Menu

  • 🌷 Hello ~
  • 📌 Place
  • 🪐 Space
  • 🍊 Taste
  • 🍀 Personal Thoughts
  • 🎬 Spoiler
  • 🎨 Studio
  • 💡 Extra

demilestari

Powered by Blogger.

Hello~

Gimana hari pertama back to reality? Udah semangats cari wang atau masih holiday blues? 😁. Aku melalui hari pertama back to reality dengan cukup seru, yha~ meski udah nggak kerja kantoran aku mesti ke rumah sakit karena ada jadwal fisioterapi. Udalaya... intinya, hari pertama poliklinik buka paska liburan lebaran tuh hectic tyada duwa 🥺, semuanya bercampur jadi satu sampai aku kepikiran untuk pulang ke rumah 😆.

Menimbang situesyen di ruang tunggu yang kurang kondusif (saking penuhnya cuma bisa berdiri) aku memutuskan untuk caw ke bioskop sebelah 😁. Di Subang ada 2 bioskop yakni Sams Studio dan NSC, yuyur... kalau nggak searching kepanjangan dari singkatan NSC aku nggak percaya doi masih ada hubungan dengan Cineplex *maap *tapi pemilihan namanya memang kurang meyakinkan sih 😅. Let's say, NSC adalah Cineplex-nya warga kabupaten.

Fyi, lokasi NSC ini ada di lantai 2 main entrance Planet Waterboom, sayangnya nggak disabilitas friendly karena pake tangga biasa. Studio-nya nggak jauh berbeza dengan studio pada umumnya, yang membedakan ukuran studio-nya lebih minimalis, kita bahkan bisa mendengar suara 'psssttt' pengharum ruangan dengan jelas 😂. Harga tiketnya standar siya tapi udah termasuk minuman (bisa pilih Fruit Tea, Teh Botol *versi kotak atau Le Minerale) 😍.

Saat kucek, hanya ada 2 film di jadwal terpagi yakni Na Willa dan Danur: The Last Chapter. Syudah bisa ditebak ya, aku nonton Na Willa. Tadinya aku khawatir akan nonton sendirian karena anak-anak udah pada masuk sekolah, ternyata masih ada remaja yang belum masuk sekolah. Sejujurnya aku happy mereka lebih memilih nonton Na Willa ketimbang nonton Danur: The Last Chapter. Eh, apa mereka salah masuk studio gitu ya? 🤔.


***

Aku tahu Na Willa ini dari komunitas buku yang kuikuti di media sosial, nggak beli bukunya karena merasa nggak akan relate dengan alur ceritanya. Turns out, setelah tahun lalu merilis Jumbo, Ryan Ariandhi tetiba nge-spill proyek terbarunya. Tadinya kukira doi akan melanjutkan proyek DPKS DWS (dipaksa dewasa) eh ternyata Na Willa dongs 😍.

Fun fact, aku dulu follow doi karena pernah jadi bestie-nya Raditya Dika di Malam Minggu Miko *alumni Jigoku Ramen detected 😂.

Well... tahun ini line up film liburan lebaran terasa lebih variatif ya, nggak melulu film horor pendulang pundi-pundi 🤑. Kalau kalyan ingin seseruan bisa nonton Danur: The Last Chapter dan Santet: Dosa Di Atas Dosa. Kalau kalyan ingin meluapkan emosi bisa nonton Tunggu Aku Sukses Nanti atau Senin Harga Naik. Kalau kalyan ingin quality time bersama bocil bisa nonton Na Willa atau Pelangi di Mars.

Media sosial tentcunya menyuapi egoku yang menikmati konten promosi Na Willa, so far review-nya pada bagus. Salah satu hal yang bikinku merasa 'fix, harus nonton nih' adalah saat melihat rumahnya Na Willa yang supa dupa kyutaaa... aku juga mau. Thanks to Living Loving yang udah meliput dan kasih sekecup bts-nya 😁. First impression-ku... cantik dan eye pleasing, cucoklah untuk visual person kek kita-kita hehe.

Eh iya, biar nggak kelamaan intro-nya, marki-view filmnya...


CERITA YANG BIKIN NOSTALGIA

Film Na Willa in bercerita tentang kehidupan masa kecil Na Willa (Luisa Adreena) saat tinggal di gang Krembangan Surabaya di tahun 80an. Sebagaimana bocil pada umumya, Willa punya bestie kentel bernama Farida (Freaya Mikhayla), Bud (Arsenio Rafisqy) dan Dul (Azamy Syauqi). Mereka semua hidup bertetangga dan tumbuh bersama, konflik dimulai saat mereka memasuki usia sekolah.

Orang tua Na Willa, Pak (Junior Liem) dan Mak (Irma Novita Rihi) sepakat untuk mengajari Willa di rumah sebelum siap melepasnya ke jenjang pendidikan yang lebih formal. Saat satu persatu geng Krembangan mulai sekolah Mak mulai merasa gamang, di satu sisi Mak belum siap melepas Willa sedang di sisi lain Mak sadar bahwa Willa harus sekolah. Menurutku, di film ini yang paling bagus perkembangan karakternya adalah Mak.

Scene Na Willa membongkar radio bikinku senyum sendiri teringat dulu aku pernah mengira orang tuaku memelihara liliput di dalam televisi 😂. Kukira liliput-liliput itu punya space tersembunyi di dalam televisi untuk tidur, makan dan mandi. Makanya aku bolak balik mengecek televisi dari berbagai sisi dan mencoba mengintip dari sela-sela lubangnya. Ternyata memang kosyong... 🤣.

Selain itu aku teringat lagi momen pertama kali masuk sekolah. Beberapa hari sebelum sekolah mama udah mengajariku baca tulis jadi saat bu guru mengajarkan aku udah keburu bosan dan mengangkat kaki macem pemain gapleh 😂. Yang kuingat, mbahku ketawa-ketawa saat diceritakan hal ini. Ahhh... kangennya 🥹. Nonton Na Willa seketika bikin memoriku bangkit dari kubur, menyadarkan betapa nikmehnya kehidupan kanak-kanak 🥰.




CAST YANG MENGGEMASKAN

Kita mesti mengakui pemilihan cast-nya Na Willa juwara ya, aku suka semuanya. Tadinya aku heran mengapa hanya Dul yang berlogat jawa, setelah kuingat-ingat lah... ini kan setting-nya di Krembangan Surabaya, memang harusnya ngomong bahasa jawa 🤣. Menurut kesusotoyanku, bahasa Indonesia dipilih atas dasar kemudahan karena sebagian besar audience-nya Na Willa adalah anak-anak.

Nemu di mana sih anak-anak ini? Akting mereka semua luwes dan terkesan effortles. Aku suka scene saat Willa berlari ke rumah sambil nangis, tengok kanan kiri dulu sebelum menyebrangi rel kereta api. Pun Farida yang suaranya menggemaskan. Scene saat Willa dan Farida pergi mengaji oh so kyuttt... Oh ya, mbok (Mbok Tun) lucu ya, apalagi saat doi mengadukan Willa yang mengambil jatah ikan tongkolnya 😁.

Sebagian scene menggunakan low angle untuk menunjukkan pov-nya para bocil dimana semua hal tampak begitu besar saat kita kecil. Sayangnya low angle ini kurang berhasil di scene saat geng Krembangan melihat ulat dari jendela kamar. Kalau kalyan ingat, yang in frame hanya Farida, Willa dan Bud, yang in frame dari Dul hanya badan dan suaranya aja karena kepalanya terpotong... ih tega ya 😂.

Setelah Na Willa, kuyakin geng Krembangan akan mendapatkan banyak proyek baru. Aku pun berharap kalau kelak Ryan bikin film lagi doi nggak pake geng Krembangan. Selain karena karakternya udah melekat, masih banyak anak-anak bertalenta yang menunggu untuk ditemukan. Dan yang terpenting, jangan sampai ijazahnya ditahan macem Endy Arfian 🤣.




PROPERTY YANG NYEKRUZZ

Seperti yang kutulis sebelumnya, alasanku nonton Na Willa adalah karena rumahnya yang supa dupa kyuta 😍. Meski hampir semua elemennya tabrak motif dan warna warni nggak bikin siwer. Two thumbs up untuk tim produksi yang karya ciptanya hadir di dalam set, termasuk label di kemasan teh tubruk dan cuka botol. Kuyakin kalyan pasti pada bergadang mengerjakan semua ini ☺️.

Di gang Krembangan, rumah Na Willa tentcunya mudah dikenali karena 'ramai'. Yha~ Kupikir Mak dan Willa beruntung memiliki keleluasaan materi sehingga bisa melakukan banyak hal. Well... untuk bisa beli buku, mengecat rumah warna warni, melukis di pot, beli bahan pakaian dan printilan-nggak-penting-tapi-ingin-punya tuh butuh wang. Maka dari itu terima kasih Pak, udah memastikan mereka sejahtera 🙇🏻‍♀️.

