Beauty and The Beast

by - 30.4.17


Beauty and The Beast adalah live action movie Disney yang kedua setelah Cinderella yang diadaptasi dari versi animasinya, sejak awal kemunculannya Beauty and The Beast telah menyita perhatian publik. Bagaimana tidak, Beauty and The Beast adalah film animasi  termahal dalam sejarah Disney dan merupakan satu-satunya film animasi yang mendapatkan nominasi Oscar pada masanya. Ekspektasi penonton sangat tinggi, terlebih lagi ketika pengumuman cast.

Siapa yang tidak mengenal Emma Watson? Si kutu buku nan cerdas Hermione Granger di Harry Potter saga. Ia terpilih memerankan si cantik Belle. Menurut kabar yang beredar Emma Watson bahkan harus rela menolak tawaran berperan di film La La Land sebagai Mia Dolan.

Beauty and The Beast adalah film musikal sejenis Les Miserables dan La La Land. Bagi yang tidak terlalu menyukai film musikal mungkin agak terganggu dengan cara penuturannya yang soo ... musical, seakan-akan hampir seluruh adegan memiki theme song. Tidak seperti film India yang hanya menyanyi pada part-part tertentu, di film musikal hampir seluruh percakapan dan perkataan dinyanyikan.

Dikisahkan, di sebuah daerah di Prancis hiduplah seorang pangeran (Dan Stevens) berwatak buruk, yang tamak dan gemar berfoya-foya. Pada suatu hari ia mengadaka pesta yang hanya boleh dihadiri oleh orang-orang kaya dan rupawan -_____-

Tiba-tiba pintunya diketuk oleh seorang wanita tua yang meminta perlindungan, karena kesombongannya pangeran menolak permintaan wanita tua itu, meski sudah menawarkan setangkai bunga mawar merah yang indah. Seketika, wanita tua itu berubah wujud menjadi seorang peri (atau penyihir?) cantik dan mengutuk sang pangeran serupa dengan sifatnya yang buruk (beast).

Tamu yang hadir lalu berhamburan keluar istana, meninggalkan beberapa pelayan kerajaan yang terkena imbas kutukan sang pangeran. Peri tersebut membuat kerajaan dilupakan, seakan-akan tidak pernah ada. Ia hanya memberitahu, bahwa satu-satunya cara untuk mematahkan kutukan adalah jika sang pangeran menemukan orang yang mencintainya.

Di sebuah desa, tinggal seorang gadis belia bernama Belle (Emma Watson) dan ayahnya Maurice (Kevin Kline) yang berprofesi sebagai pembuat jam. Meski cantik, Belle tidaklah seperti gadis-gadis lainnya yang gemar bersolek untuk memikat hati pria, ia lebih suka membaca buku dan melakukan hal-hal menarik lainnya. Semacam gadis ala-ala folk gitu lah hehe ...

Karena kepribadiannya yang berbeda itulah, Gaston (Luke Evans) seorang lelaki idaman para gadis di desa jatuh hati padanya. Sayang, cintanya Gaston bertepuk sebelah tangan, karena Belle sama sekali tidak tertarik padanya. Oh iya, Gaston memiliki ajudan yang bernama LeFou (Josh Gad) yang terjebak friendzone.

Suatu hari, sepulang bepergian dari luar kota ayah Belle tersesat ke istana sang pangeran. Ia berniat untuk menumpang bermalam disana dan terkejut ketika mendapati perabotan di istana yang ‘hidup’, dalam perjalanan pulang ia memetik bunga mawar merah requestan Belle di taman istana. Pangeran yang mengetahui hal tersebut kemudian menawan Maurice di menara, beruntung Philippe (kudanya) bisa pulang sendiri ke rumah.

Belle yang terkejut dengan kedatangan Philippe kemudian berinisiatif mencari ayahnya hingga ke istana. Belle berusaha menukarkan dirinya sendiri demi membebaskan ayahnya yang berjanji akan membawanya pulang.

Di istana Belle berteman dengan para penghuninya yaitu Lumiéré (Ewan McGregor), Cogsworth (Ian McKellen), Mrs Potts (Emma Thompson) dan anaknya Chip (Nathan Mack), Maestro Cadenza (Stanley Tucci) dan istrinya Madame de Gerdobe (Audra McDonald), Plumette (Gugu Mbatha Raw), Chapeau (Thomas Padden) dan Cuisiner (Clive Rowe). Mereka senang dengan kehadiran Belle yang diharapkan dapat mematahkan kutukan sang pangeran.

Awal pertemuan yang alot membuat Belle dan Beast menjadi canggung, namun lambat laun suasana mulai mencair dengan bantuan para penghuni istana. Belle belajar untuk bersikap sabar sama seperti Beast yang belajar menerima kehadiran Belle di sisinya. Di saat yang sama, helai kelopak bunga mawar merah sang pangeran berguguran.

Ketika sampai di desanya, Maurice meminta bantuan penduduk desa untuk membebaskan Belle di istana Beast. Hanya Gaston yang bersedia membantu Maurice. Ketika sampai di hutan mereka tidak bisa menemukan istana Beast, Gaston lantas meninggalkan Maurice yang terluka di tengah hutan. Beruntung ada Agathe (Hattie Morahan) yang menemukannya dan merawatnya.

Suatu malam, Beast menunjukkan Belle sebuah cermin ajaib hadiah dari peri yang mengutuknya. Belle melihat yang melihat ayahnya difitnah oleh Gaston kemudian pergi menuju desa, namun Gaston kadung menghasut penduduk desa agar menyerang istana Beast.

Belle dan Maurice pun menyusul ke istana dan mendapati Beast dan penghuni istana berusaha mati-matian untuk mempertahankan diri. Gaston yang sedari awal sudah mengincar Beast berusaha untuk membunuhnya, meski Belle tidak menginginkannya. Di saat Beast sekarat muncul peri yang dulu mengutuknya.

Semua pasti sudah tahu bagaimana akhir cerita semua Disney princess, a very happy ending for those who believing in true love. Meski kadang happy ending dibilang akhir yang klise bagi sebagian orang, namun ... however ... kita terkadang butuh (cliché) happy ending untuk bisa meyakinkan diri bahwa semuanya akan berakhir dengan indah.

Beauty and The Beast ini sangat Disney sekali, terlihat dari visualisasikan scene menyanyinya yang dibuat jor-joran abis. Megah dan cetarrr ... Sampai bosan karena kebanyakan efek ketimbang fokus pada alur ceritanya. Tapi itulah Disney, too much details malah makin awesome.

Mungkin karena terbiasa melihat Mrs. Potts dan Chip dalam versi animasi, sehingga agak gimana gitu ya melihat versi yang sekarang. Efek animasi 3D Beauty and The Beast memang patut diacungi jempol, pasalnya banyak sekali karakter dan setting yang rumit, seperti karakter Lumiéré yang desainnya agak ‘njlimet.

Kenapa ya visualisasi Beast di film Beauty and The Beast ini mirip kaya bison?

Terlahir sebagai generasi millenials membuatku tumbuh dengan cerita fairy tale ala Disney, sehingga tak sulit untuk bisa mengikuti alur ceritanya meski ada sedikit yang diubah demi kepentingan film. Seperti setting cerita yang dipindah dari negeri antah berantah ke Prancis atau LeFou asisten Gaston yang ternyata gay atau kecerdasan Belle membuat alat bantu mencuci bertenaga kuda, di satu sisi Beauty and The Beast ini classic namun di sisi lain tetap mengikuti perkembangan zaman.

Tapi tetap ya ... yang menjadi centre of attention adalah Emma Watson. Selain memiliki paras yang cantik dan cerdas, ini adalah film Emma Watson sebagai karakter utama setelah sebelumnya hanya berperan sebagai pemeran pembantu di The Bling Ring dan sebagai cameo di This is The End. Emma Watson berhasil melepaskan bayang-bayang Hermione Granger menjadi salah satu Disney princess yang akan selalu dikenang.

You May Also Like

1 komentar

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.