Buku-buku

by - August 04, 2017


“Buku adalah jendela dunia”
Kalau kita seumuran pasti tahu benar  frasa tersebut adalah campaign Kemendikbud yang iklannya ditayangkan hampir semua saluran TV yang (masih) santun dan edukatif. Tak cukup sampai disitu, “Buku adalah jendela dunia” muncul dalam bentuk poster yang ditempel di dinding kelas. Dan ajakan pemerintah untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa itu tampaknya berhasil padaku. 
Buku pertama yang kubaca adalah buku anak-anak bergambar terbitan Media Elex Komputindo yang berjudul Putri Shirayuki, setiap pulang sekolah aku menyempatkan membaca sebanyak satu halaman, meski hanya terdiri dari 3 paragraf tapi bagiku itu adalah prestasi. At least, untuk ukuran anak kecil yang baru belajar membaca ± sebulan, membaca buku adalah kegiatan terkeren setelah naik si Ulil di Kings Bandung.
Kemudian aku mulai keranjingan membaca buku, hampir setiap bulan orang tuaku membelikan buku baru, mereka men-support hobby-ku ini karena dinilai sebagai hal yang positif. Saat itu aku adalah satu-satunya (di keluarga besar) yang suka membaca buku.
Setiap kali sakit orang tuaku tidak perlu repot mengkhawatirkan keadaanku, cukup dengan “Nanti kalau udah sembuh ke Gramedia ya ...” aku bisa sembuh. Yess ... those fantastic magic spell is worked on me so well. Karena sering sakit aku jadi memiliki banyak waktu untuk membaca buku di rumah, buku yang dibeli saat sembuh adalah tabunganku saat sakit.
Seperti anak-anak lainnya, aku tumbuh dengan Majalah Bobo, Tabloid Fantasi, Goosebumps, Harry Potter, Sailormoon, Detective Conan dan kisah-kisah Hans Christian Andersen. Mereka semua adalah teman-temanku saat aku malas bersosialisasi dengan teman sebaya. Karena bermain bola bekel di teras atau bermain lompat tali di jalan lebih sering berujung pertikaian ketimbang senang-senang.

Saat SD, aku mengisi bulan Ramadhan yang liburnya full dengan membuka mini library di depan rumah. Buku, majalah dan novel tersebut aku sewakan kepada teman-teman dan tetangga sekitar kompleks dan aku berhasil mendapatkan ± Rp. 20.000 yang kugunakan untuk membeli buku baru setelah lebaran.
Sebenarnya prospek mini library di bulan Ramadhan cukup menjanjikan, tidak semua anak-anak mampu membeli buku karena harganya yang mahal, saat itu belum ada gadget, benda tercanggih paling keren adalah Tamagotchi Bandai. Sejak memutuskan untuk hijrah ke boarding school, proyek mini library tersebut terhenti. 
Terpengaruhi manga-manga Jepang yang kiyut ... Aku jadi memiliki keinginan untuk membuka cafe library suatu hari nanti.
Kebiasaan membaca buku berlanjut sampai di asrama, setiap kali ada waktu luang aku membaca buku-buku yang sengaja dibawa dari rumah, it’s keep me alive. Aku membeli buku setiap kali liburan ke rumah sebagai hiburan agar aku tidak bosan di asrama, kadang aku juga membeli buku yang dijual di bazaar PKW di depan asrama meski semua pilihannya adalah terbitan Mizan.
Di asrama aku dan teman-temanku saling bertukar buku, kadang sampai mengantri (giliran membaca) kalau ada buku baru. Meski tinggal di boarding school, untuk urusan buku kita termasuk update, buku-buku semacam Harry Potter, Dealova, Test Pack, Life of Pi, Totto Chan dan AKU-nya Chairil Anwar adalah buku bacaan standar.
Membaca menjadi sebuah kebutuhan selain menulis diary dan mendengarkan radio.


Sampai suatu hari ada razia buku ... Err ... KZL kan ya ... Buku-buku yang terkena razia di asrama akan diambil alih dan ditempatkan di perpustakaan sekolah. Tapi ... sebagai korban razia yang tidak merasa bersalah kita tidak tinggal diam. Bukanlah suatu kejahatan untuk mengambil apa yang menjadi milik kita sendiri hehe ... 
Karena tahu suka membaca, orang-orang menghadiahkan buku ketika berulang tahun, macam-macam sih bukunya tapi sebagian besar merupakan buku yang sedang nge-hits. Mungkin mereka juga bingung ya mau menghadiahkan buku apa, khawatirnya aku sudah punya atau sudah baca.
I’m very appreciate of those gifts. Meski sebenarnya kadang ingin hadiah yang lain.
Ketika kuliah aku malah jarang membeli buku, apalagi buku kuliah. Dosen-dosen di kampus tidak mewajibkan untuk membeli buku yang mendukung mata kuliah mereka, hanya memberi petuah agar membeli buku yang mendukung minat dan bakat kita. Jadi, kalau kita tertarik dengan sketch belilah buku tentang sketch, kalau kita tertarik dengan furniture belilah buku tentang furniture, kalau kita tertarik dengan wood craving maka belilah buku tentang wood craving
As simple as that. As happy as I am ...
Sejak kuliah aku tidak begitu tertarik dengan genre fantasy seperti saat sekolah dulu, mungkin karena faktor usia juga kali ya *eh Melupakan Septimus Heap dan buku lanjutannya yang nggak rame, aku malah membeli buku Babad Tanah Jawi. 
Carut marut yang terjadi di Indonesia ternyata adalah warisan dari nenek moyang kita dahulu dan politik kotor serta segala keculasan untuk menguasai negara adalah tradisi yang dijaga secara turun temurun. Ngeri aku ... 

Aku lebih suka buku-buku populer yang telah mendapatkan penghargaan, genre-nya sendiri bebas, satu-satunya  alasan kenapa aku membaca (dan membelinya) adalah karena ingin tahu sehebat apa buku ini sampai bisa memenangkan penghargaan?

Well ... Kebanyakan buku-buku tersebut memang memiliki point of interest dan disampaikan dengan sangat baik, namun ada beberapa yang sama sekali tidak bisa ku mengerti, seperti My Name is Red karya Orphan Pamuk,  hampir setengah bukuny ku lalui dengan berfikir ... mencerna kata-katanya yang agak ‘njlimet. Ecapwedweh ... Tapi mungkin sebenarnya sense of literature-ku yang belum sampai kesana ....
Namun tak bisa dipungkiri, gaya (bahasa) terjemahan pun turut mempengaruhi mindset pembaca. Buku yang biasa-biasa saja jika diterjemahkan dengan baik akan menjadi karya yang bagus, sedangkan buku yang bagus jika diterjemahkan dengan kurang baik akan menjadi karya yang biasa-biasa saja.
Seperti buku Artemis Fowl, sebenarnya alur ceritanya menarik dan cocok untuk remaja seusiaku pada saat itu, satu-satunya hal yang mengganggu adalah gaya terjemahannya yang .... gimana ya ... nggak nyantol di hati. Sehingga aku pun urung untuk membeli buku lanjutannya.
Bersyukurlah wahai para Potterhead sekalian, buku Harry Potter telah jatuh ke tangan penerjemah yang tepat ...

Then, lemari buku kayu tempat menyimpan bukuku di rumah dimakan rayap. Syudah bisa ditebak bagaimana akhirnya. Ku patah hati berkepanjangan ... dan galau berat karena hampir setengah buku-bukuku dimakan rayap, sebagian mesti dibuang karena sudah tidak berbentuk lagi, sebagian bisa selamat meski dengan kondisi yang pas-pasan.
Karena belum punya rak buku lagi, aku menimbunnya di kontainer-kontainer plastik tempat menyimpan tas, sisanya ditumpuk di meja belajar bercampur printilan-printilan khas artsy people hehe
Alih-alih membelikan rak buku ayah memberiku etalase, meski bukan ‘rumah’ yang kuinginkan untuk buku-bukuku etalase tersebut cocok untuk menghindari ancaman rayap yang mengintai seisi rumah. Everything has a reason ya ...
Sering ada yang menanyakan “Apa yang kudapat dari membaca buku?” 
Well ... karena membaca buku aku pernah bercita-cita jadi illustrator buku, pernah bercita-cita jadi detektif, pernah bercita-cita jadi penulis, pernah bercita-cita jadi backpacker, pernah bercita-cita jadi the it girl, pernah bercita-cita jadi adventurer, pernah bercita-cita jadi designer, pernah bercita-cita jadi princess dan pernah bercita-cita jadi Milea. Yang terakhir ini apeu parah haha
Frasa “buku adalah jendela dunia” ini ternyata memang benar adanya.  



“Mbak kan suka baca, kenapa nggak jadi penulis?”
“Err ... ini lagi kok ...”

*blogger juga penulis meureun ...

You May Also Like

0 comments

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.