Pertama kali melihat Mak, wow... cantiknya 😍. Aku suka outfit-nya Mak yang eye catching dan selaras dengan perawakannya. Kurasa yang bikin aura galaknya Bu Tini (Putri Anindya) makin menyala adalah pada bahunya yang dibikin runcing ala villain. Ada yang ngeh nggak? Mungkin karena udah dipake beberapa kali take, sayuran hijau yang dibeli Mak dari pasar selalu layu 😅.

Oh ya, pasar tempat Cik Mien (Melissa Karim) berdagang pun nggak kalah kece yaw. Entah kelewat geumpeur atau memang karakternya dibikin begitu, mang penjual anak ayam kaku amat ya?! 😅Ada scene yang menampilkan penulis buku Na Willa yakni Reda Gaudiamo, mungkin pernah lewat di FYP kalyan konten buibu paruh baya berkacamata yang menyapa audience dengan "hai nak... " nah itu beliau.




 ***

So far, setelah selesai nonton aku merasa Na Willa ini lebih cocok untuk penonton dewasa yang pernah jadi anak-anak. Eym... gimana ya menjelaskannya 😅, sebagai zillennials tentcu kita merasa relate dengan kehidupan geng Krembangan, sedang untuk alphabet belum tenctu. Segresi generasi bikin life style yang kita jalani berbeza, makanya wajar alphabet pada ngantuk saat nonton Na Willa, nggak relate soalnya.

Sejujurnya Na Willa ini adalah film yang bagus, namun sebaiknya penonton anak-anak perlu pendampingan karena ada beberapa materi yang kurang relevan. Macem kawin dan *sucino. Mungkin hal-hal semacam ini bisa lebih diperhalus lagi penyampaiannya, masih ada waktu kan mengolah naskah untuk tahun depan? 😉. Fyi, Na Willa fix punya sekuel. Horeeee!!! 🎉🎉🎉.

***

Pulang ke rumah aku cerita yekan nonton dulu sebelum fisioterapi.

Aku: Tadi mbak nonton Na Willa.
Widy: Kok nonton Na Willa? Kenapa nggak nonton Tunggu Aku Sukses Nanti?
Aku: Pengangguran coy.... nggak relate dengan ceritanya.
Kita: 🤣🤣🤣🤣🤣


Pictures were taken from @watchmen.id Twitter thread.





•••
If you like my writing, send me some ❤️ to cheer me up.
•••
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Hello~

Apa kabar flow paket kalyan? Udah otw normal atau masih tersendat-sendat? 😁 Seiring berakhirnya momen mudik lebaran, flow paket di area-ku berangsur-angsur normal. Horeee...!!! 🥳. Demi menghindari drama perpaketan di peak season, aku menahan diri untuk nggak belanja online saat ramadan kecuali butuh banget atau barangnya nggak ada di offline store.

Sambil nonton berita arus balik lebaran biasanya aku nyambi check out, lebih sans aja gitu rasanya meski toko-toko masih pada tutup. Yuyur, nggak sanggup euy ikut war wer wor atau mencoba peruntungan per-PO-an 😅. Udah beberapa tahun ini aku nggak beli outfit lebaran dan memilih pake yang udah ada. Subang panas tjoy, salah pilih bahan berasa bagai dikukus 🥵. So, ketimbang beli outfit yang jarang dipake mending beli yang udah pasti dipake aja yekan 😉.

Siapa yang di rumahnya pake daster? Ayo ngaku 😂. Sejujurnya aku nggak suka pake daster karena emak-emak banget tapi semua berubah saat aku pake versi setelannya 😂😂😂.  Ketimbang daster berbentuk dress aku lebih suka daster berbentuk setelan (atasan dan bawahan) karena lebih leluasa dan bisa dipake keluar rumah, nggak harus pake inner lagi karena khawatir tersingkap.

Sebagai negara tropis tentcunya material yang cocok dipake di Indonesia mah katun dan rayon, kalau linen masih 50:50 ya karena yang beredar di market mah biasanya linen x polyester yang pihareudangeun. Pantesan ya emak-emak hobi banget pake daster 😁, ehh aku juga siya 😅. Gimana ya... semakin lusuh malah semakin enakeun, ademnya itu loh... nyesss... 🥹 hingga ke pori-pori kulit.

Aku dan mama cukup sering beli daster, sering trial and error, kalau nggak OK segera jadi keset, kalau OK lanjut dipake sampai jadi keset 😁. Oh ya, perputaran motif dan warna daster tuh cepat ya, karena jualan offline-nya kenceng makanya bersyukur banget kalau menemukan seller yang mau fotoin satu-satu dan melengkapi deskripsinya 🙇🏻‍♀️.

So far, kita paling sering beli daster dari Kencana Ungu, HAP dan Hengky, kalau kalyan ingin coba-coba beli daster boleh niya baca pros and cons-nya dulu 😉.

BATIK KENCANA UNGU

- bahan rayon (gramasi tergantung label)
- warna gonjreng, motif random
- untuk daster ada opsi lengan panjang, lengan 2/3 lengan pendek dan tanpa lengan
- untuk setelan ada opsi lengan panjang, lengan 2/3, lengan pendek dan tanpa lengan
- untuk setelan ada opsi celana panjang, celana 2/3 dan celana pendek
- ukuran variatif
- bisa dibeli di toko offline, online (Kencana Ungu Official) dan department store macem Yogya Group
- harga variatif tergantung model dan tempat beli ± Rp 80.000-Rp 170.000

BATIK HAP

- bahan rayon tebal
- warna lebih kalem dan motif lebih modern, cucok untuk zillenials
- ada opsi tangan panjang, tangan 3/4, tangan pendek dan tanpa lengan
- ada opsi celana panjang dan celana pendek
- ada opsi gamis
- all size
- untuk badan petite pilih seri Kenanga, untuk badan tinggi berisi pilih seri  Asmara
- bisa dibeli di toko offline dan toko online (aku beli di Toko Danita Batik dan Toko Budi Rezeki )
- harga variatif tergantung model dan tempat beli ±Rp 80.000 - Rp 100.000

BATIK HENGKY

- bahan rayon halus
- warna gonjreng, motif rapi dan cantik karena dibikin per panel
- nggak mudah luntur, punyaku bertahan hampir 10 tahun sebelum pensiun dijadikan keset 😁
- untuk daster ada opsi lengan panjang, lengan pendek dan tanpa lengan
- untuk setelen ada opsi lengan pendek dan tanpa lengan
- untuk setelan hanya ada opsi celana pendek
- all size
- bisa dibeli di toko offline dan toko online (Batik Hengky Official)
- harga variatif tergantung model dan tempat beli ± Rp 60.000 - Rp 70.000

***

Selain 3 brand ini, ada beberapa brand kita suka cuma karena mereka jualnya offline sulit cari di e-commerce. Selain itu ada yang juga yang no brand (nggak pake label) saking clueless-nya kita nggak tahu ini teh produksi mana atau brand apa 🤔. Yang begini-begini nih yang bikin gregetan, mau beli lagi bingung, nggak beli kepikiran 😂.

Leminow brand daster favorite kalyan ya 😀.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Assalamualaikum ya bestie ya family...

Telah sampailah kita di bulan ramadan, insya allah kita semua diberikan ketenangan dan kesenangan dalam menjalani ibadah. Aamiin... 🤲🏻. Tahun ini bulan ramadan diapit oleh 2 hari raya yang dirayakan di Indonesia, yakni tahun baru tionghoa (imlek) dan tahun baru saka (nyepi). Semangats para visual merchandiser 😁.

Tahun ini Muhammadiyah vs Nahdatul Ulama kembali memiliki pendapat yang berbeza mengenai hilal. Bukan hal yang baru siya, namun tetap bikin drama huhu 🥹. Sejujurnya aku nggak keberatan dengan perbedaan ini karena artinya 10 hari terakhir ramadan jadi ganjil semua 😁 *oportunis *ahli hikmah *iyain aja.

Keluargaku mah aslinya netral, namun karena aku pernah sekolah di Muhammadiyah mereka membebaskanku memilih. Kadang ikut pemerintah kadang ikut Muhammadiyah, yang penting nggak ikut Tarekat Naqsabandiyah *ytta. Untuk tahun ini aku memilih jadi warga Muhamadiyah karena, why not? Nggak ada alasan khusus siya, ingin aja.

Saat Mbah Uti masih ada, beliau selalu menyarankan kita berpuasa hanya 1/2 hari di hari terakhir bulan ramadan, just in case udah masuk bulan baru. Kebiasaan ini terlahir karena zaman dulu informasi masih sangat terbatas, apalagi kalau tinggal di kampung. Pernah kejadian udah tarawih, udah sahur, udah puasa eh ternyata Idul Fitri 😅.

AUTO PILOT
Sebagai manusia aku menyadari bahwa hubungan antara kita dan Allah selalu fluktuatif, kadang semangats kadang lesyu. Sejujurnya aku semangats menyambut ramadan namun entah kenapa pas prakna mah terasa lesyu 🥹. Yha~ mungkin aku masih butuh waktu untuk menata ulang hidupku dan kembali ke jalan yang benar 😭.

FIDYAH ATAU QADHA?
Tahun lalu mama membayar fidyah karena sedang sakit, sedang Widy membayar fidyah karena sedang hamil. Tahun ini Widy berencana membayar fidyah karena sedang menyusui, namun di last minute doi memutuskan untuk ikut berpuasa karena membayar fidyah dan membayar qadha dirasa memberatkan. Alhamdulillah tamat 👍🏻.

OLEH-OLEH
Karena Widy dan Mas Bagus + Lulu Idul Fitri di Sidoarjo, mereka cari oleh-oleh untuk dibawa mudik. Setelah menimbang dengan seksama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, mereka memutuskan beli batagor kering dan cilok goreng *udah pake kemasan vacuum. Biar vibes-nya sunda banget ceunah 😂.

RM. MARANTINA
Saat nge-pick oleh-oleh di Bandung, aku dan mama sempat makan siang di RM. Marantina yang berlokasi di sebelah Borma Lembang. Fyi, RM. Marantina ini pernah hype di eranya, makanya cucok dengan seleranya rang-o-rang tuwa. Makanannya kaya rasa dan bumbunya leqoh, yang bikin beda doi pakenya nasi merah, tapi bisa kok request nasi putih.

OPORTUNITY
Beberapa hari sebelum Idul Fitri ayah info akan kasih opor dan ketupat, jadi aku nggak usah masak. Aku sih yes ya 😁. Eh, sehari sebelum Idul Fitri Muhammadiyah beliau tetiba datang ke rumah dan kasih ayam mentah berikut bumbu rempah. Oalahhh... ternyata aku disuruh bikin opor sendiri karena Idul Fitrinya duluan 😭😭😭.

TIBA-TIBA MASAK
Tadinya aku berencana masak setelah sholat Idul Fitri biar sans dan bisa dicicipi. Eh, begitu si ayam oportunity datang mama langsung riweuh nyuruh masak, frustasi banget nih si guweh masak opor yang rasanya mesti Idul Fitri banget 🤣. Btw, aku masak sampai tengah malam, Cinderella pulang party sungkem lihat aku masih bebersih dapur 🫠.

OFFSIDE
Karena khawatir sulit mendapatkan Grab, aku minta ayah mengantarkanku sholat Idul Fitri di SMP Muhammadiyah. Mengkaget euy... Saking banyaknya jama'ah sholat Idul Fitri, shaf-nya sampai luber ke pinggir lapangan. Meski udah datang pagi aku kebagian tempat di teras kelas huhuhu. Sedang uwakku bisa kebagian shaf terdepan karena berangkat setelah sholat shubuh 🥲.

SARAPAN
Setelah salaman dengan uwak dan keluarga di lapangan, aku dan Anya memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena Anya belum sarapan kita mampir ke Mie Gacoan, sebagai penglaris senang sekali sans pilih tempat duduk dan ngobrol ini itu. Opor jerih payahku semalam akhirnya kumakan saat makan siang, rasanya enak *yaiyalah kan aku yang masak 😂.

SILATURAHMI
Tahun ini, RT baru di kompleksku berinisatif mengajak warga yang nggak mudik berkeliling blok. Kupikir cara ini lebih efektif ketimbang silaturahmi door to door ya, apalagi kalau kita jarang ketemu. Karena pergerakan mama yang terbatas beliau menunggu giliran silaturahmi sambil berjemur di teras rumah, alhamdulillah nggak tantrum 😁.

***

Semoga kita dipertmukan lagi dengan ramadan yang akan datang ya, insya allah dalam keadaan yang jauh lebih baik. Meski terlambat, minal aidzin wal faidzin ya manteman.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hello~

Selamat hari raya duhai manteman... rasanya baru beberapa bulan yang lalu aku merayakan pergantian tahun dengan nonton Dark Nuns (review) dan makan Hokben di Transmart Buah Batu. Eh sekarang udah merayakan lagi. Alhamdulillah kini aku merayakan pergantian tahun bersama keluarga di rumah dalam keadaan yang lebih baik. Aku pun merasa sangat bersyukur punya manteman yang turut mendoakan dalam berbagai keadaan. Lopyu guise... to the moon and back 🥰.

Sejak beberapa hari yang lalu, mama udah mewanti-wanti untuk bikin acara kecil-kecilan macem mengundang keluarga makan di mana gitu... atau kumpul-kumpul aja rumah. Yha~ mengingat momen pergantian tahun adalah momennya kita berdua, yaudah sih bebas 🫡. Namun, menimbang cuaca yang nggak menentu bisa bikin level kesehatan pudar (istilah apa lagi ini 😅), akhirnya kita memutuskan untuk makan siang di rumah. Untuk menu-nya yang gampang-gampang ajalah karena aku yang masak 😁.

✨ dari aku - oleh aku - untuk aku ✨

Sejujurnya aku menghindari banget bikin tumpeng, nasi kuning atau nasi uduk karena ribet dari hulu ke hilir. Mending beli aja nggak sih? *realistis 😉. Sadar I'm not into cooking as you do, aku memilih menu yang simple namun tetap ada esensi pergantian tahunnya, yakni sup miso. Sebagai bala-bala drakor tentcunya aku pernah nonton banyak scene pergantian tahun, salah satu yang paling kuingat adalah scene Kim Go-eun bikin sup miso sebelum berangkat ke sekolah di Goblin.

Yha~ aku dan Kim Go-eun sama-sama masak sup miso 🥳.

Biar nggak sup miso teuing, aku menambahkan side dish yang mayan gampang bikinnya. So far so good ya, mama bahkan video call uwak-uwakku untuk memamerkan menu makan siangnya sekaligus kasih credit bahwa semua itu aku yang masak #leomom #aingsinga 🫶🏻. Oh ya, kita nggak ada foto bareng karena malay pake hijab dan udah waktunya makan siang, terlampau lapar yaini 😁. Cuaca yang ceudeum  tentcunya bikin pencahayaan di rumah remang-remang, makanya hampir semua fotonya nggak insta-friendly 😅.

🍳🍳🍳

SUP MISO

Biar nggak puyeng perkara takaran aku beli paket sup miso (wakame + dashi powder + miso pasta) di sini. Sejujurnya tanpa pake miso pasta rasanya udah OK, tapi kan sayang ya kalau nggak dipake 😁. Mungkin karena warna supnya yang butek dan wakame-nya pada ngambang mama mengiranya sebagai sayur lodeh, maahhh... 🫠.

SOSIS ASAM MANIS

Tadinya aku mau bikin sosis goreng, tapi setelah dipikir-pikir kasihan juga ya kalau cuma digoreng 😅. Akhirnya aku bikin sosis asam manis, ini saus asam manisnya pake udah jadi ya bukan bikin sendiri *dugaan kalyan benar yaini 😁. Biar nggak sepi-sepi banget aku tambahkan irisan wortel.

EBIFURAI

Di hari-hari hujan begini tentcunya aku nggak ada energi untuk bepergian, jangankan ke pasar, ke warung terdekat aja malay luar biasa 😂. Aku beli ebifurai yang udah jadi di O! Save dekat rumah, so far mayan laya untuk menyemarakkan meja makan mah. Kalau mau yang enak dan bergizi memang baiknya bikin sendiri siya 😅.

TAMAGO

Aku memutuskan bikin tamago di last minute karena merasa menu yang udah kubikin masih kurang.

*semua resep dan cara masaknya bisa dicari di TikTok ya 😉.

🍳🍳🍳

Semoga pergantian tahun yang akan datang giliranku yang dimasakin ya, Hayati lelah... 😅.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Hello~

Di bulan Januari ini tentcunya rang-o-rang pada bikin resolusi awal tahun yekan, yuyur aku nggak begitu tertarik bikin (lagi) karena resolusi tahun lalu terbukti ambyar semua 😂. Namun karena fyp-ku isinya hobbies to try in 2026, crafty projects I want to do in 2026, analog projects inspiration, or anything related into it seketika bikin jiwa artsy-ku tersentil. Karena... mengingatkanku pada proyek-proyek mangkrak yang nggak tahu kapan kelarnya 🤣.

Sebagai manusia banyak mau tentcunya aku punya keinginan bebikinan ini itu, yang sayangnya karena berbagai hal nggak bisa kuselesaikan. So... ketimbang bikin resolusi tahunan *yang kita tahu gitu-gitu aja, kurasa akan lebih baik kalau aku menyelesaikan apa yang pernah aku mulai meski baru wacana di otak 😅. Yha~ mumpung masih sans, kalau udah on the track mah bisa jadi malah makin mangkrak.

Dan inilah list proyek mangkrak yang ingin kulakukan dari Studio Lestari *iya, pake studio biar kewren dan desain banget 🤘🏻.

🎀🎀🎀

BEADED BAG
status: 65%
level: medium

Setelah nggak berhasil menemukan tas yang OK untuk acaranya Widy aku memutuskan untuk bikin beaded bag. Sayangnya karena masih newbie aku kurang teliti dan salah mengkalkulasikan kebutuhan bahan. Beads yang kupake udah nggak restock dongs 🥹, kalau pun ada ukuran dan warnanya nggak sama. Hal inilah yang bikinku nggak mood menyelesaikannya, bahkan hingga Widy akhirnya menikah, hamil dan punya anak proyek beaded bag ini masih mangkrak.


BEADED NECKLACE
level: easy
status: 80%

Saat belanja bahan untuk beaded bag aku nggak bisa menahan diri untuk nggak beli beads di luar kebutuhanku. Ya maap... tapi kalyan lucu-lucu sih 😆. Aku bikin aksesoris untuk self satisfaction masih belum kepikiran untuk dijual, paling dibagikan untuk para keponakan. Mungkin karena kebanyakan lihat referensi ini itu, aku jadi sering bongkar pasang aksesoris yang udah jadi makanya mangkrak mulu nih proyek 😂.


VEST
level: medium
status: 10%

Sejak ikutan YCIFI dan berhasil bikin kemeja aku jadi kepikiran jahit ini itu untuk diriku sendiri. Tadinya aku ingin bikin kulot tapi setelah dipikir-pikir malay ugha ya ngukur-ngitungnya 😅 aku berencana bikin vest biar nggak terlalu ribet. Sayangnya untuk saat ini mesin jahit Widy lagi nggak ada di tempat dan aku otw bongkar gudang cari mesin jahit cadangan. Meski secara teori mah bisa-bisa aja bikin vest pake jahit manual, akyu tyda shanggup ya pemirsahhh... 🫣.


BADINGKUT
level: medium
status: 20%

Badingkut di sini bukan badingkut seni musik ya melainkan badingkut kain macem quilting dan patchwork. Aku udah berada di tahap gregetan setiap kali melihat tumpukan pakaian dan kerudung lintas trend mangkrak di storage. Sebagian udah dihibahkan namun sebagian lagi masih ada, tepatnya belum ada yang mau ngangkut sih 😁. Karena sebagian besar bahannya pake polyester kurasa akan lebih cucok dibikin tirai, sarung cushion atau pouch.


GOUACHE PAINTING
level: medium
status: 25%

1-2 tahun yang lalu aku sempat bersemangat bikin gouache painting, udah ngumpulin berbagai referensi (teknik dan style) dan beli gouache Himi Miya. Mungkin karena terbiasa pake watercolor yang layering-nya tipis dan detail, begitu pake gouache aku agak shock ya 😅. Momen eskplorasi gouache-ku terhenti saat pindahan ke unaesthetic side of Bandung, lupa aja gitu aku teh punya proyek mangkrak. Saat kucek gouache-ku berjamur dongs, sebel deh 🥲.


WATERCOLOR PAINTING
level: medium
status: 25%

Di antara berbagai coloring media aku paling suka watercolor karena at some points bisa bikinku rileks. Objek favorite-ku ofkors adalah makanan, karena detailing-nya yang menantang. Sayangnya, watercolor painting ini cukup menyita waktu dan ini kurang cocok untukku yang weekend-nya syibuk bener 😆. Oh ya, aku masih pake watercolor yang sama dari 13 tahun yang lalu, saking jarangnya dipake malah jadi awet 🤗.


MIX MEDIA
level: medium
status: 25%

Sejak tahun lalu aku udah ngecengin mix media ini namun belum ada mood untuk memulainya 🤭. Untuk bikin 1 video singkat diperlukan banyak slides terkurasi yang tentcunya butuh effort untuk menyelesaikannya. Oh ya, mix media ini konsepnya mirip dengan kolase dimana kita bisa mengkombinasikan berbagai style dalam satu ruang, mungkin aku akan mencoba bikin 1 dulu *nggak usah muluk yaini semoga berhasil ya 🫡.


JOURNALING
level: medium
status: 25%

Udah bertahun-tahun aku mencoba journaling namun nggak ada satu pun yang selesai 🥲. Sesungguhnya aku malah terdistraksi dengan printilan-nggak penting-tapi-ingin-punya macem sticker, washi tape, pulpen warna warni dan semuamuanya. AAAAA... tyda semudah itu Ferguso memulai journaling 🥹. Semoga aku bisa segera mendapatkan pencerahan untuk segera menyelesaikan proyek mangkrak ini.


ZINE
level: medium
status: 25%

Sejujurnya aku masih 50:50 memasukkan zine ke list ini karena aku merasa konsep zine mirip dengan blog. Zine terkesan indie sedang blog terkesan personal, keduanya sama-sama dibikin untuk mengekpresikan diri. Sampai saat ini aku masih bimbang mau bikin zine apa nggak karena kontennya pasti ya itu-itu aja 😂. Yha~ sepertinya aku masih harus menyelam lebih dalam sampai menemukan flow yang mengantarkanku pada audience-ku di zine.


🎀🎀🎀

Kalyan ada rencana bebikinan apa di tahun ini? Ada yang sama nggak dengan list ini?

***

*pictures were taken randomly from Pinterest
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Paused Moments

Let's Get In Touch

  • Behance
  • Letterboxd
  • LinkedIn

Disclaimer

It is prohibited to copy any content from this blog without prior permission. If you believe your privacy has been violated or notice content that requires proper credit, please let me know.

Note

Some links in the post may be affiliate links, which means I may earn a small commission if you buy through them. There’s no pressure at all—what works for you is what matters most.

Alone Alone Kelakone

2026 Reading Challenge

2026 Reading Challenge
Lestari has read 0 books toward her goal of 6 books.
hide
0 of 6 (0%)
view books

Archives

  • ►  2011 (7)
    • ►  May (1)
    • ►  Nov (6)
  • ►  2012 (19)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (8)
    • ►  Jun (2)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Oct (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  Jan (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (8)
  • ►  2015 (62)
    • ►  Jan (6)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  Jun (7)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Aug (10)
    • ►  Sep (7)
    • ►  Oct (11)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (7)
  • ►  2016 (64)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (2)
    • ►  May (6)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (7)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (9)
    • ►  Nov (6)
    • ►  Dec (11)
  • ►  2017 (76)
    • ►  Jan (10)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (6)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (12)
    • ►  Jun (10)
    • ►  Jul (7)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (6)
  • ►  2018 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (7)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2019 (39)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (5)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2020 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Mar (7)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2021 (44)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (4)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2022 (47)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (2)
    • ►  Oct (5)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2023 (41)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  May (2)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (6)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (2)
    • ►  Dec (4)
  • ►  2024 (48)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (5)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (5)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (2)
  • ►  2025 (36)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (1)
    • ►  Jun (6)
    • ►  Jul (2)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (2)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (4)
    • ►  Dec (3)
  • ▼  2026 (9)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (2)
    • ▼  Apr (2)
      • Na Willa
      • Project Hail Mary

Friends

  • D. R. Bulan
  • Ikan Kecil Ikugy
  • Mazia Chekova
  • Noblesse Oblige
  • Perjalanan Kehidupan
  • Pici Adalah Benchoys
  • St. Jauzah
  • The Random Journal

Blogmarks

  • A Plate For Two
  • Berada di Sini
  • Cinema Poetica
  • Dhania Albani
  • Diana Rikasari
  • Dinda Puspitasari
  • Evita Nuh
  • Fifi Alvianto
  • Kae Pratiwi
  • Lucedale
  • Mira Afianti
  • Monster Buaya
  • N Journal
  • Nazura Gulfira
  • Puty Puar
  • Rara Sekar
  • What An Amazing World
  • Yuki Angia

Check This Too

  • A Beautiful Mess
  • Daisy Butter
  • Kherblog
  • Living Loving
  • Minimalist Baker
  • Nicoline Patricia
  • Spice The Plate

Followers

Thanks for Coming

Community

Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates