Melatih Skill BerBahasa Inggris

by - 26.8.16

www.google.com
Bertahun-tahun yang lalu saya sering merasa envy setiap kali membaca blog atau social media post teman dan temannya teman yang menggunakan Bahasa Inggris.
Kenapa? Karena keren (^.^).
It’s true.
Lantas, terbersitlah keinginan yang menggebu-gebu untuk bisa berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris,  I just wanna be like them hehe. Bukan karena ingin dianggap keren juga ya ... tapi karena saya ingin orang lain (foreigner) selain pribumi mengerti apa yang saya maksud, secara Bahasa Inggris adalah bahasa persatuan seluruh umat di dunia selain bahasa kalbu (T.T) GTL.
FYI, secara historis Inggris sudah pernah menjajah hampir separuh dunia, maka wajar saja jika bahasanya berceceran di bekas koloni-koloni jajahannya.
Setelah bekerja di offshore factory yang mengharuskan karyawannya bisa berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris, saya menyadari bahwa yang paling dibutuhkan dalam komunikasi adalah daya tangkap dan sense yang baik. Grammar yang perfect dan pronounciation yang clear memang dibutuhkan, tapi itu tidak menjadi jaminan jika lawan bicara tidak bisa mengerti apa yang dimaksud.
Tahu kenapa?
Karena tidak semua orang memiliki grammar dan pronounciation sebaik test TOEFL.
Dalam percakapan, yang terpenting adalah mendapatkan keyword dari apa yang dibicarakan, sedangkan dalam penulisan yang dibutuhkan adalah basa-basi yang melambai-lambai ala Syahrini. Dalam hal berkirim e-mail pun bahasa yang digunakan lebih casual dan simple, yang penting bisa dimengerti oleh kedua belah pihak.
Bersyukurlah jika lawan bicara adalah orang asing selain orang Inggris, karena bukan bahasa ibu (bahasa asli) maka bisa dipastikan bahwa mereka pun memiliki keterbatasan yang sama dengan kita, dialek. Lain negara lain juga dialeknya, ada yang seperti dikulum, ada yang kenyes-kenyes,ada yang berbuntut (memakai imbuhan khas negaranya) ada juga yang memang tidak jelas sama sekali.
Terkadang, tanpa disadari kita akan menggunakan gesture tubuh seperti tangan dan mata untuk mengutarakan apa yang dimaksud. Hal tersebut dangat membantu lawan bicara memahami apa yang dimaksud. `
Banyak yang berpendapat bahwa Bahasa Inggris adalah bahasa yang sulit, kebanyakan karena sewaktu sekolah dulu tidak berminat, tidak mau terjajah (zaman mana men?) atau merasa tidak percaya diri. Mungkin Bahasa Inggris terasa sulit karena mereka belum bisa menemukan cara yang tepat untuk memahaminya.
Saya pun butuh waktu untuk bisa memahami  dan menggunakan Bahasa Inggris dalam keseharian, dari mulai ikutan les Bahasa Inggris saat SD, uji nyali ikutan kompetisi telling story, sok-sokan mengisi friendster profile menggunakan Bahasa Inggris, rempong membuka kamus setiap kali ingin mengirim sms sampai akhirnya mampu menulis post di blog menggunakan Bahasa Inggris.
No pain no gain.
Nah, berikut ini adalah beberapa hal yang mempengaruhi kemampuan Bahasa Inggris based on my experience J.
1.       Lagu
Lagu adalah sarana yang tepat untuk mengekspresikan mood (perasaan) dan melatih pronounciation. Karena lagu, saya menghabiskan waktu senggang dengan menulis ulang lirik lagu dan menterjemahkannya ke Bahasa Indonesia
2.       Film
Gara-gara DVD bajakan yang saya beli tidak memiliki pilihan subtittle Bahasa Indonesia, saya terpaksa harus menonton sambil memegang kamus (FYI, saat itu saya belum menginstall aplikasi Kamus 2.03 di laptop). Dengan harap-harap cemas saya mencoba untuk mencerna subtittlenya, jika ada vocabulary yang tidak dimengerti saya akan langsung mengklik pause icon lalu mencari-cari artinya di dalam kamus (FYI, saat itu translator gadget saya hilang).
Meski awalnya ribet, karena harus siap membolak balik halaman kamus tapi lama-kelamaan saya pun terbiasa dan akhirnya bisa mengerti tanpa harus mencari artinya di kamus. Selain dengan bantuan kamus diperlukan sense untuk menebak-nebak, karena ujung-ujungnya semua kalimat dalam bahasa inggris akan diterjemahkan secara bebas menurut penalaran diri kita sendiri, so ... lets be sensitive.
3.       Bacaan
Bacaan yang dimaksud bukan hanya terbatas pada buku, koran atau majalah saja, melainkan termasuk dengan artikel dan berita di internet, semua yang bisa dibaca adalah bacaaan. Apalagi sekarang banyak authors yang menyisipkan berbagai quotes dan thought menggunakan Bahasa Inggris dalam bukunya.
4.       Social media
The easiet way to waving check hehe Selain status updates, rajin-rajinlah stalking akun orang lain. Maksudnya, saya mempelajari Bahasa Inggris yang digunakan orang lain dalam status updates, bagaimana grammarnya, vocabulary, spellingnya. Benarkah? Sempurnakah? Bisa dimengertikah? Jika bisa memenuhi requirement tersebut, biasanya saya akan mengcapturenya, just in case hehe ...
Dari status updates, saya mulai bisa membedakan yang menggunakan Bahasa Inggris ala google translete dan yang memang sudah terbiasa menggunakan Bahasa Inggris.
But, be carefull dear ... social media (users) is so cruel (T.T).                                                                                 
Suatu kali saya pernah melihat teman saya mengupdate status Facebooknya menggunakan Bahasa Inggris yang ala kadarnya, katakanlah masih dalam tahap pemula. Tapi ya ... namanya juga social media ala Indonesia, ada salah seorang temannya yang (tega) comment di statusnya itu, intinya ia mengkoreksi grammar dan vocabulary yang teman saya gunakan sesuai dengan TOEFL. Hell-OOO ...
5.       Lingkungan
Untuk membuat lingkungan yang mendukung saya membiasakan diri melalui gadget (HP dan Laptop) serta social media yang dimiliki dengan merubah setting bahasanya menggunakan Bahasa Inggris. Meski terlihat remeh, hal tersebut adalah motivation factor sangat mempengaruhi karena digunakan hampir setiap hari.
6.       Menulis
Awalnya saya menulis diary dengan grammar dan vocabulary yang seadanya, kalau sekiranya mentok dan capek bolak balik kamus ujung-ujungnya dicampur dengan Bahasa Indonesia (dan Bahasa Sunda). Kemudian lama-lama menulis surat (yang bukan surat cinta) kepada si lorem ipsum yang fiktif, Entah itu hanya status Facebook atau hanya sekedar curhat di diary #eh.  

Sebenarnya ada banyak cara untuk bisa menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, tapi yang terpenting adalah niat dan kepercayaan diri. So ... Let’s do it!

You May Also Like

0 komentar

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.