Mudik ke Palembang

by - August 11, 2015


Belum ke Palembang kalau belum lihat jembatan Ampera dan makan Pempek, begitulah kira-kira pesan ayah sebelum pesawat take off, intinya ia menyuruh (saya dan adik) mengunjungi Golden Gate-nya Palembang yang berwarna merah itu dan mencicipi Pempek langsung di tempatnya, bukan Pempek dengan cita rasa gubahan yang biasa kami makan. 

Saat berada di pesawat, yang terbayang dalam benak saya mengenai Palembang adalah sebuah kota diantara perkebunan palawija dengan guratan sungai dan selalu jadi destinasi wisata host-host ganteng stasiun televisi swasta.

Ketika menginjakkan kaki di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, kami disambut dengan teriknya matahari sore Palembang yang diatas rata-rata, kalau Subang sudah termasuk kategori panas banget Palembang ini termasuk kategori panasnya kebangetan. Rasanya seperti terjebak di mobil tanpa AC yang kena macet mudik lebaran berkilo-kilo meter di tol Cipali, kepanasan dan keunang tanpa daya diterangi pantura heat.

Kedatangan kami ke Palembang sebenarnya untuk menghadiri pernikahan adik ipar sepupu kami yang menikah dengan orang Palembang, sebagai keluarga besan yang belum sempat dikenal tetangga sekitar. Selain saya dan adik rombongan kami terdiri dari 5 orang tua yaitu uwak dan 4 orang sepupu, tadinya mama juga ikut namun karena kondisi kesehatannya yang belum pulih mama  memilih untuk tinggal di rumah ditemani salah satu uwak saya.

Sampai di rumah ipar sepupu, kami langsung disuguhi Pempek homemade dan welcome drink yaitu semacam juice yang terbuat dari Jambu Biji Merah dan Timun (a.k.a bonteng di Jawa Barat), call it minuman kesegaran. Lalu ada Kue Bolu Ketan berwarna hijau, ungu tua dan putih yang memanjakan lidah kami dengan segera. Setelah puas menyerbu makanan yang disuguhkan, kami pun lantas menuju rumah lainnya untuk membongkar koper, SMP banget ihh... hehe...

Esok harinya disaat uwak kami sibuk bersosialisasi di dapur, kami anak mudanya pun turut sibuk, sibuk mencari informasi tempat wisata terdekat dan rute transportasi menuju kesana. Untungnya, ada beberapa sepupu lainnya (kerabatnya ipar sepupu) yang juga memiliki rencana sama seperti kami, demi kelancaran perjalanan dan mengatasi kendala berbahasa kami semua pergi bersama-sama.

Dari Sekojo kami naik angkot sampai PTC (Palembang Trade Centre) yang maha sepi, abaikan saja, kami yang datang terlalu pagi, karena geje akhirnya kami memutuskan untuk makan ice cream dari Singapore franchise. Kemudian, karena PTC terlalu mainstream kami putuskan untuk menuju jembatan Ampera menggunakan angkot yang ngetem di depan PTC.

Rata-rata angkot di Palembang memiliki 3 buah pintu, pintu depan, pintu tengah dan pintu belakang di bagian kiri, tidak seperti angkot yang umumnya ditemui di Pulau jawa yang tempat duduknya saling berhadapan, angkot di Palembang ini semua tempat duduknya menghadap ke depan seperti halnya mobil safari, meskipun ada beberapa diantaranya yang memiliki tempat duduk normal.

Kami sampai di Benteng Kuto Besak sekitar tengah hari, kabarnya terdapat museum di dalamnya, namun karena waktunya kurang pas kami tidak menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Kami memilih berteduh di bawah pepohonan yang terdapat di pagar Benteng Kuto Besak sambil makan rujak, dari sana kami juga bisa melihat jembatan Ampera dan sungai Musi lengkap dengan kapal tongkang yang hilir mudik.



Meskipun terletak di pinggir sungai Musi yang notabene adalah tujuan wisata, jarang sekali saya melihat PKL (Pedagang Kaki Lima) membuka lapak, paling hanya ada beberapa pedagang asongan dan jasa foto keliling, sudahlah, mungkin mereka lelah. Kalau di Jawa Barat kami bisa menemukan pedagang Gorengan hampir di setiap kelokan, disini kami hanya bisa menemukan pedagang Pempek menghampar luas entah itu Pempek basah, Pempek kering, Pempek bakar atau Tekwan dengan segala turunannya.

