Image Analysis

by - March 20, 2017


Hi March!

Image analysis (bacanya: aii-mejh einelay-seizh) atau yang dalam terjemahan Bahasa Indonesianya adalah analisa gambar merupakan materi pembuka di Basic Fashion Course.

Image analysis adalah core point dalam membuat konsep desain (design concept), yang nantinya akan menentukan dan mempengaruhi design secara keseluruhan. Image analysis bisa didapatkan dari market research atau pure berdasarkan inspirasi designer yang bersangkutan.

Sebelumnya, aku pernah mempelajari tentang image analysis saat kuliah. Meski tak jauh berbeda, image analysis yang digunakan saat kuliah (tentu) berbeda dengan image analysis yang digunakan di ranah fashion. Lain cabang ilmu, lain pula metodenya.

Pada Desain Produk, secara umum ada 4 image board yang (sering) digunakan ketika mendesain suatu produk, namun karena belum jelas apa produk yang akan dibuat maka perlu dibuat image chart yang bertujuan untuk menentukan aktivitas mana yang akan difasilitasi.




Diatas ini adalah contoh image board untuk produk organizer dengan studi kasus Komunitas Backpacker Bandung. Berdasarkan image chart, user melakukan aktivitas mencatat atau menulis pada saat menyusun itenary (private-active), mencatat bahan kuliah (active-group) dan menulis draft blog (group-passive). Produk yang dipilih adalah organizer karena memiliki intensitas penggunaan yang lebih banyak dibandingkan produk lainnya.



Life style board adalah gambar-gambar yang menunjukkan aktivitas user yang berhubungan dengan Komunitas Backpacker Bandung secara langsung (direct) adalah gathering, yang biasanya dilaksanakan di café atau tempat nongkrong oleh peserta gathering yang didominasi oleh mahasiswa/i.

Mood board adalah gambar-gambar yang menunjukkan mood, spirit atau ambience dari aktivitas yang menjadi centre point Komunitas Backpacker Bandung yaitu travelling with low budget a.k.a backpacking. Gambar yang dipilih menunjukkan hal-hal yang menjadi soul bagi backpacker.

Styling board adalah gambar-gambar yang menunjukkan produk-produk yang digunakan user dalam keseharian maupun ketika backpacking. Gambar yang dipilih merupakan gambaran user secara pesonal  yang dipilih secara acak (random) di Komunitas Backpacker Bandung.

Usage board adalah gambar-gambar yang menunjukkan produk-produk kompetitor (pembanding) dari organizer yang tersedia di pasaran. Gambar yang dipilih sudah disesuaikan dengan kepribadian user berdasarkan styling board.


***

Jika elemen visual design adalah dot (titik), line (garis), shape (bentuk), color (warna), texture (tekstur) dan space (ruang), maka elemen visual fashion adalah color, texture, silhoutte (kesan garis / bayangan) dan finishing (penyelesaian).  Elemen visual fashion lebih compact dibandingkan elemen visual dalam design karena sudah ‘dipadatkan’.

Silhoutte pada elemen visual fashion mencangkup dot, line, shape dan space, sedangkan finishing lebih mengarah pada hal-hal yang bersifat teknis seperti teknik pengerjaan dan proses pengerjaan.
Jika image analysis pada Desain Produk ditujukan untuk mengetahui produk apa yang harus dibuat, maka image analysis pada fashion adalah kelanjutannya karena produknya sendiri sudah jelas. Fashion. Mencangkup semua produk yang dikenakan dan beserta turunannya yang bersifat visual.



Untuk membuat image analysis diperlukan gambar-gambar yang mendukung serta mengarah pada design concept. So, kita diminta untuk mencari majalah fashion bekas seperti Vogue, Bazaart, Elle atau Natgeo atau majalah apapun yang memiliki gambar-gambar artistik dengan hi-resolution. Ingat ya harus yang bekas! Karena kalau yang baru mah mahal 😂

Kalau nggak punya majalah fashion yang bekas, bisa mencari di bursa buku bekas Jl. Dewi Sartika di daerah Kalapa yang jadi tempat ngetem angkot jurusan Kalapa-Ledeng atau Kalapa-Cicaheum. Disana hanya ada sedikit pilihan majalah fashion bekas import dengan stock paling banyak 2 eksemplar per edisi.

Kenapa harus majalah fashion import? Bukan majalah fashion lokal? Karena majalah fashion import lebih banyak memuat full page advertisement ketimbang majalah fashion lokal. Ya kan? Coba deh dilihat lagi ... Kalau majalah fashion lokal biasanya balance antara gambar dan font, sehingga mengganggu gambar, jadinya agak kurang bisa ‘dinikmati’ 😏.

Setelah mendapatkan penjelasan mengenai image analysis dan diberikan pengarahan tentang bagaimana caranya membuat mood board, kita lantas diminta untuk membuat 5 mood board dari majalah yang kita beli sebelumnya. Nah. Mulai puyeng kan ...


Tips: untuk menghindari robekan kertas yang tidak rapi seperti di gambar kiri bisa dengan menekan bagian tengah majalah sehingga terlihat lemnya, setalah itu robek secara perlahan.

Sreettt ... Sreettt ... Sreettt ... Suara kertas dirobek 😒

Kapan lagi coba merobek majalah kalau bukan demi tugas? Kalau bukan karena tugas aku juga tak mau, yang ada malah disampulin 😊

Sebenarnya nggak perlu merobek secara membabi buta, cukup seperlunya saja. Nah. Itu dia masalahnya ... gambar apa yang diperlukan? Kalau Cuma merobek gambar yang dinilai bagus dan terlihat artistik, ya itu mah semajalaheun atuh ...

Untuk mempermudah, coba deh lihat-lihat dulu isi majalahnya, nggak usah sambil dibaca juga nggak apa-apa yang dilihat gambarnya saja. Setelah ditelaah coba cari satu gambar yang akan menjadi highlight, pertimbangkan juga aspek-aspek pendukungnya seperti tekstur atau tone warnanya.

Lalu pandangi ... dan temukan unsur elemen visual apa saja yang ada pada gambar tersebut. Setelah itu lalu cari lagi gambar lain yang menurut istilah Ripong mah masih ‘satu nafas’ dengan gambar yang menjadi highlight. Nah ... ini nih yang menjadi momok bagi kita semua. Sulit untuk menemukan gambar yang masih ‘satu nafas’ di majalah, apalagi kalau gambar di majalahnya cuma sedikit.



Aku dan Farah sampai harus balik lagi ke Jl. Dewi Sartika demi mencari majalah lainnya. Di tengah hari yang terik benderang itu, kita memilih-milih (lagi) majalah based on their page, dibuka satu-satu per-halaman, dicocok-cocokin dengan gambar yang sudah ada sambil mikir ‘ini nyambung nggak ya?’.

Ketika sampai di rumah. Eh, mood board malah berubah total! 😠😠😠

Kalau membuat mood board hanya mengandalkan majalah ya seperti itu, dipilih yang bahannya paling banyak bukan yang paling bagus. Lain lagi kalau membuat (digital) mood board menggunakan Pinterest, pasti ketemu deh yang ‘satu nafas’.

Kenapa kita tidak menggunakan Pinterest? Yang pastinya lebih mudah, murah dan cepat. Mmhhh ... Simple, karena gambarnya bisa dimanipulasi, untuk mendapatkan tone warna yang sesuai antara satu gambar dengan gambar lainnya kan bisa diedit dulu di Corel atau Photoshop #eh sorry sorry kebiasaan kuliah 😉 Selain itu keywordnya cukup sulit karena tidak semua gambar memiliki penamaan yang spesifik.

Next 👉mood board

You May Also Like

0 comments

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.