Menu

  • 🌷 Hello ~
  • 📌 Place
  • 🪐 Space
  • 🍊 Taste
  • 🍀 Personal Thoughts
  • 🎬 Spoiler
  • 🎨 Studio
  • 💡 Extra

demilestari

Powered by Blogger.

Setelah makan siang (yang tentcunya kesiangan 😅) kita mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol *masih belum puas 😁. Karena masih kenyang kita nge-skip opsi cafe, dan memilih untuk caw ke Ngamplang biar lebih leluasa. Oh ya, Ngamplang yang kumaksud adalah lapangan golf di Cilawu, di Jalan Raya Garut - Tasikmalaya.

Saat tinggal di ma'had kita bisa melihat Ngamplang dengan mata telanjang saat jalan ke asrama, kalau ingin view yang lebih OK bisa naik ke atap aula ✨👌. Aku udah beberapa kali ke Ngamplang dengan manteman, main ke rumah teman yang memang tinggal di sana, jalan kaki menyusuri sungai Cipeujeuh melewati sawah dan kebun.

Ngamplang's tower 

Di masa itu Ngamplang masih aktif dipake golf, nggak tahu deh sekarang mah, melihat fasilitasnya yang udah terbengkalai sepertinya Ngamplang memang butuh pembaharuan. Kupikir salah satu alasan mengapa Lapangan Golf Flamboyan bisa survive karena konturnya yang curam dan lokasinya yang berada agak jauh dari pusat kota.

FYI, di masa lampau alun-alun Subang (dan sekitarnya) adalah lapangan golf, sayangnya doi nggak bisa survive karena alih fungsi lahan. Aku lebih suka alun-alun Subang yang cuma lapangan berumput ketimbang alun-alun Subang kini. Meh. RK lagi banyak pikiran apa gimana sih pas bikin konsep gapura Subang, tiba-tiba ada motif mega mendung Tjerbon #desainergagalfaham. Wadefakmen 😡.

Kita datang agak sore, kebetulan situesyennya nggak begitu ramai. Untuk bisa memasuki area lapangan golf kita mesti membayar tiket masuk Rp 30.000 per orang, mon maap nih jiwa emak-emak Pici meronta-ronta 💪. Tanpa menunggu aba-aba Pici langsung tawar Rp 10.000 per orang dengan alasan udah sore jadi nggak akan lama, mungkin daripada nggak jadi akhirnya bapake menyerah 😂.

kolam air mancur yang udah uzur

club house yang kewren pada masanya

Garut nun jauh di sana

Lapangan golf Ngamplang ini cukup luas dan terbagi menjadi 2 area yang dipisahkan oleh jalan. Seingatku, area lapangan golf yang di depan kantor desa sering dipake sepak bola sedang area lapangan golf yang ada club house-nya dijadikan area komersil *janlup, tadi kita bayar tiket masuk yaini. Kita bisa piknik, pre-wedding photoshoot, guling-gulingan atau sekedar hulang healing.

Aku nggak mau jalan jauh atau turun ke bawah macem Alka dan Sangga karena lagi saving energy mode, kan besok mau hiking ke Gunung Papandayan *alasan 😁. Eh tetiba ada mang cuanki dongs, tapi aku nggak ikut beli siya karena masih kenyang, Salah satu alasan mengapa kalyan mesti main ke Ngampalang adalah biar bisa update story dengan caption: cuanki with a view ✨👌.

BTS insta story 😁

Saat kita kesana masih ada beberapa rumpun manusia yang tersebar di semua penjuru, ada yang datang bersama keluarga, teman bahkan pacar. Slow but sure, satu persatu mulai meninggalkan area lapangan golf, meninggalkan kita yang masih asyik melihat Garut nun jauh di sana. Saking khusyu-nya menikmati momen matahari terbenam *padahal mah mendung 😅 kita sampai lupa waktu.

Sejujurnya, aura club house yang terbengkalai bikin parno apalagi hotel yang di depannya ada kolam kosong. Well... nggak adakah yang tertarik mengelola dan memperbaharui lapangan golf ini? Potensi viral-nya besar, pun dengan potensi penunggunya wkwk. Ada gila-gilanya Deya anteng teleponan di dekat mess kosong yang pohon-pohonnya bikin undur diri 😱.

Pankapan kita piknik di Ngamplang ya.

everyone... ini mantemanku

duo dosen yang kepusingannya kadang nggak kita fahami 🙇

kuartet

healing biar eling 😂
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hello~

Apa kabar manteman? Semoga harpitnas minggu lalu nggak kalyan sia-siakan begitu aja 😁. Meski udah nggak kerja 8-5 aku mengunakan harpitnas minggu lalu untuk mengambil jeda dari urusan domestik rumah tangga. Tadinya Pici berinisiatif mengadakan halal bihalal di Garut karena kita melewatkan bukber Ramadan. Sayangnya drama kumbara yang terjadi di balik layar smartphone bikin doi urung melempar wacana ke WAG dan mengajak kita (sapeee lagi?!) naik gunung 😅. Kita mah yes ya, apalagi udah lama kita nggak ketemu.

Biar satset aku pake WB Travel yang Subang - Bandung (Buah Batu) terus turun di Cileunyi jadi Deya bisa bablas dari Kopo, lanjut ke Nagrek untuk nge-pick up Icunk. Rencananya kita langsung ke rumah Pici dan masak untuk makan siang, eh di perjalanan Pici mengabari bahwa ia masih ada kelas tatap muka jadi makan siang di luar aja. Untuk pemilihan tempat tentcunya kita serahkan ke Pici, kan doi warloknya 😁.

Dari semua opsi kita memilih RM. Mang Iki karena lokasinya berada di area Garut Plaza, yunow yekan sesulit apa menemukan spot parkir mobil 😅. FYI, RM. Mang Iki ini viral di TikTok karena menawarkan sensasi makan di pinggir rel kereta api macem cafe di Thailand *cmiiw. Mungkin karena kita datang saat jam makan siang situesyennya rame banget, yang antri, yang makan, yang ngobrol, yang masak, yang cuci piring, semua berkumpul di situ. Melihat propabiitas makan dengan nyaman yang kecil, udalaya... kita undur diri 🙇.

Pici lalu kasih pilihan: mau yang makanannya enak tapi agak jauh atau yang deket tapi makanannya B aja?

Ya Allah Pic, pake nanya, derrr weh langsung 😁.


Dari Garut Plaza kita caw ke Lumbung Padi di daerah Bayongbong, yha~ memang agak jauh siya tapi masih di Garut kok😅. Melihat area parkir yang hampir luber kita sempat khawatir kesulitan mendapatkan meja, untungnya Lumbung Padi ini punya banyak meja jadi meski waiting list nunggunya nggak begitu lama. Kita mendapatkan meja di area belakang berupa gazebo yang dilengkapi dengan stop kontak *penting dan wastafel.

Sebagai family resto kurasa Lumbung Padi ini fasilitasnya OK, apalagi kalau bawa orang tua atau bocil. Di beberapa titik ada jalur khusus untuk pengguna kursi roda dan kolam di samping musholla yang bisa dipergunakan untuk menyedekahkan kulit mati pada ikan-ikan 😅. Selain itu ada mini zoo dan playground di bagian belakang yang bisa bikin bocil sedikit sibuk, hati--hati ya buibu jangan sampai meleng apalagi di area kolam. 


Yang kita order:

Nasi Cikur Komplit Ayam Kampung Rp 42.000
Mungkin karena bikin banyak, rasa cikur (kencur) di nasinya terasa samar macem numpang lewat doang 😅. Porsi nasinya mah biasa ya namun kalau digabung dengan lauknya jadi luar biasa. Aku butuh beberapa kali jeda untuk bisa menghabiskannya, apalagi kita order side dish yang lain. So far makanannya OK dan memuaskan, kalau kalyan yang nggak mau ribet pilih-pilih menu satuan bisa langsung pilih menu paketan. 


Jukut Goreng Rp 12.000
Rasanya mirip-mirip dengan jukut goreng pada umumnya.


Karedok Rp 24.000
Jangan tertipu dengan panampilannya yaini, di bawahnya ada kerupuk putih bundar yang bikin karedoknya tampak lebih tinggi 😁.


Es Kelapa Muda Rp 20.000
Syegarrr... Sesungguhnya akau berharap es kelapa muda ini disajikan pake gelas biar ada embun-embunnya, ternyata pake cup plastik aja, yaudalaya mungkin gelasnya belum pada dicuci 😅.


***

LUMBUNG PADI
@lumbungpadigarut_
📌 Jalan Raya Bayongbong - Garut, Muara Sanding, Kec. Garut Kota. Kab. Garut
📆 Senin-Jumat 10.00-20.30
📆 Sabtu-Minggu 09.00-20.30

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hello~

Apa kabar manteman? Udah se-darder-dor apa awal tahun kalyan? wkwk.

Di musim panas yang hot hot pop ini tentcunya godaan untuk minum minuman berasa, berwarna dan berembun makin nggak tertahankan. Aku bahkan break the boundaries dan minum pake es batu saking nggak kuwatnya 🔥. Atas dasar efisiensi energi kita ngide beli es batu di warung, mayan laya seenggaknya kita nggak perlu bolak balik bikin es batu di kulkas. Beberapa hari kemudian aku, Widy dan Mas Bagus kena demam, di antara kita bertiga yang paling parah gejalanya cuma Widy, pas dicek ternyata tipes dan mesti dirawat.

Saat tahu Widy kena tipes tentcunya keluargaku panik dongs, secara doi sedang hamil dan bayinya ikut demam. Hampir seminggu aku bolak-balik rumah dan klinik, dari sekedar rotasi barang, mengantar makanan, beli ini itu sampai menemani doi nonton drakor. Setelah diperbolehkan pulang tentcunya doi mesti bedrest yekan, so... semua pekerjaan domestik rumah tangga dihibahkan kepadaku 😅. Sadar nggak bisa meng-handle semuanya sendiri, aku minta bantuan keluarga besar yaini, nggak sanggup euy~ 😆

situesyen menunggu bis di pool
FYI, pool Rosalia Indah terbesar ada di rest area Pemalang dan exit tol Subang

Jeda seminggu aku kembali on the track mempersiapkan trip ke Solo karena ada kerabat yang akan menikah. Tadinya cuma uwak-uwakku aja yang berangkat namun menimbang kondisi mereka yang wes tuwek dan butuh bantuan anak muda akhirnya aku ikut. Setelah melalui berbagai pertimbangan, kita memutuskan untuk pake bis ketimbang pake kereta api atau kendaraan pribadi. Kita pake Rosalia Indah karena lokasi pool-nya yang mudah diakses.

So far... aku nggak menikmati perjalanannya 😂 mungkin karena bisnya tinggi jadi semua hal terjadi jalanan terasa sampai ke kursi penumpang. Aku cuma tidur tipis-tipis sisanya ngemil biar nggak mual. Sampai di Terminal Solo kita dijemput dan diantarkan ke rumah Mbah Warsini di Karanganyar, yha~ masih satu kelurahan dengan pakde Joko. Uwak-uwakku mah tentcunya langsung ngobrol dongs, sementara aku mempersiapkan diri menghadapi gelombang teh manis yang datang bertubi-tubi *ytta 😅.

yang manis... yang manis...

mam duls ya manteman

Malamnya kita menghadiri acara midodareni, meski nggak faham-faham banget apa yang diobrolin aku sih yes hehe Alhamdulillah aku bisa merasakan lagi hidangan piring terbang, Aku suka semuanya... *katro. Urutannya: snack (kue dan sosis solo) - sop manten - nasi dan lauk - dessert (es krim atau pudding). 

Oh ya, aku adalah PIC untuk trip kali ini jadi semua hal yang berhubungan dengan akomodasi adalah tanggung jawabku. Berhubung acaranya nyempil di long weekend, aku nggak berhasil mendapatkan tiket sesuai request buibu, jadinya delay sehari, tapi isokay laya daripada nggak pulang-pulang 😁. Aku beli tiket bisnya ots beberapa hari sebelum keberangkatan, sebenarnya bisa sih beli via aplikasi namun biar lebih afdhol beli di pool-nya *sekalian keluar rumah.

So, kemana aja kita selama di Solo?

MESJID SYEIKH ZAYED

Sebelum ke Solo aku disuruh untuk cari spot wisata yang lansia friendly, tentcunya aku langsung merekomendasikan Mesjid Syeikh Zayed ini karena uwak-uwakku udah lama nggak ikut wisata religi 😁. Langsung approved yaini. Kita baru bisa ke Mesjid Syeikh Zayed ini malam karena hujan sesorean, busedd... rame banget. Gerimis bikin rang-o-rang melipir ke serambi mesjid, sebagian lalu beribadah, sebagian tetap berteduh. Termasuk kita yang sholat sambil menunggu hujan reda *twist 😁.

di seberang Mesjid Syekh Zayed ada Gereja Sola Gratia

view Mesjid Syekh Zayed dari Gereja Sola Gratia

lantainya bermotif kawung, nggak terbayang panasnya saat siang

di ujung selasar ini ada pintu menuju mushaf besar

menunggu hujan reda

pulang dari Mesjid Syekh Zayed kita makan sotoy di Pasar Legi, rasanya tyda usah ditanya 💖

gorengan yang kurindukan 😍

TAMAN MAKAM PAHLAWAN

Salah satu uwakku memanfaatkan trip ke Solo ini untuk mencari makam kerabatnya yang meninggal saat berperang melawan Belanda. Yha~ kalyan nggak salah baca, sebelum Indonesia merdeka ada banyak peperangan yang terjadi di seluruh negeri, salah satunya terjadi di Solo. Untungnya pengelola Taman Makam Pahlawan masih menyimpan catatan nama 'penghuni' makam yang diurutkan sesuai abjad *penting, alhamdulillah ketemu.

gerbang Taman Makam Pahlawan Surakarta

uwak-uwakku lagi mengecek buku besar 'penghuni' makam

perlu penelusuran nggak? 😁

sejauh mata memandang aku melihat makam

untuk yang penasaran kenapa fotoku nggak ada 😅 panas coy...

KERATON SOLO

Tadinya kita mau ke Keraton Solo, namun menimbang keraton mah gitu-gitu aja akhirnya kita jalan-jalan aja hehe. Uwakku cerita dulu Mbah Uti pernah kesambet di keraton, katanya beliau merasa mau ditombak oleh penjaganya *ceunah. Syitmen. Kebetulan driver kita pernah tinggal di dalam keraton, jadi doi-lah yang menjelaskan ini itu termasuk rahasia dapurnya. Oh ya, ternyata Solo ramenya saat malam hari ya, pantesan siang B aja, yumari bestie... ke Solo lagi.

kalyan familiar nggak dengan bentuk atapnya?

nggak serame Keraton Yogyakarta siya namun okelah

nasi + sop timlo ✨👌

***
Kita sempat ditawari silaturahmi ke rumah pakde Joko karena di long weekend biasanya doi open house. Jujur aku merasa nggak siap memperkenalkan diri sebagai Bendahara Umum Liburan Bareng Bestie 😅, dan membayangkan diri star struck lalu keceplosan nanya: ijazahnya asli atau palsu pak? bikinku overthinking. Untungnya saat kita ke rumah pakde Joko antriannya mengular hingga ke jalan, jadi kita cuma keliling kompleks dan melihat rumah baru anake. 

Satu-satunya hal yang nggak kusuka dari Solo adalah teh manisnya yang maniisss banget. Bayangkan... baru 2 hari di Solo badanku udah gatal-gatal, sekalinya digaruk malah berdarah 😭, saking nggak kukunya aku sampai pake daster (yang seharusnya untuk oleh-oleh) biar adem padahal cuaca dingin. Selama di Solo aku lebih banyak minum air teh manis ketimbang air bening makanya seret mulu, pencernaanku jadi kurang OK dan itu bikinku nggak nyaman.

lapangan dekat rumah yang selalu jadi patokan sebelum kenal GPS

nasi liwet Solo begini ya

***

BTW, pulang dari Solo aku puas-puasin minum air bening 😂.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hello~

Beberapa hari yang lalu di Twitter sempat ada yang minta di-spill screenshot film favorite di Letterboxd kali aja ada yang bisa masuk watch list. Saat mengecek akun Letterboxd aku jadi teringat lagi dengan draft post film Everthing Everywhere All At Once yang nggak kelar-kelar ini 😅. Aku udah bikin sejak, errr... beberapa tahun yang lalu gitu ya, sibuk banget ya akuteh *alasan 😅. Untuk saat ini film Everything Everywhere All At Once masuk dalam list film favorite-ku, bersama Amelie, The Fall dan Grand Budapest Hotel.

Kalau kalyan sering nonton film-filmnya MCU mungkin udah nggak asing dengan istilah multiverse, apalagi kalau kalyan mengikuti perjalanan The Avengers udah pasti khatam yekan 😁. Kupikir momen pamuncak multiverse ini udah selesai di The Avengers: End Game (review), selanjutnya tinggal beberes sisanya alias nyapu-nyapu. Maaf banget niya namun aku udah di tahap nggak excited nonton film dan series-nya MCU karena ceritanya yang bantet (gagal mengembang).

Bahkan Doctor Strange in The Multiverse of Madness (review) yang digadang-gadang lebih complicated kurang berhasil membawakan kegilaan yang tercipta dari multiverse. Kurasa MCU mulai bergairah lagi melalui Deadpool & Wolverine (review), yha~ Spiderman: No Way Home (review) mah ada di Sony Pictures ya. Secara MCU-lah yang memperkenalkan konsep multiverse, maka apa pun yang ke-multiverse-multiverse-an dianggap berhubungan dengan MCU.

So, adakah film multiverse yang non MCU?
Ada ✨👌.

Lemi introdusyu tu...

Everything Everywhere All At Once

Everything Everywhere All At Once

Everything Everywhere All At Once

Everything Everywhere All At Once

Everything Everywhere All At Once

Everything Everywhere All At Once

Everything Everywhere All At Once

Sejujurnya aku menyesal nggak sempat nonton Everything Everywhere All At Once di bioskop, jadi pengalaman nontonnya terasa kurang shahih. Everything Everywhere All At Once ini cuma mampir sebentar di Kings dan BEC makanya nggak keburu nonton, tapi isokay laya... 😅. Kalau biasanya aku nonton di smartphone sambil ngemil, minum dan melakukan berbagai hal nggak penting, kali ini aku fokus mantengin biar nggak ketinggalan detail penting ✨👌.

***

Everything Everywhere All At Once terbagi menjadi 3 bagian, yang selalu dimulai saat Evelyn berada di meja kerjanya yang dipenuhi nota.

Everything

Evelyn Wang (Michelle Yeoh) dan suaminya Waymond Wang (Huy Quan) adalah pasangan paruh baya yang memiliki bisnis laundromat. Hubungan mereka belakangan ini memang sedang buruk, bahkan terancam kandas. Kedatangan bapake Evelyn yakni Gong Gong (James Hong) yang nggak merestui pernikahan mereka untuk Chinese New Year tentcunya bikin situasi makin rumit. Dan fakta bahwa anak mereka, Joy Wang (Stephany Hsu) come out akan hubungannya dengan Becky (Tallie Medel) bikin Evelyn merasa 'kacau' 💥.

Di tengah segala kekacauan ini, Evelyn dan Waymond mesti menemui Deirdre (Jamie Lee Curtis) untuk memperpanjang izin usaha landromat mereka di IRS (Internal Revenue System). Di tengah perjalanan tetiba Waymond bersikap aneh dan memberikan seperangkat device serta instruksi nyeleneh untuk Evelyn. Setelah mengalami beberapa kejadian di luar nalar, Waymond memberi tahu Evelyn bahwa ada universe lain selain universe yang ia tinggali saat ini.


Everywhere

Saat Evelyn melakukan hal nyeleneh dan mengaktifkan mode verse jump di device-nya tetiba doi berpindah universe, tentcu nggak semua verse jump-nya mulus kadang ada aja 'kesalahan' yang bikin doi nyasar. Selain bisa berpindah jiwa dan raga antar universe, Evelyn juga bisa meng-install special skill yang dimiliki oleh Evelyn dari universe lain. Tadinya kukira musuh Evelyn adalah Deirdre si auditor, ternyata malah Jobu Tupaki yang merupakan Joy dari universe sebelah yang memburu Evelyn di semua universe.

Bagi Evelyn semua universe yang disinggahinya merupakan perwujudan manifestasi what if dari pilihan hidupnya. Macem, apa yang akan terjadi kalau doi nggak bersama Waymond, apa yang akan terjadi kalau doi menekuni hobby nyanyinya, apa yang akan terjadi kalau doi nurut kepada ayahnya. Kurang lebih seperti itu laya... Di antara semua universe, aku paling suka saat Evelyn dan Joy menjadi batu di planet kosong karena akhirnya mereka ngobrol meski cuma pake teks 😂.


All At Once

Setelah mengalami hari yang absurd dan menegangkan di berbagai universe akhirnya Evelyn menemukan kedamaiannya. Evelyn bisa melihat perjalanan antar universe-nya sebagai perjalanan untuk menemukan dirinya yang 'hilang', baik itu karena beralih peran (sebagai istri dan ibu) atau karena kesibukannya mengurus laundromat dengan Waymond. Kurasa Evelyn hanya butuh validasi untuk semua pilihan hidupnya, we always need more time to accept yekan 😉.


***

Ada banyak hal yang kusuka dari Everything Everywhere All At Once ini salah satunya adalah kemampuan kru untuk mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Alih-alih bikin mata ketiga ala Doctor Strange, dengan penuh kesadaran kru menempelkan mata-mataan yang suka dipake crafting di dahinya Evelyn dons. Saking iconic-nya mata-mataan ini, Letterboxd sampai bikin icon khusus untuk lamannya Everything Everywhere All At Once.

Sebagian universe yang disinggahi Evelyn mengambil referensi dari film, macem The Matrix, Ratatouille, dan Sauron-nya The Lords of The Ring. Untukku Everything Everywhere All At Once ini adalah film yang liar dan fancy, a complete package untuk khow-khow sekalyan yang menginginkan tontonan seru. Meski ber-genre sci-fi comedy tetap ada sisipan drama keluarganya kok, jangan lupa siapkan tisu ya pemirsa.

Dengan budget $20 M dan 5 orang kru kurasa nggak berlebihan kalau kubilang MCU seharusnya insecure, cuy... mereka bikin Doctor Strange in The  Multiverse of Madness terasa B aja. Jari-jari sosis yang lunglai, mata bagel dan ledakan confetti hanyalah sebagian dari kemeriahan yang ditawarkan oleh multiverse-nya Evelyn. Kalau kalyan ingin nonton film yang seru di akhir pekan kurekomendasikan Everything Everywhere All At Once ini. Perlu diingat, bagimu taste-mu bagiku taste-ku, selera kita bisa bisa aja nggak.



***

Everything Everywhere All At Once memenangkan 7 dari 11 nominasi di Academy Awards 2023 untuk katagori:

Best Picture 🏆
Best Director - Daniel Kwan, Daniel Scheinert 🏆🏆
Best Actress - Michelle Yeoh 🏆
Best Supporting Actor - Ke Huy Quan 🏆
Best Supporting Actress - Jamie Lee Curtis 🏆
Best Original Screenplay - Daniel Kwan, Daniel Scheinert 🏆
Best Film Editing - Paul Rogers 🏆
Best Supporting Actress - Stephanie Hsu (nominee)
Best Original Score - Son Lux (nominee)
Best Costume Design - Shirley Kurata (nominee)

So, even though you have broken my heart yet again, I wanted to say, in another life, I would have really liked just doing laundry and taxes with you.
Waymond Wang

***

Pictures were taken from IMP Awards website.

Kalau kalyan merasa tulisanku menarik dan ingin menyemangatiku, boleh niya jajanin virtual... 😉
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Hello~

Beberapa hari yang lalu aku mampir di supermarket dan berpapasan dengan ciwik-ciwik yang baru pulang sekolah sedang asyik memilih body lotion di rak. Menimbang-nimbang aroma yang cocok, membandingkan manfaat produk, dan menyesuaikan budget-nya. Oh inikah rasanya nostalgia 😅.

Saat tinggal di ma'had pengeluaran tertinggiku bukan untuk jajan (makanan dan minuman) melainkan untuk beli bodycare dan skincare ala kadarnya. Fyi, meski nggak mandi setiap hari (karena Garut tiris pisan, apalagi saat musim dingin 🥶) kita *aku aja siya 😁 cukup 'boros' untuk urusan bodycare, ada aja yang dibeli tiap bulannya.

Kurasa kita semua pernah mengalami masa rajin banget merawat diri, macem pake body lotion tiap saat, pake lulur tiap minggu atau pake krim biar kulit nggak kering. Iyaaa... aku pake istilah krim karena di masaku produk skincare belum sevariatif saat ini. Apalagi kita berada di usia tanggung, bukan bocil bukan remaja, tapi semriwingnya sungguh tyada duwa 😂.

Salah satu dark side of pesantren yang paling lejen tentcunya adalah budugan 😁 aku sih percaya ya karena anak kenalan mama ada yang mesantren terus budugan sampai mesti ke dokter dan 'istirahat' di rumah. Gegara hal ini mama sering mewanti-wanti agar rajin menjaga kebersihan dan merawat diri.

Alhamdulillah aku berhasil lolos dari endemi mata ikan 🥹.

Seiring waktu, intensitas merawat diri semakin berkurang apalagi di fase kuliah dan kerja. Aku bahkan mesti memangkas durasi mandi dan nge-skip beberapa step skincare demi bisa sarapan. Memang masalahnya ada di manajemen waktu yang berantakan, namun kadang aku merasa 'kehilangan' karena nggak punya cukup waktu untuk merawat diri 🥲.

Jangankan pake ini itu, bisa satset mandi lalu rebahan setelah pulang kerja aja alhamdulillah. Kalyan begini juga kan? Ayo ngaku *cari teman 😁. Biasanya aku menebusnya dengan weekend pampering, dimana 1/2 hariku dedikasikan untuk bebersih head to toe. Udalaya... ciwik-ciwik pasti faham 😉.

FYI, durasi mandi regular-ku sekitar 30 menit, kalau pake lulur atau kondisioner bisa 50-60 menit (ini hitungannya dari masuk sampai keluar kamar mandi). Jangan tanya kenapa bisa selama itu karena aku pun nggak tahu, perasaan mah udah satset tapi ternyata nggak ngaruh 🥹. Aku cuma mandi ya manteman, nggak sambil cuci baju atau bebersih kamar mandi, mandi 'tok.

Semua orang pasti punya urutan favorite untuk mandi, aku juga punya cuma seringnya random sih tergantung mood. Untuk mempermudah aku membaginya jadi 3 step, yakni:

PERSIAPAN
± 30 menit

- luluran (+ scrubbing)
- maskeran
- hair oil
- lip scrubbing
- minum air bening biar nggak haus

MANDI YANG SESUNGGUHNYA
±30 menit

- keramas pertama
- keramas kedua
- creambath
- sabunan
- membersihkan wajah
- gosok gigi

AFTER CARE
± 30 menit

- minum duls *yukata bilas-bilas nggak capek apa 🤭
- pake body lotion
- pake hair tonic
- pake skincare
- potong kuku

*detail-nya sesuai keyakinan masing-masing.

***

Saat melakukan persiapan biasanya aku nyambi sambil sarapan atau nonton drakor, pun dengan after care. Perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk weekend pampering ± 30 menit per step, kenyataannya mah lebih yaini 🤣. Jeda-jeda kecil macem ngelamun, ngecek smartphone, ngemil, beresin barang-barang udah pasti bikin molor 😁.

Leminow kalau kalyan pun punya weekend pampering. Kali aja bisa berbagi tips.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Followers

Paused Moments

Let's Get In Touch

  • Behance
  • Letterboxd
  • LinkedIn

Disclaimer

It is prohibited to copy any content from this blog without prior permission. If you believe your privacy has been violated or notice content that requires proper credit, please let me know.

Note

Some links in the post may be affiliate links, which means I may earn a small commission if you buy through them. There’s no pressure at all—what works for you is what matters most.

Alone Alone Kelakone

2025 Reading Challenge

2025 Reading Challenge
Lestari has read 0 books toward her goal of 6 books.
hide
0 of 6 (0%)
view books

Archives

  • ►  2011 (7)
    • ►  May (1)
    • ►  Nov (6)
  • ►  2012 (19)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (8)
    • ►  Jun (2)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Oct (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  Jan (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (8)
  • ►  2015 (62)
    • ►  Jan (6)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  Jun (7)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Aug (10)
    • ►  Sep (7)
    • ►  Oct (11)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (7)
  • ►  2016 (64)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (2)
    • ►  May (6)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (7)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (9)
    • ►  Nov (6)
    • ►  Dec (11)
  • ►  2017 (76)
    • ►  Jan (10)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (6)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (12)
    • ►  Jun (10)
    • ►  Jul (7)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (6)
  • ►  2018 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (7)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2019 (39)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (5)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2020 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Mar (7)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2021 (44)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (4)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2022 (47)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (2)
    • ►  Oct (5)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2023 (41)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  May (2)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (6)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (2)
    • ►  Dec (4)
  • ►  2024 (48)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (5)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (5)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (2)
  • ►  2025 (36)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (1)
    • ►  Jun (6)
    • ►  Jul (2)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (2)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (4)
    • ►  Dec (3)
  • ▼  2026 (9)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (2)
    • ▼  Apr (2)
      • Na Willa
      • Project Hail Mary

Friends

  • D. R. Bulan
  • Ikan Kecil Ikugy
  • Mazia Chekova
  • Noblesse Oblige
  • Perjalanan Kehidupan
  • Pici Adalah Benchoys
  • St. Jauzah
  • The Random Journal

Blogmarks

  • A Plate For Two
  • Berada di Sini
  • Cinema Poetica
  • Dhania Albani
  • Diana Rikasari
  • Dinda Puspitasari
  • Evita Nuh
  • Fifi Alvianto
  • Kae Pratiwi
  • Lucedale
  • Mira Afianti
  • Monster Buaya
  • N Journal
  • Nazura Gulfira
  • Puty Puar
  • Rara Sekar
  • What An Amazing World
  • Yuki Angia

Check This Too

  • A Beautiful Mess
  • Daisy Butter
  • Kherblog
  • Living Loving
  • Minimalist Baker
  • Nicoline Patricia
  • Spice The Plate

Thanks for Coming

Community

Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates