Menu

  • 🌷 Hello ~
  • 📌 Place
  • 🪐 Space
  • 🍊 Taste
  • 🍀 Personal Thoughts
  • 🎬 Spoiler
  • 🎨 Studio
  • 💡 Extra

demilestari

Powered by Blogger.

Hello~

Aku ingin kalyan tahu hari ini aku nonton Project Hail Mary 😭😭😭.

Tadinya aku ingin menikmati weekend (yang udah terasa bagai weekday 😅) dengan sans karena Widy main ke Bandung dan mama menginap di rumah mbah. Dipikir-pikir gabut juga ya hamba 😁 sambil ngemil kue sisa ramadan aku ngecek akunnya NSC kali aja ada film yang OK untuk kutonton seteleh fisioterapi. Eh, Project Hail Mary udah ada dongs... kuy markinton! Menimbang sore mah biasanya hujan aku nonton di jam siang, buseddd... panas pisan di luar 🫠.

Project Hail Mary ini adalah film sci-fi yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Andy Weir yang juga menulis The Martian. Eh, udah pada nonton belum? Project Hail Mary terlambat masuk ke Indonesia karena terhalang Idul Fitri makanya kita nggak bisa vibing the hype bareng 🥲. Alasanku gercep nonton Project Hail Mary tuh karena khawatir filmnya keburu turun layar, dan menyesal aja gitu dulu nggak nonton Interstellar di bioskop 🥹.

***

Project Hail Mary bercerita tentang misi menyelamatkan bumi yang disebabkan oleh meredupnya matahari. Tanpa matahari umat manusia akan kesulitan bertahan hidup entah karena supply chain makanan yang terganggu, perpecahan dan perebutan sumber daya, perubahan iklim atau ancaman wabah. Para ilmuwan tentcunya nggak tinggal diam dongs, mereka bekerja keras menemukan solusi agar matahari tetap bersinar 🌞.

Para ilmuwan menemukan bahwa ada garis infra merah yang terbentang antara matahari dan planet Venus (garis Petrova). Ternyata garis infra merah itu adalah mikro organisme asing yang memakan energi dan radiasi elektromagnetik, kelak dinamai astrophage. Hanya ada satu bintang di tata surya yang nggak terpengaruh oleh astrophage yakni Tau Ceti, karenanya uni eropa bikin proyek Hail Mary yang bertujuan untuk menemukan alasan mengapa hanya Tau Ceti yang 'selamat' 🤔.

Ada kuda nggak di luar angkasa? *ytta

Makanya ke Tau Ceti dongs 😅

Ryland Grace (Ryan Gosling) adalah seorang ilmuwan biologi molekuler yang shifting career menjadi pengajar di SMP, suatu hari Eva Stratt (Sandra Hullër) 'mampir' dan memintanya untuk bergabung di proyek Hail Mary. Doi bertugas mempersiapkan Martin Dubois (Malachi Kirby) dan Annie Sapiro (Liz Kingsman), sayangnya terjadi masalah yang bikin Grace mesti menggantikan mereka ke Tau Ceti bersama Yao Li-jie (Ken Leung) dan Olesya Ilyukhina (Milana Vayntrub).

Saat terbangun Grace mendapati Yao dan Ilyukhina meninggal dalam perjalanan, ada fase denial dulu dongs ya... Bayangkan, betapa bitter-nya Grace... dipaksa pergi, sendiri di luar angkasa, jauh dari mana-mana, udah gitu mesti kerja 😂. Karena jarak bumi dan Tau Ceti yang panjang (± 4 tahun) bahan bakarnya hanya cukup untuk pergi aja. Makanya ada scene Yao dan Ilyukhina saling nge-spill gimana mereka akan mengakhiri proyek Hail Mary.

Yawla... Gini banget ya hidup 😭

🤣🤣🤣🤣🤣

Menyadari bahwa doi adalah harapan umat manusia yang tersisa, ceilahhh... 👩🏻‍🎤 Grace akhirnya back on the track. Saat mengamati garis Petrova, Grace menyadari bahwa ada makhluk lain selain dirinya di sana. Sumvah scene mereka main benteng-bentangan tuh kocak banget deh 😂, macem mau kemana nih? Ayo... Ayo... Hadapi aku 🤣. Pun scene kirim-kirim santet paket antar pesawat, astaga... sungguh sangat su'udzhon 😭.

Jujur, ada untungnya aku belum baca buku Project Hail Mary, udah degdegan aja niya khawatir Grace akan berhadapan dengan alien predator macem yang udah-udah. Ternyata malah lenong 🤣🤣🤣... Rocky (tanpa Gerung dongs) adalah alien dari planet Eridian, bentukannya berbatu-batu namun bergerak seperti laba-laba. Yang mana mengingatkanku pada pokemon Geodude yang berevolusi jadi Graveler.

Bayangkan... Tidur sambil diliatin 😁

Kebersamaan Grace dan Rocky di simulator 

Seperti Grace, Rocky adalah yang terakhir di krunya. Bisa dimengerti laya mengapa Rocky begitu excited menjalin hubungan diplomatik antar galaksi 😆. Puluhan tahun dalam keheningan gitu loh, syukur nggak gila 😅. Yha~ namanya juga luar angkasa... tentcunya ada banyak moment of silence yang terasa mencekam dan mengerikan. Nggak mungkin yekan tetiba ada mang nasgor lewat di jendela kokpit pesawat macem di jendela kampus 🥲.

Perlu kalyan tahu, scoring-nya Project Hail Mary ini juwara ya... sungguh sangat menggugah sanubari 🥰. Kukira komposernya Hans Zimmer, ternyata Daniel Pamberton. Aku suka saat Stratt yang (biasanya) kaku kek kanebo kering menyanyikan Sign of Time-nya Harry Styles, hadudu manitsnya... 😍. Pemilihan Two of Us-ya The Beatles juga cucok untuk mengiringi Grace dan Rocky yang bekerja keras demi bisa pulang kampung.

Kacamata yu viral bwanggg...

Living for the moment... Sebelum kerja keras bagai kuda
*lah kesebut lagi 😅

Untuk Rocky, tim produksi memilih mengunakan animatronik macem di film Jurassic Park dan E. T. . Jauh sebelum ada CGI dan AI, kita pernah mengalami era puncak craftmanship dalam film, dimana setting dan property dibikin secara tradisional. It's so damn good. Secara teknis animatronik agak merepotkan namun feel-nya lebih dapet. Kenapa kita nggak melakukannya lagi?.

Kebetulan Project Hail Mary ini dirilis berdekatan dengan misi Artemis II yang berhasil mengelilingi bulan, beneran to the moon and back... 😁. Syudah bisa ditebak ya... fyp-ku isinya gantian antara Project Hail Mary dan Artemis II, aku sih yes ya... mengingat sejauh apa usaha manusia untuk melampaui batas semesta. Di tengah pergolakan tambang minyak dan cup plastik yang mehong, berita tentang misi Artemis II tentcunya berhasil ngademin pikiranku 😆.

From this 

To this 

Menurutku Project Hail Mary ini adalah a complete package of cinematic experience, saking terpukaunya aku sampai lupa minum 😅. Alur ceritanya asyik, twist-nya lapis legit, editing-nya smooth dan flashback-nya pun nggak clingy. Ryan Gosling bonus laya 😁. Beberapa bulan yang lalu aku nonton Barbie, makanya ngeh banget koreografinya doi saat bertemu dengan Rocky, bersyukr nggak ada kuda di luar angkasa 😭.

Scene favorite-ku tentcu adalah saat Grace ada di garis Petrova, dimana astrophage berkelap kelip macem kunang-kunang, absolut cinema ✨👌🏻 . Yha~ kurasa ini favorite scene sejuta umat siya 😁.  Selama nonton hatiku berisik, bangsaaddd... memang harus nonton di IMAX ini mah hahahasyeuummm.... 🫵🏻😭. Kalau kalyan ada waktu dan kebetulan Project Hail Mary masih tayang, kuy geura nonton...

📌Pictures were taken from @watchmen.id Twitter thread.

***

Di bawah ini adalah list film yang menurutku masih satu universe dengan Project Hail Mary, mungkin bisa masuk watch list kalyan.

Gravity (2013)
Interstellar (2014) 
The Martian (2015)
The Arrival (2016)
The Silent Sea (2021)





•••
If you like my writing, send me some ❤️ to cheer me up.
•••
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

Hello~

Gimana hari pertama back to reality? Udah semangats cari wang atau masih holiday blues? 😁. Aku melalui hari pertama back to reality dengan cukup seru, yha~ meski udah nggak kerja kantoran aku mesti ke rumah sakit karena ada jadwal fisioterapi. Udalaya... intinya, hari pertama poliklinik buka paska liburan lebaran tuh hectic tyada duwa 🥺, semuanya bercampur jadi satu sampai aku kepikiran untuk pulang ke rumah 😆.

Menimbang situesyen di ruang tunggu yang kurang kondusif (saking penuhnya cuma bisa berdiri) aku memutuskan untuk caw ke bioskop sebelah 😁. Di Subang ada 2 bioskop yakni Sams Studio dan NSC, yuyur... kalau nggak searching kepanjangan dari singkatan NSC aku nggak percaya doi masih ada hubungan dengan Cineplex *maap *tapi pemilihan namanya memang kurang meyakinkan sih 😅. Let's say, NSC adalah Cineplex-nya warga kabupaten.

Fyi, lokasi NSC ini ada di lantai 2 main entrance Planet Waterboom, sayangnya nggak disabilitas friendly karena pake tangga biasa. Studio-nya nggak jauh berbeza dengan studio pada umumnya, yang membedakan ukuran studio-nya lebih minimalis, kita bahkan bisa mendengar suara 'psssttt' pengharum ruangan dengan jelas 😂. Harga tiketnya standar siya tapi udah termasuk minuman (bisa pilih Fruit Tea, Teh Botol *versi kotak atau Le Minerale) 😍.

Saat kucek, hanya ada 2 film di jadwal terpagi yakni Na Willa dan Danur: The Last Chapter. Syudah bisa ditebak ya, aku nonton Na Willa. Tadinya aku khawatir akan nonton sendirian karena anak-anak udah pada masuk sekolah, ternyata masih ada remaja yang belum masuk sekolah. Sejujurnya aku happy mereka lebih memilih nonton Na Willa ketimbang nonton Danur: The Last Chapter. Eh, apa mereka salah masuk studio gitu ya? 🤔.


***

Aku tahu Na Willa ini dari komunitas buku yang kuikuti di media sosial, nggak beli bukunya karena merasa nggak akan relate dengan alur ceritanya. Turns out, setelah tahun lalu merilis Jumbo, Ryan Ariandhi tetiba nge-spill proyek terbarunya. Tadinya kukira doi akan melanjutkan proyek DPKS DWS (dipaksa dewasa) eh ternyata Na Willa dongs 😍.

Fun fact, aku dulu follow doi karena pernah jadi bestie-nya Raditya Dika di Malam Minggu Miko *alumni Jigoku Ramen detected 😂.

Well... tahun ini line up film liburan lebaran terasa lebih variatif ya, nggak melulu film horor pendulang pundi-pundi 🤑. Kalau kalyan ingin seseruan bisa nonton Danur: The Last Chapter dan Santet: Dosa Di Atas Dosa. Kalau kalyan ingin meluapkan emosi bisa nonton Tunggu Aku Sukses Nanti atau Senin Harga Naik. Kalau kalyan ingin quality time bersama bocil bisa nonton Na Willa atau Pelangi di Mars.

Media sosial tentcunya menyuapi egoku yang menikmati konten promosi Na Willa, so far review-nya pada bagus. Salah satu hal yang bikinku merasa 'fix, harus nonton nih' adalah saat melihat rumahnya Na Willa yang supa dupa kyutaaa... aku juga mau. Thanks to Living Loving yang udah meliput dan kasih sekecup bts-nya 😁. First impression-ku... cantik dan eye pleasing, cucoklah untuk visual person kek kita-kita hehe.

Eh iya, biar nggak kelamaan intro-nya, marki-view filmnya...


CERITA YANG BIKIN NOSTALGIA

Film Na Willa in bercerita tentang kehidupan masa kecil Na Willa (Luisa Adreena) saat tinggal di gang Krembangan Surabaya di tahun 80an. Sebagaimana bocil pada umumya, Willa punya bestie kentel bernama Farida (Freaya Mikhayla), Bud (Arsenio Rafisqy) dan Dul (Azamy Syauqi). Mereka semua hidup bertetangga dan tumbuh bersama, konflik dimulai saat mereka memasuki usia sekolah.

Orang tua Na Willa, Pak (Junior Liem) dan Mak (Irma Novita Rihi) sepakat untuk mengajari Willa di rumah sebelum siap melepasnya ke jenjang pendidikan yang lebih formal. Saat satu persatu geng Krembangan mulai sekolah Mak mulai merasa gamang, di satu sisi Mak belum siap melepas Willa sedang di sisi lain Mak sadar bahwa Willa harus sekolah. Menurutku, di film ini yang paling bagus perkembangan karakternya adalah Mak.

Scene Na Willa membongkar radio bikinku senyum sendiri teringat dulu aku pernah mengira orang tuaku memelihara liliput di dalam televisi 😂. Kukira liliput-liliput itu punya space tersembunyi di dalam televisi untuk tidur, makan dan mandi. Makanya aku bolak balik mengecek televisi dari berbagai sisi dan mencoba mengintip dari sela-sela lubangnya. Ternyata memang kosyong... 🤣.

Selain itu aku teringat lagi momen pertama kali masuk sekolah. Beberapa hari sebelum sekolah mama udah mengajariku baca tulis jadi saat bu guru mengajarkan aku udah keburu bosan dan mengangkat kaki macem pemain gapleh 😂. Yang kuingat, mbahku ketawa-ketawa saat diceritakan hal ini. Ahhh... kangennya 🥹. Nonton Na Willa seketika bikin memoriku bangkit dari kubur, menyadarkan betapa nikmehnya kehidupan kanak-kanak 🥰.




CAST YANG MENGGEMASKAN

Kita mesti mengakui pemilihan cast-nya Na Willa juwara ya, aku suka semuanya. Tadinya aku heran mengapa hanya Dul yang berlogat jawa, setelah kuingat-ingat lah... ini kan setting-nya di Krembangan Surabaya, memang harusnya ngomong bahasa jawa 🤣. Menurut kesusotoyanku, bahasa Indonesia dipilih atas dasar kemudahan karena sebagian besar audience-nya Na Willa adalah anak-anak.

Nemu di mana sih anak-anak ini? Akting mereka semua luwes dan terkesan effortles. Aku suka scene saat Willa berlari ke rumah sambil nangis, tengok kanan kiri dulu sebelum menyebrangi rel kereta api. Pun Farida yang suaranya menggemaskan. Scene saat Willa dan Farida pergi mengaji oh so kyuttt... Oh ya, mbok (Mbok Tun) lucu ya, apalagi saat doi mengadukan Willa yang mengambil jatah ikan tongkolnya 😁.

Sebagian scene menggunakan low angle untuk menunjukkan pov-nya para bocil dimana semua hal tampak begitu besar saat kita kecil. Sayangnya low angle ini kurang berhasil di scene saat geng Krembangan melihat ulat dari jendela kamar. Kalau kalyan ingat, yang in frame hanya Farida, Willa dan Bud, yang in frame dari Dul hanya badan dan suaranya aja karena kepalanya terpotong... ih tega ya 😂.

Setelah Na Willa, kuyakin geng Krembangan akan mendapatkan banyak proyek baru. Aku pun berharap kalau kelak Ryan bikin film lagi doi nggak pake geng Krembangan. Selain karena karakternya udah melekat, masih banyak anak-anak bertalenta yang menunggu untuk ditemukan. Dan yang terpenting, jangan sampai ijazahnya ditahan macem Endy Arfian 🤣.




PROPERTY YANG NYEKRUZZ

Seperti yang kutulis sebelumnya, alasanku nonton Na Willa adalah karena rumahnya yang supa dupa kyuta 😍. Meski hampir semua elemennya tabrak motif dan warna warni nggak bikin siwer. Two thumbs up untuk tim produksi yang karya ciptanya hadir di dalam set, termasuk label di kemasan teh tubruk dan cuka botol. Kuyakin kalyan pasti pada bergadang mengerjakan semua ini ☺️.

Di gang Krembangan, rumah Na Willa tentcunya mudah dikenali karena 'ramai'. Yha~ Kupikir Mak dan Willa beruntung memiliki keleluasaan materi sehingga bisa melakukan banyak hal. Well... untuk bisa beli buku, mengecat rumah warna warni, melukis di pot, beli bahan pakaian dan printilan-nggak-penting-tapi-ingin-punya tuh butuh wang. Maka dari itu terima kasih Pak, udah memastikan mereka sejahtera 🙇🏻‍♀️.

Pertama kali melihat Mak, wow... cantiknya 😍. Aku suka outfit-nya Mak yang eye catching dan selaras dengan perawakannya. Kurasa yang bikin aura galaknya Bu Tini (Putri Anindya) makin menyala adalah pada bahunya yang dibikin runcing ala villain. Ada yang ngeh nggak? Mungkin karena udah dipake beberapa kali take, sayuran hijau yang dibeli Mak dari pasar selalu layu 😅.

Oh ya, pasar tempat Cik Mien (Melissa Karim) berdagang pun nggak kalah kece yaw. Entah kelewat geumpeur atau memang karakternya dibikin begitu, mang penjual anak ayam kaku amat ya?! 😅Ada scene yang menampilkan penulis buku Na Willa yakni Reda Gaudiamo, mungkin pernah lewat di FYP kalyan konten buibu paruh baya berkacamata yang menyapa audience dengan "hai nak... " nah itu beliau.




 ***

So far, setelah selesai nonton aku merasa Na Willa ini lebih cocok untuk penonton dewasa yang pernah jadi anak-anak. Eym... gimana ya menjelaskannya 😅, sebagai zillennials tentcu kita merasa relate dengan kehidupan geng Krembangan, sedang untuk alphabet belum tenctu. Segresi generasi bikin life style yang kita jalani berbeza, makanya wajar alphabet pada ngantuk saat nonton Na Willa, nggak relate soalnya.

Sejujurnya Na Willa ini adalah film yang bagus, namun sebaiknya penonton anak-anak perlu pendampingan karena ada beberapa materi yang kurang relevan. Macem kawin dan *sucino. Mungkin hal-hal semacam ini bisa lebih diperhalus lagi penyampaiannya, masih ada waktu kan mengolah naskah untuk tahun depan? 😉. Fyi, Na Willa fix punya sekuel. Horeeee!!! 🎉🎉🎉.

***

Pulang ke rumah aku cerita yekan nonton dulu sebelum fisioterapi.

Aku: Tadi mbak nonton Na Willa.
Widy: Kok nonton Na Willa? Kenapa nggak nonton Tunggu Aku Sukses Nanti?
Aku: Pengangguran coy.... nggak relate dengan ceritanya.
Kita: 🤣🤣🤣🤣🤣


Pictures were taken from @watchmen.id Twitter thread.





•••
If you like my writing, send me some ❤️ to cheer me up.
•••
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Followers

Paused Moments

Let's Get In Touch

  • Behance
  • Letterboxd
  • LinkedIn

Disclaimer

It is prohibited to copy any content from this blog without prior permission. If you believe your privacy has been violated or notice content that requires proper credit, please let me know.

Note

Some links in the post may be affiliate links, which means I may earn a small commission if you buy through them. There’s no pressure at all—what works for you is what matters most.

Alone Alone Kelakone

2025 Reading Challenge

2025 Reading Challenge
Lestari has read 0 books toward her goal of 6 books.
hide
0 of 6 (0%)
view books

Archives

  • ►  2011 (7)
    • ►  May (1)
    • ►  Nov (6)
  • ►  2012 (19)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (8)
    • ►  Jun (2)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Oct (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  Jan (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (8)
  • ►  2015 (62)
    • ►  Jan (6)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  Jun (7)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Aug (10)
    • ►  Sep (7)
    • ►  Oct (11)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (7)
  • ►  2016 (64)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (2)
    • ►  May (6)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (7)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (9)
    • ►  Nov (6)
    • ►  Dec (11)
  • ►  2017 (76)
    • ►  Jan (10)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (6)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (12)
    • ►  Jun (10)
    • ►  Jul (7)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (6)
  • ►  2018 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (7)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2019 (39)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (5)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2020 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Mar (7)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2021 (44)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (4)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2022 (47)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (2)
    • ►  Oct (5)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2023 (41)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  May (2)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (6)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (2)
    • ►  Dec (4)
  • ►  2024 (48)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (5)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (5)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (2)
  • ►  2025 (36)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (1)
    • ►  Jun (6)
    • ►  Jul (2)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (2)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (4)
    • ►  Dec (3)
  • ▼  2026 (9)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (2)
    • ▼  Apr (2)
      • Na Willa
      • Project Hail Mary

Friends

  • D. R. Bulan
  • Ikan Kecil Ikugy
  • Mazia Chekova
  • Noblesse Oblige
  • Perjalanan Kehidupan
  • Pici Adalah Benchoys
  • St. Jauzah
  • The Random Journal

Blogmarks

  • A Plate For Two
  • Berada di Sini
  • Cinema Poetica
  • Dhania Albani
  • Diana Rikasari
  • Dinda Puspitasari
  • Evita Nuh
  • Fifi Alvianto
  • Kae Pratiwi
  • Lucedale
  • Mira Afianti
  • Monster Buaya
  • N Journal
  • Nazura Gulfira
  • Puty Puar
  • Rara Sekar
  • What An Amazing World
  • Yuki Angia

Check This Too

  • A Beautiful Mess
  • Daisy Butter
  • Kherblog
  • Living Loving
  • Minimalist Baker
  • Nicoline Patricia
  • Spice The Plate

Thanks for Coming

Community

Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates