Videographer Wanna Be Life Be Like

by - 18.8.16



Masih dalam masa hiatus, 1 tahun lebih pasca mama terkena stroke.
Untuk mengisi jeda libur berkepanjangan, aku mengikuti pelatihan editing video / penyuntingan video yang diadakan oleh LKP Primacom, salah satu LKP milik teman orang tuaku. Pelatihan editing video adalah officially name dari kegiatan A to Z how to creating a video like a pro.
Karena tujuannya untuk mengentaskan pengangguran dan meningkatkan SDM, maka setelah mengikuti pelatihan tersebut diharapkan agar alumninya bisa berwirausaha, seperti membuka jasa videography atau membuat advertisement produk UMKM.
But as a millenial generations yang dimanjakan teknologi, aku tidak berfikir demikian. Ada banyak kesempatan dan jenjang karir yang bisa dicapai selain menjadi wedding videographer atau local production house.
You can be a vlogger beybeh! Like @awkarin, uppss ...
Vlog atau video blogging yang sedang trend saat ini adalah kegiatan dokumentasi gambar bergerak (video), sedangkan vlogger adalah sebutan bagi orang yang mengupload video (tersebut) di internet, seperti blogger bagi orang yang memposting di blog.
Vlog merupakan salah satu media alternatif untuk mengekspresikan diri, selain menulis tentunya, yang lebih duluan booming dengan blognya. Kalau menulis lebih pada menuangkan ide, gagasan atau cerita dalam bentuk tulisan, dengan gambar sebagai illustrasi pelengkap. Maka vlog agak lebih kompleks, karena esensinya harus bisa digambarkan secara nyata dan penonton harus mampu catch ‘em all. :p
Demi menyongsong masa depan cerah sebagai vlogger haha
It’s quite fun, I met peoples by any background ... kebanyakan dari teman (baru) ku merupakan fresh graduate yang sedang menunggu ijazah SMA keluar, beberapa diantaranya adalah mahasiswa/i yang sedang libur semesteran sedangkan sisanya adalah jobseeker yang sedang mencari jati diri.
Ada hidden fortune dibalik pertemananku dengan mereka, entah karena apa tapi mereka mengira aku adalah mahasiswi berusia sekitar ± 21-23 tahunan. OK, tidak semua sih, ada beberapa yang telah aku beri tahu ketika berkenalan, but somehow ... those awkward status berhasil membuatku berbaur dengan mereka.
Yes! Mission accomplished! Stay young ...
Pelatihan editing video dimulai sejak bulan Ramadhan sampai sebulan setelah Iedul Fitri, teori dari jam 9 pagi sampai jam 12 siang (kebayang banget kan ngantuknya ...) dan praktek dari jam 1 siang sampai ngabuburit.
Setelah Iedul Fitri, materi semakin padat karena keterbatasan alat dan pemecahan kelompok yang banyak. Tadinya aku berniat untuk menggunakan handycam pribadi untuk mempersingkat waktu, tapi setelah dicek handycamku bermasalah karena terlalu lama tidak digunakan.
Selain itu, setelah Iedul Fitri kita jadi punya kebiasaan baru, yaitu jajan-jajan gak ngenyangin ala anak sekolah haha Ada Batagor, Baso Tahu, Baso reguler, Cuanki, Cakue, Cilok (aci dicolok), Cimol (aci digemol), Cilung (aci digulung), Lumpia Basah, Seblak, Mie Setan, Pempek KW sejuta, Tahu Bulat dan teman-teman dari MSG club yang datang silih berganti.
Kalau haus ada es doger, ice juice, es teh no name yang pake es batu dan cupnya yang disegel secara live. Tapi kalau ingin yang lebih natural ada minuman berembun di display casenya AA counter yang jadi konsultan paket internet hemat.
Nom ... nom ... nom ...
Saat kecil dulu, ayah pernah bilang pekerjaan yang cocok untukku adalah kritikus, kritikus apa saja, mau kritikus makanan kek, kritikus film kek, kritikus buku kek, kritikus olahraga kek, kritikus politik kek atau kritikus apalah, yang jelas jadi kritikus.
Pasalnya, aku selalu mengkritik setiap hal, dari urusan bentuk rumah yang gak enakeun, fried chicken yang gak sesuai dengan gambar di display, baju yang designnya kurang ‘gue banget’, susunan kotak sereal di rak minimarket yang gak rapi, iklan-iklan di TV and lain sebagainya. I critizied so many things ... karena bagiku hal tersebut sangat mengganggu.
