Urban Poverty dan Creativepreuner Goals

by - 11.8.16



Bermula dari link yang pernah dishare @ikanatassa di Twitternya, yaitu sebuah artikel di www.buzzfeed.com mengenai The Urban Poor You Haven’t Noticed: Millenials Who’re Broke, Hungry But On Trend yang ditulis oleh Gayatri Jayaraman dari India. (sorry but the link is broken, but you still can search about it)

Dalam artikelnya, ia (Gayatri Jayaraman) menjabarkan betapa ia mengasihani para urban poverty yang hidup sengsara di balik gengsi, tentang bagaimana mereka (urban poverty) menjalani keseharian dengan was-was dan rasa lapar yang mendera, tentang kebutuhan sekunder dan tertier yang menjadi prioritas dibandingkan dengan kebutuhan primer, tentang life style penuh pencitraan.

Awalnya aku mengira fenomena (yang kini disebut) urban poverty hanya terjadi di Indonesia saja, atau wilayah Asia pada umumnya. Tapi setelah membaca artikel tersebut aku menyadari bahwa urban poverty adalah fenomena global yang cukup mengkhawatirkan.

Urban poverty atau yang dalam terjemahan Bahasa Indonesia adalah kaum urban (masyarakat yang tinggal di perkotaan) miskin adalah sebuah fenomena nyata yang terjadi saat ini. Dimana kaum urban yang seharusnya bisa menikmati hidup adem ayem bisa menjadi miskin hanya karena gengsi.

Di Indonesia sendiri, jika tinggal di daerah Jawa Barat yang notabene masyarakatnya gemar bersosialisasi, pasti pernah mendengar kalimat “paribasa geus digawe ...” yang dalam terjemahan bebasnya bisa diartikan sebagai ”istilahnya sudah bekerja ...”.

Kalimat tersebut ditujukan untuk menyindir orang yang sudah bekerja namun masih hidup pas-pasan. Intinya sih menuntut agar orang yang disindir itu mau sedikit pamer, meski sekedar membayarkan ongkos angkot temannya atau terlihat memakai pakaian dengan model terbaru.

Ada anggapan bahwa yang bekerja pastilah (selalu) berduit. Entah itu bekerja sebagai karyawan, PNS, freelancer atau buruh sekalipun. Selalu ada tuntutan sosial dimana mereka harus menampilkan hasil jerih payahnya, semacam “ini loh, hasil kerja di anu ... “.

Bahkan tak jarang anggota keluarga juga ikut berpartisipasi. Demi menjaga gengsi gaji bulan pertama, ada orang tua yang rela mengeluarkan uang agar anaknya bisa mentraktir makan teman-temannya, sepupu-sepupunya atau bahkan keluarga besarnya. Mengatakan itu adalah hasil kerja si anak, meski kenyataannya gaji tersebut masih jauh dari kata UMR (Upah Minimum Rata-rata).

Kalau mau tahu seberapa besar efek urban poverty, lihatlah bagaimana kehidupan buruh (worker) di daerah. Smartphone terbaru, kendaraan pribadi yang masih mulus, dandanan yang stylish, tempat nongkrong yang hits dan sifat konsumtif adalah hal yang biasa. Namun di balik semua itu, ada petugas leasing dan rentenir yang menanti. Kadang-kadang ...

Ada orang tua yang curhat tentang  anaknya yang masih suka meminta uang meski sudah bekerja, ia   tak habis pikir kemana perginya gaji si anak, mempertanyakan apa bedanya sekolah dan bekerja kalau masih tetap dibiayai orang tua?

Mungkin si anak akan menjawab “on my body ...” atau “on my face ...” sambil bergaya dan menunjuk wajah. LOL

Ketika masa OJT (On Job Training), salah satu (mantan) atasanku bertanya “how many percentage of your salary that would you give to your parents?” yang aku jawab dengan “it’s depends on situation Sir”, ia bertanya lagi “so your parents is working right?” aku menjawab “yes” karena kedua orang tuaku masih bekerja, setelah mendengar jawabanku  ia berkata “off course you are”.

Ia kemudian bercerita bahwa di Korea ada peraturan tersendiri mengenai gaji untuk karyawan baru atau fresh graduated. Jika orang tua karyawan tersebut tidak bekerja (tidak menghasilkan uang) maka sepersekian persen dari gajinya akan ditransfer ke rekening orang tuanya, ia bisa mendapatkan gajinya secara full hanya jika orang tuanya bekerja.

Karena tanpa bantuan dan dukungan dari orang tua, anak tersebut tidak akan menjadi seperti ini (bekerja) dan sepersekian persen dari gaji adalah bentuk rasa terimakasih dan tanggungjawab. It’s a nice habit  ... tapi mungkin jika diterapkan di Indonesia akan menuai pro dan kontra besar-besaran, meski masih jadi wacana.

Orang tuaku pernah bertanya kenapa aku tidak menggunakan gajiku seperti anak-anak temannya, membeli pakaian baru, sepatu baru, tas baru, make up baru, pergi nongkrong dengan teman-teman, pergi jalan-jalan dengan pacar dan hal lain yang anak-anak temannya lakukan ketika sudah bekerja.

Aku tidak melakukan hal-hal yang tidak ku sukai hanya karena orang lain melakukannya. Aku lebih suka menabung serta membelanjakan sisa gajiku untuk membeli buku terbaru dan sketch tools.  Membeli pakaian baru, sepatu baru, tas baru  dan make up baru bukanlah suatu keharusan di setiap bulannya, begitu pun dengan nongkrong dan jalan-jalan. Membaca blog dan artikel di internet jauh lebih berharga daripada sosialisasi haha hihi.

Karena ikan Salmon tidak perlu mengikuti arus untuk menjadi diri sendiri.

Aku melihat temanku membeli pakaian baru, sepatu baru, tas baru dan make up baru di setiap bulannya, pada suatu hari ia mengeluh tentang betapa trendy is pain’ . Ia sangat trendy, tapi dengan gaji yang pas-pasan ia hanya mampu membeli yang biasa saja, katakanlah low quality. Ia berasumsi, selama mengenakan model terbaru, orang tidak akan pernah mengetahui berapa harganya.

Kenyataannya, hampir semua  barang trendy kebanggaannya rusak setelah dipakai beberapa kali, ia harus terus menerus berbelanja setiap bulan untuk menutupi kebutuhannya. Dengan ‘sampah’ yang bertambah setiap bulannya, ia merasa telah jatuh miskin, menyadari bahwa sebenarnya ia tidak memiliki apa-apa.

Dosenku pernah berkata: jika ingin menjadi designer harus wise dan kuat iman, karena profesi tersebut adalah yang paling dekat dengan neraka. Tahu kenapa? Karena ia (designer) harus mampu untuk membangkitkan naluri terendah dalam diri manusia yaitu lust dan desire. Dan sebaik-baiknya designer adalah yang mampu mendesign produk yang memunculkan rasa ingin memiliki hanya dengan melihatnya. Seperti love at the first sight (with sins following after).   

Mungkin urban poverty muncul akibat designer atau creativepreneur yang sangat produktif.


Semacam ‘our goals is your poverty’

You May Also Like

0 komentar

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.