The Gift

by - December 08, 2017


Pasti diantara kalian pernah ada yang ngalamin ketemu temen lama entah itu di jalan, di resepsi atau di reuni, dia (temen tsb) berusaha untuk kembali dekat dengan cara yang menurut ukuran zaman sekarang ‘agak annoying’. Kalau sebatas nge-chat atau comment di IG kayanya masih wajar ya meski kadang kita masih suka males bales karena crispy *heu, tapi lain lagi ceritanya kalau dia udah datang ke rumah dan ngasih-ngasih hadiah tanpa sebab yang jelas.

Semacam “apa sih maunya?”.

Mungkin sebagian orang akan beranggapan yang berlalu biarlah berlalu, kalau pernah ada salah atau kenangan di masa lalu, yaudahlah ... nggak usah dibaperin lagi toh masa lalu nggak bisa dirubah, yang ada sekarang mikirinnya masa depan hehe Nah, sedangkan sebagian lagi masih belum bisa move on dan setia pada masa lalu, sekalinya ketemu langsung baper sebaper-bapernya.

Ada banyak alasan kenapa kita kita masih suka baper, cinta yang belum usai, naksir yang diem-diem, kesel yang berkepanjangan atau amarah yang tak berkesudahan, well ... intinya, baper adalah akibat dari urusan-urusan yang belum selesai. Kadang suka kepikiran kok ada ya orang yang masih bisa survive dengan urusan yang belum selesai itu? Beresin kek, setahun dua tahun mah wajar tapi kalau sampai belasan tahun atau malah berpuluh-puluh tahun; “situ sehat?”, “apakabar hatinya?” *eh

Gimana kalau ternyata temen kita masih merasa baper padahal kitanya udah mantap move on? Bingung juga yha~ karena nggak mungkin dong kita mengorbankan apa yang sudah dimiliki saat ini demi masa lalu orang lain, tapi ... lebih nggak mungkin lagi untuk mengontrol perasaan seseorang pada kita. Ya?

*Pasti pada mikir dulu sebelum jawab “ya”


The Gift adalah salah satu film yang menjadikan masa lalu sebagai ‘alasan’ kenapa urusan yang belum selesai bisa menjadi duri di kemudian hari. Bukannya menakut-nakuti, namun terkadang orang sanggup melakukan hal-hal mengerikan dan nggak reasonable atas nama masa lalu yang masih belum usai.

Simon Callum (Jason Bateman) dan Robyn Callum (Rebecca Hall) adalah sepasang suami istri yang baru saja pindah dari Chicago ke Los Angeles, mereka tinggal di kawasan suburb dekat kampung halaman Simon. Sehari-hari Simon bekerja sebagai kontraktor sedangkan Robyn tinggal di rumah karena masih dalam proses pemulihan pasca keguguran.

Suatu hari mereka bertemu dengan Gordon “Gordo” Moseley (Joel Edgerton) teman SMA Simon saat sedang berbelanja di mall. Adalah suatu kesopanan untuk berbasa basi, namun basa basi tersebut ditanggapi dengan serius oleh Gordo, Setelah pertemuan tersebut Gordo rajin menghadiahi Simon dan Robyn, meski tanpa ada maksud apa pun lama-kelamaan mereka merasa risih, terlebih lagi saat Simon mengetahui Gordo sering mengunjungi Robyn saat ia tak ada.

Puncaknya adalah ketika Simon menyalahkan Gordo lantaran anjingnya hilang, ia mengancam Gordo agar tidak mendekati keluarganya lagi. Di masa-masa tenang itu Robyn akhirnya hamil (lagi), mereka menjalani kehidupan yang normal sampai suatu hari Robyn menanyakan perihal Gordo kepada kakak iparnya (kakak Simon). Meski tidak berteman akrab, Simon pernah menyelamatkan Gordo saat SMA.

Disini Robyn mulai kepo, ia mencari tahu tentang Gordo dan hubungannya dengan Simon di masa lalu lewat temannya Simon. Apa yang ia temukan selanjutnya lebih mengejutkan, rahasia kelam antara Simon dan Gordo membuat Robyn mempertanyakan seberapa jauh ia mengenal Simon.


Awalnya kupikir The Gift adalah film drama atau apalah yang nggak rame-rame banget, ini juga nggak sengaja nonton karena nggak ada film yang menarik di TV. Padahal The Gift adalah film ber-genre psycho thriller, bukan ber-genre drama apalagi ber-genre comedy romantic seperti yang tersirat di judulnya dan yang paling penting nih twist ending-nya bener-bener bikin hati mencelos “jirr ... KZL”

Dalam review-nya My Dirt Shirt menuliskan bahwa; The Gift mengaburkan batas antara karakter  protagonis dan antagonis. That’s true! Kita akan dibuat bingung sebingung-bingungnya, sebenernya siapa sih karakter yang jahat dan siapa karakter yang baik, well ... jangan siya-siyakan waktu untuk menebak-nebak karena masing-masing karakter memiliki point of view dengan porsi kekuatan yang balance.

FYI. The Gift bukan film dengan unsur LGBT ya, Simon dan Gordo nggak pernah saling naksir apa gimana di masa lalu, masalah utamanya lebih ke arah habit. Ya itu sih ... yang namanya habit kalau nggak dibenerin bakalan berlanjut sampai tua atau sampai kena tulah hehe Sweet revenge-nya Gordo nggak akan pernah terjadi kalau saja Simon mau berdamai dengannya. Dengan masa lalunya.

The Gift membuatku lumayan tersadar *ehe kalau mau nikah mesti background check dulu, kalau perlu hire PI haha Karena kita nggak pernah tahu kan sekelam apa masa lalu seseorang. Makanya nih kelen-kelen, para kids zaman now mesti baek-baek ya di internet, siapa tau nanti ada yang scrolling down sampai ke dasar timeline.

The Gift memang nggak seperti film ber-genre psycho thriller lainnya yang setting dan ambience berpotensi menimbulkan ketegangan. The Gift lebih casual namun dieksekusi secara lugas. So ... bagi kalian yang ingin coba-coba menonton film ber-genre psycho thriller namun males tegang tontonlah The Gift. Ringan tapi menusuk. Yha~

You think you’re done with the past but the past is not done with you

(Gordo The Weirdo)

You May Also Like

0 comments

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.