Telepon Extension

by - January 30, 2016

demilestari.blogspot.co.id

Hampir setiap hari guru yang mengajar di kelas selalu membicarakan tentang calon pemimpin baru yang akan datang, tentang awai karirnya di Garut dan sepak terjangnya di dunia politik, serta kemungkinan menjadi menteri kalau batasan umur masih mencukupi. Kami yang tidak tahu apa-apa Cuma patuh mendengarkan meski terkadang bosan karena mendengarkan hal yang sama berulang-ulang.

Kehebatan calon pemimpin baru tersebut sudah hingar bingar ke seluruh penjuru Ma’had, jauh sebelum ia benar-benar menjabat sebagai pimpinan. Mungkin karena terpengaruh oleh doktrin dari guru dan pembina, kami mulai terbiasa untuk menyisipkan sebagian doktrin tersebut ke dalam percakapan sehari-hari.

Di suatu sore yang menjemukan, kami mengikuti pelajaran Kesenian yang berlokasi di bangunan paling depandi dekat pos Satpam, di samping gerbang masuk utama. Bangunantersebut sudah beberapa kali beralih fungsi, dari tempat pendaftaran santri baru, kantor TU (Tata Usaha), rumah pembina, dan terakhir dijadikan Lab Kesenian yangbaru saja pindah dari ruang makan putra di samping rumah Pak Miskun.

Seperti standard kantor dan rumah pembina pada umumnya, Lab Kesenian memiliki telepon extension yang saling terkoneksi satu sama lain. Jika ingin menelepon ke Ma’had, si penelepon wajib mendengarkan basa basi operator telepon lalu memasukkan nomor extension yang terdiri dari 3 digit angka. Setiap nomor extension akan tersambung ke rumah berbeda, maka dari itu si penelepon harus tahu pasti nomor extension si penerima.

Saat guru Kesenian sedang menjelaskan tentang fungsi dari gamelan, sebagian dari kami sudah tidak memperhatikan, keadaan menjadi semakin tidak terkendali ketika beliau mendemonstrasikan bagaimana caranya memainkan gamelan. Beberapa dari kami mulai berlalu lalang, menyelinap memasuki ruangan-ruangan kosong untuk mengusir kebosanan.

Melihat telepon extension yang tergantung tanggung dan terabaikan membuat beberapa teman saya,  yaituAnya, Eneng dan Kiwilberinisiatif untuk memainkannya. Bergantian mereka memencet nomor secara acak (random) lalu berbicara pada telepon extension seolah-olah ada yang mendengarkan.
***
Suara motor bising memecah perhatian kami yang memang tidak memperhatikan sedari tadi, seorang pembina santri putra turun dari motor dan bergegas menghampiri pintu Lab Kesenian dengan tergesa-gesa. Ia lalu membuka pintu seraya bertanya dengan intonasi suara yang tajam.

“Siapa yang tadi menelepon?”

Hening.

“Siapa yang tadi pakai telepon?”

Bingung.

“Siapa yang tadi berbicara di telepon?”

Bingung.

“Kenapa tidak ada yang menjawab?”

Tatapan kosong.

“Kalau tidak ada yang mau mengaku !!!  saya akan segera laporkan masalah ini ke pembina kalian !!!”

Krikk ... Krikk ... Krikk ... Krikk ...

“Kalian semua keluar !!!”

Yes !!! (*dalam hati)

Pelajaran Kesenian sore itu berakhir paksa karena tidak ada yang mau menjawab pertanyaannya. Kami bergegas meninggalkan Lab Kesenian dengan mulut terkunci rapat, mengabaikan santri putra yang sudah siap ngeceng di pinggir jendela asrama. Kami langsung menuju asrama dan mengadakan rapat darurat angkatan membahas insiden yang baru saja terjadi.

Demi kemaslahatan Ma’had dan reputasi angkatan, hasil rapat angkatan kali ini telah memutuskan bahwa Anya, Eneng dan Kiwil harus mengakui perbuatannya kepada pembina, biarlah pembina yang memutuskan nasib mereka selanjutnya. Apakah mereka akan dimarahi? Apakah mereka akan diskors? Apakah mereka akan di keluarkan dari sekolah?

Tapi, yang sebenarnya terjadi dalam rapat angkatan tidaklah setegas itu, kami sejujurnya lebih tertarik untuk mengetahui apa yang mereka katakan di telepon extension sehingga membuat murka seorang pembina. Tanpa perlu didesak, meluncurlah sebuah cerita fiktif nan konyol karya mereka yang membuat kami tertawa terbahak-bahak.

***

Awalnya Anya, Eneng dan Kiwil hanya ingin mengetahui apakah telepon extension tersebut masih berfungsi atau tidak, mereka (sempat) mengetesttapi tidak ada reaksi apa-apa dan suaranya terdengar seperti telepon rusak.

Darisemua angka yang dipencet secara acak di telepon extension, tanpa diduga salah satu kombinasi angkanya tersambung ke rumah salah seorang pembina. Sialnya, pembina tersebut sedang berada di rumah dan tertarik untuk mengangkatnya, alih-alih memarahi si penelepon iseng ia lebih memilih untuk mendengarkan ocehan si penelepon dalam diam dan setelah dirasa cukup mendapatkan bukti ia langsung memburu si penelepon.

Bagaimana ia tahu dimana si penelepon berada? Mudah saja, pada telepon extension nomor penelepon akan tertera di layar, ia hanya tinggal mencari di listextention yang (biasanya) ditempel di tembok.

Nah, cerita fiktif nan konyol yang diceritakan di telepon extension itu sebenarnya hanya celoteh spontan khas ABG labil tanpa pernah ada maksud untuk mengejek, namun terdengar fantastis karena ditanggapi terlalu serius. Tema besar ceritanya adalah tentang kasus penculikan yang melibatkan 3 nama tokoh di Ma’had. Ketiga teman saya masing-masing berperan sebagai:

1.       Mr. Max adalah seorang calon pemimpin baru Ma’had, ia berperan sebagai orang penting yang disekap, menanti keluarganya mengirimkan uang tebusan.

2.       Mr. Reagan adalah seorang guru dan pembina santri putra yang ditakuti ketika mengajar, ia berperan sebagai penjahat yang menyekap Mr. Max.

3.       Mr. Robby adalah seorang guru dan pembina santri putra yang banyak disukai karena baik hati, ia berperan sebagai polisi yang membebaskan Mr. Max.

Dari ketiga peran diatas sudah bisa ditebak bagaimana alur cerita penculikan tersebut. Sederhana. Mr. Max diculik oleh seorang penjahat bernama Mr. Reagen, ia disekap di sebuah ruangan, penjahat tersebut meminta uang tebusan kepada keluarga Mr. Max. 

Setelah mendapatkan laporan dari keluarga Mr. Max, Mr. Robby ditugaskan untuk membebaskan Mr. Max dari sekapan Mr. Reagan. Terjadi baku tembak antara Mr. Reagan dan Mr. Robby, namun akhirnya Mr. Robby berhasil mengalahkan Mr. Reagan dan membebaskan Mr. Max.

That’s it.

Dalam seketika insiden di Lab Kesenian menjadi trending topic di Ma’had, tak terkecuali Anya, Eneng dan Kiwil yang namanya ikut melejit. Pembina dan wali kelas kami langsung turun tangan setelah mendengar laporan dari pembina yang (kebetulan) mendengarkan ceritapenculikan fiktif tersebut.

Pada beberapa kesempatan, Anya, Eneng dan Kiwil diinterogasi di kantor TU baru yang terletak di bawah Perpustakaan. Tak perlu waktu lama bagi kami untuk mengetahui apa yang akan terjadi, karena kami semua (satu angkatan) ikut dipanggil ke kantor TUuntuk mendengarkan kemarahan yang meledak-ledak dan menyaksikan ketiga teman kami menjadi objek penderita.

Adayang mengatakan mereka bertiga akan diskors, ada yang mengatakan mereka bertiga dilaporkan atas pelecehan nama baik dan ada yang mengatakan mereka bertiga tidak layak disebut sebagai santri.Ter ... La ... Lu ...

Perkembangan insiden telepon extensionakhirnya menemui titik terang setelah rapat besar antara seluruh pembina dan wali kelas di Ma’had. Keputusannya adalah Anya, Kiwil dan Neng diharuskan untuk meminta maaf secara personal kepada 3 orang yang namanya dicatut dalam insiden telepon extension tersebut.

Dalam rapat itu terungkap pula bahwa yang menjadi akar permasalahan dilaporkannya Anya, Eneng dan Kiwil pada insiden telepon extension bukan karena ceritapenculikan fiktifnya, melainkan karena penyebutan nama calon pimpinan baru Ma’had yang dilakukan secara berulang-ulang dengan intonasi yang (dianggap) melecehkan. Masalahnya, jika Anya, Eneng dan Kiwil tidak merasa melakukannya, maka siapa yang melakukannya?

Yang pertama dimintai maaf adalah Mr. Reagan, karena ia dinilai sebagai target permohonan maaf tersulit, ternyata Mr. Reagan tidaklah semenakutkan ketika di kelas, ia bersedia menerima permohonan maaf mereka bertiga setelah memberikan nasihat-nasihat bijak selama ± ½ jam.

Yang kedua dimintai maaf adalah Mr. Robby, sebelum bersedia menerima permohonan maaf ia meminta mereka bertiga untuk menceritakan cerita penculikan fiktif versi original kepadanya, tak disangka-sangka ia malah tertawa-tawa ketika mendengarkannya. Ia juga senang karena jadi polisi.

Yang ketiga dimintai maaf adalah Mr. Max, karena sulit ditemui ia menjadi orang terakhir yang dimintai maaf, ia bersedia menerima permintaan maaf mereka bertiga dan menganggap insiden telepon extension merupakan tantangan di tempat kerja yang baru.

Keputusan Ma’had dalam memberikan sanksi kepada Anya, Eneng dan Kiwil dianggap cukup fair, karena insiden telepon extension dinilai lebih bersifat personal. Lagipula, bagaimana mungkin Ma’had akan menskors ketiga orang santrinya hanya karena berimajinasi (terlalu) berlebihan?

Sering ada yang bertanya tentang cerita penculikan di telepon extension pada kami, entah itu adik kelas, kakak kelas, kecengan, pacar,  guru, pembina atau personil Bu Oyon Group. Kebanyakan dari mereka memiliki sense of humor yang baik dan tertawa-tawa ketika mendengarkannya, menggelikan sekaligus menghibur, bagaimana mungkin sebuah cerita konyol seperti itu bisa membuat geger seisi Ma’had.

Sejak insiden telepon extension itu, kami tidak diperkenankan untuk menginjakkan kaki di Lab Kesenian. Ma’had memindahkan (lagi) Lab Kesenian ke atas aula, bersamaan dengan mushola putra yang ikut hijrah karena renovasi.

***

Saat insiden telepon extension hampir habis pamornya, saya baru ‘ngeh’. Sebenarnya, pada saat insiden telepon extension itu ada lima orang yang berada di sekitar tempat kejadian, bukan tiga orang yang selama ini diketahui secara umum, yaitu Anya, Eneng, Kiwil, Andien dan saya.

Ketika penjelasan gamelan semakin sulit dimengerti, saya memilih untuk menyelinap ke ruangan lain dan bertemu dengan mereka. Satu-satunya benda yang menarik perhatian di ruangan tersebut hanyalah sebuah telepon extension.

Saya ikut tertawa ketika mendengarkan mereka berceloteh riang dan bergantianmemerankan tokoh pilihannya di telepon extension. Saya berada diantara mereka sedang mengobrol seru dengan Andien mengenai iklan terbaru Ax* (deodorant) versi manekin(Yang ketika si pria pengguna Ax* berjalan melewati pertokoan, bukan hanya wanita saja yang kepincut dengan harumnya, sampai-sampai manekin di  window displays menempel di kaca saking kepincutnya).

Mungkin suara saya dan Andien terlalu samar di telepon sehingga yang terdengar bukanlah Ax* seperti yang kami bicarakan, melainkan nama Mr. Max yang selama ia bicarakan di kelas. Tidak percaya? Coba lafalkan sendiri kata Ax* dan Max berulang-ulang, niscaya kuping yang normal pun akan menganggapnya sama, karena kedua kata tersebut menggunakan dua huruf yang sama, a dan x.

Kami semua punya alibi. Anya, Eneng dan Kiwil sedang bergantian berbicara di telepon extension, saya dan Andien sedang membicarakan iklan Ax* dan yang terakhir sedang mendengarkan semua itu di rumah.

Jika memang harus ada yang  dipersalahkan, satu-satunya yang layak disalahkan adalah telepon extension.

Life is short, don't take life too seriously.

You May Also Like

0 comments

Feel free to give comment and feedback also don't hesitate to contact me by demilestari@gmail.com.

Thank you.