Florence Foster Jenkins

by - September 29, 2017


Sedari awal sudah disebutkan bahwa film ini “inspired by true event”, dari statement-nya saja sudah bisa dipastikan bahwa film Florence Foster Jenkins ini adalah biopic. Mengenai true event yang dimaksud adalah kejadian yang pernah menggemparkan New York pada tahun 1944, yaitu ketika seorang wanita nekat menyanyi meski tidak memiliki bakat (menyanyi).

Narcissa Florence Foster Jenkins (Meryl Streep) adalah seorang sosialita kaya raya yang juga dikenal sebagai pemain opera amatir, karena kecintaannya terhadap seni Florence mendirikan sebuah klub elit bernama Verdi Club yang berisikan para penikmat seni atau para seniman.

Di usianya yang tak lagi muda, Florence masih aktif tampil di berbagai pertunjukan opera meski hanya mendapatkan peran kecil. Suatu hari ia menghadiri undangan sahabatnya Arturo Toscanini (John Kavanagh) seorang musisi terkenal yang ingin mempromosikan anak didiknya.

Entah kesambet apa si Florence ini, di perjalanan pulang ia merasa terinspirasi oleh anak didik Toscanini yang tadi menyanyi. Tanpa ba-bi-bu Florence lantas meminta suaminya yaitu St. Clair Bairclays (Hugh Grant) untuk mencari pelatih vokal, permintaan yang berat sebab St. Clair sadar betul bahwa Florence memang benar-benar tidak memiliki bakat dalam hal menyanyi 😫.


Namun demi menyenangkan hati Florence, St. Clair kemudian meng-hire Carlo Edwards (David Haig) sebagai pelatih vokal dan Cosme McMoon (Simon Helberg) sebagai pianist pengiring. Scene latihan vokal inilah yang menjadi point of interest, penonton akan disuguhi scene yang mengaduk-aduk emosi sehingga (ujung-ujungnya) penonton akan berfikir bahwa Florence ini rada sableng 😂😂😂


Miris memang, di satu sisi Florence ini memiliki keinginan yang kuat dan bersemangat dalam mencapai cita-citanya namun di sisi lain ia harus ‘mentok’ karena faktor bakat dan usia. Tapi tenang... ada St. Clair 😊. Meski berstatus sebagai suami Florence, St. Clair ini menjalin hubungan dengan Kathleen (Rebecca Ferguson).

Setelah merasa cukup percaya diri untuk menyayi di depan publik Florence membuat sebuah pesta kecil dan mengundang teman-temannya di Verdi Club. Karena apresiasi yang diadapatkan ‘cukup’ positif maka kepercayaan diri Florence terus tumbuh beriringan dengan St. Clair yang berusaha mati-matian mewujudkan keinginannya.

Tak tanggung-tanggung, Florence ingin mengadakan konser dengan dirinya sebagai bintang utama. St. Clair yang memang sudah terbiasa membereskan urusan Florence harus memutar otak mencari cara agar konser istrinya ‘berhasil’. Dan tring! (St. Clair voice: mission accomplised!) 😇

Seakan belum cukup ‘menyiksa’ St. Clair 😎,  Florence lantas membuat rekaman nyanyiannya sendiri dan mengirimkannya ke radio dan teman-temannya. Ketika mendengarkan nyayiannya sendiri di radio, Florence kesambet lagi #eh 😵

Then... Florence nekat menyewa Carniege Hall di New York. Untuk apa? Untuk konsernya! Yawla bude... dan parahnya lagi, Florence membagikan tiketnya secara gratis untuk para tentara.

Udah lah ya ...😫


Sudah bisa ditebak bagaimana reaksi penonton saat Florence tampil menyanyi... Tak tahan dengan cemoohan penonton, Agnes Stark (Nina Arianda) lantas memarahi sikap kurang ajar mereka dan memintanya menghargai usaha Florence. Dunia ini berputar ya.... Padahal di konser sebelumnya Agnes adalah satu-satunya yang menertawai Florence secara terang-terangan.

Keesokan paginya St. Clair meminta bantuan Cosme untuk membeli semua koran di lingungan mereka karena tidak ingin Florence bersedih, sayangnya Florence menemukan salah satu koran yang dibuang Cosme ke tempat sampah dan membaca artikel yang ditulis oleh  John Totten (Allan Corduner) dari jurnalis The Post yang menjulukinya sebagai ‘penyanyi terburuk’.

Meski nantinya Florence dikenal sebagai penyanyi opera terburuk sepanjang sejarah Carniege Hall, rekaman konsernya adalah salah satu yang paling dicari. Menarik ya... terlepas dari tujuan orang-orang mencarinya, Florence membuktikan bahwa ia (dan nyanyiannya) dapat diterima di masyarakat.

Di awal film kita akan penasaran melihat tingkah polah Florence yang ‘nyeleneh’ di zamannya, apa sih maunya si Florence ini? Sudah tua. Kaya raya. Punya suami berondong. Apa lagi yang kurang? 😕

Namun di pertengahan film kita akan menyadari bahwa Florence tidaklah sekonyol seperti saat latihan vokal, ia adalah pribadi yang murah hati namun selalu dikelilingi oleh orang-orang yang ingin mengeruk keuntungan darinya. Sebenarnya bukan tanpa alasan ya Florence nekat berlatih vokal dan menggelar konser, ia hanya ingin melakukan sesuatu yang berarti di dalam hidupnya. Sekalipun itu syulit ...

Hubungan Florence dan St. Clair memang agak complicated, meski hampir selalu pulang ke rumah Kathleen, St. Clair tidak pernah melupakan tanggungjawabnya sebagai suami kepada Florence. A different shape of love... 😍 St. Clair selalu berada di samping Florence sampai akhir hayatnya.

Di film Florence Foster Jenkins ini karakter yang cukup menarik perhatian adalah Cosme. Meski di awal Cosme ogah-ogahan mengiringi Florence, namun seiring waktu berlalu ia akhirnya menemukan keyakinan pada Florence. Gesture dan mimiknya Cosme ini khas banget ya 😅... centil-centil tapi sok peduli reputasi.

Florence Foster Jenkins adalah biopic yang cukup menghibur, cocok sebagai tontonan di waktu geje... Eh tapi kalau mau nonton jangan kaget kalau acting Meryl Streep saat menyanyi juara banget bikin bingungnya, antara percaya dan nggak percaya “Ada ya orang yang kaya gini...”.

*all picture taken randomly from Google

You May Also Like

2 comments

  1. bagus artikel artis memang tiada bosen untuk diperbincangkan

    ReplyDelete
  2. Aku berkali-kali nonton film ini, nggak bosan lihat akting Meryl Streep. Memang sih, aneh tapi nyata ceritanya hahaha.

    ReplyDelete

Feel free to leave some feedback after, also don't hesitate to poke me through any social media where we are connected. Have a nice day everyone~