Cara penyajiannya pun unik, pedagang tersebut akan memberikan semangkuk kecil (seukuran wadah jelly tempo dulu) kuah pempek dan sebuah garpu, garpu tersebut ditujukan untuk menusuk Pempek yang sudah dibeli (maksimal 2). Cara makannya ialah dengan menggigit Pempek terlebih dahulu baru kemudian menyeruput kuahnya, bergantian, seperti makan Bala-bala dengan Leupet. Dengan banyaknya kuota pedagang Pempek, maka tak heran jika saluran airnya agak berbau asam, bukan berbau busuk khas sayuran seperti di tempat asal kami.

FYI, rata-rata pedagang menyediakan tempat sampah sendiri, jadi jangan sungkan untuk menanyakan tempat sampahnya. 

Ketika awan teduh mulai muncul kami segera berlarian ke pinggir sungai Musi, perfect timing untuk berfoto.

Setelah puas tanning, kami memutuskan untuk segera pulang ke rumah karena acara utama yang menjadi alasan kami datang akan segera dimulai. Untuk mencapai angkot menuju Sekojo kami harus berjalan kaki terlebih dahulu ke depan Mesjid Agung Palembang melewati jalan-jalan lebar tak berbelas kasih, ya, tak berbelas kasih. Entah kenapa para pengendara tidak mau menghentikan laju kendaraannya padahal kami sudah memberikan kode lambaian tangan,dan kami baru bisa menyebrang ketika jalanan benar-benar lenggang.

Kami datang ketika semua orang sudah bersiap-siap menyambut calon mempelai pria, tak perlu banyak gaya, secepat kilat kami berganti pakaian dan memasang hijab, padahal muka belum dingin. Menunggu adalah hal yang melelahkan, karena seringkali tanpa sadar mata kami terpejam dengan sendirinya, bahkan kami tertidur di kursi tamu saat acara ijab kabul berlangsung.

wefie biar nggak ngantuk

Menurut kebiasaan masyarakat sekitar, akad nikah biasanya diadakan setiap hari Jum’at, jika ada 2 atau 3 pernikahan dalam jumat tersebut, bapak penghulu akan mengunjungi mereka semua secara bergiliran, itulah kenapa akad nikah dilaksanakan pada sore hari. Sedangkan untuk resepsi bisa dilaksanakan kapan saja, tergantung kesanggupan yang punya hajat. Biasanya mempelai wanita akan ikut menari (dengan para penari) untuk menunjukkan rasa sukacitanya, acara selesai setelah sesi berjabat tangan dan makan-makan.

Yang menarik adalah menu makanannya, tersedia 2 jenis nasi yaitu nasi putih biasa dan nasi samin yang berwarna vermillion (nasi samin adalah nasi biasa yang dimasak menggunakan minyak samin layaknya nasi goreng), rasanya gurih namun tidak berlebihan. Lalu ada telur balado yang secara visual irit bumbu , tapi ketika dimakan pedas sekali. 

Ada juga ikan besar dengan bumbu kuning yang jadi incaran ibu-ibu tamu, awalnya kami kira ikan tersebut adalah ikan dari sungai Musi (mengingat ukurannya yang besar), ternyata itu adalah ikan Patin air tawar biasa karena kebanyakan orang tidak menyukai ikan sungai Musi yang berbau lumpur. Ahh ... sayangnya tak ada satu pun dari semua menu yang saya capture, lupa hehe

Keesokan harinya, kami (full team) berangkat pagi-pagi demi menghindari tanning, ternyata untuk mencapai BKB (Benteng Kuto Besak) kami hanya perlu menaiki bis Trans Musi dari halte di depan lorong (nama lain dari gang), hanya 1 kali tidak perlu berganti angkot seperti yang kami lakukan kemarin.

Kami berhenti tepat di depan Mesjid Agung Palembang yang konon sudah berdiri sejak abad ke 17, arsitektur bangungannya merupakan campuran dari 3 kebudayaan yang mengakar di Palembang yaitu Melayu, Arab dan China.

Di depannya terdapat air mancur yang (katanya) lebih bagus kalau dilihat pada malam hari. Terdapat bendera negara-negara ASEAN dan pagar pembatas di sekeliling air mancur tersebut, yang berguna untuk menghalangi orang gila mandi disana. FYI, cipratan air mancur serasa sedang gerimis, let’s keep the camera...





Kami kemudian berjalan menuju BKB (lagi) karena sebagaian dari kami ingin melihat Jembatan Ampera dan Sungai Musi, jaraknya lumayan dekat dengan Mesjid Agung. Namun, kami lebih tergoda untuk sarapan Pempek 6(^.^)9 jadilah kami berhenti sebentar untuk mencicipi Pempek dan Tekwan di samping Kantor Pos. Saya sendiri lebih memilih Tekwan karena tergoda kuahnya yang mengepul sedangkan adik saya memilih Model (sejenis Pempek tapi bukan Pempek, katakanlah variasi) yang menyegarkan.

Setelah sarapan, kami langsung menuju BKB dengan semangat (n.n) Cuaca yang mulai panas tak menyurutkan keinginan kami untuk berfoto-foto. Sebenarnya saya ingin sekali mengunjungi Pulau Kemaro (kemarau) yaitu pulau yang terdapat di tengah–tengah Sungai Musi entah di bagian mana, yang terdapat kelenteng di bagian dalamnya. 






As far as I searched, Pulau Kemaro adalah pulau yang terbentuk dari kapal seorang Raja yang kaya raya dan membawa banyak harta benda karam. Sayanganya, tidak semuanya berminat pergi kesana karena lebih tertarik untuk membeli oleh-oleh di Pasar Enambelas. Yasudah lah, mungkin lain kali ...

Kenapa dinamakan Pasar Enambelas? Karena terdapat di los Enambelas, isshhh ... bagi saya jawaban tersebut kurang memuaskan, dan saya berharap ada penjelasan yang lebih historis dan ilmiah untuk penamaan Pasar Enambelas (O.O).

Dan benar saja, di sepanjang kolong Jembatan Ampera terdapat PKL yang selama ini saya cari. Dari mulai pempek, kemplang, jeruk, mainan, pakaian sampai charger semuanya tersedia, tinggal pilih. Masuk ke dalam Pasar Enambelas kami disambut dengan suasana pasar baru Bandung tempo dulu, sesak dan rawan menyenggol-nyenggol.

Di dalam terdapat aneka kios-kios yang menjual pakaian dan souvenirs khas Palembang, saya kurang sreg kalau harus membeli kain songket sebagai oleh-oleh, selain harganya yang mahal tekstur kainnya keras dan kasar membuat saya urung membelinya. Akhirnya memilih kain jumputan, tekstur kain yang lembut dan warna yang gonjrang–ganjreng (n.n) membuatnya lebih menarik, harganya? Relatif, sekitar Rp. 100.000 – Rp. 150.000. / pcs.

Keluar dari Pasar Enambelas kami kembali menuju Mesjid Agung untuk menunaikkan shalat dzuhur, angin sepoi-sepoi di teras mesjid membuat saya sulit beranjak. Karena bingung mau makan siang dimana akhirnya Agit mengajak kami menuju IP (International Plaza), demi memenuhi standar wisatawan kami makan di gerai ayam goreng franchise yang antriannya penuh sampai ke pintu depan.

Pemerintah Palembang mengatur agar satu daerah dipusatkan berdasarkan barang yang dijualnya, misalnya toko buku, di sepanjang jalan atau daerah tersebut semuanya berjualan buku, tidak ada yang lainnya, kalaupun ada biasanya masih berhubungan dengan buku seperti toko stationary atau jasa percetakan buku Yasin. Hal tersebut memudahkan (calon) pembeli untuk membanding-bandingkan kualitas barang dan harga. Tentu saja para pedagang bersikap fair karena urusan rezeki sudah ada yang mengatur.

List oleh-oleh:
- Jumputan
- Kemplang 
- Kerupuk Palembang 
- Pempek 

Mmhhh... untuk urusan pempek kami serahkan pada yang lebih ahli hehe Agit membawa kami ke salah satu toko Pempek yang laris di Pelambang, Pempek Candy, yang terletak di depan hotel Novotel. Disana tersedia berbagai pilihan paket Pempek dengan range harga antara Rp. 100.000 – Rp. 500.000, selain pempek mereka juga menjual aneka makanan khas Palembang lainnya seperti Kemplang, Lempok Durian, cuka bubuk dan Tekwan kering.

FYI, their handy carry package is helped during the flight, just dont throwing them away...

Keesokan harinya kami bangun dini hari, sama seperti waktu sahur Ramadan lalu. Mandi terburu-buru demi mengejar pesawat yang berangkat pukul 07.00 WIB. Karena masih dalam suasana Lebaran yang liburannnya masih belum usai, bandara lumayan sesak dan kami (yang kesiangan) harus berlari-larian untuk check in. Huffttt...

And here is my wish list (kalau nanti ke Palembang lagi) LOL
Mengunjungi Pulau Kemaro
Mengunjungi Stadiun Jakabaring
- Makan Pempek (lagi)

*sebagian foto dari Agit

You May Also Like

0 comments

Feel free to leave some feedback after, also don't hesitate to poke me through any social media where we are connected. Have a nice day everyone~