The 27th

by - 6.2.17


Hampir setiap tahunnya ulang tahunku selalu dirayakan, entah itu dengan membuat tumpeng, membuat kue tart, mengundang keluarga dekat, mentraktir teman-teman sekalian atau mengadakan acara ulang tahun seperti di masa SD. Meski (sedikit) terlambat, ulang tahunku selalu dirayakan.

Tak sedikit yang heran, kenapa ulang tahunku selalu dirayakan padahal aku sudah ‘dewasa’, seharusnya aku lebih mengerti bahwa di dalam agama Islam ulang tahun tidak dirayakan, terlebih lagi aku ini lulusan pesantren.

Kami (aku dan keluarga) secara pribadi tidak melihat adanya sisi negatif dari merayakan ulang tahun, toh hari kelahiran Rasulullah pun selalu dirayakan bukan? Bagi kami merayakan ulang tahun adalah sebagai bentuk syukur sekaligus penanda moment, kaya tahun ini ulang tahunnya gini ... tahun kemaren mah ulang tahunnya gitu ... ya iyalah kan waktu itu masih ... bla bla bla ...

Selain itu, merayakan ulang tahun hanyalah alasan untuk berkumpul bersama keluarga, apalagi kalau bukan masak-masak, makan-makan, ngobrol-ngobrol,  bercanda-bercanda terus ujung-ujungnya ketiduran di atas karpet ditemani TV yang garing ngomong sendiri.


Tahun ini ulang tahunku dirayakan dengan tumpeng. Berbeda dari biasanya, kali ini tidak ada garnish berupa bunga yang terbuat dari tomat atau cabai merah atau telur yang disimpan di puncak tumpeng. Melainkan dummy (tiruan) ballerina bergaun kelopak sawi, alasannya satu, daun seladanya habis. Lagipula, boneka barbie buntung kurang cocok disimpan di puncak tumpeng.

Sebenarnya aku tidak terlalu berminat dengan tumpeng, karena bulan kemarin kami sudah kami sudah tumpengan dalam rangka merayakan ulang tahun adikku. Aku lebih ingin kue tart. Tapi mama keukeuh membuat tumpeng, karena baginya setiap orang harus mendapatkan haknya tanpa terkecuali.

Biasanya, menjelang hari ulang tahunku mama akan berflashback ria menceritakan tentang proses kelahiranku. Cerita yang sama, namun selalu terdengar berbeda ketika diceritakan kembali. Kelahiran bukan Cuma tentang aku saja, ada mama yang menjadi tokoh utama. Aku adalah bagian dari dirinya sama seperti dia yang menjadi bagian dari diriku.

So ... moment ulang tahun adalah perayaan untuk kami berdua.

Mungkin aku ini (masih) kekanak-kanakan, tapi serius deh, yang paling aku suka dari ulang tahun adalah kado haha Bukannya mau menye-menye ya ... Tapi memang aku selalu diberi kado entah apapun bentuknya di setiap ulang tahun, kebiasaan bagus #eh

Dulu, aku selalu menunda-nunda jika orang tuaku menawarkan ‘ingin beli apa?’, kadang malah sampai menolak, sengaja nggak banyak request beli ini itu karena nanti pas ulang tahun mau mintanya sekalian. Sekarang? Alhamdulillah sudah ‘dewasa’ ...


Masih dulu, yang selalu kepikiran menjelang hari ulang tahun itu adalah ‘siapa yang pertama kali ngucapin?’ sekarang mah boro-boro ya kepikiran, masih mending ada yang ngucapin. Eh, tapi tetep sih ayah paling juara, dia smsnya selalu tepat waktu (00.00 WIB) lebih gercep ketimbang pacar #eh. Di rumah, aku dibangunkan dengan nyanyian selamat ulang tahun dari mama yang langsung cupika cupiki sambil mendoakan.

Dan seiring bertambahnya usia semakin sedikit juga yang mengingat ulang tahunku, hanya orang-orang terdekat yang sayang dan care saja. Hidup ini (memang) selektif ...

Apalagi yang didoakan teman-temanku selain segera mendapat ‘kabar baik’. Well ... nggak semuanya juga sih hehe Tapi intinya ya itu, semoga aku mendapatkan kebahagiaan yang selama ini aku inginkan.

Terima kasih

I’ll love you (all) with no limits, more than to the moon and back a zillion times.

Setiap tahunnya doaku selalu sama, semoga Allah SWT mengabulkan semua doa yang belum sempat tercapai di tahun lalu. Allah SWT tidak sibuk, mungkin Ia hanya terlalu pusing mendengarkanku yang banyak request ini itu ...




You May Also Like

0 komentar

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.