The Life-Changing Magic of Tidying Up-nya Marie Kondo

by - December 21, 2018



Beberapa waktu yang lalu metode berbenah ala Marie Kondo atau Kon-Mari sempat hype ya, scroll dikit ketemunya Marie Kondo lagi Marie Kondo lagi *eh tergantung apa yang di follow sih 😉 Setelah berbulan-bulan gamang memikirkan “perlu beli bukunya apa nggak?”  akhirnya aku malah nggak sengaja membelinya sebab bukunya di-display di samping jalur antrian meja kasir 😝

Pengertian banget lah ini Gramedia, pengunjung yang mati gaya saat mengantri memang cenderung menjadi impulshopper 😏.

Ternyata butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan buku the life changing magic of tidying up ini, ironisnya bukan karena bukunya terlalu tebal atau karena bukunya belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia ya namun karena terlanjur bosan 😂😂😂. Style penceritaan Marie Kondo yang naratif deskriptif tanpa ada ilustrasi atau footage picture membuatku mudah mengantuk saat membacanya, makanya agak sulit untuk menyelesaikannya.

Selain itu, (kalau dilihat dari style penceritannya) kadang aku merasa kepribadian Marie Kondo ini agak kaku ... macem kanebo kering 🙇.

Pada intinya, Mari Kondo mengajak kita untuk mengadopsi gaya hidup minimalis, hal yang cukup sulit menurutku, sebab kultur horror vacui sudah mendarah daging di keseharian orang Indonesia (atau Asia secara garis besar). Kalau gaya hidup minimalis adalah menggunakan barang-barang yang diperlukan (seperlunya) maka horror vacui adalah ketakutan akan bidang (space) kosong. Nah lo ... gimana? Puyeng kan? 😏

So, gimana caranya kita bisa hidup minimalis tanpa harus merasa hampa?

First of all ... Bacalah the life changing magic of tidying up ini 😋

Kita (akan) diajak untuk membaca pengalaman Marie Kondo menghadapi klien-kliennya, yang menurutku levelnya masih byasa-byasa dibandingkan dengan kita (Indo) yang meskipun rumahnya berkonsep minimalis printilannya banyak banget. FYI. Saking tenarnya, kelas Marie Kondo ini selalu full booked bahkan untuk waiting list-nya mesti waiting list. Eddins ... sekali bukan? 💃

Buku the life changing magic of tidying up ini terdiri dari 5 bab, yakni:
  1. Kenapa kita tidak bisa menjaga kerapian rumah
  2. Membuang sampai tuntas terlebih dahulu
  3. Berbenah berdasarkan katagori
  4. Mencerahkan hidup dan menyimpannya secara apik
  5. Keajaiban berbenah mengubah hidup anda secara dramatis


Pada dasarnya aku memang senang berbenah, aku senang melihat semua hal serba teratur dan teroganisir, namun masih belum punya cukup nyali untuk menyingkirkan barang-barang atas dasar ‘masih sayang’ 💋. Saat membaca the life changing magic of tidying up ini aku merasa agak tercerahkan sebab Marie Kondo berhasil memetakan permasalahan hidupku berbenahku.

Masalah-masalah berbenah yang (ternyata sering) muncul di kehidupan nyata(ku):

Dibuang sayang disimpan nggak mau
Kupikir siapapun pasti sering melakukan hal ini yhaha, biasanya berupa barang-barang kurang penting namun memorable yang masih tetap disimpan hanya demi mengamankan memory (yakeles memory card) Haha 😂
Selain pakaian, barang yang masih sering kusimpan meski nggak butuh adalah hangtag, jurnal, catatan-catatan kecil, struk belanjaan, booklet dan brosur tempat wisata, stationary, tiket dan printilan kiyut lainnya. Pokoknya hal-hal nggak penting semua deh ini.

Ini punya siapa sih?
Sering terjadi ... dianggap melangkahi privasi orang lain sebab membuang barang tanpa izin, yagimana dong beres-beres (barang) sendiri nggak pada mau tapinya menuntut rumah selalu rapi. Piye? 😪
Seperti Marie Kondo di masa belia, aku selalu menyingkirkan barang-barang nirfaedah bukan milikku saat yang empunya nggak ada haha Kupikir ini adalah langkah tertepat sebab (bagiku) yang empunya nggak bertanggung jawab dengan barang miliknya, kalau bertanggung jawab tentunya akan dirawat. So ... bukan sepenuhnya salahku kan? Ehehe 😏

Masa oleh-oleh dibuang ...
Kupikir ini adalah permasalahan hampir setiap orang, nggak mau menyingkirkan oleh-oleh (selain makanan) sebab nggak enak kalau ketahuan sama yang ngasih, ntarnya takut nggak dikasih lagi ... elahh ... haha 😂😂😂
Aku sering dimarahi karena menyingkirkan oleh-oleh sebab dianggap ‘kurang sopan’, eym ... bukannya nggak menghargai, namun aku memang nggak terlalu suka memajang souvenir atau dekorasi jadi biasanya oleh-oleh tersebut mangkrak di dalam kotak atau laci selama bertahun-tahun.

Gimana kalau nanti butuh?
Percayalah, kalau terus-terusan berfikir seperti ini sampai kapan pun gaya hidup minimalis hanyalah angan-angan belaka 😭. Kita boleh berfikir jauh ke depan namun mesti diingat juga nggak semua barang layak disimpan, entah itu karena penurunan kualitas atau trend yang akan berubah.
Barang yang sering kuperlakukan seperti ini adalah printilan rumah tangga macem cangkir atau piring yang sebenarnya nyebelin karena udah pada nggak matching. Bukannya nggak mau menyingkirkan ya ... hanya saja kadang merasa khawatir mendadak butuh.

Ambil aja gih!
Pernah nggak sih merasa ingin menyingkirkan namun nggak mau kehilangan ... maruk banget laini yhaha ... 😊 Aku sering merasa begini, makanya aku (sebenarnya) lebih suka melungsurkan barang ketimbang menyingkirkannya.
Sebelum menyingkirkan barang biasanya aku akan mengumpulkannya ke dalam kotak atau lemari khusus, siapapun yang menginginkannya boleh mengambilnya (semuanya kalau bisa) barulah sisanya aku singkirkan. Satu hal yang nggak aku sadari adalah apakah barang lungsuran tersebut berfaedah atau malah menambah masalah bagi empu barunya mwehehe 😏

Menurutku metode menyingkirkan barang ala Kon-Mari ini termasuk metode tanpa welas asih yha~ 😏 Awalnya aku juga merasa nggak tega berpisah dengan barang yang sudah melekat di keseharian, tapi Marie Kondo memang membuatku memilih ... Kupikir ‘seni menyingkirkan’ lebih cocok ketimbang ‘seni berbenah’ yang menjadi trade mark-nya Marie Kondo ini haha 😂😂😂

Semuanya disingkirkan mah atuh euy ... Hampa! 💤

Untungnya Marie Kondo sedikit peka dengan kekhawatiranku akan konsep kehampaan, pada akhirnya ia pun mengakui bahwa metodenya nggak selalu berhasil dan memperbaharuinya. Marie Kondo menyadari bahwa setiap barang memiliki nyawa, sehingga setiap barang yang disimpan haruslah memberikan kebahagiaan bagi pemiliknya. Makanya kemudian doi menulis buku berjudul The Sparks of Joy (*yang masih dipertimbangkan mau beli apa nggak).

Setelah menyingkirkan barang-barang dengan mengikuti metode berbenah ala Kon-Mari ini aku merasa lebih fresh dan ringan ... haha 😁 Pantesan ya di film-film kalau putus dengan pacar pasti pada langsung lari ke kamar, menangis semalam suntuk sambil menyobek-nyobek photobox, meng-unfollow akunnya dan membuang barang-barang peninggalannya, ternyata memang lebih melegakan dan mempermudah move on ... 💗

Tau gini yha~ 😏

Kita nggak mesti mengikuti metodenya Marie Kondo secara tumplek plek kok, yang penting kita faham dulu apa intisari dari berbenah ini. Kalau sudah faham barulah diaplikasikan, sebab nggak semua orang memiliki kemampuan dan kondisi psikologis yang sama dalam hal berbenah. Dan yang terpenting, jangan mudah tergoda untuk kembali mengisi ruang yang sudah berhasil dibenahi dengan printilan-printilan nggak penting lainnya hehe

Saat membaca buku the life changing magic of tidying up aku merasa ‘dekat’ dengan sosok Marie Kondo, mungkin karena sama-sama senang berbenah. Track record berbenahku pun nggak jauh berbeda. Yaps! Aku melakukan apa yang Marie Kondo lakukan sedari belia, makanya urusan melipat baju, mengorganisir barang atau menata ruangan bukanlah hal yang sulit untukku. Yang sulit justru mengikhlaskan barang-barang tersebut untuk disingkirkan.

Kalau orang lain membeli buku the life changing magic of tidying up ini sebab penasaran dengan metode berbenah ala Kon-Mari, aku malah penasaran dengan cara Marie Kondo menyeleleksi barang yang akan disingkirkan sekaligus ingin mengecek: sudah benarkah berbenahku ini?

Alhamdulillah~

Khatam 👌

By far, meski membacanya membuatku mengantuk buku the life changing magic of tidying up ini adalah salah buku terbaik tentang berbenah. So, bagi kalyan-kalyan sekalyan yang senang atau berminat dengan berbenah serta tertarik dengan konsep gaya hidup minimalis bukunya Marie Kondo ini highly recommend yaw!



XOXO
Marie Konon ❤

You May Also Like

0 comments

Feel free to leave some feedback after, also don't hesitate to poke me through any social media where we are connected. Have a nice day everyone~