Cerita Lebaran

by - 6.7.17


Happy Eid Mubarak everyone! 🙏🙏🙏

Lebaran tahun kita lebih banyak stay di rumah karena mama dan Widy yang  lagi sakit, nggak bisa pergi jauh-jauh juga karena orang-orang pada mudik dan menuh-menuhin jalan di Subang. Yang tadinya niat mau ngabuburit sambil nyari ta’jil di sisa Ramadhan ini bisa jadi malah terjebak macet dan berbuka sebelum sampai di rumah.

Malam takbiran nggak jauh berbeda dengan malam-malam biasanya yang sepi dan anyep, nggak tahu juga ya kenapa tahun ini nggak ada gerombolan anak-anak dan remaja yang ngebangunin sahur keliling kompleks pake mobil sambil pukulin galon dan rebutan ngomong di toa. Saking sepinya, suara nafas juga kedengeran haha .... nggak deng ... suara bersin.

Scene Mama dan Widy rebutan channel TV antara sinetron sejuta umat Dunia Terbalik atau tayangan non syar’i Running Man cukup menghibur, masing-masing keukeuh dengan hiburan versi masing-masing sampai akhirnya (keduanya) memilih untuk anteng mainin smartphone.

Aku sih yes ... karena akhirnya remote kembali ke tanganku haha 😆

Lalu lintas di feed IG dan timeline Twitter di malam takbiran lancar jaya, sebentar-sebentar refresh, sebentar-sebentar refersh, sebentar-sebentar refresh. Mostly adalah joke’s receh dan meme’s lucu untuk menghadapi pertanyaan maha genggeus generasi millennials #kapannikah.

Di masa lampau, adalah hal yang lumrah untuk mengirim sms ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri dengan prolog basa-basi macem “ketika tangan tak mampu berjabat ...”, kemudian send to many ... tapi lupa mengganti nama pengirimnya. Hihi😑😉😉

Kini ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri cukup dengan posting foto keluarga dan menulis caption, kalau mau lebih seru bisa upload insto ala Mbak Dian yang baru tamat ditonton keesokan harinya. Nggak ngerti juga apa nge-love foto statement di IG sudah termasuk ngucapin Selamat Hari raya Idul Fitri apa nggak?

Padahal dulu seneng banget ya rasanya telepon-teleponan dan saling kirim chat secara personal cuma buat ngucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri. Milihin ucapan yang terbaik dari yang terbaik di inbox untuk di copy paste hehe dan rajin mantengin handphone untuk membalas ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri yang datang murudul ketika baru kebagian sinyal.

Ehm ... Karena di rumah nggak ada yang mau masak, hampir semua makanan di-supply dari rumah Mbah dan rumah Emih, keduanya kompak kasih opor ayam + ketupat dan sambal goreng kentang. So s... Everything would be okay ... 😆

Semakin tahun Lebaran semakin sepi ...

Mungkin karena orang-orangnya lagi pada mudik ya ... jadinya malam takbiran nggak seasyik dulu.

Tante Marie dan Nisa seperti biasanya mempersiapkan keperluan untuk ibadah Hari Minggu, keluarga muda seperti tetangga sebelah dan tetangga depan rumah yang nggak tahu nama lengkapnya siapa udah mudik duluan ke rumah mertua, sedangkan orang Korea yang ngontrak di depan rumah junga nggak ada, kemungkinan hijrah ke hotel biar ada yang ngurusin atau main ke Cikarang biar nggak kesepian.

Mungkin cuma Keluarga Ade di paling ujung yang stand by di malam takbiran, mereka akan bergantian memastikan ibunya menggunakan headset karena suka jantungan setiap kali mendengar suara petasan dan kembang api, bahkan pernah pingsan karenanya.

Lingkungan rumahku termasuk yang agak spooky karena banyak rumah kosong. Anak-anak sekolah menjuluki rumahku sebagai rumah hantu sebab Tante Kun di loteng pernah mengerjai tukang nasi goreng. Ohh ... pantes ya ... kalau ada motor yang kebetulan melintas di malam hari, begitu lewat depan rumah suka langsung ngebut. I see ... I see ...

Aku baru tahu ketika mengajak teman-teman ke rumah untuk membuat video and yes ... they are very surpised ... Nggak nyangka selama ini aku tumbuh dan tinggal di rumah hantu. Kadang suka kepikiran, orang Korea yang ngontrak di depan rumah tahu nggak ya rumah yang sekarang ditempatinya udah kosong selama lebih dari 10 tahun? Haha

Sejak mama sakit lokasi sholat Ied yang biasanya di alun-alun pindah ke mesjid kompleks, dibandingkan dengan tahun lalu, tahun ini mu’min-nya berkurang banyak. Entah karena alasan apa tapi sholat Ied kali ini lebih sepi dari biasanya.

Tahun ini nggak ada acara sungkem ala-ala minta restu nikah. Lupa ... 😅

Then, kita pergi ke rumah Mbah di Dawuan, bersilaturahmi dengan tetangga yang nggak mudik dan makan-makan. That’s it, semua susunan acara Idul Fitri selesai sebelum adzan Dzuhur, sisanya ... leyeh-leyeh dan ngemil syantique. Kenyataannya, persiapan Idul Fitri lebih melelahkan ketimbang Idul Fitrinya sendiri.

Well ... Bila melihat kuantitas, keluarga kita bukan termasuk keluarga besar yang dalam caption foto IG dituliskan “Ini baru 1/4nya” atau “Ini baru 40%nya loh”, tapi mungkin saja kalau disatukan dengan keluarga lainnya yang seakar (family roots).

Untuk mengusir kebosanan makan opor ayam + ketupat dan sambal goreng kentang, kita akhirnya ngeliwet dan bakar ikan di samping lapangan.

Happy double tapping into the lovely post on Instagram 

They stole the spotlight :)

The official theme of Idul Fitri mandatory picture this year was 'merem'. 

Keluarga open endorse yang kekinian.

Sebenar-benarnya behind the scene, muka-muka nggak siap jepret :p

Calon makanan

No caption needed.

(^.^')

Mbak & Mama

You May Also Like

0 komentar

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.