Rabu, 17 Agustus 2016

Jumalia's Quote


Videographer Wanna Be Life Be Like


Masih dalam masa hiatus, 1 tahun lebih pasca mama terkena stroke.
Untuk mengisi jeda libur berkepanjangan, aku mengikuti pelatihan editing video / penyuntingan video yang diadakan oleh LKP Primacom, salah satu LKP milik teman orang tuaku. Pelatihan editing video adalah officially name dari kegiatan A to Z how to creating a video like a pro.
Karena tujuannya untuk mengentaskan pengangguran dan meningkatkan SDM, maka setelah mengikuti pelatihan tersebut diharapkan agar alumninya bisa berwirausaha, seperti membuka jasa videography atau membuat advertisement produk UMKM.
But as a millenial generations yang dimanjakan teknologi, aku tidak berfikir demikian. Ada banyak kesempatan dan jenjang karir yang bisa dicapai selain menjadi wedding videographer atau local production house.
You can be a vlogger beybeh! Like @awkarin, uppss ...
Vlog atau video blogging yang sedang trend saat ini adalah kegiatan dokumentasi gambar bergerak (video), sedangkan vlogger adalah sebutan bagi orang yang mengupload video (tersebut) di internet, seperti blogger bagi orang yang memposting di blog.
Vlog merupakan salah satu media alternatif untuk mengekspresikan diri, selain menulis tentunya, yang lebih duluan booming dengan blognya. Kalau menulis lebih pada menuangkan ide, gagasan atau cerita dalam bentuk tulisan, dengan gambar sebagai illustrasi pelengkap. Maka vlog agak lebih kompleks, karena esensinya harus bisa digambarkan secara nyata dan penonton harus mampu catch ‘em all. :p
Demi menyongsong masa depan cerah sebagai vlogger haha
It’s quite fun, I met peoples by any background ... kebanyakan dari teman (baru) ku merupakan fresh graduate yang sedang menunggu ijazah SMA keluar, beberapa diantaranya adalah mahasiswa/i yang sedang libur semesteran sedangkan sisanya adalah jobseeker yang sedang mencari jati diri.
Ada hidden fortune dibalik pertemananku dengan mereka, entah karena apa tapi mereka mengira aku adalah mahasiswi berusia sekitar ± 21-23 tahunan. OK, tidak semua sih, ada beberapa yang telah aku beri tahu ketika berkenalan, but somehow ... those awkward status berhasil membuatku berbaur dengan mereka.
Yes! Mission accomplished! Stay young ...
Pelatihan editing video dimulai sejak bulan Ramadhan sampai sebulan setelah Iedul Fitri, teori dari jam 9 pagi sampai jam 12 siang (kebayang banget kan ngantuknya ...) dan praktek dari jam 1 siang sampai ngabuburit.
Setelah Iedul Fitri, materi semakin padat karena keterbatasan alat dan pemecahan kelompok yang banyak. Tadinya aku berniat untuk menggunakan handycam pribadi untuk mempersingkat waktu, tapi setelah dicek handycamku bermasalah karena terlalu lama tidak digunakan.
Selain itu, setelah Iedul Fitri kita jadi punya kebiasaan baru, yaitu jajan-jajan gak ngenyangin ala anak sekolah haha Ada Batagor, Baso Tahu, Baso reguler, Cuanki, Cakue, Cilok (aci dicolok), Cimol (aci digemol), Cilung (aci digulung), Lumpia Basah, Seblak, Mie Setan, Pempek KW sejuta, Tahu Bulat dan teman-teman dari MSG club yang datang silih berganti.
Kalau haus ada es doger, ice juice, es teh no name yang pake es batu dan cupnya yang disegel secara live. Tapi kalau ingin yang lebih natural ada minuman berembun di display casenya AA counter yang jadi konsultan paket internet hemat.
Nom ... nom ... nom ...
Saat kecil dulu, ayah pernah bilang pekerjaan yang cocok untukku adalah kritikus, kritikus apa saja, mau kritikus makanan kek, kritikus film kek, kritikus buku kek, kritikus olahraga kek, kritikus politik kek atau kritikus apalah, yang jelas jadi kritikus.
Pasalnya, aku selalu mengkritik setiap hal, dari urusan bentuk rumah yang gak enakeun, fried chicken yang gak sesuai dengan gambar di display, baju yang designnya kurang ‘gue banget’, susunan kotak sereal di rak minimarket yang gak rapi, iklan-iklan di TV and lain sebagainya. I critizied so many things ... karena bagiku hal tersebut sangat mengganggu.
