Aruna dan Lidahnya

by - October 05, 2018

source: akun Instagram Palari Films
Di bulan Oktober ini aku mengawalinya dengan nonton film … yha~ belum ada perubahan haha 😂 Tentcu dengan teman-temanku sekalian yang kukenal sejak awal masuk SMP, kali ini selain aku dan Icunk ada Deya, Memed dan Chaceu yang rela datang jauh-jauh dari planet Bekasi 🗺. Di Twitter kita pernah janjian nonton Crazy Rich Asians, tapi berhubung aku dan Icunk udah nonton duluan jadinya kita memilih film yang lain yakni film Aruna dan Lidahnya.

Karena. Meski pernah kesengsem berat dengan novelnya, aku kurang tertarik dengan film Belok Kanan: Barcelona, pasalnya … bagiku pemilihan castnya terkesan seret karena yang dipake ya itu-itu lagi 🕸 #netizenhausperubahan. Sedangkan The House with a Clock In It’s Walls dan Johnny English Strikes Again terasa kurang menantang (trailernya sih begitu) 🤔. Well … jangan harap kita sudi buang doku untuk film sejenis Something In Between atau Arwah Tumbal Nyai ya. HA to the RAM 💣💣💣.

Film Aruna dan Lidahnya merupakan adapatasi dari novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak yang juga menulis novel Amba. Novelnya sendiri rilis sekitar tahun 2014an, di masa-masa awal bekerja, jadi harap maklum aja nih yay nggak beli bukunya 😁. Sekarang juga belum punya kok 😝 Soalnya setiap kali mampir ke Gramedia bawaannya ingin melipir mulu ke bagian stationary, ya … beli kuas, ya … beli marker, ya … beli pulpen, ya … uangnya abis duluan deh haha 😂

Aruna dan Lidahnya bercerita tentang Aruna (Dian Sastrowardoyo)  seorang epidematologist (ahli wabah) yang ditugaskan oleh atasannya Pak Burhan (Desta Mahendra) untuk mengkroscek data mengenai epidemi flu burung di lapangan. Biar nggak anyep, Aruna mengajak teman dekatnya Bono (Nicholas Saputra) yang berprofesi sebagai chef untuk menemaninya bekerja sekaligus menyalurkan hasrat berkuliner ria. Oh iya. Aruna diharuskan untuk mampir di 4 kota; Surabaya, Pamekasan (Madura), Singkawang dan Pontianak.

Ternyata di Surabaya Aruna disupervisi langsung oleh Farish (Oka Antara) mantan kecengannya saat masih sekantor di One World. Kapan lagi coba denger Dian Sastro ngomong “anjing!” 🐶 sambil keselek kuah rawon haha 😂😂😂 Kemudian, ada Nadezdha (Hannah Al-Rasyid) yang bergabung atas undangan Bono, BTW. Nad ini adalah seorang food reviewer (+ penulis buku) sekaligus kecengannya Bono.

Menurutku film Aruna dan Lidahnya genrenya berada di grey area, kurang pas kalau masuk genre culinary movie (macem film Chef) dan kurang pas kalau masuk genre romcom. Mungkin lebih pas kalau masuk ke genre casual movie atau genre metropop (buku dong? 😓). Rasio antara kuliner dan flu burung berimbang jadi berasa rada nanggung gimana gitu … kulinernya belum pol sementara flu burungnya kurang serius. Hampir terasa biasa-biasa … 


Namun film Aruna dan Lidahnya ini sangat diuntungkan dengan jajaran cast-nya yang mampu membawakan karakternya dengan baik. Terutama Dian Sastro dan Nicholas Saputra yang berhasil melepaskan bayang-bayang Cinta dan Rangga. Bersyukur sekali karakter Farish diperankan oleh Oka Antara bukan oleh Fedi Nuril, Reza Rahardian atau Deva Mahendra. Gimana dengan Hannah Al-Rasyid? Hmhh. Aku selalu suka Hannah …

Dian Sastro jelas memberikan penampilannya yang terbaik, karakternya yang … let’s say perpaduan antara jutek + innocent + naif menjadikannya subjek paling menggemaskan di film ini. Selain itu, teknik breaking the 4th wall ala film Deadpoolnya berhasil diterapkan dengan pas, jatuhnya jadi lucu-lucu gimana gitu
ekspresinya haha Jarang-jarang kan liat Dian Sastro begini 💘💘💘.

Ada saat-saat dimana mereka berempat ngobrol santai (biasanya sambil makan), joke’s dan bahasannya masih masuk untuk kita-kita yang late 20’s sampai mid 30’s, nggak ketinggalan zaman tapi juga nggak terlalu hype. Scene terasyik ada di pelabuhan Surabaya saat mereka makan nasi campur, meski memiliki persepsi berbeda tentang makanan, nggak bisa dipungkiri makananlah yang menyatukan mereka kita semua. Persis seperti advertisementnya Teh Botol Sosro. Selain itu, karena tektokan ngobrolnya enak berasa lagi dengerin temen ngobrol 😇.


source: akun Instagram Palari Films
Product placementnya nggak ganggu ya, Cuma sayang kurang banyak haha 😜 Sebagai film yang disisipi genre kuliner, agaknya Kecap Bango terlalu mendominasi padahal bisa aja bumbu-bumbu lain ikutan, eh tapi rasanya jadi nggak authentic ya haha 😫 Apa kek? *maksa banget yaini Local brand outfit mungkin 🤔? Skincare 🤔? Indomie 🤔? Karena apapun filmnya kalau product placementnya halus pasti diinget terus, nggak kaya sinetron yang product placementnya kasar, boro-boro ingin nonton yang ada langsung pindahin channel 💤💤💤.

Scene kulinernya memang membuat kita lapfar tapi lebih lapfar lagi kalau nonton serial Let’s Eat, mungkin salah satu faktornya adalah budaya orang Indonesia yang nggak seekspresif orang Korea. Menyeruput kuah dan mengecap-ngecap makanan (ceplak) nggak diperkenankan karena berkonotasi kurang beradab dan terkesan jorok. Tapi … Aku termasuk yang setuju ya 😂, karena … sering merasa terganggu dengan bunyinya. Sebel aja gitu dengernya … 😠

Yang aku pertanyakan untuk film Aruna dan Lidahnya ini adalah: seberapa pentingkah resep nasi goreng Mbok Sawal di film ini? Kupikir kita hanya akan disuguhi pencarian Aruna dan teman-temannya untuk resep nasi goreng Mbok Sawal seperti halnya pencarian Ben dan Jody untuk kopi Tiwus, ternyata nggak seserius itu ya … dan yang paling bikin gedek, level keponya Aruna masih di awang-awang 😪. Disini hamba #gagalfaham.

Bagiku, kata lidah di judul film Aruna dan Lidahnya adalah metafora dari organ tubuh Aruna lainnya, yang sama-sama bisa mengecap rasa dan memiliki standar tersendiri. Ini hati kengkawan 💗. Aku bilang begini karena main characternya adalah Aruna yang statusnya masih naksir-naksir sebel dengan makanan, akan berbeda kalau Nad yang dijadikan main character, mungkin Nad dan Lidahnya nggak perlu metafora karena Nad jelas hidupnya lebih passionate ketimbang Aruna.

Mungkin ya … mungkin … lidah Aruna yang diceritakan agak kurang peka saat mengecap makanan adalah representasi kehidupannya yang terasa hambar di usianya , nggak ada sandaran gitu maksudnya 😝 Makanya meski Aruna nekat minum air jeruk nipis tengah malam dan nguyup air laut pake sedotan rasa yang dikecapnya nggak pernah sesuai dengan ekspektasinya. Karena sedari awal yang bermasalah bukan lidahnya, tapi hatinya #eaa 😏.

Di prolog Aruna bilang; “masa sih harus menunggu seseorang yang tepat dulu untuk bisa menikmati semangkuk sup iga yang enak?” penonton sih yes, cengar-cengir sambil ngebatin “wuih … tau aja deh”. Namun di epilog Aruna malah mengutip quotenya manusia-manusia yang butuh sandaran “bukan dengan apa makannya tapi dengan siapa?” Yha~ Setelah sekian purnama, aku Cuma bisa mengelus dada. Dasar labil!!!😱😱😱

Sountracknya memang sedikit tapinya cociks, terutama lagunya Soimah untuk scene kapal Vantura. Kabarnya Edwin (sutradara) memang gemar menyisipkan metafora dalam film-filmnya, termasuk salah satunya scene kapal Vantura ini. Aku tadinya nggak ngerti karena kan memang belum baca bukunya, ternyata di Twitter ada ngebahas fan theorynya segala dong haha

Diantara semua makanan yang disajikan di film Aruna dan Lidahnya, yang paling bikin kabita adalah … apa coba? Yap. Bakmi Kepiting dan Choi Pan. Plis deh … itu daging di capit kepiting seriusan mengganggu konsentrasi, soalnya terakhir kali makan mie-miean yang ada kepitingnya yakni saat ke Pempek Candy di Palembang. Kalau follow @amrazing di Twitter dan IG pasti taulah ya ini orang sering banget ngomongin Choi Pan, aku bacain tweetnya aja udah kabita apalagi ini … diliatin dari cara buatnya dong. Parah … Parah … Parah ... 😮


source: akun Instagram Palari Films

source: akun Instagram Palari Films
Kalau film Filosofi Kopi mampu menjadikan ngopi sebagai bagian dari lifestyle, bukan nggak mungkin kalau film Aruna dan Lidahnya juga mampu menjadikan kuliner daerah dan cita rasa peranakan sebagai new wave di dunia bisnis kuliner. 


Tentu aku merekomendasikan film Aruna dan Lidahnya untuk ditonton di akhir pekan (bukan weekend), meski genrenya masih nanggung obrolannya relate dengan kehidupan masa kini, cocoklah untuk kaum urban macem kita-kita ini haha 😉😉😉

Kalau lagi gabut, cobain deh quiz di official websitenya.
hasil punyaku :p

You May Also Like

0 comments

Feel free to leave some feedback after, also don't hesitate to poke me through any social media where we are connected. Have a nice day everyone~