Aroma Karsa

by - 4.6.18


Seperti menonton, membaca adalah candu.

Berbeda dari buku-buku Mak Suri sebelumnya, buku Aroma Karsa ini dirilis dalam format digital dan bersambung, yang mana seakan mengingatkan kembali akan masa kejayaan cerita bersambung di majalah-majalah masa lalu. Meski suka buku-bukunya Mak Suri, kali ini aku memilih abstain ikutan PO digital Aroma Karsa, karena ... merasa tak kan sanggup untuk menunggu minggu demi minggu dengan rasa penasaran. Well ... nonton aja marathon, baca buku pun harus langsung ditamatin. Ya kan? πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™

Tentu saja awalnya aku tahu Mak Suri ini dari TV, trio-nya yang dinamai RSD (Rida Sita Dewi) pernah mengisi jam-jam pulang sekolahku dengan video klip Bening-nya, sangat menginspirasi untuk me-request payung transparan sebagai hadiah ulang tahun. Waktu berselang ... kemudian Dee Lestari hadir dengan Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, sebuah buku bertema sci-fi dengan cover yang (bagiku) begitu keren karena desainnya yang futuristik. Harap maklum ya pemirsa ... saat itu aku masih yesterday afternoon kid yang bacaannya masih seputaran Harry Potter 🎩 dan Goosebumps πŸ‘».

Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh adalah buku sci-fi  Indonesia pertamaku selain ensiklopedia bergambar, perkenalan yang lugas dengan Mak Suri. Berasa keren aja gitu setelah tamat baca bukunya hehe πŸ˜‚ Bahasannya yang diluar nalar dan prosa-prosanya yang asing namun terasa nyaman membuatku ‘dewasa’ seketika, membuatku yakin … she’s the one … haha πŸ˜‚ Nggak deng, membuatku yakin suatu saat nanti Dee Lestari akan menjadi salah satu penulis hebat kelak. Sayangnya, hal tersebut tidak dibarengi dengan visualisasi filmnya ... yang mana nggak memuaskan sama sekali ... 😫

Diantara buku-bukunya Mak Suri yang paling kusuka adalah seri Supernova, Perahu Kertas juga suka, Madre juga suka, tapi ku lebih cinta Elektra yang sakti ketimbang Kugy yang edgy. Nggak tahu deh kalau nanti sore ... haha πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Apapun tema bukunya, Mak Suri selalu tahu bagaimana caranya memanjakan pembaca dengan sensasi after taste yang begitu pekat. Jadi berasa makan kimchi-nya Mrs. Nam, nyobain Cuma seujung sendok doang tapi rasa pahang dari bawang putihnya masih ketinggalan sampai 2 hari kemudian.

Dibandingkan dengan Perahu Kertas yang membidik cinta kawula muda, Aroma Karsa lebih kompleks karena menghadirkan cinta yang bergerak dalam linimasa yang berbeda. Riset yang dilakukan Mak Suri untuk bukunya nggak tanggung-tanggung, ia menjelajahi hampir setiap sudut bukunya bahkan sebelum menuliskannya. FYI. Ilustrator Aroma Karsa adalah Hezky Kurniawan,  salah satu diantara sekian ilustrator yang gambarnya lumayan sering ku πŸ’˜ di IG.

Oh iya. Karena belum beli bukunya ku pinjem punyanya Icunk ... ternyata tebel yha~ ... πŸ˜

Secara garis besar Aroma Karsa adalah tentang indera penciuman manusia yang menyibak rahasia paling kelu dari Puspa Karsa, bunga ajaib yang konon mampu melengserkan seorang raja dari takhtanya. Untuk ukuran zaman sekarang cerita epik semacam Babad Tanah Jawa mungkin kurang populer, namun Mak Suri bisaan merangkulnya dan membawanya  ke masa kini. Konsep dunia paralel atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘dimensi lain’ acapkali menjadi bulan-bulan sebab dijadikan dagelan televisi, eym ... meski sebenarnya selalu ada sebagian dari diri kita yang mengakui bahwa ‘dimensi lain’ adalah bagian dari budaya.

Saat iseng scrolling down di media visit-nya Aroma Karsa, terselip komentar yang kurang lebih begini; “wah ... jadi keingatan buku Perfume: Story of A Murderer (karya Patrick SΓΌskind)” Jangankan dikau, pikiranku pun langsung melayang kesana hehe. Keduanya sama-sama membahas tentang aroma dan keberfaedahannya dalam bisnis perfume, Perfume: Story of A Murder berfokus pada usaha Grenouille mengekstraksi aroma perawan, Aroma Karsa berfokus pada usaha menemukan indung bibit, namun lagi-lagi keduanya diyakini sanggup membuat orang hilang akal πŸ’£.

Mungkin karena belum banyak buku yang membahas tentang indera penciuman jadinya langsung dibandingkan head-to-head, nggak salah sih ... karena memang sejauh ini buku tentang aroma terpopuler adalah Perfume: Story of A Murderer dan ... Aroma Karsa kini. Mak Suri mencari celah yang tepat dimana penulis lain enggan menjamah, suatu idelisme yang eksistensinya sulit untuk dibandingkan.

Aroma Karsa akan membawa indera penciuman kita (pembaca) menyusuri semrawutnya TPA Bantar Gebang, dimana Jati Wesi tumbuh dan berhutang budi seumur hidup pada Nurdin Suroso. Jati Wesi bukanlah lelaki sembarang, ia memiliki keistimewaan pada indera penciumannya yang lebih peka dibanding orang biasa. Kebanyakan orang mungkin akan melihat TPA Bantar Gebang sebagai planet sampah, tempat terkumuh dan terjorok yang membayangkannya saja pun tak sudi, namun bagi Jati TPA Bantar Gebang adalah perpustakaan (pribadi) aroma-nya.

Untuk menopang hidup dan membalas budi, Jati bekerja ekstra dari mulai merawat taman di kompleks sekitar, menjadi buruh di pabrik pupuk sampai menjadi karyawan di toko parfum Attarwala. Attarwala sendiri adalah usaha milik Khalil Batarfi, mantan guru kimianya yang memperkenalkannya pada aroma-aroma selain TPA Bantar Gebang sekaligus memanfaatkan keistimewaannya *ehe Pekerjaannya di Attarwala adalah yang paling disukai Jati, yang kelak mengantarkannya kepada Raras Prayagung.

Raras Prayagung tak kan menjadi siapa-siapa jikalau Janirah tidak mengkhianati nasibnya sebagai anak abdi dalem yang saban hari keluyuran di keraton. Janirah-lah yang pertama kali menemukan sisa-sisa Puspa Karsa tersembunyi di balik tembok keraton, mencurinya dan menggunakannya untuk merubah nasibnya sendiri. Hanya kepada Raras Prayagung, Janirah mengungkapkan rahasianya dan mewariskan mimpinya menemukan Puspa Karsa.

Pencarian Raras Parayagung akan Puspa Karsa seakan menjadi obsesi tak berkesudahan, ia mengorbankan hampir segalanya demi menemukan Puspa Karsa. Tahun-tahun berlalu sejak terakhir kali ia melakukan ekspedisi pencarian Puspa Karsa ... namun keinginannya untuk menemukan Puspa Karsa masih membara. Untuk mendukung rencananya, Raras Prayagung perlahan menggalihkan tanggung jawabnya di Kemara kepada Tanaya Suma.

Seperti Jati, Tanaya Suma pun memiliki keistimewaan pada indera penciumannya, namun berbeda dengan Jati yang ditempa oleh kebusukan TPA Bantar Gebang, Suma lebih ringkih karena keterbatasan database aroma yang dijaga oleh Raras Prayagung. Dengan keistimewaaanya, Suma bertanggungjawab untuk departemen fragrance di Kemara dengan produk andalannya yang dinamai Puspa Ananta.

Suma sebenarnya menjalin hubungan dengan Arya Jayadi teman semasa kecilnya, namun ... seperti halnya tokoh kurang penting di FTV, Arya Jayadi diciptakan untuk mengisi kekosongan sebelum Jati dihadirkan. Eym ... mungkin satu-satunya faedah Arya di Aroma Karsa adalah menjadi personal stylist Jati hehe 😁😁

Selain ketiga tokoh sentral diatas yang dikenalkan pada beberapa bab awal, kita akan diajak untuk menemui Anung Linglung yang entah karena apa berada di penjara Bekasi kemudian melipir sejenak kepada Khalil Batarfi si pemilik Attarwala yang dianggap bapak oleh Jati. Dengan perhitungan yang cermat, rupanya Raras Prayagung mempersiapkan ekspedisi lanjutan untuk menemukan Puspa Karsa. Disinilah hubungan Jati dan Suma mulai bergejolak, karena disukai atau tidak hanya salah satu dari mereka yang diperbolehkan ikut.

Pesona Puspa Karsa benar-benar telah memikat Raras Prayagung, tak peduli semusykil apapun ia tetap memberangkatkan tim ekspedisinya mencari Puspa Karsa. Clue yang telah bertebaran sepanjang 2/3 buku Aroma Karsa perlahan-lahan mulai menemukan tempatnya, mengubahnya menjadi satu gambaran besar mengenai linimasa Puspa Karsa yang sesungguhnya dan setting ceritanya yang dipindahkan ke Gunung Lawu yang mistis membuatku yakin Mak Suri pernah berkonsultasi dengan sesepuhnya Gunung Lawu.

Aroma Karsa bukan Cuma sekedar pencarian bunga ajaib di Gunung Lawu melainkan tentang pencarian akan esensi dari kehidupan itu sendiri. Puspa Karsa tercipta bukan untuk mengubah dunia namun untuk mengubah manusia, karena bagaimana pun watak seseorang bisa berubah bahkan ketika Puspa Karsa tidak menampakkan rupanya. Mak Suri ... you stole my heart ehehe

Karena Aroma Karsa, akhirnya aku merasakan lagi bagaimana rasanya begadang semalam suntuk sebab nggak ku~ku~ meninggalkan Jati dan Suma bercengkrama tanpa ada aku diantaranya *elahh *lau siapa?   πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tadinya kuingin menjadikan Aroma Karsa sebagai buku pengantar tidur yang hanya dibaca beberapa bab perharinya, nyatanya ya ... sulit rasanya untuk berhenti (lagi-lagi) meninggalkan Jati dan Suma yang berkomunikasi menggunakan bahasa qalbu haha

Maaf ya Madre, kau harus tersingkir ... peringkat ketiga akan diambil alih oleh Perahu Kertas sementara Supernova tetap berada di peringkat pertama. Yap. Aroma Karsa berada di peringkat kedua, belum bisa mengalahkan Supernova yang bahasannya lebih sci-fi dan terdiri dari 4 buku.

Dari Aroma Karsa, ku jadi tahu kalau fragrance terdiri dari beberapa not dan lab-nya dinamai olfaktorium. Penasaran juga dengan soda kue yang bisa menetralkan aroma tubuh Arya, yakali ... nanti ada monster hidung πŸ‘ƒ , temennya monster kuping πŸ‘‚ di A Quiet Place πŸ˜‚ Aroma Karsa ini adalah  paket tur lengkap dunia peraromaan, dipaparkan dari yang terbusuk sampai yang tersemriwing macem komennya Ningsih tentang Puspa Ananta.

Masih dalam rangka belum move on dari after taste-nya Aroma Karsa, beberapa fans sudah mengimajinasikan siapa aktor atau aktris yang sekiranya cocok untuk berperan di film Aroma Karsa kelak. Eym ... aku juga sih haha πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Jati Wesi: Ario Bayu atau siapapun selain aktor komersil yang sering wara-wiri di film-film lainnya.
Tanaya Suma: Bu Dea, dosenku saat kuliah dulu haha mungkin karena namanya memang agak mirip, setiap kali membayangkan sosok Suma yang muncul malah Bu Dea yang obviously kinclong abis. Kalau aktrisnya sih ... Ardina Rasti atau Atikah Hasiholan atau siapa pun selain Raline Shah, please dwehh ... udah main di Supernova kali ah.
Raras Prayagung: Jajang C. Noor
Nurdin Suroso: Siapa sih itu aktor yang perawakannya gempal dan rambutnya keriting, sering main jadi orang qismin yang jahat nan belagu di sinetron-sinetron RCTI? 
Khalil BatarfiMieke Lucock  
Anung Linglung: Sudjiwo Tedjo

You May Also Like

0 komentar

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.