantasi dengan bumbu-bumbu sejarah kuyakin kalyan akan suka Pirates of teh Carribean ini. Untuk trilogy pertama sekenarionya bisa dibilang padat karya dan chef kiss ✨👌, sedang untuk trilogy kedua terasa agak kurang ya pemirsa. Aku suka cara mereka menghidupkan cerita dengan berbagai dialog dan aksi absurd macem di opening-nya Pirates of the Carribean: Dead Man's Chest.

KARAKTER YANG IKONIK
Aku nggak bisa membayangkan ada aktor lain yang mampu menghidupkan Jack Sparrow selain Johnny Depp, seakan-akan karakter itu memang tercipta untuknya. Kurasa hampir semua karakter di Pirates of Carribean ini memang ikonik, termasuk karakter kecil macem duo Pintel (Lee Arenberg) - Ragetti (Mackenzie Crook), Tia Dalma bahkan Jack Jack. Di antara semua karakter kurasa yang perkembangannya OK adalah James Norrington 😍.

EFEK VISUAL YANG KEREN PADA MASANYA
Bahkan hingga saat ini, efek visual yang digunakan di Pirates of the Carribean ini masih acceptable dan kewren. Untuk proses syuting Pirates of the Carribean ini krunya pake kapal sungguhan, niat banget ya😆. Sebagian adegan memang diambil di studio, sedang sisanya diambil di lokasi asli macem kepulauan Bahama dan Republik Dominika. Mereka pake CGI untuk olah rupa karakter yang rumit macem Davy Jones dan krunya, mehong coy kalau semua pake CGI mah 😅.

SCORING YANG MEMORABLE
Mungkin pernah lewat di FYP kalyan, video TT tentang hewan-hewan misterius di bawah laut yang yang pake sound seram ala bajak laut. FYI, judul lagu ini adalah Hoist the Colours, yang muncul di opening Pirates of the Carribean: At Worlds End, bercerita tentang 'dosa-dosa' raja bajak laut kepada Calypso, dan digunakan untuk mengirim pesan kepada Brethen Court. FYI lagi, lagu ini bukan lagu bajak laut asli ya melainkan lagu yang sengaja dibikin untuk kebutuhan film.

The king and his men stole the queen from her bed
And bound her in her bones
The seas be ours and by the powers
Where we will. we'll roam

Yo-ho, all together
Hoist the colors high
Heave ho, thieves and beggars
Never shall we die

Lirik: Ted Elliot dan Terry Rossio, Komposer: Klaus Badelt dan Hans Zimmer.

INTRIK POLITIK YANG PELIK
Salah satu yang menjadi highlight di Pirates of the Carribean adalah keterlibatan kongsi dagang di pemerintahan Inggris. Kalau Belanda punya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), maka Inggris punya EIT (East India Trading Company). Kongsi dagang ini memiliki kekuasaan politik dan militer yang cukup besar untuk mengendalikan wilayah koloni, that's why gubernur Swann nggak bisa berkutik saat Cutter Becket datang ke Port Royal.

REFERENSI MITOS DAN SEJARAH
Bajak laut atau perompak hadir seiring terbukanya jalur perdagangan lintas laut dan menjadi bagian dari sejarah maritim dunia. Sampai sekarang bajak laut masih ada kok terutama di perairan Somalia, kalyan bisa nonton Captain Philips (2013) untuk tahu gimana bajak laut modern beraksi. Brethen of Court di Pirates of the Carribean: At Worlds End mengambil referensi dari Brethen of the Coast yang eksis di abad ke-17 sampai abad ke-18 dan punya code of conduct sendiri.

Banyak referensi mitos yang dipake di Pirates of the Carribean, salah satunya adalah Kraken yang jadi 'senjata' andalan Poseidon. Biasanya Kraken digambarkan sbagai monster laut yang ganas, tapi aku sama sekali nggak mengira bentuk asalinya adalah gurita😅. Putri duyung atau Fountain of Youth mah udah familiar laya, gimana dengan trisula Poseidon? Scene laut terbelah mngingatkanku pada Nabi Musa.

***

Eh iya, marki-view tipis-tipis Pirates of the Carribean ini biar kalyan nonton.

