The GIft-nya Hanung

by - July 10, 2018


The Gift memberikan pengalaman menonton yang cukup berbeda, gimana aja judulnya, berasa dikasih hadiah sama Mas Hanung 😍 *ehe. Banyak yang bilang kalau The Gift adalah hadiah darinya karena telah diberi kebebasan untuk berkarya dengan gayanya sendiri dan tak sedikit juga yang berkomentar kalau The Gift adalah proyek balas dendam setelah sukses ‘dikerjain’ film-film pesenan.

Seperti biasa ...
Aku sih yes πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Sejak Ayat-ayat Cinta 1, ku merasa idealismenya Mas Hanung buyar perlahan-lahan, mungkin karena kebanyakan terima order film kali ya jadinya kurang fokus. Salah satu karya terbaiknya adalah Catatan Akhir Sekolah (CAS) yang dirilis saat aku masih SMA, berasa sezaman aja gitu dengan Vino dan Marcell πŸ˜‚ Long shot di opening scene-nya kewren gilak dan OST-nya yaitu I Remember-Mocca pernah ditahbiskan sebagai lagu termanits sepanjang sejarah perfilm-remajaan versiku ... dulu 😘.

Begitupun dengan Perempuan Berkalung Sorban, Hanung membagikan pemikirannya tentang kritik sosial dan moral di lika liku kehidupan pesantren, bagus kok filmnya πŸ–. Hubungan keterikatan batin antara Hanung dengan tempat kelahirannya membuat Yogyakarta hampir selalu menjadi setting filmnya, nggak semua ya ... sebagian besar, maka tak usah heran jika Hanung  akhirnya membuat film Sang Pencerah, biopic-nya bapake Muhammadiyah.

Keseriusan Hanung dalam menggarap film The Gift ini kulihat tersirat pada official poster-nya yang menampilkan wajah Reza Rahadian dan Ayushita bagai pinang di belah 2. Yang secara nggak langsung kasih statement tentang kejelasan hubungan mereka yang lebih utuh dibandingan hubungan gambar dibawahnya 😏 ehe. Trailer-nya yang ditayangkan sebelum Deadpool 2 ini sangat menggoda imajinasi, membuatku dan Icunk langsung janjian nonton The Gift.

The Gift adalah film Indonesia kedua yang ku tonton di bioskop tahun ini, yang pertama ... tentcu adalah Dilan 1990 yang sepikannya bikin giung seluruh social media timeline netyzen se-Indonesia. Nonton kali ini, ada Lisna diantara kita *elahh haha 😊 Mungkin karena masih jam-jamnya berbuka, studio nggak terlalu rame dan ... yang paling penting nih ya, nggak ada anak-anak πŸ’–πŸ’–πŸ’–

Berbahagialah kalian wahai social media philanthropic, penikmat senja, star gazer, petrichorian, hujan seharian, tetesan embun pagi dan entah apalagi, The Gift adalah film yang sekiranya cocok untuk genre kalyan sekalyan ... Dialog-dialog yang kalau kata Rei mah ‘ngena di hati’ niscaya akan membangkitkan jiwa-jiwa melankolia yang sudah terkubur recehan Twitter πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Premis cerita tentang korelasi antara: penulis yang mandeg  ide – pergi menyepi ke Yogyakarta – bertemu dengan cowok rese – yang ternyata adalah pemilik suatu usaha sudah banyak digunakan untuk FTV yang judulnya so ... clickbait. Tapi yha~ ini Hanung lohh 😚 ... mood-nya lagi OK πŸ‘Œ ... imajinasinya meletup-letup πŸ’—, children fruit-nya mangats πŸ“£dan ... kesempatan yang datang menghampiri ✯. Taa ... Daa ... Jadilah The Gift! πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Yang paling kusuka dari The Gift adalah sinematografinya yang memanjakan mata, filter tone yang digunakan benar-benar menggugah dan aesthetic, gimana aja lagi scrolling up / down feed-nya para  influencer sekalian. Uncchhh ... Gemay deh ah πŸ’! Meski ada beberapa scene yang pengambilan angle-nya agak kurang pas, mencong-mencong, semuanya akan auto termaafkan saat menonton filmnya sampai selesai.

Oh iya, pada sebagian scene khususnya scene pribadi karakter –karakter utamanya di-shoot dengan teknik camera handled jadi ya agak sedikit pusing. Ya meski sebenernya termasuk aesthetic sih ... Kadang aku malah merasa lagi nge-stalk filmnya haha Scene terbaik adalah scene di Kaliurang dan pantai-pantaiannya, ambience sinar matahari pagi dan deburan ombak yang menyapu kaki yang ‘ndelep di pasir basah terasa sampai di kursi penonton, kan jadi ingin liburan ... πŸ˜‰

Feel me ... πŸƒ

Semacam gitu kali ya ... haha πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Tiana (Ayushita Nugraha) adalah seorang penulis yang sedang mengalami creative writer block dan memutuskan untuk melarikan diri ke Yogyakarta demi menyelesaikan novelnya, ia menyewa kamar di rumahnya Harun (Reza Rahardian) yang menurutnya rese karena selera musiknya yang genggeus. Ya eyalaahhh ... siapa juga yang nggak kesyel kalau lagi kerja malem diganggu musik metal yang bikin kuping pekak πŸ˜“.

Sadar kelakuannya ganggu, besoknya Harun ini nyuruh simboknya untuk ngajak Tiana sarapan di rumahnya. Disinilah mbnya baru sadar kalau masnya nggak bisa lihat, tapi ya itu tadi ... gegara masih baper kejadian semalem yang ada mereka berdua malah adu sengak, podo aee ... πŸ’© Agak nggak biasa juga sih komposisi perkenalannya, udah mah ngobrolnya pake bahasa yang agak baku terus pada keukeuh mempertahankan ke-sok-sengakan-nya. Hadehh ... 😫

Itu kali pertama yha~ Kali kedua ... Raisa haha Selanjutnya Harun kasih satu pot bunga untuk Tiana sebagai permintaan maaf karena sarapannya nggak ngenakin, eh kemarin pada jadi makan nggak sih mereka? Patut ditiru nih ini, kalau ngasih bunga sekalian sama pot-potnya ya biar nanti kalau sudah layu bisa tumbuh lagi yang baru, nggak mesti nunggu kering dulu baru dibuang *elaahh

Harun yang eksistensinya misterius menarik minat Tiana secepat tebak-tebakan nggak jelas tapi berakhir dengan aktivitas meraba-raba nikmeh 😏.

Feel me ... πŸƒ

Feel me ... πŸƒ

Feel me ... πŸƒ

*repeat 😊



Hubungan mereka menjadi dekat sampai cukup pada alasan untuk mempercayakan kunci pintu yang menyekat ruang pribadi mereka, semacam metafor kode keberlangsungan suatu hubungan gitu kali ya haha. Eym ... Masing-masing saling memperkenalkan dunianya, scene gini-giniannya dibuat begitu indah dan artsy, terasa hangat di sanubari πŸ’–.

Harun yang kayanya dulu adalah anak seni rupa tapi suka nge-sketch sampai ngebela-belain buat patung dada Tiana dongs, bahkan iya-iya aja diajak latihan tari dan jalan-jalan ke Kaliurang. Mungkin Masnya terlalu cepat menyimpulkan ... karena ditengah-tengah kebahagian yang kalau kata Lala Bohang mah terlalu sementara untuk dirayakan muncul karakter pembanding dari masa lalu bernama Ari (Dion Wiyoko).

Kedatangan Ari yang tiba-tiba membuat Tiana gamang, bimbang memilih antara yang pake hati tapi kadang bikin sakit hati atau yang nggak kepikiran tapi menawarkan masa depan. Kalau nggak inget Harun lagi nganggur pasti aku milih doi πŸ˜‚ haha Tau sendirilah ... ini hati loh, bukan ruang tamu *ehe Tapi Tiana harus menghadapi masa lalunya dan membiarkan masa depan membawanya ... ke Italy.


Eh. Gimana? Gimana? *tanya penonton kepada Harun dalam hati.

...

Kosong πŸƒ

...

ASTAGFIRULLAH ALADZIMM !!!

Harun yang kecewa karena merasa dibohongi Tiana marah-marah di workshop, patung dada Tiana yang masih setengah jadi dilempar begitu aja, seakan-akan nggak pernah inget buatnya pake hati. Itu muka benyek tcoy! Serius deh ini ... Sayang aja udah setengah jadi ... Tinggal setengah hatinya lagi. #tips mending nungguin sampai jadi keras dulu adonan (patung)nya biar nanti pas dilempar bunyinya “braakkk!!!” nggak “bleekk”, jele’ aja kedengerannya.


Kupikir film ini akan diakhiri dengan keputusasaan Harun seperti yang diperlihatkan trailer-nya, padahal udah siap-siap aja nih mau mewek heuheu. Seperti FTV yang mudah ditebak alur ceritanya, mereka bertiga dipertemukan kembali di Italy, nah disini udah mulai males nontonnya ingin balik lagi ke Yogyakarta aja. Kenapa diantara sekian banyak orang di dunia ini ketemunya sama yang itu-itu aja?

Takdir πŸ˜”.
Okay, case closed.

Meski awalnya agak skeptis dengan ending-nya yang dikhawatirkan akan dieksekusi secara FTV juga, aku merasa ending The Gift yang Hanung berikan ini worthed ya. Udahlah ... nggak usah nuntut sekuel, nanti malah nggak asyik kaya AADC2, yang meski setelah sekian purnama Rangganya tetep kere dan Cinta mulu yang ngemodal.

Product placement-nya The Gift ini oke punya ya, nggak ganggu apalagi keliatan banget ngiklannya kaya sinetron-sinetron. Sayang nggak nonton sampai credits, padahal sebenernya sepanjang nonton kepo bertubi-tubi dengan make-up-nya Tiana, lipen setipnya nomor berapa sih mb? Gimana ya ngejelasinnya, meski gelap, meski terang, warnanya keluar. BTW, sepatunya Tiana di scene curhat di makam brand-nya apa ya? Kok keren sih 😍 ... 

Yawla, Tiana ... panutanqu 6(>.<)9


Keputusan Hanung untuk memberikan peran Harun kepada Reza Rahardian adalah keputusan yang tepat ya, karena sebosen-bosennya liat Reza di film-film komersil meski diakui bahwa Cuma Reza Rahardian yang bisa membawakan karakter Harun, seakan-akan peran tersebut memang dibuat khusus untuknya. Di media visit-nya The Gift, terselip komentar Bia “Alhamdulillah ... Mas Hanung telah kembali”, well ... bukan Cuma Hanung ya yang “telah kembali”, Reza Rahardian pun telah kembali ke haribaan kita semua.

Tadinya kupikir Tiana kecil diperankan oleh Romaria loh 😜 Seumur-umur nonton film yang ada Ayushita-nya, penampilannya sebagai Tiana di The Gift adalah pencapaian terbaik setelah Me VS High Heels. Memorable ... Sedang untuk Dion Wiyoko, nggak usah ditanya lah ya ... gimana kualitas aktingnya, apalagi kalau sudah pernah nonton serial Sore, Istri Dari Masa Depan.

Seperti yang kubilang di awal, The Gift memberikan pengalaman menonton yang cukup berbeda. Bukan Cuma sekedar nonton ngeliatin visualisasi imajinasi karya sutradara, script writer dan krunya belaka, tapi juga membuat kita mengolah kepekaan rasa yang tercipta dari visualisasinya, setiap detik scene-nya membuat kita me’rasa’ dan menggiring imajinasi sampai setara dengan standarnya Hanung. Duhh ... kuat ka beurat kieu ⌣

Salah satu epic quotes-nya adalah: aku buta, bukan mati rasa. Yha~ hahahahaha


Kalau ada waktu luang bolehlah nonton The Gift, karena selain hal-hal diatas film ini akan membuat kita ingin pergi mantai ... sekedar untuk menikmati. Oh, iya kalau gampang terharu jangan lupa siapin tissue, yakali ntar nggak kerasa tiba-tiba brebes mili

Next: kayanya Buffalo Boys, karena trailer-nya yang cociks + ada Hannah Al-Rasyid.

* All picture taken from here

You May Also Like

0 comments

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.