Hiatus Vol. 2

by - December 31, 2020


Hallo... 

Rasanya baru minggu lalu aku menulis post akhir tahun, eh ternyata.. udah waktunya menulis lagi, gils... setahun berlalu tapi rasanya skip abis haha 😂 Banyak rencana berakhir menjadi wacana gegara pandemi yang belum tentu kelar meski uji coba vaksin berhasil. 

Kalau ditanya gimana rasanya (kena) pandemi? Menurutku, rasanya macem kembali ke masa hiatusku di tahun-tahun lalu 😅. Nostalgia 🤣 Mungkin perbedaannya terletak pada bagaimana aku menghadapinya, kalau hiatus vol. 1 adalah tentang how to survive, maka hiatus vol. 2 adalah tentang finding purpose. Menurutku ya... 😊.

Di hiatus vol. 1, aku belajar untuk memilih dan melepaskan hal-hal (yang kupikir esensial) dalam hidup seperti pertemanan, pekerjaan, tujuan dan berbagai printilan duniawi lainnya haha Ternyata nothing last forever... 🥺.

Katakanlah, kamera. Kupikir kamera adalah salah satu hal esensial yang mesti kumiliki karena berdaya guna mengabadikan momen. Kadang sampai greget sendiri ingin beli kamera. Tapi ya setelah melalui hari-hari overthinking akhirnya aku memutuskan untuk menyisihkan kamera karena toh ternyata (setelah dijalani) aku masih bisa hidup meski nggak punya kamera 🤗. 

Ada masanya ketika aku meng-unistall social media gegara gedeg, hanya bisa makan tahu dan tempe selama 2 bulan lebih gegara alergi dan menghabiskan waktuku ala the art of doing nothing 😌. Beberes rumah, menyiram tanaman, membaca buku, menonton TV, ngeblog lagi, declutter isi laptop, sedang sisanya (masih) berusaha menata hidup 😋. 

Di hiatus vol.2 aku belajar untuk lebih menghargai waktu dan berusaha untuk lebih well prepare untuk segala kemungkinan. Tapi kalau boleh jujur, aku cukup senang karena rencanaku untuk lebih menikmati hidup akhirnya tercapai meski melalui cara yang wkwkwk Aku menemukan bahwa pandemi ini membuatku lebih santai dalam menjalani hidup 😉. 

Percayalah... di post yang lalu-lalu aku lebih sering menggunakan tata bahasa yang agak baku, macem; membuat, sudah, sepertinya dan berusaha untuk membuat tulisanku menjadi lebih berbudi bahasa. Sedang saat ini aku lebih sering menggunakan tata bahasa yang lebih santai macem; bikin, udah, kayanya dan berusaha untuk membuat tulisanku senyaman dan sesantai bagai ngobrol dengan coy yang sefrekuensi 😘. 

Karena sudah WFH sejak tahun lalu alias kerja remote, yang terjadi saat ini nggak jauh berbeda dengan hari-hari (yang bukan hari Jisun) biasa. Bedanya kali ini massanya banyak... Wow! Se-excited itukah orang-orang dalam menyambut WFH? 🤔 Well... Kurang lebih itulah yang kurasakan saat awal-awal kerja remote, sensasinya macem kerupuk. Meski mampu ngembang cepat di awal tapi lama-lama melempem juga 🙃. 

Ohya, selama pandemi beberapa hal mendadak hype 😎.


1. Dalgona Coffee 
Skip. Nggak ikutan karena nggak mau mempersulit diri sendiri 😌. 

2. Bercocok tanam 
Skip juga. Tapi mama di rumah malah makin excited, begitu pulang banyak tanaman baru yang belum kenalan 😁.

3. Virtual photoshoot 
Skip juga. Nggak ikutan karena nggak tertarik 😌. 

4. Online streaming 
Ada beberapa serial yang kutonton dan kutunggu di Netflix, tapi akhirnya memutuskan untuk fokus hanya ke drakor aja karena lebih menjual mimpi 😂.
Oppa... Oppa... Anyonghaseyo... ❤️.

5. Online class & Webinar 
Aku sempat mengikuti beberapa online class baik yang berbayar maupun yang nggak berbayar, sejauh ini online class yang menurutku berfaedah adalah kelasnya Jonathan End ✨👌🏻. Sedang sisanya adalah milik Future Learn, Skill Academy dan berbagai IG live-nya orang-orang. Etapi... banyak yang live banyak yang leave 😏. 

6. Mendadak enterpreneur 
Salah satu efek pandemi yang paling terasa adalah berkurangnya income akibat WFH, sebagian netizen memanfaatkan peluang tersebut dengan berjualan online. Setiap kali nonton insto isinya jualan mulu, dari home dress, dessert box sampai jasa belanja sayuran, semangat yakawan. Love you... 😘.

7. Main game 
Salah satu game yang hype di masa pandemi ini adalah Among Us, aku pernah ikutan main tapi nggak sampai 2 minggu aplikasinya udah di uninstall lagi, yagimana... mainnya belum lama udah keburu dibunuh haha 😂.
Meski terlambat, saat ini aku lagi anget-angetnya main Redecor, ternyata seru ya... 🤗.

8. Masak sendiri 
Salah satu pencapaian terbaik selama pandemi adalah masak sendiri, saking niatnya aku sampai beli kompor listrik. Sungguh sebuah effort bisa beres masak sebelum jam 8 pagi 😉. 

9. Masker 
Yawla... banyak banget yang jualan masker unyu... Ada beberapa yang kuincar (bahkan sampai kunyalakan notifnya) tapi selalu sold out, gercep banget nih netizen 😁.

10. Dan masih banyak lagi 

Bersandar pada Resoluslice, harusnya aku menulis tentang beginning of the decade and end of the decade ya, kupikir 2020 adalah tahun spasi alias jeda alias pause, karena rasanya kilat banget. Januari, Februari, Maret...eh tahu-tahu Desember 🥺. 

Kalau ditanya apa goals-ku di tahun depan. Well... kupikir aku masih akan meneruskan apa yang sudah kumulai. Kemungkinan liburan tipis-tipis dan berusaha untuk nggak ngoyo ingin ini itu karena sadar diri ada hal-hal yang nggak bisa ku kontrol. 

Berarti masih sama ya hehe 🙃.

Semoga tahun depan (dan tahun-tahun seterusnya) kita semua diberkahi kebahagiaan yang tak surut, menerima sesuai yang dipanjatkan, memiliki yang sebelumnya tak termiliki serta masa yang panjang untuk menikmatinya. 

Aamiin. 

Inilah tweet penutup tahun dariku, jangan pernah berhenti berdoa ya... aku sayang kalyan semua wahai netizen ❤️❤️❤️.


You May Also Like

0 comments

Feel free to leave some feedback after, also don't hesitate to poke me through any social media where we are connected. Have a nice day everyone~