Menu

  • 🌷 Hello ~
  • 📌 Place
  • 🪐 Space
  • 🍊 Taste
  • 🍀 Personal Thoughts
  • 🎬 Spoiler
  • 🎨 Studio
  • 💡 Extra

demilestari

Powered by Blogger.

Hello~

Gimana hari pertama back to reality? Udah semangats cari wang atau masih holiday blues? 😁. Aku melalui hari pertama back to reality dengan cukup seru, yha~ meski udah nggak kerja kantoran aku mesti ke rumah sakit karena ada jadwal fisioterapi. Udalaya... intinya, hari pertama poliklinik buka paska liburan lebaran tuh hectic tyada duwa 🥺, semuanya bercampur jadi satu sampai aku kepikiran untuk pulang ke rumah 😆.

Menimbang situesyen di ruang tunggu yang kurang kondusif (saking penuhnya cuma bisa berdiri) aku memutuskan untuk caw ke bioskop sebelah 😁. Di Subang ada 2 bioskop yakni Sams Studio dan NSC, yuyur... kalau nggak searching kepanjangan dari singkatan NSC aku nggak percaya doi masih ada hubungan dengan Cineplex *maap *tapi pemilihan namanya memang kurang meyakinkan sih 😅. Let's say, NSC adalah Cineplex-nya warga kabupaten.

Fyi, lokasi NSC ini ada di lantai 2 main entrance Planet Waterboom, sayangnya nggak disabilitas friendly karena pake tangga biasa. Studio-nya nggak jauh berbeza dengan studio pada umumnya, yang membedakan ukuran studio-nya lebih minimalis, kita bahkan bisa mendengar suara 'psssttt' pengharum ruangan dengan jelas 😂. Harga tiketnya standar siya tapi udah termasuk minuman (bisa pilih Fruit Tea, Teh Botol *versi kotak atau Le Minerale) 😍.

Saat kucek, hanya ada 2 film di jadwal terpagi yakni Na Willa dan Danur: The Last Chapter. Syudah bisa ditebak ya, aku nonton Na Willa. Tadinya aku khawatir akan nonton sendirian karena anak-anak udah pada masuk sekolah, ternyata masih ada remaja yang belum masuk sekolah. Sejujurnya aku happy mereka lebih memilih nonton Na Willa ketimbang nonton Danur: The Last Chapter. Eh, apa mereka salah masuk studio gitu ya? 🤔.


***

Aku tahu Na Willa ini dari komunitas buku yang kuikuti di media sosial, nggak beli bukunya karena merasa nggak akan relate dengan alur ceritanya. Turns out, setelah tahun lalu merilis Jumbo, Ryan Ariandhi tetiba nge-spill proyek terbarunya. Tadinya kukira doi akan melanjutkan proyek DPKS DWS (dipaksa dewasa) eh ternyata Na Willa dongs 😍.

Fun fact, aku dulu follow doi karena pernah jadi bestie-nya Raditya Dika di Malam Minggu Miko *alumni Jigoku Ramen detected 😂.

Well... tahun ini line up film liburan lebaran terasa lebih variatif ya, nggak melulu film horor pendulang pundi-pundi 🤑. Kalau kalyan ingin seseruan bisa nonton Danur: The Last Chapter dan Santet: Dosa Di Atas Dosa. Kalau kalyan ingin meluapkan emosi bisa nonton Tunggu Aku Sukses Nanti atau Senin Harga Naik. Kalau kalyan ingin quality time bersama bocil bisa nonton Na Willa atau Pelangi di Mars.

Media sosial tentcunya menyuapi egoku yang menikmati konten promosi Na Willa, so far review-nya pada bagus. Salah satu hal yang bikinku merasa 'fix, harus nonton nih' adalah saat melihat rumahnya Na Willa yang supa dupa kyutaaa... aku juga mau. Thanks to Living Loving yang udah meliput dan kasih sekecup bts-nya 😁. First impression-ku... cantik dan eye pleasing, cucoklah untuk visual person kek kita-kita hehe.

Eh iya, biar nggak kelamaan intro-nya, marki-view filmnya...


CERITA YANG BIKIN NOSTALGIA

Film Na Willa in bercerita tentang kehidupan masa kecil Na Willa (Luisa Adreena) saat tinggal di gang Krembangan Surabaya di tahun 80an. Sebagaimana bocil pada umumya, Willa punya bestie kentel bernama Farida (Freaya Mikhayla), Bud (Arsenio Rafisqy) dan Dul (Azamy Syauqi). Mereka semua hidup bertetangga dan tumbuh bersama, konflik dimulai saat mereka memasuki usia sekolah.

Orang tua Na Willa, Pak (Junior Liem) dan Mak (Irma Novita Rihi) sepakat untuk mengajari Willa di rumah sebelum siap melepasnya ke jenjang pendidikan yang lebih formal. Saat satu persatu geng Krembangan mulai sekolah Mak mulai merasa gamang, di satu sisi Mak belum siap melepas Willa sedang di sisi lain Mak sadar bahwa Willa harus sekolah. Menurutku, di film ini yang paling bagus perkembangan karakternya adalah Mak.

Scene Na Willa membongkar radio bikinku senyum sendiri teringat dulu aku pernah mengira orang tuaku memelihara liliput di dalam televisi 😂. Kukira liliput-liliput itu punya space tersembunyi di dalam televisi untuk tidur, makan dan mandi. Makanya aku bolak balik mengecek televisi dari berbagai sisi dan mencoba mengintip dari sela-sela lubangnya. Ternyata memang kosyong... 🤣.

Selain itu aku teringat lagi momen pertama kali masuk sekolah. Beberapa hari sebelum sekolah mama udah mengajariku baca tulis jadi saat bu guru mengajarkan aku udah keburu bosan dan mengangkat kaki macem pemain gapleh 😂. Yang kuingat, mbahku ketawa-ketawa saat diceritakan hal ini. Ahhh... kangennya 🥹. Nonton Na Willa seketika bikin memoriku bangkit dari kubur, menyadarkan betapa nikmehnya kehidupan kanak-kanak 🥰.




CAST YANG MENGGEMASKAN

Kita mesti mengakui pemilihan cast-nya Na Willa juwara ya, aku suka semuanya. Tadinya aku heran mengapa hanya Dul yang berlogat jawa, setelah kuingat-ingat lah... ini kan setting-nya di Krembangan Surabaya, memang harusnya ngomong bahasa jawa 🤣. Menurut kesusotoyanku, bahasa Indonesia dipilih atas dasar kemudahan karena sebagian besar audience-nya Na Willa adalah anak-anak.

Nemu di mana sih anak-anak ini? Akting mereka semua luwes dan terkesan effortles. Aku suka scene saat Willa berlari ke rumah sambil nangis, tengok kanan kiri dulu sebelum menyebrangi rel kereta api. Pun Farida yang suaranya menggemaskan. Scene saat Willa dan Farida pergi mengaji oh so kyuttt... Oh ya, mbok (Mbok Tun) lucu ya, apalagi saat doi mengadukan Willa yang mengambil jatah ikan tongkolnya 😁.

Sebagian scene menggunakan low angle untuk menunjukkan pov-nya para bocil dimana semua hal tampak begitu besar saat kita kecil. Sayangnya low angle ini kurang berhasil di scene saat geng Krembangan melihat ulat dari jendela kamar. Kalau kalyan ingat, yang in frame hanya Farida, Willa dan Bud, yang in frame dari Dul hanya badan dan suaranya aja karena kepalanya terpotong... ih tega ya 😂.

Setelah Na Willa, kuyakin geng Krembangan akan mendapatkan banyak proyek baru. Aku pun berharap kalau kelak Ryan bikin film lagi doi nggak pake geng Krembangan. Selain karena karakternya udah melekat, masih banyak anak-anak bertalenta yang menunggu untuk ditemukan. Dan yang terpenting, jangan sampai ijazahnya ditahan macem Endy Arfian 🤣.




PROPERTY YANG NYEKRUZZ

Seperti yang kutulis sebelumnya, alasanku nonton Na Willa adalah karena rumahnya yang supa dupa kyuta 😍. Meski hampir semua elemennya tabrak motif dan warna warni nggak bikin siwer. Two thumbs up untuk tim produksi yang karya ciptanya hadir di dalam set, termasuk label di kemasan teh tubruk dan cuka botol. Kuyakin kalyan pasti pada bergadang mengerjakan semua ini ☺️.

Di gang Krembangan, rumah Na Willa tentcunya mudah dikenali karena 'ramai'. Yha~ Kupikir Mak dan Willa beruntung memiliki keleluasaan materi sehingga bisa melakukan banyak hal. Well... untuk bisa beli buku, mengecat rumah warna warni, melukis di pot, beli bahan pakaian dan printilan-nggak-penting-tapi-ingin-punya tuh butuh wang. Maka dari itu terima kasih Pak, udah memastikan mereka sejahtera 🙇🏻‍♀️.

Pertama kali melihat Mak, wow... cantiknya 😍. Aku suka outfit-nya Mak yang eye catching dan selaras dengan perawakannya. Kurasa yang bikin aura galaknya Bu Tini (Putri Anindya) makin menyala adalah pada bahunya yang dibikin runcing ala villain. Ada yang ngeh nggak? Mungkin karena udah dipake beberapa kali take, sayuran hijau yang dibeli Mak dari pasar selalu layu 😅.

Oh ya, pasar tempat Cik Mien (Melissa Karim) berdagang pun nggak kalah kece yaw. Entah kelewat geumpeur atau memang karakternya dibikin begitu, mang penjual anak ayam kaku amat ya?! 😅Ada scene yang menampilkan penulis buku Na Willa yakni Reda Gaudiamo, mungkin pernah lewat di FYP kalyan konten buibu paruh baya berkacamata yang menyapa audience dengan "hai nak... " nah itu beliau.




 ***

So far, setelah selesai nonton aku merasa Na Willa ini lebih cocok untuk penonton dewasa yang pernah jadi anak-anak. Eym... gimana ya menjelaskannya 😅, sebagai zillennials tentcu kita merasa relate dengan kehidupan geng Krembangan, sedang untuk alphabet belum tenctu. Segresi generasi bikin life style yang kita jalani berbeza, makanya wajar alphabet pada ngantuk saat nonton Na Willa, nggak relate soalnya.

Sejujurnya Na Willa ini adalah film yang bagus, namun sebaiknya penonton anak-anak perlu pendampingan karena ada beberapa materi yang kurang relevan. Macem kawin dan *sucino. Mungkin hal-hal semacam ini bisa lebih diperhalus lagi penyampaiannya, masih ada waktu kan mengolah naskah untuk tahun depan? 😉. Fyi, Na Willa fix punya sekuel. Horeeee!!! 🎉🎉🎉.

***

Pulang ke rumah aku cerita yekan nonton dulu sebelum fisioterapi.

Aku: Tadi mbak nonton Na Willa.
Widy: Kok nonton Na Willa? Kenapa nggak nonton Tunggu Aku Sukses Nanti?
Aku: Pengangguran coy.... nggak relate dengan ceritanya.
Kita: 🤣🤣🤣🤣🤣


Pictures were taken from @watchmen.id Twitter thread.





•••
If you like my writing, send me some ❤️ to cheer me up.
•••
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hello~

Di hari minggu pagi yang terang benderang nan ngabelentrang, aku dan Widy (+ Lulu) otw menjemput mama yang menginap di rumah Mbah. Yha~ sejak ada Lembur Pakuan, perjalanan menuju rumah mbah terasa panjang. Jalan yang biasanya ramai di momen-momen tertentu tetiba mauacettt tyada duwa, bikin warlok macem kita syulit beredar *dadar kali ah 😁.

Sebelum ada Lembur Pakuan, jarak rumahku dan rumah mbah + 30 menit udah termasuk menutup pagar dan parkir. Setelah ada Lembur Pakuan, udah pasti makin lama yekan... makanya awal-awal Lembur Pakuan viral kita puyeng 😅. Sebenarnya bisa sih ke rumah mbah pake rute lain tapi mesti muter naik turun bukit dan jalannya kurang OK, kalau mau cepat ya pake tol.

Percayalah...

Baru selesai dibikin ceunah 

Dipikir-pikir, ketimbang ikutan kena macet mending turun aja nggak sih di Lembur Pakuan?! Karena ini kali pertamaku ke Lembur Pakuan, kutanyalah Widy dan Mas Bagus yang udah beberapa kali kesini. Ada apa di Lembur Pakuan? Pak Dedi kan nggak setiap minggu pulang ke rumah *anzaiii... tetangga yuteh? 🤣 Tahu nggak jawaban mereka apa?

"nggak ada apa-apa, cuma liat-liat, ikutan orang jalan-jalan"

HAHAHA 🫵🏻😭.

Ada 2 opsi memasuki Lembur Pakuan yakni melalui jalan utama dan jalan samping. Kita pilih jalan utama biar sat set, kalau jalan samping mesti melalui sawah. Sapuan bulir padi yang mulai menguning bisa bikin kulit kita gatal dan nggak nyaman. Oh ya, beberapa hari yang lalu Pak Dedi Ulang tahun, makanya warga masih tumpeh-tumpeh mencoba peruntungan ketemu doi.

Karpet merah untuk semua orang 😁

Lebih macho ketimbang macan Cisewu 😎

Selain nanggap wayang golek, Pak Dedi mengadakan sunatan masal, bisa dibayangkan gimana ramainya Lembur Pakuan. Eh, kalyan tahu wayang golek nggak sih? Singkat aja, wayang golek adalah versi 3d dari wayang kulit, karakter, alur cerita dan setting-nya mah mirip. Aku terakhir kali nonton wayang golek saat sepupuku nikah + 10 tahun yang lalu, itu pun nggak tuntas, tunduh coy 😅.

Memang ya Lembur Pakuan bikin warlok berdaya, ada yang buka warung, ada yang jual makanan, ada yang bikin parkiran, Tapi ya... imho, selama menyusuri jalan utama aku merasa semua orang mencoba menjual hal yang sama, jadi nggak ada kojonya. Selain itu nggak ada atraksi atau kegiatan yang gimana gitu, let's say... macem Saung Angklung Udjo.

Yamasa atuh kita jauh-jauh ke Lembur Pakuan cuma mau liat rumah Pak Dedi dan sawah aja? 😅.

Jajanan template 

Sebagian masih baru 

Kita jalan sampai ujung, putar balik lalu menuju parkiran. Selama sisa perjalanan aku mempertanyakan: tadi aku ngapain ya 🤣🤣🤣. Maaf banget niya warga, setelah rada ngahuleng aku sampai pada kesimpulan bahwa aku mah kurang cucok euy dengan konsep wisata rumah tetangga teh. Tidak puguh. Mana cuaca panas banget ya Allah...

Kalyan udah pernah ke Lembur Pakuan belum?

***

LEMBR PAKUAN SUKADAYA
Jl. Raya Dangdeur, Desa Sukasari, Kelurahan Rawalele, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang
Jawa Barat 41271

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Hello~

Apa kabar flow paket kalyan? Udah otw normal atau masih tersendat-sendat? 😁 Seiring berakhirnya momen mudik lebaran, flow paket di area-ku berangsur-angsur normal. Horeee...!!! 🥳. Demi menghindari drama perpaketan di peak season, aku menahan diri untuk nggak belanja online saat ramadan kecuali butuh banget atau barangnya nggak ada di offline store.

Sambil nonton berita arus balik lebaran biasanya aku nyambi check out, lebih sans aja gitu rasanya meski toko-toko masih pada tutup. Yuyur, nggak sanggup euy ikut war wer wor atau mencoba peruntungan per-PO-an 😅. Udah beberapa tahun ini aku nggak beli outfit lebaran dan memilih pake yang udah ada. Subang panas tjoy, salah pilih bahan berasa bagai dikukus 🥵. So, ketimbang beli outfit yang jarang dipake mending beli yang udah pasti dipake aja yekan 😉.

