Antologi Rasa

by - February 24, 2019

Udah akhir Februari aja nih ... berasa Januari kemarin Cuma teaser tahun 2019 😂😂😂

Di bulan Februari ini ada beberapa film yang rilis, salah satu yang menarik minatku adalah Antologi Rasa yang diadaptasi dari novelnya Ika Natassa. FYI Antologi Rasa adalah novel Ika Natassa pertama yang kubaca dan yha~ membuatku jatuh hati seketika, nggak perlulah kujelaskan mengapa sebab kuyakin kalian pun akan jatuh hati saat membaca novelnya ❤❤❤.

Tentcunya aku pun membaca novel Ika Natassa yang lain, berharap akan menemukan plot-plot yang katakanlah ... ngeri-ngeri sedap haha Dan diantara semua novel Ika Natassa, Antologi Rasa ini memang yang paling matang dari segi penceritaan dan karakter, oh ya ... jangan lupakan quote-qoute-nya yang juwara.

Err ... Bukan berarti novel Ika Natassa yang lain nggak bagus ya ... Cuma yang paling kusuka adalah Antologi Rasa.

Sebelum Antologi Rasa, Critical Eleven dan Architecture of Love sudah lebih dulu difilmkan, aku nggak nonton sebab memang kurang tertarik dan review-nya kurang asyik, jadilah aku menunggu film Antologi Rasa ini. Sebagai pembaca novelnya tentu aku (kita) memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap film Antologi Rasa ...

Gimana nggak ngarep ya, fans service-nya cociks sih hehe Ada masanya dimana kita betah menyimak akun Twitter @harrisrisjad dan @kearatedjakusuma saling berbalas mention (yang juga auto-RT), terbaper-baper ingin ikutan, tapi kemudian sadar ... mau siapapun yang di-mention yang membalas adalah Ika Natassa *ehe.

BTW aku #teamharris yaw ... kamu #teamharris juga atau #teamrully?

Setelah sempat gonta-ganti cast akhirnya official poster fim Antologi rasa rilis juga, agak kecewa sebenarnya dengan pemilihan tagline-nya. Kupikir tagline bagi yang sudah menemukan namun tak bisa memiliki kurang terasa esensi Antologi Rasa-nya, lebih cocok the more you make me suffer the more I find I love you ... eh tapi balik lagi sih ya, ini kan film bukan novel.

Karana universe-nya Ika Natassa ini sambung menyambung menjadi satu, maka ada beberapa karakter yang udah nyolong start tampil duluan di film Critical Eleven. Yap. Beliau adalah si tengil Raefal Hady. Kupikir Raefal Hady ini adalah sebenar-benarnya visualisasi Harris Risjad. Oke sip. Lalu ada Anggika Bostrelli yang direncanakan akan berperan sebagai Keara. Oke sip juga ini.

Setelah gembor-gembor sana sini eh ternyata ... cast-nya diganti tcoy! Aduh ... udah terlanjur naksir nih, gimana dong? Heu ...

Minatku lantas susut.

Lha terus kenapa nonton?
Penasaran.
Dan ingin membuktikan kebenaran review yang diRT Ika Natassa haha

Menurut prediksi Icunk, film Antologi Rasa ini nggak akan lama di Ubertos secara XXI-nya nurut banget sama market. Makanya mesti cepat-cepat ditonton sebelum keburu turun layar.

Harris Risjad (Herjunot Ali), Keara Tedjakusuma (Carissa Peruset), Rully Walantaga (Raefal Hady) dan Denisse adalah 4 sekawan yang ... udahlah ... langsung ke kesimpulan aja ya haha

Kalau ditanya worth to watch nggak Antologi Rasa ini? Kupikir itu tergantung, kalau belum pernah membaca bukunya bolehlah nonton toh bahkan secara garis besar pun filmnya nggak satu nyawa dengan bukunya, tapi kalau sudah pernah membaca bukunya ... hmm ... don’t expect too high.

Diulang lagi ya ...

Don’t expect to high because it wasn’t that high.

Sepanjang film diputar yang ada aku malah cengo mikirin “jirr ... apaan nih ... Rp 35.000ku terbuang siya-siya” Belum pernah merasa sekesal ini pulang dari bioskop ... Jadi mon maap ya wahai #sobatmisquen kalau sekedar penasaran mah mending di-hold dulu nontonnya, Rp 35.000 bisa sangat berarti di tanggal tuwa macem sekarang.

Di awal film ku merasa Junot trying so hard to get Keara menjadi Harris Risjad, banyak tingkah dan banyak bacot, tapi baiknya Junot akhirnya mampu menempatkan dirinya berada pada level yang pas sebagai Harris Risjad. Satu-satunya yang mengusikku malah kumisnya yang macem lele, KZL dah ini.

Kita pasti mengakui Carissa ini cakepnya pake banget, secara visual cocoklah berperan sebagai Keara yang gemar pake high end brand (+ kata Icunk kakinya bagus). Kekurangannya cuma satu, expressionless. Setiap kali galau jidatnya dibuat kerang kerung  jadi kesannya nggak natural (padahal emang acting) dan ekspresi nangisnya jele’ terutama scene di dalam mobil.

Selain itu yang cukup mengganggu (selain fakta Carissa cakepnya pake banget) adalah intonasi pelafalan dialognya, pada beberapa scene Carissa memecah kalimat yang agak panjang menjadi beberapa bagian dan bagiku ini genggeus. Yha~ mungkin tarikan nafas doi memang kurang panjang ... jelas, bukan kriteria murid favorite-nya Pak Babam.

Sedangkan Raefal Hady ini terkesan kurang penting ya, setiap kali Raefal ngomong aku mesti berkali-kali menghela nafas dan mengelus dada “naon sih ieu si Rully, geje deh ...”. Tak ketinggalan Denisse yang hadir sebagai pemanis belaka, yang toh tanpa kehadirannya pun film akan tetap berjalan.

Sayang Dinda (Angel Pieters) hadirnya sekejap, padahal Dinda seharusnya cukup berperan dalam hubungan Keara dan Panji. Permisi ... Panji adalah Manusia Millenium haha *apeu Panji ini adalah iparnya Dinda sekaligus pacar pengalihannya Keara yang mendominasi hampir setengah buku Antologi Rasa.

Di pertengahan film kita mulai menyadari kenapa Junot mesti trying so hard, yap, karena cuma Junot yang berusaha untuk melebur dan berkemistri dengan lawan mainnya. Serius nanya nih, MANA KEMISTRINYA? MANA? AAA ... AA ... A *pake echo. Kita tungguin sampai kelar ternyata emang nggak ada.

Nggak ada kemistrinya ini levelnya macem dimasukin WAG tanpa kenal satu sama lain, canggung dan terbata-bata. Junot kemana, Carissa kemana, Raefal apalagi. Hambar. Apalah artinya kissing scene yang di-zoom maksimal kalau kemistrinya nggak ada sama sekali ... Lelah hamba ... ingin rasanya cabs tapinya nggak jadi karena inget Rp 35.000ku ada di mereka.

Kalau biasanya OST diputus dengan smooth pada peralihan scene, di film Antologi Rasa mah nggak berlaku ya, cara OST diputus mirip kita kalau lagi mainin volume TV, digedein-dikecilin-digedein-dikecilin-digedein-dikecilin begitu sampe selesai jadi jatuhnya nggak smooth dan genggeus.

FYI. Suara OST-nya lebih kencang ketimbang suara dialog antar cast-nya, cukup mengganggu karena kita jadi nggak fokus mendengarkan cast-nya berdialog.

Namun mesti diakui film Antologi Rasa ini memiliki gambar yang menawan dan HD, kita bahkan bisa melihat wajahnya Carissa di-zoom sampai kelihatan bulu halus di pipinya yang mulus. Nyatanya gambar yang menawan dan HD tak cukup untuk memuaskan dahaga penonton yang haus cerita berbobot dan berbelit rumit macem benang kusut.

Kalau dideskripsikan dalam 3 kata, film Antologi Rasa ini ... dangkal, hambar dan geje. Berbeda jauh dengan novelnya yang pernah mengaduk-aduk perasaan ciwik-ciwik di masa kuliahku dulu. Yha~ Antologi Rasa terasa hanya mentok sebatas judul belaka.

Mon maap nih mb Ika Natassa, novel Antologi Rasa-mu memang bagus (dan aku suka) namun gagal diadaptasikan ke film. Mungkin nanti bisa dicoba format web series macem Sore, Istri dari Masa Depan atau serial televisi yang tayang di Net TV. Kalau nggak sreg dengan episode pertama kan bisa dicoba nonton episode keduanya, siapa tahu berubah persepsinya.

Kali ini, bukan cuma kisah cinta Keara yang berantakan, kisah nontonku juga berantakan ...

You May Also Like

0 comments

Feel free to leave some feedback after, also don't hesitate to poke me through any social media where we are connected. Have a nice day everyone~