Saat ini sifat semacam itu dianggap kritis, tapi tidak dengan dulu. Mama beranggapan mengkritik adalah annoying habit yang harus dihilangkan, ia khawatir aku akan menjadi seorang pencela ketika besar nanti. Seiring waktu aku mempelajari bahwa mengkritik adalah salah satu cara mengungkapkan analisis.
Salah satu hal yang kusukai adalah menonton, baik itu menonton film, menonton serial, menonton dokumenter, menonton teater, menonton berita, menonton iklan, menonton MV atau menonton kehidupan orang lain #eh.
Aku selalu mempunyai unek-unek ketika selesai menonton. Bisa jadi karena acting pemainnya yang kurang menjiwai, alur cerita yang sulit difahami, pengambilan gambar yang kurang enak dilihat, jumping scene yang berantakan, editing tambalan yang ngeselin, dubbing yang gak sesuai, text yang hilang di tengah-tengah scene, figuran yang sadar kamera, setting yang kurang real, cover yang nggak nyambung dengan cerita sampai bayangan kameramen yang kelihatan di aspal.
I’m a details watcher ...
Kita semua beruntung mendapatkan mentor yang expert di bidangnya, ia bersedia mengajar semua yang diketahuinya dan mengejar hingga ke detail terakhir, bahkan rela menunggui kita mengedit sampai malam. Selama kalian punya keinginan, kenapa tidak?
Sebagai permulaan, kita diminta membuat video sederhana menggunakan kamera handphone, meski hasilnya pas-pasan setidaknya bisa memberikan gambaran apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Untuk membuat sebuah video dibutuhkan kru yang pengertian dan SOP yang detail, as very details as can be. Dalam setiap scene dibutuhkan minimal 3 shoot dari view yang berbeda, bisa secara bertahap atau random sekalian, tergantung skenario.
But the most important thing is the concept, apalah artinya materi yang banyak dan editing yang canggih kalau konsepnya sendiri gak jelas. Butuh kreativitas dan kerja keras pada tahap ini, karena dalam satu tim ada banyak kepala yang memiliki ide subjektif. Bukan hal yang mudah juga untuk bisa membuat sebuah konsep tanpa meninggalkan rasa ketidakpuasan dan rasa ‘gak enak’.
Nah, proses editing video adalah proses yang sangat panjang, ada banyak detail yang harus diperhatikan dan dibenahi sehingga membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Yang dibutuhkan untuk editing video adalah  software Adobe Premiere dan komputer yang memadai, bisa juga menggunakan notebook atau netbook, tapi kadang error karena membutuhkan memory space yang besar.
Karena netbook yang ngeblank sewaktu ngerender adalah ujian terbesar bagi seorang videographer.
Kekurangan video akan terlihat saat proses editing, entah itu materinya yang kurang banyak, pengambilan gambar yang kurang pas, gambarnya ngeblur, kameramen kelihatan di kaca atau instruksi standar (camera!, action!, cut!) yang gak sengaja keselip. Untuk menyiasatinya, kita usahakan untuk mengambil materi sebanyak-banyaknya. Proses detailing inilah yang nantinya menentukan kualitas suatu video.
Semenjak mengikuti pelatihan editing video aku memiliki kegiatan baru, yaitu menonton FTV dan sinetron stripping. Sebagai bahan referensi :D . Menurutku, FTV dan sinetron stripping adalah versi canggih dari tugas-tugas yang pernah kita buat hehe
Tak terasa hampir 3 bulan lamanya aku berkutat dengan kamera dan rendering, eh bukan Cuma aku, kita semua. Selama ini kita telah menghasilkan berbagai macam video dengan berbagai teknik, dari company profile, dubbing film impor, MV, dokumenter, interview, short movie sampai tutorial memasak.
Ternyata ... eh ternyata ... membuat video tidak sesulit yang dibayangkan, namun juga tidak mudah. Yang sulit adalah membuat konsep dan memanage waktu.
It’s the productivest 3 months of my hiatus cycle.

You May Also Like

0 komentar

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.