Pirates of the Carribean: The Curse of the Black Pearl (2003)

⭐⭐⭐⭐✰

Paska dikhianati oleh mualimnya sendiri, Hector Barbossa (Geoffrey Rush), Jack Sparrow luntang lantung dan 'terdampar' di Port Royal. Malam harinya kapal Black Pearl berlabuh dan krunya menculik putri gubernur, Elizabeth Swan (Keira Knightley) karena koin emas yang dimilikinya. Jack Sparrow menghasut Will Turner (Orlando Bloom) untuk mengejar kapal Black Pearl, mendahului armada yang dipersiapkan oleh James Norrington (Jack Davenport) yang merupakan tunangan Elizabeth.

Setelah mencuri 882 koin emas Hernan Cortes hasil upeti suku Aztec, Barbossa dan krunya terkena kutukan yang bikin mereka berubah jadi zombie dan immortal. Satu-satunya cara untuk menghapus kutukan tersebut adalah dengan mengembalikan semua koin emas ke Isla del Muerta. Yha~ kapal Black Pearl kena kutukan gegara salah ngerampok 😂. Jack Sparrow dan Barbossa akhirnya saling berhadapan dan memperebutkan keping emas terakhir sekaligus kapal Black Pearl.


Pirates of the Carribean: Dead Man's Chest (2006) 

⭐⭐⭐⭐⭐

Seperti yang udah kita dugong, Elizabeth Swann memutuskan pertunangannya dengan James Norrington dan memilih Will Turner. Sialnya, pernikahan mereka mesti tertunda gegara Lord Cutler Beckett (Tom Hollander) dari East India Trading Company, doi mengancam akan mengeksekuisi semua orang yang terlibat di misi penyelamatan Elizabeth. Kecuali, Will berhasil mendapatkan kompasnya Jack Sparrow.

Lupakan Barbossa, kali ini Jack Sparrow mesti menghadapi Davy Jones (Bill Nighy) yang menagih tumbal yang pernah dijanjikan. Bukannya berusaha melunasi tumbal, Jack Sparrow malah mendatangi Tia Dalma (Naomie Harris) dan mencari celah untuk menghindari Davy Jones dan peliharaannya, Kraken. Ending-nya sungguh sangat di luar ekspetasi yaini, udalaya tonton aja, dijamin seru. 


Pirates of the Carribean: At Worlds End (2007) 

⭐⭐⭐⭐⭐

Sayangnya Jack Sparrow nggak berhasil menyelamatkan diri dan ditarik oleh Kraken ke dasar timeline laut. Ketimbang memulai hidup baru, kru yang tersisa malah menemui Tia Dalma (lagi) demi menyelamatkan Jack Sparrow dari kuburan laut. Untuk memandu perjalanan ke ujung dunia ini mereka membutuhkan seorang kapten, dan yha~ selamat datang kembali Barbossa... 😉.

Sadar nggak bisa menghadapi persekutuan Davy Jones X Cuttler Becket sendirian, Jack Sparrow pun pergi ke Shipwreck Island untuk meminta bantuan Brethen Court. Setelah melalui konklav mereka bersepakat untuk membebaskan Calypso sekaligus menghancurkan armada Davy Jones X Cutler Becket. Scene favorite-ku adalah battle scene antara kapal Black Pearl dan Flying Dutchman saat badai di tengah pusaran. Kewren 😍.


Pirates of the Carribean: On Stranger Tides (2011)

⭐⭐⭐✰✰

Paska di-kick (lagi) oleh krunya, Jack Sparrow luntang lantung dan 'terdampar' di London. Doi menemukan Barbossa menyamar sebagi dirinya dan merekrut kru untuk mencari Fontain of Youth. Saat itu sedang terjadi persaingan antara Inggris dan Spanyol, makanya mereka berusaha untuk saling mendahului. Jack Sparrow pun menolak namun doi malah bertemu dengan Angelica (Penelope Cruz) dan Blackbeard (Ian McShane) yang mengincar Fountain of Youth.

Di perjalanan mereka singgah di Whitecap Bay untuk menangkap Syrene (Astrid Berges-Frisbey) sebagai syarat ritual di Fointain of Youth. Mereka juga menawan Philip Swift (Sam Claflin) seorang misionaris muda yang... tuh kan Sam Claflin karakternya kalau nggak metong ya sengsara mulu 😅. Ketiga armada laut, yakni Blackbeard X Jack Sparrow, Barbossa X Inggris dan Spanyol berlomba menemukan Fountain of Youth.


Pirates of the Carribean: Dead Men Tell No Tales (2017)

⭐⭐⭐✰✰

Telah tiba masanya kita bertemu dengan Henry Turner (Brenton Thwaites) yang merupakan anak dari Will Turnar dan Elizabeth Swann. Dengan kesusotoyannya, ia pergi mencari Trident of Poseidon demi membebaskan bapake dari guna-guna kapal Flying Dutchman. Di perjalanan doi ditawan oleh Armando Salazar (Javier Bardem) dan dipergunakan untuk mengancam Jack Sparrow yang bikin doi dan krunya dikutuk karena masuk ke Devil's Triangle.

Sementara itu, Jack Sparrow bertemu dengan Carina Smyth (Kaya Scodelario) seorang astronom yang dituduh penyihir. Jack Sparrow, Henry dan Carine lantas pergi mencari Trident of Poseidon mengikuti petunjuk di buku milik bapake Carina menggunakan kapal Dying Gull. Mereka semua akhirnya bertemu di dasar laut (?!) dan berlomba mendapatkan Trident of Poseidon. Jujur, di antara semua film Pirates of the Carribean, film ini yang skenarionya paling lemah.


***

Seperti byasa... bagimu taste-mu, bagiku taste-ku, selera kita bisa sama bisa aja nggak. Kalau kalyan sedang mencari tontonan bertema bajak membajak yang bukan di sawah, let's give them a try... atau cobain dulu deh nonton trilogy pertamanya *maksa. Tapi kalau kalyan udah nonton, ingatlah apa kata mb Mariah Carey tiap menjelang akhir tahun. its timeeeeeeeeeeeeeeeeee... to rewatch.

***

Pictures were taken from IMP Awards website.
Kalau kalyan merasa tulisanku menarik dan ingin menyemangatiku, boleh niya jajanin virtual... 😉.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

Paused Moments

Let's Get In Touch

  • Behance
  • Letterboxd
  • LinkedIn

Disclaimer

It is prohibited to copy any content from this blog without prior permission. If you believe your privacy has been violated or notice content that requires proper credit, please let me know.

Note

Some links in the post may be affiliate links, which means I may earn a small commission if you buy through them. There’s no pressure at all—what works for you is what matters most.

Alone Alone Kelakone

2026 Reading Challenge

2026 Reading Challenge
Lestari has read 0 books toward her goal of 6 books.
hide
0 of 6 (0%)
view books

Archives

  • ►  2011 (7)
    • ►  May (1)
    • ►  Nov (6)
  • ►  2012 (19)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (8)
    • ►  Jun (2)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Oct (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  Jan (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (8)
  • ►  2015 (62)
    • ►  Jan (6)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  Jun (7)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Aug (10)
    • ►  Sep (7)
    • ►  Oct (11)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (7)
  • ►  2016 (64)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (2)
    • ►  May (6)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (7)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (9)
    • ►  Nov (6)
    • ►  Dec (11)
  • ►  2017 (76)
    • ►  Jan (10)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (6)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (12)
    • ►  Jun (10)
    • ►  Jul (7)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (6)
  • ►  2018 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (7)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2019 (39)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (5)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2020 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Mar (7)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2021 (44)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (4)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2022 (47)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (2)
    • ►  Oct (5)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2023 (41)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  May (2)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (6)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (2)
    • ►  Dec (4)
  • ►  2024 (48)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (5)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (5)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (2)
  • ►  2025 (36)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (1)
    • ►  Jun (6)
    • ►  Jul (2)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (2)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (4)
    • ►  Dec (3)
  • ▼  2026 (22)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (2)
    • ►  Jun (2)
    • ►  Jul (3)
    • ▼  Aug (3)
      • Spider-Man: Brand New Day
      • Sop Burtok
      • Lontong Cibadak Dan Kembang Tahu

Friends

  • D. R. Bulan
  • Ikan Kecil Ikugy
  • Mazia Chekova
  • Noblesse Oblige
  • Perjalanan Kehidupan
  • Pici Adalah Benchoys
  • St. Jauzah
  • The Random Journal

Blogmarks

  • A Plate For Two
  • Berada di Sini
  • Cinema Poetica
  • Dhania Albani
  • Diana Rikasari
  • Dinda Puspitasari
  • Evita Nuh
  • Fifi Alvianto
  • Kae Pratiwi
  • Lucedale
  • Mira Afianti
  • Monster Buaya
  • N Journal
  • Nazura Gulfira
  • Puty Puar
  • Rara Sekar
  • What An Amazing World
  • Yuki Angia

Check This Too

  • A Beautiful Mess
  • Daisy Butter
  • Kherblog
  • Living Loving
  • Minimalist Baker
  • Nicoline Patricia
  • Spice The Plate

Followers

Thanks for Coming

Community

Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates