Reply 1990

by - February 17, 2018


Menjelang Infinity War kayanya wajib ya untuk nonton The Black Panther, secara ceritanya nanti bakal sambung menyambung menjadi satu dan karena (katanya) setting untuk war Avenger selanjutnya adalah di Wakanda. Apalagi salah satu castnya adalah Michonne (Danai Gurira) yang jadi partnernya Rick di The Walking Dead, meski kurang begitu suka Michonne teutep ya penasaran liat actingnya sekalian juga mau nanyain kenapa kok jadi botak.

Mengusik sekali yha~ ... 👻

Tapi akhirnya aku ngajakin Widy untuk nonton The Black Panther di ... Transmart Bubat haha di Maps bioskop paling deket ya itu 👍. Kenyataannya jarak di Maps berbanding terbalik dengan macet long weekend, pas mau caw kesana nggak ada satupun Gojek yang mau ngepick padahal Cuma rintik-rintik dan Grab harganya naik hampr 2x lipat gegara traffic fare. Sekalinya dapet driver eh mesti nunggu hampir ½ jam karena doinya nyasar dulu 💫💫💫

Disaat nungguin driver kembali ke point yang benar, Widy nelpon dan ngabarin kalau kita nggak mungkin nonton The Black Panther karena jadwal terdekat mepet banget dan jadwal selanjutnya bakal ngebuat kita pulang kemaleman. Terus Widy bilang “nonton Dilan aja yu ...” lah ... bukannya udah nonton ya *sumvah inget banget insto tiketnya 😕, katanya “gapapa 2x juga” nggak tau kenapa ya tapi suaranya terdengar sumringah sekali.

Begitu telpon ditutup baru deh kepikiran, jangan-jangan si Widy udah termasuk golongan tante-tante yang mesem-mesem setelah nonton Dilan kaya yang disebut Teppy di review suka-suka?

Haiiissshhhh ... 😨

Padahal udah ngetweet begini dan pede banget ngejawab “mau nonton The Black Panther” setiap kali ada yang nanya “mau ngapain ke Transmart?”.

Udah hampir 3 minggu sejak pemutaran perdana film Dilan 1990 di bioskop kesayangan anda tapi studio masih tetep penuh, seriusan, meski didominasi mbak-mbak berhijab + anak-anak (yang pasti dibawa nonton emaknya) ada aja kok gengnya cowok-cowok yang kayanya penasaran banget sama sepikannya di Dilan haha.

Awalnya sebisa mungkin ingin menghindari nonton film Dilan 1990 karena kupikir nanti juga bakal ada di TV, maksimal setelah 3 bulan sejak penayangan di bioskop. Lagian ya castnya adalah Iqbaal Ramadhan (beneran huruf “a”nya ada 2) eks CJR yang bagiku terkesan seperti pendongkrak popularitas sekaligus ajang market test di dunia perfilman.

Lainnya lagi, aku tak ingin ceritanya diubah-ubah demi kepentingan film (dan market), berasa berkalang noda gitu hehe tapi semua berubah saat membaca nama penulis skenarionya di screen,  Pidi Baiq dan Titien Wattimena. Yes!!! 🙆🙆🙆 Karena Dilan 1990 adalah film adaptasi dari buku Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 maka seharusnya tiada spoiler diantara kita. Kan udah baca bukunya ... 😉

Film Dilan 1990 dibuka dengan scene Milea (Vanesha Prescilla) yang dinarasikan oleh Sissy Prescilla sedang menuliskan cerita tentang masa SMAnya.

* flashback scene ...

Kita semua tau gimana dinginnya Bandung di tahun 90an, masih sering ada kabut di pagi hari dan adem di sepanjang sisa harinya. Milea yang baru pindah ke Bandung dari Jakarta diramal seorang cowok bermotor dalam perjalanannya ke sekolahnya di Buah Batu, scene yang muncul di trailer, yang membuat kita skeptis sama Iqbaal karena doi kurang nyunda, kurang cengos dan kecakepan <- - - tapi yang terakhir adalah fakta 😋

“kamu Milea ya?”
“iya”
“boleh aku ramal?”
...
“nanti siang kita akan bertemu lagi di kantin”

Berhubung settingnya adalah tahun 90an yang notabene orang-orangnya masih pada baik, polos dan lugu tentu saja Milea ini penasaran juga deg-degan seharian ketimbang bales jawab “naon sih maneh” ala-ala Wati (Yoriko Angeline) haha 😝 Di kelasnya, Milea sebangku dengan Rani (Zulfa Maharani) dan berteman akrab dengan Wati yang belakangan diketahui sebagai sepupunya Dilan  dan Nandan (Debo Andryos) ketua kelas yang naksir Milea, pokoknya Nandan ini adalah jenis teman yang kamu pasti pernah punya di kelas dulu.

Sedangkan Dilan adalah kebalikan dari circlenya Milea, memiliki reputasi bad boy dan bergelar sebagai Panglima Tempur di geng motor 💥. Sadar nggak sih, sepanjang film Dilan Tahun 1990 ini jaketnya Dilan nggak pernah dicucaiii ... haha Eh, sekali deng waktu huhujanan dengan Milea ‘heu 😅

Dilan dengan sepikannya yang absurd dan sampis tapi diem-diem bikin penonton mesem-mesem berhasil membuat Milea berpaling dari pacarnya Beni (Brandon Salim) yang posesif. Scene Beni dan temen-temennya ngasih surprise untuk Milea lumayan bikin geli, berasa dinyanyiin lagu “happy birthday” sama boysband kapan taun 👨👨👨👨👨

Ya gimana nggak seneng ya Milea hampir tiap hari disepikin mulu haha Chemistry antara Iqbaal dan Vanesha oke 👍 oce 👌, gimana aja anak-anak SMA tahun 90an yang belum terkontaminasi smartphone atau seselebgraman. Wajar dan nggak mengada-ada. Palingan giung sama sepikannya Dilan haha 😍 Oh iya scene momotoran adalah scene favorite sejuta umat, terbukti dari heningnya studio dan senyum tanpa suara Eteh-eteh di sebelah 😁😁😁

Scene Anhar (Giulio Parengkuan) dan Dilan berantem juga kece ya ... Acting Giulio sebagai Anhar juga keren, lebih keren daripada Pak Suripto yang loser atau Kang Emil yang jadi cameo. Kalau aku jadi Kang Adi (Raefal Hady) mah ya udah sadar diri dan minta resign da, percumtabergun.

Banyak yang concern mengenai setting Bandungnya yang kurang terasa ambience 90annya, well ...  Bandung yang sekarang bukanlah Bandung yang dulu. Ngosongin jalan untuk scene angkot atau momotoran nggak segampang komen “setting Bandung tahun 90annya nggak meyakinkan” dan nggak mungkin juga dong crew merenovasi seluruh rumah di jalur Dilan-Milea biar dapet ambience 90annya.

Kecuali,

Punya tim CGI maha keren atau minimal budget gendut untuk hire studio sekelas WETA. 💃💃💃#demisetting90anyang HQQ

Bagi yang belum pernah membaca bukunya pasti sepanjang film mikirin kok bahasanya baku dan absurd, tapi sepikannya itu loh crispy tapi crunchy. Ya ... begitulah Ayah Surayah si Imam Besar The Panasdalam. Kalau udah pernah baca bukunya pasti ngerti lah kalau bahasa kesehariannya emang seperti itu, bahkan tweet-tweetnya pun semaunya dia, biar pun begitu tetep aja kita mau baca kan hehe 😉

Anyway ... nggak setiap film membutuhkan klimaks, kadang kita Cuma butuh untuk menikmati saja tanpa harus pusing ikutan mikirin alur ceritanya, kaya review ini Dilan 1990 ini dinikmati saja ...

Dan ending yang nanggung ini dipersembahkan oleh Dilan 1991 😥 

Begitu lampu studio nyala “yha~~~ masih ingin nonton ...” haha 😝😝😝 Kemudian Widy bilang “Non, The Black Panther mah nanti aja ya beli di Kingkong” lalu ... ku mendua antara “bodo amat! Udah nggak inget The Black Panther!” dan “isshhh ... keburu Infinity War meur ...” 😕

Di parkiran waktu ngambil motor “bentar Non pasang earphone dulu, mau dengerin lagu Dilan” sambil cengar cengir 😐 fix ini mah ... kesengsem 😅. Perjalanan dari Buah Batu ke kosan nggak pake helm belum pernah seseneng ini, ehh, cuma 1 kekurangannya ... soundtracknya nggak kedengeran euy 😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂

Nggak terlalu nyesel juga ya nggak jadi nonton The Black Panther karena ternyata film Dilan 1990 nggak secreepy yang orang-orang review, mungkin mereka bilang begitu karena belum baca bukunya aja atau memang taste nyepiknya beda haha 


Sebagai 1 diantara sekian ribu followernya Ayah Surayah aku cukup mengikuti tumbuh kembangnya Dilan haha, dari yang cuma twit-twit semau dia sampai akhirnya dibuat buku biar tambah panjang, karena kalau cuma baca di blognya doang mah nggak akan puas hehe Begitu juga dengan MV ala-alanya yang udah ngebuat panik duluan, yang padahal mah cuma project iseng belaka.

Udah ya ... kalau mau tau review kesan-kesan bukunya bisa dibaca di Goodreads (tapi harus buat akun dulu), judulnya Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dia Adalah Dilanku Tahun 1991, yang Milea belum ada karena belum baca bukunya 😅 Sekalian juga doain biar aku bisa segera nonton The Black Panther.

Bye ...











Eh,
Assalamuaikum jangan? 😉


You May Also Like

0 comments

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.