Financial Wisdom from Us

by - July 12, 2020

Pinterest

Tadinya post ini mau kuberi judul 10 Financial Wisdom, tapi ya tapi kok terkesan mirip dengan The The 10 Commandment ya haha Padahal mah beda meur... 😉 Draft post ini suda mandeg lama di folder, thanks to quarantine extention akhirnya bisa beres juga, meski kayanya nanti bakalan ada tambahan sana sini.

Dimasa pendemi (apalagi di awal-awal mulai WFH) banyak bermunculan tips mengelola finansial di masa pandemi beserta webinar-webinarnya. Saat kubuka tab explore di IG konten-konten tentang finansial cukup
mendominasi, selain jualan dan movie quote tentunya. Agak bosan sih, tapi ya mau gimana lagi, suka nggak suka urusan finansial ini krusial.

Financial wisdom-ku didominasi oleh ayah karena beliau memang concern tentang urusan finansial, urusan hitung menghitung dan percuanan serahkan pada beliau, kita mah tahu beres hehe 😁 Dulu kupikir semua bapak-bapak kerjaannya sama, nonton berita ekonomi dan expert urusan cuan. Well... Ternyata nggak semua bapak-bapak concern tentang urusan finansial.

Ayahku berpikir bahwasanya dalam setiap keluarga mesti ada key person yang (nantinya) mengurusi finansial keluarga, just in case ada masalah. So, key person ini adalah yang pertama tahu dan yang paling tahu mengenai kondisi finansial keluarga, termasuk mengamankan dokumen dan mengambil keputusan. Kupikir idealnya semua anggota keluarga mampu jadi key person tapi balik lagi siya, nggak semua orang cocok jadi key person.

Aku baru sadar (sudah) diajarkan tentang finansial sedari dini saat membaca buku Rich Dad, Poor Dad karya Robert T. Kiyosaki di SMA. Setelah membaca buku tersebut aku merasa bersyukur dan beruntung bahwa aku memiliki ayah seperti ayahku. 

Post Financial Wisdom from Us kubuat sebab kuingin membagikan beberapa financial wisdom yang suda kudapatkan, mungkin akan berguna, kalau pun nggak... at least you know what I’m thinking about financial thingy 😊. Sengaja nggak diberi nomor karena siapa tahu nanti financial wisdom-nya akan bertambah.

Here is mine...

Kata Mama: 
Jangan Lupa Bersedekah

Kutaruh ini urutan pertama sebab aku meyakini bahwa bahwa sedekah memiliki peranan dalam urusan rezeki. Aku juga meyakini bahwa Tuhan nggak akan pernah melihat nominalnya, yang terpenting adalah ketulusannya (dan kalau bisa sih konsisten).

Manfaat sedekah di pagi hari yang masih kuingat sampai sekarang. (pernah) dituturkan oleh guruku saat masih sekolah.
Yang pertama untuk menghapus dosa
Yang kedua untuk menghindarkan marabahaya
Yang ketiga untuk menjaga harta
Nah. Yang keempat aku lupa 😅 Maklum niya suda hampir 15 tahun yang lalu.

Dalam perjalananannya, aku menemukan bahwa selalu ada rezeki orang lain yang terkandung dalam rezeki yang kita dapatkan. Rezekinya Kang Cilok, Teteh Seblak, Kang Cakue, Teteh Lotek, Kang Lumpia Basah, Uni Nasi Padang, Mas Gudeg, Cici Juice dan kawan-kawannya. Eh. Yang ini mah plot twist ya 😁.

Kata Ayah: 
Menabunglah!

Sedari kecil orang tuaku rajin mengingatkanku untuk menabung, aku sih manut-manut aja maklum laya duniaku masih berpusat pada orang tuaku. Saat itu motivasi menabungku adalah untuk menyenangkan orang tua dan menjadi orang kaya. Richie Rich panutanque ✨👌🏻.

Sampai suatu hari aku mengalami kejadian yang merubah point of view-ku tentang menabung. Suatu hari aku main ke rumah salah seorang teman, ia tinggal di tengah ladang seperti yang sering kita lihat di sisi jalan tol. Orang tuanya adalah pekerja ladang dan mereka tinggal di rumah kayu berlaskan tanah, dengan furniture dan sanitasi seadanya.