Siapa yang di rumahnya pake daster? Ayo ngaku 😂. Sejujurnya aku nggak suka pake daster karena emak-emak banget tapi semua berubah saat aku pake versi setelannya 😂😂😂.  Ketimbang daster berbentuk dress aku lebih suka daster berbentuk setelan (atasan dan bawahan) karena lebih leluasa dan bisa dipake keluar rumah, nggak harus pake inner lagi karena khawatir tersingkap.

Sebagai negara tropis tentcunya material yang cocok dipake di Indonesia mah katun dan rayon, kalau linen masih 50:50 ya karena yang beredar di market mah biasanya linen x polyester yang pihareudangeun. Pantesan ya emak-emak hobi banget pake daster 😁, ehh aku juga siya 😅. Gimana ya... semakin lusuh malah semakin enakeun, ademnya itu loh... nyesss... 🥹 hingga ke pori-pori kulit.

Aku dan mama cukup sering beli daster, sering trial and error, kalau nggak OK segera jadi keset, kalau OK lanjut dipake sampai jadi keset 😁. Oh ya, perputaran motif dan warna daster tuh cepat ya, karena jualan offline-nya kenceng makanya bersyukur banget kalau menemukan seller yang mau fotoin satu-satu dan melengkapi deskripsinya 🙇🏻‍♀️.

So far, kita paling sering beli daster dari Kencana Ungu, HAP dan Hengky, kalau kalyan ingin coba-coba beli daster boleh niya baca pros and cons-nya dulu 😉.

BATIK KENCANA UNGU

- bahan rayon (gramasi tergantung label)
- warna gonjreng, motif random
- untuk daster ada opsi lengan panjang, lengan 2/3 lengan pendek dan tanpa lengan
- untuk setelan ada opsi lengan panjang, lengan 2/3, lengan pendek dan tanpa lengan
- untuk setelan ada opsi celana panjang, celana 2/3 dan celana pendek
- ukuran variatif
- bisa dibeli di toko offline, online (Kencana Ungu Official) dan department store macem Yogya Group
- harga variatif tergantung model dan tempat beli ± Rp 80.000-Rp 170.000

BATIK HAP

- bahan rayon tebal
- warna lebih kalem dan motif lebih modern, cucok untuk zillenials
- ada opsi tangan panjang, tangan 3/4, tangan pendek dan tanpa lengan
- ada opsi celana panjang dan celana pendek
- ada opsi gamis
- all size
- untuk badan petite pilih seri Kenanga, untuk badan tinggi berisi pilih seri  Asmara
- bisa dibeli di toko offline dan toko online (aku beli di Toko Danita Batik dan Toko Budi Rezeki )
- harga variatif tergantung model dan tempat beli ±Rp 80.000 - Rp 100.000

BATIK HENGKY

- bahan rayon halus
- warna gonjreng, motif rapi dan cantik karena dibikin per panel
- nggak mudah luntur, punyaku bertahan hampir 10 tahun sebelum pensiun dijadikan keset 😁
- untuk daster ada opsi lengan panjang, lengan pendek dan tanpa lengan
- untuk setelen ada opsi lengan pendek dan tanpa lengan
- untuk setelan hanya ada opsi celana pendek
- all size
- bisa dibeli di toko offline dan toko online (Batik Hengky Official)
- harga variatif tergantung model dan tempat beli ± Rp 60.000 - Rp 70.000

***

Selain 3 brand ini, ada beberapa brand kita suka cuma karena mereka jualnya offline sulit cari di e-commerce. Selain itu ada yang juga yang no brand (nggak pake label) saking clueless-nya kita nggak tahu ini teh produksi mana atau brand apa 🤔. Yang begini-begini nih yang bikin gregetan, mau beli lagi bingung, nggak beli kepikiran 😂.

Leminow brand daster favorite kalyan ya 😀.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Assalamualaikum ya bestie ya family...

Telah sampailah kita di bulan ramadan, insya allah kita semua diberikan ketenangan dan kesenangan dalam menjalani ibadah. Aamiin... 🤲🏻. Tahun ini bulan ramadan diapit oleh 2 hari raya yang dirayakan di Indonesia, yakni tahun baru tionghoa (imlek) dan tahun baru saka (nyepi). Semangats para visual merchandiser 😁.

Tahun ini Muhammadiyah vs Nahdatul Ulama kembali memiliki pendapat yang berbeza mengenai hilal. Bukan hal yang baru siya, namun tetap bikin drama huhu 🥹. Sejujurnya aku nggak keberatan dengan perbedaan ini karena artinya 10 hari terakhir ramadan jadi ganjil semua 😁 *oportunis *ahli hikmah *iyain aja.

Keluargaku mah aslinya netral, namun karena aku pernah sekolah di Muhammadiyah mereka membebaskanku memilih. Kadang ikut pemerintah kadang ikut Muhammadiyah, yang penting nggak ikut Tarekat Naqsabandiyah *ytta. Untuk tahun ini aku memilih jadi warga Muhamadiyah karena, why not? Nggak ada alasan khusus siya, ingin aja.

Saat Mbah Uti masih ada, beliau selalu menyarankan kita berpuasa hanya 1/2 hari di hari terakhir bulan ramadan, just in case udah masuk bulan baru. Kebiasaan ini terlahir karena zaman dulu informasi masih sangat terbatas, apalagi kalau tinggal di kampung. Pernah kejadian udah tarawih, udah sahur, udah puasa eh ternyata Idul Fitri 😅.

AUTO PILOT
Sebagai manusia aku menyadari bahwa hubungan antara kita dan Allah selalu fluktuatif, kadang semangats kadang lesyu. Sejujurnya aku semangats menyambut ramadan namun entah kenapa pas prakna mah terasa lesyu 🥹. Yha~ mungkin aku masih butuh waktu untuk menata ulang hidupku dan kembali ke jalan yang benar 😭.

FIDYAH ATAU QADHA?
Tahun lalu mama membayar fidyah karena sedang sakit, sedang Widy membayar fidyah karena sedang hamil. Tahun ini Widy berencana membayar fidyah karena sedang menyusui, namun di last minute doi memutuskan untuk ikut berpuasa karena membayar fidyah dan membayar qadha dirasa memberatkan. Alhamdulillah tamat 👍🏻.

OLEH-OLEH
Karena Widy dan Mas Bagus + Lulu Idul Fitri di Sidoarjo, mereka cari oleh-oleh untuk dibawa mudik. Setelah menimbang dengan seksama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, mereka memutuskan beli batagor kering dan cilok goreng *udah pake kemasan vacuum. Biar vibes-nya sunda banget ceunah 😂.

RM. MARANTINA
Saat nge-pick oleh-oleh di Bandung, aku dan mama sempat makan siang di RM. Marantina yang berlokasi di sebelah Borma Lembang. Fyi, RM. Marantina ini pernah hype di eranya, makanya cucok dengan seleranya rang-o-rang tuwa. Makanannya kaya rasa dan bumbunya leqoh, yang bikin beda doi pakenya nasi merah, tapi bisa kok request nasi putih.

OPORTUNITY
Beberapa hari sebelum Idul Fitri ayah info akan kasih opor dan ketupat, jadi aku nggak usah masak. Aku sih yes ya 😁. Eh, sehari sebelum Idul Fitri Muhammadiyah beliau tetiba datang ke rumah dan kasih ayam mentah berikut bumbu rempah. Oalahhh... ternyata aku disuruh bikin opor sendiri karena Idul Fitrinya duluan 😭😭😭.

TIBA-TIBA MASAK
Tadinya aku berencana masak setelah sholat Idul Fitri biar sans dan bisa dicicipi. Eh, begitu si ayam oportunity datang mama langsung riweuh nyuruh masak, frustasi banget nih si guweh masak opor yang rasanya mesti Idul Fitri banget 🤣. Btw, aku masak sampai tengah malam, Cinderella pulang party sungkem lihat aku masih bebersih dapur 🫠.

OFFSIDE
Karena khawatir sulit mendapatkan Grab, aku minta ayah mengantarkanku sholat Idul Fitri di SMP Muhammadiyah. Mengkaget euy... Saking banyaknya jama'ah sholat Idul Fitri, shaf-nya sampai luber ke pinggir lapangan. Meski udah datang pagi aku kebagian tempat di teras kelas huhuhu. Sedang uwakku bisa kebagian shaf terdepan karena berangkat setelah sholat shubuh 🥲.

SARAPAN
Setelah salaman dengan uwak dan keluarga di lapangan, aku dan Anya memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena Anya belum sarapan kita mampir ke Mie Gacoan, sebagai penglaris senang sekali sans pilih tempat duduk dan ngobrol ini itu. Opor jerih payahku semalam akhirnya kumakan saat makan siang, rasanya enak *yaiyalah kan aku yang masak 😂.

SILATURAHMI
Tahun ini, RT baru di kompleksku berinisatif mengajak warga yang nggak mudik berkeliling blok. Kupikir cara ini lebih efektif ketimbang silaturahmi door to door ya, apalagi kalau kita jarang ketemu. Karena pergerakan mama yang terbatas beliau menunggu giliran silaturahmi sambil berjemur di teras rumah, alhamdulillah nggak tantrum 😁.

***

Semoga kita dipertmukan lagi dengan ramadan yang akan datang ya, insya allah dalam keadaan yang jauh lebih baik. Meski terlambat, minal aidzin wal faidzin ya manteman.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hello~

Beberapa minggu menuju bulan ramadan, smartphone-ku sempat bermasalah. Baterainya nge-drop sampai nggak bisa lepas dari charger, puanasss pol 🔥. Slow but sure, bagian belakang smartphone-ku menggembung macem handphone (poliponik) jadul, lalu mati. Panik nggak tuh?! 😱. Udah mah lagi riweuh-riweuhnya mempersiapkan ramadan, nggak ada smartphone cadangan, mama lagi nginep di rumah mbah dan yang terpenting, apiku mesti menyala 😭.

Semuanya bermula saat aku meng-install game bernama Selera Nusantara yang direkomendasikan oleh warga Thread. FYI, Selera Nusantara adalah simulator game dimana kita (player) berperan sebagai penjual multitasking yang bertugas menyajikan makanan secepatnya. Setiap stage-nya terdiri dari 6 lapak yang menjual berbagai makanan dan minuman yang Indonesia banget. Ada martabak, pecel lele, es dawet, sate, rawon bahkan nasi padang. Gimana nggak anteng coba akutu? 😅.

Main character bernama Siska

Semakin tinggi stage-nya semakin banyak kombinasi permintaan pembelinya. Kadang minta nggak pake sambel, kadang minta nggak pake lalap, kadang minta air teh, kadang minta pake telor, berasa jualan beneren😂. Untuk mempermudah flow penyajian, kita mesti meng-upgrade perlengkapan masak (kompor, gelas, piring) dan refill bahan. Oh ya, semakin sering di-upgrade semakin kinclong grafisnya, cobain deh 😉.

Kupikir yang paling bikin ngakak di Selera Nusantara adalah story line-nya, bayangkan pindah level gara-gara lapaknya kena gusur satpol PP 😂. Pernah juga pindah level gegara saling sikut antar karyawan, owner tiba-tiba bangkrut, sewa nggak diperpanjang, kena pungli preman dan yang paling mind blowing di sekitar lapak ada pembunuhan 😂. Gils... biasanya aku nge-skip story line karena ah pasti gitu-gitu aja, mon maap Selera Nusantara mah Indonesia banget, makanya dipantengin terus.

Siska pernah dituduh jadi pelakor gegara pelanggan fotoin Siska dan bapak owner yang sibuk melayani pembeli, ibu owner cemburu lalu bad mood 🤣

Hampir setiap hari aku main Selera Nusantara, mendadak lupa niya sama Township dan Resortopia 😅. Saking antengnya jualan bubur aku sampai lupa waktu dan meng-abuse smartphone-ku *astagfirullah ya ukhti... 🫣. Tadinya aku khawatir smartphone-nya nggak bisa diselamatkan, untungnya cuma ganti baterai, plong banget yekaannn... 😮‍💨. Biar nggak terjerumus ke candu yang sama, aku meng-uninstall game Selera Rakyat. Mungkin kelak akaun kumainkan lagi, tapi nggak tahu kapan 😅.

Kalyan kalau mau install game Selera Rakyat, install aja. Hal yang terjadi padaku belum tentcu terjadi pada kalyan.

***

*Picture were taken from Selera Rakyat page in Playstore.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Paused Moments

Let's Get In Touch

  • Behance
  • Letterboxd
  • LinkedIn

Disclaimer

It is prohibited to copy any content from this blog without prior permission. If you believe your privacy has been violated or notice content that requires proper credit, please let me know.

Note

Some links in the post may be affiliate links, which means I may earn a small commission if you buy through them. There’s no pressure at all—what works for you is what matters most.

Alone Alone Kelakone

2026 Reading Challenge

2026 Reading Challenge
Lestari has read 0 books toward her goal of 6 books.
hide
0 of 6 (0%)
view books

Archives

  • ►  2011 (7)
    • ►  May (1)
    • ►  Nov (6)
  • ►  2012 (19)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (8)
    • ►  Jun (2)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Oct (1)
  • ►  2014 (20)
    • ►  Jan (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (8)
  • ►  2015 (62)
    • ►  Jan (6)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  Jun (7)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Aug (10)
    • ►  Sep (7)
    • ►  Oct (11)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (7)
  • ►  2016 (64)
    • ►  Jan (5)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (2)
    • ►  May (6)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (7)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (9)
    • ►  Nov (6)
    • ►  Dec (11)
  • ►  2017 (76)
    • ►  Jan (10)
    • ►  Feb (5)
    • ►  Mar (6)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (12)
    • ►  Jun (10)
    • ►  Jul (7)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (6)
  • ►  2018 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (7)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (5)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2019 (39)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (3)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (5)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2020 (48)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (2)
    • ►  Mar (7)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (3)
    • ►  Oct (7)
    • ►  Nov (3)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2021 (44)
    • ►  Jan (2)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (4)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (3)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (4)
    • ►  Nov (4)
    • ►  Dec (5)
  • ►  2022 (47)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (4)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (5)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (2)
    • ►  Oct (5)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (3)
  • ►  2023 (41)
    • ►  Jan (3)
    • ►  Feb (3)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (3)
    • ►  May (2)
    • ►  Jun (3)
    • ►  Jul (5)
    • ►  Aug (4)
    • ►  Sep (6)
    • ►  Oct (3)
    • ►  Nov (2)
    • ►  Dec (4)
  • ►  2024 (48)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (5)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (4)
    • ►  Jun (5)
    • ►  Jul (4)
    • ►  Aug (5)
    • ►  Sep (4)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (5)
    • ►  Dec (2)
  • ►  2025 (36)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (4)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (1)
    • ►  Jun (6)
    • ►  Jul (2)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Sep (2)
    • ►  Oct (2)
    • ►  Nov (4)
    • ►  Dec (3)
  • ▼  2026 (22)
    • ►  Jan (4)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (3)
    • ►  Apr (4)
    • ►  May (2)
    • ►  Jun (2)
    • ►  Jul (3)
    • ▼  Aug (3)
      • Spider-Man: Brand New Day
      • Sop Burtok
      • Lontong Cibadak Dan Kembang Tahu

Friends

  • D. R. Bulan
  • Ikan Kecil Ikugy
  • Mazia Chekova
  • Noblesse Oblige
  • Perjalanan Kehidupan
  • Pici Adalah Benchoys
  • St. Jauzah
  • The Random Journal

Blogmarks

  • A Plate For Two
  • Berada di Sini
  • Cinema Poetica
  • Dhania Albani
  • Diana Rikasari
  • Dinda Puspitasari
  • Evita Nuh
  • Fifi Alvianto
  • Kae Pratiwi
  • Lucedale
  • Mira Afianti
  • Monster Buaya
  • N Journal
  • Nazura Gulfira
  • Puty Puar
  • Rara Sekar
  • What An Amazing World
  • Yuki Angia

Check This Too

  • A Beautiful Mess
  • Daisy Butter
  • Kherblog
  • Living Loving
  • Minimalist Baker
  • Nicoline Patricia
  • Spice The Plate

Followers

Thanks for Coming

Community

Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates