A (Fake) Virtual Life 1

by - August 25, 2016


Hampir satu dekade yang lalu aku berkenalan dengan Friendster, sebuah jejaring sosial menyenangkan tempat berbagi profile secara virtual. Sebagai newbie yang haus eksistensi aku mengisi Friendster profileku apa adanya sesuai dengan fakta, seperti mengisi biodata di kertas loose leaf untuk disimpan di binder teman sekelasku.
Demi Friendster profile yang ‘gue banget’ aku sempatkan untuk melihat Friendster orang lain, temannya teman, temannya teman temannya atau siapa pun yang namanya eyecatching. Aku bahkan memiliki jadwal 2 minggu sekali untuk mengcostumize template Friendster dengan theme yang ke emo-emo an atau colorful yang sebelumnya diedit dengan efek pelangi (rainbow effect) di Adobe Photoshop.
Fitur terfavorite adalah profile picture, aku menggantinya sesuai dengan current mood dan mengetik caption yang sebenarnya adalah quote dari buku. Aku juga memasukkan foto diriku dalam sebuah album khusus yang dinamai me, myself and I, nama yang standard tapi cukup stylish karena menggunakan Bahasa Inggris.
Berbalas testimoni dengan teman-teman yang sengaja kucari namanya di search box meski hanya sekedar bertanya kabar. Berlomba-lomba mencitrakan diri dengan berusaha menampakkan the best side of me, meski harus (sedikit) berdusta.

Sering aku cengar-cengir saat membaca Friendster profile teman-temanku, ia menyebutkan banyak hal keren sebagai favoritenya meski kenyataan tidak seperti itu. Ia mengisi kolom buku favorite dengan buku-buku fiksi yang sedang booming, padahal ia sendiri kurang suka membaca buku karena lebih suka membaca sms dari pacarnya. Ia mengisi kolom film favorite dengan film-film bagus yang disiarkan dari layanan TV kabel, padahal bisa menonton TV tanpa bersama-sama di ruang makan pun sudah mesti bersyukur.
Puncaknya adalah ketika temanku membuat akun palsu.
Salah seorang temanku pindah ke kota lain mengikuti orang tuanya, ia persis seperti deskripsi Aditya Mulya tentang tokoh Farah Babedan di buku Traveller’s Tale, meski tanpa mata biru yang indah. Salah seorang temanku yang lain membuat akun Friendster atas nama Ferisha (bukan nama sebenarnya), tidak ada yang salah dengan keterangan di profilenya, namun ia menggunakan foto temanku si Farah Babedan untuk profile picture dan album fotonya.
Atas nama iseng, Ferisha sukses memperoleh banyak teman Friendster dalam beberapa minggu, kebanyakan adalah laki-laki yang kecantol at first sight dengan profile picturenya. Tak butuh waktu lama bagi Ferisha untuk dihujani puja-puji yang ujung-ujungnya minta kenalan dan nomor handphone.
Ferisha tak keberatan membalas testimoni atau berkirim message dengan mereka, ia berbaik hati menjawab semua pertanyaan seperti costumer service malah ia sendiri yang memulai interaksi.
Aku pernah bertanya kepada Ferisha “kenapa sih gak pake foto asli?”, ”emang gak akan ketauan?”, “kalau dianya marah gimana?” dan sederet pertanyaan serupa lainnya. Dengan tenangnya Ferisha selalu menjawab “gue gak pede (percaya diri) Non kalau pake foto sendiri” dan “nanti kalau temen gue udah banyak fotonya gue ganti pake foto sendiri hahaha ...”.
Berkali-kali kita mengingatkan Ferisha mengenai akun Friendster bodongnya, khawatir si Farah Babedan akan marah besar ketika tahu pelaku dibalik akun palsu yang mencatut fotonya adalah temannya sendiri. Tapi ... apa mau dikata Ferisha tetap keukeuh menjalankan aksinya hingga bertahun-tahun kemudian, sampai akhirnya ia menyerah dan mempunyai akun Facebook asli.
Ternyata, tingkat percaya diri yang rendah mampu berpotensi memicu orang melakukan hal-hal tak terduga. Dan dalam kasus temanku ini adalah akun Friendster palsu.
Bertahun-tahun kemudian, aku mengetahui dari teman kuliahku yang ternyata adalah teman si Farah Babedan semasa SMA. Katanya ia (si Farah Babedan) sudah tahu ada akun palsu yang mencatut fotonya, ia sebenarnya kesal tapi ya mau gimana lagi, ia juga tidak tahu siapa pelakunya. Kalau saja ia tahu ... Ahh ... Ferisha bikin malu aja deh ... (U.U)
Mungkin sebenarnya Ferisha berbakat jadi admin fanpage.

Bersamaan dengan Friendster aku juga berkenalan dengan MIRC, yang sering nongkrong di warnet pasti tahu apa itu MIRC. MIRC adalah aplikasi penyelia layanan chatting seperti Yahoo Messenger (YM) yang katanya RIP pada awal Agustus kemarin.
YM membutuhkan akun Yahoo untuk membuat ID YM, user bisa mengadd (menambahkan) teman sesama YM user dan memerlukan persetujuan untuk chatting dengan user diluar lingkar pertemanannya, sedangkan MIRC tidak.
MIRC tidak butuh akun apapun untuk bisa chatting karenanya IDnya bersifat temporary (sementara), hanya bisa digunakan pada saat itu saja. Chattingnya pun lebih mengasyikkan, aku bisa memilih kota atau areanya kemudian memilih ID yang sedang online. Cocoklah untuk curcol mah. ASL* please ... :P
Visualisasi chatting via MIRC bisa dilihat di film 5 cm yang diadaptasi dari buku berjudul 5 cm karya Donny Dhirgantoro, scene ketika Zafran a.k.a Juple dan Rianti sedang curhat random via chatting di komputer. Atau buku Supernova : Petir karya Dewi ‘Dee’ Lestari ketika Elektra betah di warnetnya Betsye di daerah Dipati Ukur. MIRC juga disebutkan dalam buku-buku yang terbit sekitar tahun 2008 ke bawah.
Tapi sepertinya, MIRC lebih cocok untuk ajang mencari jodoh hehe ... Salah satu kakak kelasku dinikahi pria yang dikenalnya via MIRC. Subhanalove ...
Kalau MIRC udah jelas modus (modal dusta), dari pemilihan user IDnya saja jelas-jelas mengarang bebas semacam @photographer_biru, @menanti_matahari_terbit atau @cewek_mellow_kesepian_butuh_teman_curhat. Herannya ... semakin nyeleneh dan aL4y user IDnya, semakin banyak yang ngajakin chatting, sama-sama butuh teman curhat kali ...
Awal-awal menggunakan MIRC aku sering ditinggalkan oleh teman chattingku tanpa sebab yang jelas, baru setelah tanya temanku yang MIRC addict aku mengerti. Ternyata aku ini gak asyik dan gaptek karena selalu menjawab Garut setiap kali mereka chat “ASL* please ...” hahaha ...
Aku kira “ASL please ...” adalah menanyakan tempat asal, disingkat ASL seperti bahasa SMS “udh?” yang artinya “udah?”. (*Age Sex Location, standard perkenalan di MIRC)
Friendster dan MIRC adalah satu paket reguler dalam dunia virtual, setidaknya dalam masa awal pertumbuhan internet dan bisnis warnet lemot yang menjanjikan. Sedikit kesegaran ketika menanti laman Friendster theme yang loadingnya kebangetan.

You May Also Like

0 comments

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.