Kali berikutnya aku kembali main kesana adalah sebagai penunjuk jalan bagi kepala sekolahku yang bingung kenapa temanku nggak mengambil ijazahnya. Ibunya menjelaskan bahwa anaknya tidak memerlukan ijazah karena toh selepas SD ia akan memebantunya bekerja di ladang 🥺.

Di perjalanan pulang aku berpikir, jangankan untuk main atau membeli ini itu, untuk hidup sehari-hari pun mereka kesulitan. Dibandingkan dengan temanku (yang akhirnya mengambil ijazahnya  😊) tentunya aku lebih beruntung. Kebutuhan hidup dasarku yakni papan, sandang dan papan sudah terpenuhi dengan sangat baik.

Lalu apalagi?
Otentcu... menabunglah! Apalagi yang bisa ku lakukan selain menabung?! 😅.

Sejak saat itu aku melihat menabung bukan hanya sebagai upaya untuk mempersiapkan masa depan namun lebih sebagai barometer kesejahteraan. Hampir semua orang bisa punya uang, namun nggak semua orang bisa menabung. Bagiku menabung adalah salah satu cara(ku) untuk mensyukuri kehidupan.

Indah banget ya idealisme masa kecilku... Kini aku menabung demi keberlangsungan hidup 😁.

Kata Ayah: 
Rencanakan Masa Depan (mu)

Kalau Aditya Mulya punya Sabtu bersama Bapak, aku (dan Widy) punya Minggu bersama Ayah. Di hari Minggu kalau nggak bepergian atau ada acara, biasanya kita ngobrol dengan ayah di teras. Obrolannya nggak jauh-jauh dari “Mbak dan Widy kalau sudah besar ingin jadi apa?” yang tentunya kita jawab dengan sotoy dan seadanya. Kalau kutanya “emang kenapa yah nanya kaya gitu?” ayah menjawab “biar nanti dipersiapkan”.

Saat itu kupikir jawaban “biar nanti dipersiapkan” bukanlah ranah berpikirku, jadi yasudahlah... aku pun nggak terlalu memikirkan, barulah saat dewasa ini aku mengerti apa maksud dari “biar nanti dipersiapkan” ternyata beurat guise... 😅.

Mau tahu apa cita-citaku? Maaf niya kalau norak haha 😋 Saat kecil cita-citaku bukanlah menjadi dokter, presiden atau artis, melainkan... punya salon. Sayangnya cita-citaku gugur gegara mamaku bilang punya salon bukanlah pekerjaan yang serius. Maksudnya, aku harus punya pekerjaan (inti) yang serius, sedangkan salon adalah usaha sampingan. Bener juga siya kalau dipikir-pikir 🤭.

Aku ingin punya salon karena bagiku salon adalah magical place yang bisa mengubah orang biasa menjadi woowww keren... 😍 Mamaku memiliki kebiasaan untuk pergi ke salon setiap kali ada acara Dharma Wanita demi efisiensi waktu. Melihat hairdresser bikin sanggul, mainin palet eyeshadow dan punya banyak stok kebaya membuatku berpikir... asik juga nih kayanya punya salon 😎.

Kata Ayah: 
Berinvestasilah Pada Aset Terbaik

Dibandingkan dengan dulu kupikir saat ini kita lebih banyak diarahkan ke arah investasi (apapun bentuknya ya) ketimbang manajerial keuangan. Hampir setiap hari tab explore IG-ku menampilkan konten yang intinya; ketimbang jajan bobba atau kopi indie lebih baik berinvestasi ✨👌🏻. Semakin banyak investasi semakin banyak aset yang dimiliki, kurang lebih begitulah narasinya.

Berbanding terbalik denganku, orang tuaku lebih banyak mengajari tentang manajerial ketimbang investasi. Simple aja siya karena saat itu berinvestasi nggak semudah saat ini, kalau pun ada belum bisa menjangkau para #sobataverage 😁.

Untuk aset ayah sering bilang bahwa aset terbaik adalah manusia itu sendiri, maka berinvestasilah pada pendidikan, buku-buku, seminar dan (saat ini) kuota. OK sip ✔️. Sedang untuk aset fisik ayah lebih menyarankan tanah dan properti karena nilainya terus bertambah, nggak menyarankan aset liquid macem emas karena tahu aku sering lupa menyimpan barang 😅. Oh ya, jangan pernah menganggap kendaraan dan gadget sebagai aset karena nilainya akan berkurang.

Tapi pernah niya aku ditanya “Kalau sudah besar mbak ingin punya aset apa?” Hohoho tentcunya kujawab dengan “ingin punya villa” 🤣. Saat itu aku baru selesai belajar IPS mengenai 3 jenis kebutuhan hidup, yakni kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Nah, yang kutahu villa termasuk kebutuhan tersier, kupikir kalau kebutuhan hidupku suda mencapai kebutuhan tersier artinya kebutuhan primer dan sekunderku suda terpenuhi hahaha 🤣🤣🤣.

Kata ayah: 
Kewajiban & Hak

Dahulukan membayar kewajiban baru kemudian mengambil hak, jangan kebalik ya. Salah satu hal yang diajarkan di sekolah diimplementasikan dengan baik di rumah adalah urusan tentang kewajiban dan hak, disimulasikan dengan sederhana melalui arisan keluarga.

Setiap harinya (senin sampai sabtu) kita menyisihkan Rp 100 per orang untuk arisan, untukku dan Widy sejujurnya urusan arisan ini agak mengganggu flow jajan sehari-hari makanya kadang suka nggak rela 😁 Menariknya, saat menang arisan kita senang nggak ada duwa. Arisan keluarga ini hanya berlangsung 2 putaran ya karena aku marah-marah mulu karena selalu menang di akhir. Takut pada nggak bayar guise... maklum masih amatir hehe 😅.

Tapi gegara arisan ini aku jadi lebih concern dengan urusan kewajiban dan hak, jadi setiap kali mendapatkan uang saku aku akan lebih dulu menyelesaikan kewajibanku macem bayar kas kelas dan membeli keperluan sekolah, kemudian budgeting, baru sisanya dipake jajan-jajan nggak jelas ❤️. 

Kata ayah: 
Cash Semampunya, Cicil Seperlunya  

Ada 2 hal yang boleh dicicil, yang pertama adalah properti dan yang kedua adalah kendaraan. Oh ya, jangan pernah membeli barang yang mampu dibayar secara cash dengan cara dicicil, karena jatuhnya jadi lebih mahal, hal ini berlaku untuk semua hal kecuali properti dan kendaraan, terutama gadget dan fashion. Kalau nggak sanggup membelinya secara cash berarti aku mesti menabung, kalau nggak sanggup menabung berarti bukan untukku. 

Yha! Intinya mah, aku disuruh rajin menabung 😌.

Kata Ayah: 
Hidup Itu Mesti Seimbang

Sudah bisa ditebak ya zodiaknya adalah Libra ⚖️ 😆.

Kalau hari ini kita berbelanja di mall, bisa jadi hari yang akan datang kita berbelanja di pasar. Kalau hari ini kita makan di resto, bisa jadi hari yang akan datang kita makan di warung makan. kalau hari ini kita jalan-jalan ke luar kota, bisa jadi hari yang akan datang kita jalan kaki keliling kompleks. Yha~ hidup itu mesti seimbang. Sesuai budget ✨👌🏻.

Kata Mbak: 
Uang Bukan Segalanya, Tapi Segalanya Akan Lebih Mudah Kalau Ada Uang, Itu Memang Benar. Tapi Aku Juga Nggak Akan Mati Hanya Karena Nggak Punya Uang

Mesti diakui bahwa financial wisdom yang kudapat semasa hidup ini memiliki peranan yang penting dalam (hidupku), aku bahkan memiliki tujuan finansialku sejak SMA. Yap. Apalagi kalau bukan financial stability 😎. Bayangan (atau angan-angan) mengenai financial stability membuatku memilih jurusan kuliah yang mengarahkanku pada profesi non-PNS atas dasar biar-cepet-balik-modal 😁. 

Quarter life crisis yang kualami membuatku mempertanyakan lagi apakah financial stability masih menjadi tujuanku? Aku mulai merasa bahwa financial stability is not sexy anymore, at least for me... Aku menginginkan sesuatu yang lain, yang mampu mengisi kekosongan di hati dan membuatku kembali hidup. Disini jelas ya financial stability  tercoret dari list-ku 😔.

Yang kulakukan selanjutnya adalah resign dari pekerjaan dan menghabiskan uang tabungan, hanya menyisakan saldo untuk auto debit DPLK dan BPJS kelas 1 selama 1 tahun. Kupikir hiatusku hanya 1 tahun, nyatanya malah molor sampai 3 tahun, gimana coba? Haha  😅 Kadang aku menyesali kegoblokan ini, apalagi kalau lagi bokek 😆.

I don’t have any idea about lyfe, tapi selama 3 tahun hiatus belum pernah sehari pun aku kekurangan (kalau merujuk pada 3 kebutuhan dasar manusia yakni papan, sandang dan pangan). Mungkin ini hidayah, namun aku mulai menyadari bahwa rezeki nggak selalu berbentuk fisik (uang). Kesehatan, kebaikan dan kebahagian hanyalah sebagian rezeki yang sebelumnya lupa kusadari 😇. 

Uang bukan segalanya, tapi segalanya akan lebih mudah kalau ada uang, itu memang benar. Tapi aku juga nggak akan mati hanya karena nggak punya uang.

Kata Mbak: 
Well Prepared Lebih Okcey

Honestly, aku sih okcey-okcey aja dengan hal yang bersifat spontan (selama masih bisa tertangani), tapi kalau boleh memilih aku lebih suka kalau semuanya well prepared, karena kupikir hal-hal tertentu akan lebih mudah dikendalikan ketika sudah siap. Salah satunya adalah tabungan tugas, well... bukan hanya kuliah yang butuh biaya, tugas juga, mana nggak bisa ditunda 🥺. 

Saat kuliah tingkat 2 akhir aku mulai mempersiapkan tabungan tugas. Berkaca dari pengalaman 2 tingkat awal biaya tugas adalah hal terduga yang seringnya bikin kelabakan. Kalau dihitung kasar, biaya kos dan biaya tugas per semesternya nggak jauh berbeda (tergantung project yang dikerjakan). Aku memutuskan untuk menabung karena sadar nggak begitu lihai mengelola selisih BDATM 😌. 

Aku membagi tabungan tugasku menjadi 2 bagian yakni tabungan tugas semester dan tabungan TA. Tabungan tugas semester digunakan untuk membiayai semua tugas UTS dan UAS, aku menargetkan sekitar Rp 500.000 – Rp 1.000.000 per semesternya. Sedang tabungan TA (yang rencananya) digunakan untuk membiayai TA-ku, karena masih belum jelas mau ngambil project apa aku menargetkan sekitar Rp 3.500.000 – Rp 5.000.000.  

Untuk mencapai target tabunganku aku menyisihkannya dari uang bulanan, petty cash, THR atau korupsi performance budget (macem pakaian, sepatu, tas atau sekedar makan diluar). Betul apa kata sampul buku cokelat zaman SD dulu; sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit. Yuyur, aku merasa aman saat target tabunganku tercapai, karenanya aku bisa lebih fokus mengerjakan tugas yang bikin stress.

Kata Widy & Icung: 
Jangan Lupa Menikmati Hidup

No caption needed  😊.

Sekian financial wisdom from us, jangan merasa berkecil hati  apalagi galau karena setiap orang (nantinya) akan menemukan financial wisdom-nya sendiri. Kalau ingin mempelajari lebih jauh tentang urusan finansial nggak usah pusing karena saat ini suda banyak akun finplan yang rajin share tips dan mengadakan webinar berkala. Bebas...

Tapi kalau boleh aku menyarankan, financial wisdom terbaik datang dari inner circle, mereka yang dekat dan faham kecenderungan dan kebiasaan finansial kita sehari-hari. Jadi bisa niya luangkan waktu untuk ngobrol dengan orang tua, kakak atau adik, kakek dan nenek (kalau masih ada), para uwak, paman dan bibi, serta kawan terchayang. Mungkin aja nanti ada insight yang nyangkut hehe

Jangan lupa, menabung pangkal kaya.
Lestari

You May Also Like

0 comments

Feel free to leave some feedback after, also don't hesitate to poke me through any social media where we are connected. Have a nice day everyone~