Saat ini sifat semacam itu dianggap kritis, tapi tidak dengan dulu. Mama beranggapan mengkritik adalah annoying habit yang harus dihilangkan, ia khawatir aku akan menjadi seorang pencela ketika besar nanti. Seiring waktu aku mempelajari bahwa mengkritik adalah salah satu cara mengungkapkan analisis.
Salah satu hal yang kusukai adalah menonton, baik itu menonton film, menonton serial, menonton dokumenter, menonton teater, menonton berita, menonton iklan, menonton MV atau menonton kehidupan orang lain #eh.
Aku selalu mempunyai unek-unek ketika selesai menonton. Bisa jadi karena acting pemainnya yang kurang menjiwai, alur cerita yang sulit difahami, pengambilan gambar yang kurang enak dilihat, jumping scene yang berantakan, editing tambalan yang ngeselin, dubbing yang gak sesuai, text yang hilang di tengah-tengah scene, figuran yang sadar kamera, setting yang kurang real, cover yang nggak nyambung dengan cerita sampai bayangan kameramen yang kelihatan di aspal.
I’m a details watcher ...
Kita semua beruntung mendapatkan mentor yang expert di bidangnya, ia bersedia mengajar semua yang diketahuinya dan mengejar hingga ke detail terakhir, bahkan rela menunggui kita mengedit sampai malam. Selama kalian punya keinginan, kenapa tidak?
Sebagai permulaan, kita diminta membuat video sederhana menggunakan kamera handphone, meski hasilnya pas-pasan setidaknya bisa memberikan gambaran apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Untuk membuat sebuah video dibutuhkan kru yang pengertian dan SOP yang detail, as very details as can be. Dalam setiap scene dibutuhkan minimal 3 shoot dari view yang berbeda, bisa secara bertahap atau random sekalian, tergantung skenario.
But the most important thing is the concept, apalah artinya materi yang banyak dan editing yang canggih kalau konsepnya sendiri gak jelas. Butuh kreativitas dan kerja keras pada tahap ini, karena dalam satu tim ada banyak kepala yang memiliki ide subjektif. Bukan hal yang mudah juga untuk bisa membuat sebuah konsep tanpa meninggalkan rasa ketidakpuasan dan rasa ‘gak enak’.
Nah, proses editing video adalah proses yang sangat panjang, ada banyak detail yang harus diperhatikan dan dibenahi sehingga membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Yang dibutuhkan untuk editing video adalah  software Adobe Premiere dan komputer yang memadai, bisa juga menggunakan notebook atau netbook, tapi kadang error karena membutuhkan memory space yang besar.
Karena netbook yang ngeblank sewaktu ngerender adalah ujian terbesar bagi seorang videographer.
Kekurangan video akan terlihat saat proses editing, entah itu materinya yang kurang banyak, pengambilan gambar yang kurang pas, gambarnya ngeblur, kameramen kelihatan di kaca atau instruksi standar (camera!, action!, cut!) yang gak sengaja keselip. Untuk menyiasatinya, kita usahakan untuk mengambil materi sebanyak-banyaknya. Proses detailing inilah yang nantinya menentukan kualitas suatu video.
Semenjak mengikuti pelatihan editing video aku memiliki kegiatan baru, yaitu menonton FTV dan sinetron stripping. Sebagai bahan referensi :D . Menurutku, FTV dan sinetron stripping adalah versi canggih dari tugas-tugas yang pernah kita buat hehe
Tak terasa hampir 3 bulan lamanya aku berkutat dengan kamera dan rendering, eh bukan Cuma aku, kita semua. Selama ini kita telah menghasilkan berbagai macam video dengan berbagai teknik, dari company profile, dubbing film impor, MV, dokumenter, interview, short movie sampai tutorial memasak.
Ternyata ... eh ternyata ... membuat video tidak sesulit yang dibayangkan, namun juga tidak mudah. Yang sulit adalah membuat konsep dan memanage waktu.
It’s the productivest 3 months of my hiatus cycle.

Rabu, 10 Agustus 2016

Urban poverty dan Creativepreuner Goals I

www.google.com

Bermula dari link yang pernah dishare @ikanatassa di Twitternya, yaitu sebuah artikel di www.buzzfeed.com mengenai The Urban Poor You Haven’t Noticed: Millenials Who’re Broke, Hungry But On Trend yang ditulis oleh Gayatri Jayaraman dari India. (sorry but the link is broken)

Dalam artikelnya, ia (Gayatri Jayaraman) menjabarkan betapa ia mengasihani para urban poverty yang hidup sengsara di balik gengsi, tentang bagaimana mereka (urban poverty) menjalani keseharian dengan was-was dan rasa lapar yang mendera, tentang kebutuhan sekunder dan tertier yang menjadi prioritas dibandingkan dengan kebutuhan primer, tentang life style penuh pencitraan.

Awalnya aku mengira fenomena (yang kini disebut) urban poverty hanya terjadi di Indonesia saja, atau wilayah Asia pada umumnya. Tapi setelah membaca artikel tersebut aku menyadari bahwa urban poverty adalah fenomena global yang cukup mengkhawatirkan.

Urban poverty atau yang dalam terjemahan Bahasa Indonesia adalah kaum urban (masyarakat yang tinggal di perkotaan) miskin adalah sebuah fenomena nyata yang terjadi saat ini. Dimana kaum urban yang seharusnya bisa menikmati hidup adem ayem bisa menjadi miskin hanya karena gengsi.

Di Indonesia sendiri, jika tinggal di daerah Jawa Barat yang notabene masyarakatnya gemar bersosialisasi, pasti pernah mendengar kalimat “paribasa geus digawe ...” yang dalam terjemahan bebasnya bisa diartikan sebagai ”istilahnya sudah bekerja ...”.

Kalimat tersebut ditujukan untuk menyindir orang yang sudah bekerja namun masih hidup pas-pasan. Intinya sih menuntut agar orang yang disindir itu mau sedikit pamer, meski sekedar membayarkan ongkos angkot temannya atau terlihat memakai pakaian dengan model terbaru.

Ada anggapan bahwa yang bekerja pastilah (selalu) berduit. Entah itu bekerja sebagai karyawan, PNS, freelancer atau buruh sekalipun. Selalu ada tuntutan sosial dimana mereka harus menampilkan hasil jerih payahnya, semacam “ini loh, hasil kerja di anu ... “.

Bahkan tak jarang anggota keluarga juga ikut berpartisipasi. Demi menjaga gengsi gaji bulan pertama, ada orang tua yang rela mengeluarkan uang agar anaknya bisa mentraktir makan teman-temannya, sepupu-sepupunya atau bahkan keluarga besarnya. Mengatakan itu adalah hasil kerja si anak, meski kenyataannya gaji tersebut masih jauh dari kata UMR (Upah Minimum Rata-rata).

Kalau mau tahu seberapa besar efek urban poverty, lihatlah bagaimana kehidupan buruh (worker) di daerah. Smartphone terbaru, kendaraan pribadi yang masih mulus, dandanan yang stylish, tempat nongkrong yang hits dan sifat konsumtif adalah hal yang biasa. Namun di balik semua itu, ada petugas leasing dan rentenir yang menanti. Kadang-kadang ...
Ada orang tua yang curhat tentang  anaknya yang masih suka meminta uang meski sudah bekerja, ia   tak habis pikir kemana perginya gaji si anak, mempertanyakan apa bedanya sekolah dan bekerja kalau masih tetap dibiayai orang tua?

Mungkin si anak akan menjawab “on my body ...” atau “on my face ...” sambil bergaya dan menunjuk wajah. LOL

Ketika masa OJT (On Job Training), salah satu (mantan) atasanku bertanya “how many percentage of your salary that would you give to your parents?” yang aku jawab dengan “it’s depends on situation Sir”, ia bertanya lagi “so your parents is working right?” aku menjawab “yes” karena kedua orang tuaku masih bekerja, setelah mendengar jawabanku  ia berkata “off course you are”.

Ia kemudian bercerita bahwa di Korea ada peraturan tersendiri mengenai gaji untuk karyawan baru atau fresh graduated. Jika orang tua karyawan tersebut tidak bekerja (tidak menghasilkan uang) maka sepersekian persen dari gajinya akan ditransfer ke rekening orang tuanya, ia bisa mendapatkan gajinya secara full hanya jika orang tuanya bekerja.

Karena tanpa bantuan dan dukungan dari orang tua, anak tersebut tidak akan menjadi seperti ini (bekerja) dan sepersekian persen dari gaji adalah bentuk rasa terimakasih dan tanggungjawab. It’s a nice habit  ... tapi mungkin jika diterapkan di Indonesia akan menuai pro dan kontra besar-besaran, meski masih jadi wacana.

Orang tuaku pernah bertanya kenapa aku tidak menggunakan gajiku seperti anak-anak temannya, membeli pakaian baru, sepatu baru, tas baru, make up baru, pergi nongkrong dengan teman-teman, pergi jalan-jalan dengan pacar dan hal lain yang anak-anak temannya lakukan ketika sudah bekerja.

Aku tidak melakukan hal-hal yang tidak ku sukai hanya karena orang lain melakukannya. Aku lebih suka menabung serta membelanjakan sisa gajiku untuk membeli buku terbaru dan sketch tools.  Membeli pakaian baru, sepatu baru, tas baru  dan make up baru bukanlah suatu keharusan di setiap bulannya, begitu pun dengan nongkrong dan jalan-jalan. Membaca blog dan artikel di internet jauh lebih berharga daripada sosialisasi haha hihi.

Karena ikan Salmon tidak perlu mengikuti arus untuk menjadi diri sendiri.

Aku melihat temanku membeli pakaian baru, sepatu baru, tas baru dan make up baru di setiap bulannya, pada suatu hari ia mengeluh tentang betapa trendy is pain’ . Ia sangat trendy, tapi dengan gaji yang pas-pasan ia hanya mampu membeli yang biasa saja, katakanlah low quality. Ia berasumsi, selama mengenakan model terbaru, orang tidak akan pernah mengetahui berapa harganya.

Kenyataannya, hampir semua  barang trendy kebanggaannya rusak setelah dipakai beberapa kali, ia harus terus menerus berbelanja setiap bulan untuk menutupi kebutuhannya. Dengan ‘sampah’ yang bertambah setiap bulannya, ia merasa telah jatuh miskin, menyadari bahwa sebenarnya ia tidak memiliki apa-apa.

Dosenku pernah berkata: jika ingin menjadi designer harus wise dan kuat iman, karena profesi tersebut adalah yang paling dekat dengan neraka. Tahu kenapa? Karena ia (designer) harus mampu untuk membangkitkan naluri terendah dalam diri manusia yaitu lust dan desire. Dan sebaik-baiknya designer adalah yang mampu mendesign produk yang memunculkan rasa ingin memiliki hanya dengan melihatnya. Seperti love at the first sight (with sins following after).   

Mungkin urban poverty muncul akibat designer atau creativepreneur yang sangat produktif.


Semacam ‘our goals is your poverty’

A (Fake) Virtual Life

Have you ever been ignored?
Have you ever been rejected?
Have you ever been lefted?
Aku sering.

Di social media.

Rabu, 03 Agustus 2016

WANITA SUNDA VS WANITA JAWA

WANITA SUNDA VS WANITA JAWA

BAB 1
Pendahuluan
1.1    Latar Belakang Masalah
Manusia memiliki ritme hidupnya masing-masing, meskipun berbeda-beda caranya pemenuhannya, namun secara garis besar kegiatan yang dilakukannya sama. Dimulai dari bangun pagi, mandi, sarapan, kerja, ibadah, santai, sampai kembali tidur. Dari bangun tidur itulah bisa diketahui bagaimana keadaan aktifitas yang selanjutnya jika bangunnya telat biasanya aktifitas yang selanjutnya akan berantakan karena banyak waktu yang tumpang tindih antara kebutuhan yang satu dengan kebutuhan yang lainnya.

Kebiasaan pun ikut mempengaruhi aktifitas lainnya, baik itu kebiasaan yang memang sudah ditanamkan sejak lahir, atau kebiasaan yang memang tercipta dari aktifitas yang dilakukannya. Ada beberapa wacana yang tak terdokumentasikan, hanya beredar antar bibir saja,bahwa kebiasaan dari suku bangsa/etnis lah yang mempengaruhi pola kerja seseorang. 

Menurut wacana tersebut wanita yang beretnis Sunda lebih mendahulukan penampilannya daripada pekerjaan rumahnya makanya meskipun cantik namun rumahnya berantakan, sedangkan wanita yang beretnis Jawa lebih mendahulukan pekerjaan rumanya daripada penampilannya makanya kebanyakan wanita beretnis Jawa berpenampilan lebih sederhana dibandingkan dengan wanita beretnis Sunda.
Maka daripada itulah, penulis ingin mengangkat peristiwa itu sebagai tema dari tugas yang berjudul “Wanita Sunda VS Wanita Jawa”.

1.2    Identifikasi Masalah
Menilik keadaan yang seperti itu, penulis ingin menekankan pembahasan di dalam makalah ini terhadap:
1.       Kebiasaan wanita Sunda dan wanita Jawa
2.       Perbedaan prioritas bagi wanita Sunda dan wanita Jawa

1.3    Pembatasan dan Perumusan Masalah
1.3.1           Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dalam makalah adalah semua hal yang mencangkup ruang lingkup kebiasaan dan prioritas.
1.3.2           Perumusan Masalah
Perumusan masalah di dalam makalah ini adalah “Adakah Pengaruh Prioritas pada Kebiasaan  Wanita Sunda dan Wanita Jawa”.

1.4    Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah pihak yang terkait (wanita Sunda dan wanita Jawa) bisa saling memaklumi dan menghargai kebiasaan masing-masing etnis.

1.5    Metode penelitian
Metode penelitian yang dilakukan ialah dengan cara survei langsung ke lapangan dan mencari tahu tentang kebiasaan masing-masing etnis.

1.6    Pelaksanaan penelitian
Penelitian ini dilakukan di sebuah asrama putri berisikan 22 orang, yang terdiri dari: 15 0rang wanita beretnis Sunda, 5 orang wanita beretnis Jawa dan 2 orang lainnya (Aceh dan Padang)

Penelitian  1
Penelitian tentang kegiatan yang dilakukan mereka (wanita Sunda dan wanita Jawa) setelah sholat shubuh / bangun tidur?
Berdasarkan pengamatan penulis:
Wanita Sunda cenderung lebih memilih untuk tidur lagi daripada melakukan aktifitas lainnya (contoh: membereskan asrama, olahraga pagi)
Sedangkan, wanita Jawa cenderung lebih memilih untuk melakukan kewajiban akan kebutuhan mereka masing-masing (contoh: mencuci baju, membersihkan asrama)

Penelitian 2
Penelitian tentang mana yang lebih didahulukan? Mandi atau membereskan tempat tidur?
Berdasarkan pengamatan penulis:
Wanita Sunda setelah bangun biasanya lebih tertarik untuk mandi daripada membereskan tempat tidurnya, alasannya agar tidak ada kewajiban yang mesti dipenuhi lagi.
Sedangkan, wanita Jawa tentu saja lebih tertarik untuk membereskan tempat tidurnya terlebih dahulu sebelum mandi, alasannya agar bisa mengerjakan pekerjaan lainnya jika sudah selesai mandi.

Penelitian 3
Penelitian tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bersolek di depan kaca?
Berdasarkan pengamatan penulis:
Wanita Sunda membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk bersolek di depan kaca.
Sedangkan, wanita Jawa membutuhkan waktu lebih sedikit untuk bersolek di depan kaca.

1.7    Kesimpulan
berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis, penulis mengamati bahwa memang benar adanya perbedaan prioritas antara wanita Sunda dan wanita Jawa.